Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Salah paham 1


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Nara membereskan apartemennya setelah kepergian Arga ke kantor. Untuk menghilangkan kebosanan dia membereskan rumah sambil mendengarkan musik dan bernyanyi. Sesekali dia berjoged mengikuti alunan musik.


Dia juga menjadikan kemoceng sebagai mikrofonnya. Dia tidak tau jika aktivitasnya sedang di pantau suaminya.


Arga yang penasaran apa yang sedang di lakukan sang istri melihat dari CCTV. Arga tergelak melihat tingkah istrinya itu. Apa lagi saat dia naik ke sofa dan seolah-olah sedang menyapa penonton. Dia juga mengambil sapu dan di jadikan gitarnya.


"Ya ampun sayang kamu lucu banget!" Gumam Arga. Dia terus tergelak setiap melihat tingkah lucu istrinya yang menggemaskan itu.


Di luar karyawan yang tidak sengaja lewat ruangan Arga kebingungan mendengar suara tawa di ruangan bosnya.


"Pak Arga kenapa ya? Ketawanya kenceng banget!" Tanya Nila salah satu karyawan.


"Kesambet kali!" jawab Indri asal.


"Kesambet jurig apaan ya?" tanya Dewi terkekeh.


Suara tawa itu masih terdengar. Ketiga karyawan itu penasaran apa yang terjadi dengan bosnya sehingga tertawa terbahak-bahak. Mereka mendekati pintu ruangan Arga dan mendekatkan telinga mereka ke pintu.


Dari jauh Rafi terheran melihat karyawan yang sedang menguping di ruangan bosnya. Rafi menghampiri mereka, dia berdiri di belakang mereka.


"Ekhem.." Rafi berdehem sambil melipat tangan di dadanya. Tapi mereka terlalu fokus hingga tak terlalu mendengar suara Rafi.


"Kalian sedang apa?" Suara bariton Rafi mengejutkan ketiga karyawan itu. Membuat mereka tak sengaja mendorong pintu yang memang sedikit terbuka karena kaget dengan kehadiran Rafi dan mereka malah terjatuh.


Arga tak kalah kaget. Dia langsung menoleh dan melihat tiga orang yang sedang tersungkur di depan pintu.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Arga dingin.


"Maaf pak, maaf kami gak sengaja!" Ucap salah satu dari mereka. Mereka terlihat ketakutan.


Arga menoleh ke arah Rafi. "Rafi apa yang terjadi?" Tanya Arga pada asistennya itu.


"Maaf pak, biar saya yang hukum mereka, karena sudah tidak sopan menguping bapak!"


Rahang Arga mengeras. "Berani-beraninya kalian menguping saya!!"


"Maaf pak, saya mohon maafkan kami!" Ucap mereka serempak sambil menunduk takut.


Arga menghela nafas, karena hari ini moodnya sedang baik, dia pun memaafkan mereka.


"Ya sudah saya maafkan tapi jangan di ulang lagi. Gak sopan!" Ucap Arga dingin.


"Baik pak, kami janji tidak akan mengulanginya lagi, terima kasih banyak pak!" Arga mengusir mereka dengan isyarat tangannya.


"Rafi!!"


"Iya pak!"


"Duduk!"


Rafi duduk tegap menatap Arga. "Ada yang bisa saya bantu pak?"


"Kamu sudah cari rumah yang saya mau?"


"Sudah pak, sudah ada beberapa pilihan!"


"Coba saya lihat!" Rafi mengeluarkan ponselnya. Dia memperlihatkan beberapa rumah minimalis beserta harga dan lokasinya.


***


Nara baru selesai membereskan rumah. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat.


Tapi ponselnya berbunyi. Nara berbalik dan mengambil ponselnya di nakas. Sebuah pesan masuk dari Reva.


📨 "Kak boleh gak kita ketemuan? Ada yang mau aku omongin." Isi pesan itu.


Nara tersenyum lalu dia membalas pesan itu. Mereka memang sempat bertukar nomer telpon saat di restoran Korea.


📨 "Boleh, ketemuan di mana va?" Nara mengirim pesan itu pada Reva.

__ADS_1


Ting..


