
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Warning part ini mengandung area untuk yang sudah menikah mohon bijak ya dalam membaca 😁
***
Arga langsung menghampiri istrinya setelah mendengar teriakan istrinya dari dalam kamar mandi. Untungnya Nara tidak mengunci pintu kamar mandi, jadi Arga bisa langsung masuk.
"Sayang kenapa?" Tanya Arga panik.
Nara tengah berdiri di depan cermin, lalu berbalik menghadap suaminya. Wajahnya terlihat takut dan juga cemas.
Arga langsung mendekati Nara lalu menangkup kedua pipi Nara.
"Ada apa sayang? Apa yang terjadi?" Tanya Arga cemas.
Tiba-tiba Nara menengadahkan kepalanya, dan memperlihatkan lehernya yang merah-merah.
"Mas kenapa leher aku kayak gini? Perasaan aku gak ada alergi apapun!" Ucap Nara sambil bertanya.
Mata Arga membulat lalu dia menepuk jidat dan tergelak. Dia tidak menyangka istrinya begitu polos.
"Kenapa mas ketawa?" tanya Nara bingung.
Memang semalam dia yang membuat tanda merah itu. Niatnya dia ingin melakukan malam pengantin yang tertunda, tapi tidur Nara sangat nyenyak sampai dia sentuh pun tak bergeming. Akhirnya Arga tidak tega membangunkan istrinya. Dia hanya menyalurkannya dengan mencecap dan menggigit memberikan tanda merah pada leher dan dada istrinya.
Nara kembali berbalik menghadap cermin. Dia menurunkan baju bagian depan dia juga melihat tanda itu di dadanya.
"Ya ampun mas, ini sampe dada loh. Aku takut!" lirih Nara cemas.
Arga semakin tergelak melihat kepolosan istrinya. Dia memeluk erat tubuh istrinya dari belakang, sambil saling berpandangan dari pantulan cermin.
"Kenapa kamu ketawa terus sih? Emang ada yang lucu?" tanya Nara sebal.
"Gak apa-apa sayang." Arga mengusap tanda merah itu.
"Apa sakit sayang?" Tanya Arga pura-pura.
"Gak mas, gak sakit dan juga gak gatel!" Jawab Nara polos. "Padahal aku gak punya alergi apapun loh!" Lanjut Nara bingung.
"Udah sayang, gak apa-apa. Nanti juga sembuh!" Ucap Arga menenangkan.
"Aku takut kenapa-napa mas. Apa kita ke dokter aja mas nanti siang, terus kita periksa kenapa dengan kulitku? Apa penyakit kulit ya?" Tanya gadis itu dengan raut cemasnya.
__ADS_1
Arga tersenyum, dia mengecup pipi Nara dari samping.
"Udah sekarang wudhu terus kita sholat. Nanti saya kasih tau sesuatu tentang tanda merah itu!" Ucap Arga.
"Mas tau soal tanda merah ini?" Tanya Nara dengan polosnya.
"Maybe!" Jawab Arga sambil mengulum senyum.
Sungguh dia benar-benar gemas melihat wajah lucu istrinya yang panik karena ulahnya.
"Udah ayo kita wudhu, terus kita sholat." Nara terdiam dia masih kepikiran dengan tanda merah yang tiba-tiba muncul di leher dan dadanya.
"Hei sayang ayo!! Nanti keburu matahari terbit!" ucap Arga menyadarkan Nara yang terbengong.
Nara pun mengangguk. Mereka bergegas berwudhu lalu sholat berjamaah.
Selesai sholat dan berdoa lalu Nara menyalami Arga dan Arga mengecup kening Nara, Nara pun membuka mukena yang membalut tubuhnya.
Arga pun membuka sarung dan pecinya. Nara membereskan sajadah dan juga sajadah milik suaminya.
Tiba-tiba Arga memeluknya dari belakang.
"Sayang mau tau gak kenapa kulit kamu merah-merah?" Tanya Arga tepat di dekat telinga Nara. Nara mengangguk.
Arga gemas dengan kepolosan istrinya, dia menggigit leher Nara.
Arga membalikkan tubuh Nara dia langsung menyambar bibir Istrinya. Nara yang belum siap dengan serangan itu sampai terhuyung ke belakang, tapi Arga segera menahan tubuh Nara dengan memeluk pinggang Nara.
Mereka berciuman dengan agresif, sampai terdengar bunyi decapan dari peraduan bibir mereka.
Nara memukul dada Arga, saat dia mulai kekurangan oksigen. Arga melepaskannya, dia menempelkan keningnya dengan kening Nara. Nafas mereka memburu, Nara ngos-ngosan karena ciuman itu, sedangkan Arga karena hasrat gairahnya sudah bangkit.
Arga langsung menggendong tubuh Nara dan membawanya ke singgasana mereka.
Arga membaringkan tubuh Nara dan mengungkungnya di bawah tubuh kekarnya, dia bertumpu pada kedua lututnya agar tidak menindih tubuh Nara.
Sedangkan Nara jantungnya berdetak kencang, belum apa-apa dia merasakan perasaan aneh menggelayar di relung hatinya. Dia tau saat ini suaminya ingin meminta haknya.
