Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Penjelasan


__ADS_3

Semua menoleh saat mendengar suara deheman seseorang.


Arga berjalan menghampiri meja makan. Namun tatapannya tajam menatap pria yang sedang duduk di hadapan istrinya.


"Mas makan dulu!" ucap Nara pada suaminya.


"Iya sayang!" Arga mengecup puncak kepala istrinya, lalu mencium pipi gembil putranya.


"Halo anak papa, mamam sama apa nak?" tanya Arga.


"Tato Nanat papa!" jawabnya dengan wajah yang tak beralih pada papanya karena sedang serius dengan makanannya. Arga tersenyum dan kembali mengecup pipi gembil Argan.


Setelah bertegur sapa dengan putranya dia kembali duduk dan makanan sudah di siapkan oleh istrinya di piring.


Rega memalingkan wajah saat Arga bermesraan dengan istrinya. Dan itu tak luput dari pandangan Nana.


"Na kamu sudah makannya?" tanya Nara. Nana mengangguk tak menjawab.


"Rere kok belum makan sayang?" tanya Nara pada gadis kecil itu yang terus menatapnya dengan Argan.


"Pengen di suapin sama mami!" jawabnya.


Gadis itu begitu merindukan kehadiran Nara dan perhatian Nara. Tapi saat bertemu lagi perhatiannya sudah di ambil oleh orang lain, itulah pikir gadis kecil itu.


Arga yang ingin menyuapkan nasi ke mulutnya terhenti mendengar ucapan Rere.


"Sayang, di suapin papi aja ya!" ucap Rega. Rere pun mengangguk pasrah. Karena dia sudah kehilangan perhatian maminya.


Nara menatap sendu Rere, dia melihat kecemburuan di mata kecil itu.


"Maaf ya sayang. Kita sudah tidak seperti dulu lagi." bisik hati Nara.


Sedari tadi Nana hanya terdiam dengan perasaan yang campur aduk. Entahlah dia harus bagaimana, apa dia mundur saja. Dia ragu dengan Rega, dia takut Rega tidak mencintainya dengan tulus.


Arga pun beranjak dari kursinya dan makanannya pun tak habis. Nara menatap suaminya yang akan berlalu ke kamar.


"Mas!" panggil Nara.


"Na aku titip Argan sebentar ya!" pinta Nara. Nana hanya mengangguk.


Nara menyusul suaminya ke kamar, terlihat Arga sedang duduk bersender di kasur sambil memainkan ponselnya.


Nara menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Kenapa makannya gak habis sayang?" tanya Nara sambil mengusap pipi Arga.

__ADS_1


"Gak selera!" jawab Arga datar.


Nara menghembuskan nafasnya. "Ada apa mas? Kenapa? Ada masalah?" tanya Nara dia khawatir jika suaminya sudah bersikap dingin padanya.


Arga terdiam tak menjawab pertanyaan istrinya. Nara memalingkan wajah Arga dan membingkainya.


"Kenapa mas? Cerita sama aku. Aku ini istri kamu, kalo ada masalah cerita dong mas!"


Mata Arga menatap ke arah lain, meski wajahnya menghadap Nara.


"Mas!" panggil Nara. Arga masih bergeming.


Nara melepaskan tangannya dari pipi Arga. Dia beranjak dan meninggalkan kamar. Hatinya sakit saat suaminya mendiamkan seperti itu.


Nara turun kembali ke ruang makan. Dia sudah tidak melihat Rega dan putrinya. Cuma ada Argan dan Nana yang sedang berceloteh.


"Mereka sudah pulang na?" tanya Nara. Nana hanya mengangguk tak begitu menanggapi Nara.


Nara duduk di kursi dan pikirannya terus memikirkan suaminya yang berubah dan juga sikap Nana yang juga berubah.


"Kamu ada hubungan dengan Rega na?" tanya Nara lagi.


"Kenapa memangnya?" tanya Nana balik dengan nada datar tanpa menoleh.


Nana terdiam dengan pikirannya yang berkecamuk. Nara beranjak dan menghampiri putranya.


"Ayo sayang, kita bersih-bersih terus bobo!" ajak Nara. Argan tak menolak dia langsung merentangkan tangannya minta di gendong.


Saat Nara melangkah ingin ke kamar. Nana memanggilnya.


"Bisa kita bicara Ra? Aku ingin menanyakan sesuatu!"


