Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Dilema Arga


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Nara membaca pesan dari Arga. Dia menghela nafas sambil meremas ponselnya.


"Maafin aku ya mas, aku belum siap bicara sama kamu. Aku masih perlu menata hati dan aku juga masih kecewa banget sama kamu!" gumam Nara.


Meski Arga sudah menyakitinya, sebenarnya dia masih mencintainya. Tapi dia masih belum siap berbicara dengan Arga, dia masih takut untuk melihat Arga dan juga masih sangat kecewa dengan sikap kasar Arga.


Dia juga salah karena tidak minta izin saat mau keluar, padahal dia sudah janji bakal selalu izin pada suaminya jika mau keluar.


Setelah selesai Nara keluar dari kamar mandi, kebetulan dia membaca pesan itu di kamar mandi. Nara kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Sampai siang dia di sibukkan dengan pekerjaan membuat dia sedikit melupakan kegundahan hatinya. Sampai akhirnya datang Rega dan keluarganya yang akan makan siang di sana.


Ada Rega, Rere, Bu Ingrid dan seorang pria paruh baya dia adalah papanya Rega dan pengasuh Rere.


Rere langsung berteriak memanggil Nara saat melihat Nara.


"Mamiiii..."


Rega dan yang lainnya menoleh saat Rere berteriak, dan mengikuti arah pandang Rere.


"Nara!" gumam Rega.


Rere langsung turun dari gendongan Arga, lalu berlari menghampiri Nara dan memeluknya.


"Mami kemana? Aku kangen mami.. huhuhuhu.." gadis itu menangis karena senang dan juga rindu bertemu Nara.


"Cup sayang mami gak kemana-mana, mami juga kangen sama Rere," balas Nara sambil menyeka air mata gadis kecil itu.


"Mami jangan pelgi lagi, aku gak mau mami pelgi!" Isak gadis kecil itu.


Nara mengusap surai kepala Rere. "Mami gak pergi sayang!"


Rere langsung memeluk erat leher Nara. Nara menggendong Rere, lalu menghampiri Rega dan yang lainnya.


"Hai Ra, kamu masih kerja di sini?" tanya Rega. Nara mengangguk.


"Mah, pah kalian pesen aja dulu ya!" ucap Rega. Bu Ingrid dan yang lainnya mengangguk.


"Oh iya Ra, kenalin ini papa saya. Pak Dito!" ucap Rega memperkenalkan papanya.


Nara menyapa pak Dito dengan senyuman dan memperkenalkan dirinya. Pak Dito pun membalas dengan senyuman.


"Sayang, papi pinjem dulu maminya sebentar ya," bujuk Rega pada anaknya itu karena dia ingin berbicara dengan Nara.


"Gak mau, ental mami pelgi lagi!" ucap gadis kecil itu tak terima sambil mengeratkan pelukannya pada leher Nara.


"Ya udah ga ajak aja, kalian makan bareng!" ujar bu Ingrid.

__ADS_1


Rega menatap Nara meminta persetujuan. Nara mengangguk.


Akhirnya mereka memisahkan diri dari Bu Ingrid dan yang lainnya. Nara membawa Rega dan Rere ke lantai dua.


"Mas mau pesen apa?" tanya Nara.


"Entar dulu ra, saya mau bicara sama kamu!" Nara mengangguk dan duduk sambil memangku Rere, gadis kecil itu tidak mau lepas darinya.


"Mami mau itu!" ucap Rere antusias sambil menunjuk ke arah meja di sampingnya. Nara dan Rega menoleh ke arah yang di tunjuk Rere.


"Rere mau itu?" tanya Nara. Rere mengangguk.


Nara memanggil temannya untuk membuatkan minuman yang sama dengan meja sebelah.


"Tunggu bentar ya sayang, es nya di buat dulu!"


"Iya mami!" balas Rere sambil tersenyum. Nara tersenyum sambil mengusap jejak air mata yang masih tertinggal di wajah Rere.


Rega menatap keakraban anak dan wanita yang di cintainya itu, tapi lagi-lagi dia segera tersadar dan menelan pil pahit. Bahwa wanita yang ada di hadapannya itu tidak akan pernah bisa ia miliki.


"Mas mau bicara apa?" tanya Nara.


Rega menghela nafas. "Saya minta maaf atas kesalah pahaman yang terjadi waktu itu!"


Nara tersenyum. "Gak perlu minta maaf mas, itu bukan salah kamu. Aku dan mas Arga baik-baik aja kok. Aku udah menjelaskan semuanya pada dia!" Rega mengangguk.


"Tapi saya minta maaf karena--" ucapan Rega terjeda. Nara terdiam sambil menunggu Rega melanjutkan ucapannya.


"Karena pertemuan itu gara-gara Reva!" Nara mengerutkan keningnya.


Rega menjelaskan semuanya, tentang Reva yang ingin mendekatkan dirinya dan Nara dan pertemuan yang di rencanakan Reva di cafe. Rega berkali-kali minta maaf atas nama Reva karena sudah membuat Arga salah paham dan marah.


Nara tersenyum. "Iya mas gak apa-apa, semuanya udah terjadi dan semuanya baik-baik aja kok. Kamu gak perlu khawatir atau merasa bersalah, karena ini juga bukan kesalahan kamu!" ujar Nara.