Balasan masuk dari Reva. Setelah membaca balasan dari Reva, Nara bergegas mandi.


Sepuluh menit dia selesai dan bergegas berganti baju. Hari ini dia akan menemui Reva di cafe. Nara memilih dres sebawah lutut berwarna Lilac, setelah itu dia memoles sedikit wajahnya agar tidak terlihat pucat.


Setelah siap Nara mengambil tas. Lalu dia siap berangkat. Nara menunggu taksi di depan lobby apartemen.


Sekitar tujuh menit taksi pun datang. Nara bergegas ke cafe yang di maksud Reva.


Sekitar lima belas menit dia sampai di cafe. Nara masuk dan mencari keberadaan Reva, tapi dia tidak melihat keberadaan gadis itu.


Nara mengirim pesan pada Reva.


📨 "Va aku udah sampe di cafe. Kamu di mana?" Nara mengirim pesan itu.


Sambil menunggu balasan, dia mencari tempat duduk tapi cafe itu penuh.


Ting..


Nara membaca balasan dari Reva.


📨 "Tunggu di meja 9 kak di lantai dua. Tunggu aku sebentar lagi nyampe." Balas Reva.


Nara pun naik ke lantai dua dan menunggu di meja sembilan. Lalu pramusaji datang menghampirinya dan menanyakan pesanan.


"Entar aja ya mbak, aku lagi nunggu teman!" Jawab Nara.


"Baik kak!"


Pramusaji itu pun pergi. Nara menunggu sambil memainkan ponselnya.


"Reva!" Panggil seseorang. Nara menoleh. "Eh, Nara!" Ucapnya kaget.


"Mas Rega!"


"Kamu di sini juga, sama siapa?" Tanya Rega.


"Aku lagi nungguin Reva mas tadi dia WA aku minta ketemuan!" Jawab Nara.


"Astaga Reva benar-benar tuh anak!" batin Rega kesal.


"Mas lagi apa di sini?" Tanya Nara.


"Em.. saya kebetulan mau makan siang!" Jawab Rega sedikit gugup.


"Ya udah mas makan bareng aja sambil nunggu Reva!" Ucap Nara.


Rega mengangguk dan duduk di kursi sebrang Nara. Rega menghembuskan nafas kasar, karena pertemuannya dengan Nara sekarang adalah ulah Reva. Sepertinya gadis itu sedang berusaha mendekatkan dirinya dengan Nara. Dan Rega sadar akan hal itu, karena dia pun dapat pesan dari Reva untuk datang ke cafe itu.


Rega menatap Nara andai saja Nara belum menikah, tentu dia tidak akan menolak di jodohkan dengan Nara.


Tak lama pramusaji datang lagi dan kembali menanyakan pesanan. Rega dan Nara pun segera memesan.


Ting..


Ponsel Nara berbunyi dan pesan masuk dari Reva.


📨 "Kak Nara maaf banget kak, aku gak jadi dateng. Tiba-tiba perut aku sakit 😰" isi pesan itu.


"Kenapa Ra?" tanya Rega.


"Reva gak jadi ke sini mas!" Rega menghembuskan nafas kasar.


Akhirnya mereka makan berdua. Rega makan sambil sesekali melirik Nara. Dia tersenyum tipis saat melihat gadis itu.


Tiba-tiba tangannya terangkat dan mengusap bibir Nara yang kotor. Nara kaget dan langsung menatap Rega.


"Maaf Ra, sa-saya gak sengaja!" ucap Rega kikuk sambil menarik tangannya.


Nara menunduk kikuk. "Mas aku ke toilet dulu ya!" Rega mengangguk.


Saat Nara berjalan melewati Rega, tiba-tiba ada anak kecil yang berlarian dan menabrak Nara hingga dia terjatuh ke pangkuan Rega.


Nara dan Rega terbelalak kaget. Mata mereka bertemu, jantung Rega berdetak semakin kencang dan Nara pun merasakan jantungnya berdebar-debar. Seperkian detik mereka di posisi yang sama saling berpandangan.


"Apa-apaan nih?!" teriak seseorang mengagetkan mereka.

__ADS_1


Nara dan Rega menoleh. Mata Nara membulat.


"Mas Arga!"