"Iya, aku tidurin Argan dulu!" Nana mengangguk.


Setelah membersihkan tubuh Argan dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Nara mulai mengeloni Argan.


Arga masih terdiam dengan ponselnya kini dia berpindah ke sofa dan mengabaikan Nara dan Argan.


Setelah Argan terlelap Nara memindahkannya ke box biasa Argan tidur. Nara melangkah ingin keluar tapi saat ingin membuka handle pintu dia menahannya.


"Jika rumah tangga tidak saling terbuka, maka akan berakhir kehancuran. Karena akan selalu ada salah paham yang tidak akan pernah terselesaikan!" ucapnya lalu membuka pintu dan keluar.


Arga menghela nafas mendengar ucapan istrinya. Dia tidak bisa menahan kecemburuannya pada Rega. Dia sangat tau dulu Rega menyukai Nara. Meski tidak ada ucapan, tapi dia bisa melihat tatapan Rega pada Nara yang penuh cinta. Dan sekarang tiba-tiba dia hadir dan datang ke rumahnya itu sangat menyakitkan baginya. Belum lagi ucapan anaknya yang memanggil Nara mami. Arga sangat tidak suka itu, seolah Nara itu adalah ibunya.


Nara menghampiri Nana di halaman belakang sudah tersedia dua cangkir teh di meja. Nana duduk dengan pandangan lurus ke depan. Dia menunggu Nana mengatakan sesuatu.

__ADS_1


Nana menghela nafas panjang. Dia menyiapkan hati untuk bertanya pada Nara.


"Kamu kenal mas Rega?" tanya Nana.


"Iya!" jawab Nara singkat.


"Sejak kapan?"


"Sebelum menikah dengan mas Arga. Saat masih bekerja di Madhava resto." jawab Nara.


Nana kembali menghembuskan nafas berat.


"Apa kamu mencintai mas Rega?" Nana sudah tidak sabar untuk menanyakan itu.


Nara terdiam mencerna ucapan Nana. Setelah beberapa detik kini dia paham kenapa sikapnya berubah padanya.


"Apa dulu kamu ada hubungan dengan mas Rega?" tanyanya lagi.


"Kamu mencintainya?" Bukannya menjawab Nara malah balik bertanya.


"Iya dia adalah cinta pertama ku. Dia adalah dosen yang sering aku ceritakan pada kamu Ra!" jawab Nana dengan mata menerawang jauh.


Nara tersenyum mendengar ucapan Nana. "Perjuangkan dia na. Dia pria yang baik. Aku berharap kamu bisa melangkah lebih serius dengannya!" ucap Nara.


Nana menoleh menatap Nara yang sedang memandang lurus ke depan. Dia kembali menghela nafas.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku Ra!"


"Yang mana?"


"Please Ra, aku serius!"


"Kamu tau cinta pertamaku adalah mas Arga. Meski aku pernah di kecewakan karena di bohongi dan di khianati tapi cinta itu tidak pernah berubah, sampai sekarang tidak ada laki-laki lain yang aku cinta selain mas Arga. Dia adalah cinta pertamaku dan terakhir ku." ucap Nara dengan pandangan kosong ke depan.


Tiba-tiba Nara terkekeh dan membuat Nana bingung.


"Aku gak tau Na, kenapa aku bisa secinta itu sama mas Arga. Padahal luka yang dia torehkan sama seperti yang di torehkan ayah. Tapi aku tidak bisa membencinya, rasa benci itu kalah dengan rasa cintaku padanya. Tapi.." ucapan Nara menggantung membuat Nana penasaran.


"Tapi?" tanya Nana penasaran.


"Ah, udahlah lupakan. Aku dukung kamu dengan mas Rega. Dia pria yang baik. Aku yakin kamu akan bahagia dengannya. Soal Rere memanggil ku mami jangan di jadikan pikiran. Kamulah yang akan menjadi maminya Rere, menggantikan ibunya yang sudah meninggal. Kasian anak itu dia sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, dia sangat haus perhatian seorang ibu. Sayangi dia Na, seperti anak kamu sendiri. Aku yakin dia juga akan menyayangimu seperti ibunya sendiri!" ucap Nara panjang lebar.


"Sudah malam, tidur Na. Besok kamu kerja!" lanjut Nara lalu dia beranjak dan menepuk pundak Nana. Saat dia akan masuk, dia di kejutkan dengan seseorang yang sedang berdiri di dekat pintu.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2