Rega tersenyum dia benar-benar mengagumi ketulusan dan kelapangan hati gadis cantik itu. Hatinya semakin terasa sakit karena dia semakin menyukai gadis itu tapi tak bisa memilikinya.


Tak lama pesanan Rere datang. "Maaf agak lama," ucap Tika.


"Makasih tik, kok kamu yang anter? Rini mana?"


"Ke kamar mandi mules katanya!" Nara mengangguk.


"Oh iya, mas mau pesen apa?"


"Iya mau pesen apa pak?" tanya Tika. Rega pun menyebutkan pesanannya pada Tika.


Nara sibuk mengurusi Rere yang senang dengan minuman warna warni itu. Rega tersenyum bahagia melihat anaknya ceria seperti itu.


"Ya Allah nak, apa kamu begitu menyayangi Nara? Baru kali ini papi lihat kamu sebahagia ini." batin Rega terenyuh.


***


Setelah perjalanan yang cukup lumayan melelahkan, Arga langsung menemui Pak Yusril di kantornya membicarakan pekerjaan, lalu dia langsung ke rumah sakit menemui Hana setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Hana tersenyum bahagia melihat suaminya datang. Dia langsung memeluk erat suaminya. Tapi pikiran Arga tidak fokus, dia masih memikirkan Nara dan mengkhawatirkan istri keduanya itu. Saat di kantor pun dia tidak fokus, alhasil Yusril berkali-kali menegurnya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Arga.


"Sudah baikan mas!" jawab Hana. Arga duduk di samping ranjang Hana.


"Kata dokter aku bisa pulang mas sekitar dua harian lagi. Terus dokter merekomendasikan agar aku terapi di Jakarta mas, kata dokter ada temennya di Jakarta seorang spesialis tulang dan terapi. Aku di suruh terapi di sana. Jadi aku akan ikut kamu ke Jakarta mas!" ucap Hana senang.


Deg!


Arga membeku, tubuhnya menegang. Bagaimana bisa dia membiarkan Hana ikut ke Jakarta, dia belum membawa Nara ke rumah barunya, karena rumah yang dia beli masih harus di renovasi.


"Apa lebih baik di terapi di sini aja Han?" Arga mencoba membujuk Hana agar tidak ikut ke Jakarta. Hana menggeleng.


"Gak mas aku mau ke Jakarta, biar aku bisa deket sama kamu terus dan nanti mbak Tina yang bakal temenin aku di apartemen saat kamu kerja!" jawab Hana.


Arga menghela nafas berat. Dia benar-benar bingung dan dilema. Bagaimana dia menghadapi situasi ini?


Sebenarnya tidak masalah jika Hana tau soal Nara, karena dia pun akan menceraikan Hana. Meski nanti pak Adi dan pak Yusril juga akan murka jika mereka tau dia menceraikan Hana, tapi Arga tidak terlalu khawatir dengan mereka. Karena dia punya alasan kuat untuk menceraikan Hana. Dia punya bukti perselingkuhan Hana dan Miko. Dia bisa saja memperlihatkan bukti itu pada mereka.


Tapi yang dia takutkan jika Hana memberi tau Nara soal hubungannya dengan Hana. Nara pasti akan sangat kecewa dan pasti akan meninggalkan dirinya. Dan Arga tidak mau kehilangan Nara. Jadi jangan sampai Hana dan keluarganya tau soal Nara, cukup Nana dan Rafi saja yang tau.


Arga benar-benar dilema saat ini dan bingung menghadapi situasi ini.


"Kamu tunggu di sini dulu ya. Saya mau keluar sebentar!" Ucap Arga sambil beranjak.


"Kamu mau kemana mas?"


"Ke kantin cari minuman!" Hana mengangguk.


Arga keluar dan berjalan menuju area parkir, dia ingin menelpon seseorang. Arga duduk di kursi yang dekat area parkir.


Lalu dia mengambil ponselnya dan mendial nomor Rafi. Sambungan terhubung, tak lama suara pria berusia 27 tahun itu terdengar.


Call :


"Hallo pak, ada apa pak?" tanya Rafi di sebrang telpon.


"Raf, rumah yang sudah saya beli kira-kira berapa lama di renovasi?" tanya Arga.


"Tidak lama pak hanya sekitar dua mingguan sudah selesai dan bisa di tempati!" jawab Rafi.


"Berarti saya harus menahan Nara di rumahnya untuk sementara waktu." Batin Arga.


"Baik Raf terima kasih! Ingat jangan sampe ada yang tau soal ini!" ucap Arga menegaskan.


"Baik pak!"


Sambungan telpon terputus. Lalu Arga mendial nomor telepon Nana. Beberapa saat sambungan telpon terhubung tapi belum ada jawaban dari Nana. Hingga suara operator terdengar menandakan Nana tidak menjawab telponnya.


Arga mengulanginya lagi. Masih sama tidak ada jawaban dari Nana.


"Kemana tuh anak, lagi di butuhkan malah gak ada!" gerutu Arga kesal.


Arga pun beranjak dan akan menelpon Nana lagi nanti. Dia mampir ke kantin sebentar untuk membeli minum, lalu kembali ke ruangan Hana.


Dia benar-benar frustasi memikirkan masalahnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2