Wajah Arga memerah, rahangnya mengeras dan matanya pun terlihat memerah karena emosi. Nara segera beranjak dari pangkuan Rega.


Arga menghampiri mereka dan melayangkan pukulan keras pada wajah Rega.


"Jangan ganggu istri saya!!" Pekik Arga geram.


Nara menutup mulutnya kaget melihat suaminya memukul Rega.


"Ikut saya!!" Sentak Arga sambil menarik tangan Nara.


"Mas sakit pelan-pelan," ucap Nara karena Arga mencengkram tangan Nara sangat kencang.


Mereka tidak perduli dengan pengunjung lain yang menatap ke arah mereka.


Arga menarik Nara dan membawanya keluar dari cafe itu. Rega mengejar mereka karena ingin menjelaskan bahwa itu hanya kesalahpahaman. Tapi mobil Arga sudah melaju meninggalkan area cafe.


"Ah si*l!!" Rega segera ke mobilnya dan mengejar mereka. Dia takut Arga melakukan hal buruk kepada Nara karena emosi. Tapi Rega malah kehilangan jejak Arga.


"Mas salah paham, itu gak seperti yang mas lihat!" Nara berusaha menjelaskan semuanya saat di mobil.


Tapi Arga tak menggubris, dia melajukan mobilnya di luar batas.


"Mas pelan-pelan nanti kita kecelakaan!" Ucap Nara panik.


Arga menghiraukan ucapan istrinya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Amarahnya meluap melihat istrinya bersama pria lain. Dadanya terasa sesak dan bergemuruh.


Dia baru saja akan meeting bersama klien di cafe itu, tapi dia malah melihat pemandangan yang menyesakkan dan membangkitkan amarahnya.


Tak lama mereka sampai di basemen apartemen, Arga langsung menarik kasar tangan Nara.


"Mas pelan-pelan tangan aku sakit!" Rintih Nara. Tapi Arga tak menggubris.


Air mata Nara mengalir deras. "Mas aku sama mas Rega gak ada apa-apa! Kamu harus percaya sama aku mas!" Nara terus berusaha menjelaskan.


Cengkraman Arga semakin kencang. Dia menarik kasar Nara dan membawanya masuk ke dalam apartemen.


Brakkk..


Pintu di banting oleh Arga, lalu Arga menghempaskan tubuh Nara ke sofa.


"Mas harus percaya sama aku!" Isak Nara sambil menatap Arga yang matanya sudah memerah karena amarah.


"Cukup jangan bicara lagi! Dasar wanita murahan!" Bentak Arga.


Nara tercengang mendengar ucapan Arga.


Nyuutt..


Sakit sekali rasanya di bilang murahan oleh suaminya.


"Ternyata diam-diam kamu selingkuh dengan pria itu!" Teriak Arga sambil mencengkram pipi Nara dengan satu tangannya.


Nara menggeleng. Air mata Nara mengalir deras.


"Sepertinya kamu memang sering main di belakang saya, iya??" Teriak Arga tepat di depan wajah Nara.


"Enggak mas kamu harus percaya sama aku. Aku gak selingkuh sama mas Rega," Isak Nara. Arga Terlihat sangat murka.


"Saya memang bodoh dan mau saja di tipu sama wajah lugu kamu. Ternyata wanita sama aja, murahan!!"


Tangis Nara pecah. "Aku bisa jelasin mas, itu tidak seperti yang kamu pikirkan mas. Kamu harus percaya sama aku. Aku mohon, aku gak ada hubungan apapun sama mas Rega."


"Pembohong!!! Sudah berapa kali saya memergoki kamu dengan pria bren*sek itu," Nafas Arga memburu.


Cuihh.. dia meludah ke arah samping.


"Saya memang bodoh percaya sama wanita bermuka dua seperti kamu!" Sentak Arga sambil menghempaskan wajah Nara.


Ucapan Arga benar-benar melukai hati Nara. Dia tidak menyangka suaminya bisa sekasar itu. Hatinya benar-benar sakit di bentak dan di kasari suaminya, apa lagi perkataannya benar-benar menyakitkan.


Bersambung..


...Lanjut gak nih? Gak semangat.. 😓😓...

__ADS_1


__ADS_2