Arga memulai mengusap lembut wajah Nara. Dia memandangi wajah cantik istrinya. Lalu dia menciumi seluruh wajah Nara tanpa terkecuali tidak ada yang terlewat.
Perlahan dia mulai membuka dres tidur milik istrinya. Nara tak berani menatap Arga karena malu, dia terus memejamkan matanya dan membiarkan suaminya yang melakukanya. Sampai akhirnya tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya.
Nara menyilangkan tangan ke dadanya dan merapatkan kakinya karena malu.
"Mas aku malu!" Ucap gadis itu dengan wajah yang sudah memerah. Arga tersenyum, dia mendekat dan mengecup bibir Nara.
__ADS_1
"Gak usah malu sayang. Saya suamimu, saya berhak melihat semuanya!" Bisik Arga. Nara menatap Arga, Arga tersenyum. Perlahan dia melepaskan tangan dari dadanya.
Arga memulai aksinya, dia akan memberikan kenikmatan surga dunia untuk istri polosnya itu. Bibir Arga menelusuri setiap inci tubuh Nara sambil menambahkan tanda merah di mana-mana.
Sedangkan Nara tubuhnya kadang menegang, kadang seperti ada sengatan listrik dan juga aliran darahnya terasa mengalir lebih cepat. Kadang juga menggelinjang saat Arga menyentuh bagian sensitif dari tubuhnya. Dia merasakan sensasi aneh yang baru dia rasakan, dia begitu menikmati setiap sentuhan suaminya. Nafasnya pun sudah mulai naik turun, Arga berhasil membangkitkan gairah istrinya.
Berkali-kali suara lenguhan dan desa*an terdengar dari mulut Nara. Sampai berkali-kali Nara merasakan pelepasannya.
"Mas aku capek!" Ucap Nara saat setelah dia mendapatkan pelepasannya yang kesekian kali.
"Sayang kita belum apa-apa loh, baru pemanasan!" Ucap Arga gemas. Nara hanya menatap Arga dengan tatapan sayu.
Arga mulai membuka pakaiannya sendiri, sampai akhirnya tubuhnya pun polos. Mata Nara membulat melihat tubuh kekar suaminya, terutama pusaka besar milik suaminya. Dia sampai menelan ludah dan membayangkan itu masuk ke dalam miliknya. Nara memejamkan mata.
"Sayang kita mulai ya?" Nara mengangguk pelan dan pasrah sambil memejamkan matanya.
Perlahan Arga memasukkan miliknya ke milik Nara. Pertama gagal terus, tapi dia terus mencoba membuka segel milik istrinya.
"Aaaa..." Teriak Nara saat milik suaminya memaksa masuk.
"Mas sakit!" Ucap gadis itu sambil menangis.
Padahal milik Arga belum masuk sepenuhnya, baru setengahnya.
"Tahan ya sayang!" Arga mengangkat tubuh istrinya sedikit dan menyuruh Nara menggigit pundaknya untuk menetralkan rasa sakitnya. Lalu Arga menghentakkan miliknya agak keras sampai masuk dengan sempurna, Nara menangis sambil menggigit pundak suaminya dengan kencang, Arga merasakan gigitan Nara yang lumayan sakit.
"Maaf sayang!" Bisik Arga. Dia kembali memangut bibir Istrinya untuk menetralkan rasa sakit itu.
Arga sengaja mendiamkannya, sampai Nara tidak kesakitan, dia juga merasa sesuatu mengalir melewati miliknya. Arga tersenyum bahagia, karena dia sudah memiliki Nara seutuhnya.
"I love you," bisik Arga.
Setelah melihat Nara lebih tenang dan tidak kesakitan lagi, dia mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme pelan dan memberikan kenikmatan dan kenangan indah untuk istrinya, karena dia tau ini pengalaman pertama istrinya.
Mereka melewati pagi ini dengan malam pengantin yang seharusnya sudah mereka lakukan sebelumnya.
Arga terus memacu tubuhnya, Nara yang baru merasakan ini benar-benar di buat melayang. Meski tadi sempat merasakan sakit yang teramat karena serasa miliknya di robek oleh milik Arga, tapi akhirnya dia bisa merasakan nikmatnya surga dunia.
Penyatuan itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya mereka berada di puncaknya dan pelepasan pun tiba bersamaan.
Arga ambruk di tubuh istrinya setelah mendapatkan pelepasannya, nafas mereka memburu dan jantung mereka berdetak kencang, peluh membasahi tubuh mereka.
Punggung Arga sempat di cakar Nara, saat mereka berada di puncaknya. Tapi itu tidak seberapa di banding kenikmatan yang dia dapat. Dia begitu mencintai istrinya dan juga tubuh istrinya yang membuatnya ingin melakukannya lagi dan lagi.
Mereka beristirahat sejenak untuk mengembalikan tenaga mereka lagi. Dan mereka melanjutkannya lagi hingga matahari merangkak naik ke atas menyinari bumi.
__ADS_1
Bersambung..