
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Nana sedang duduk melamun di taman kampusnya. Pikirannya terus tertuju pada Nara, dia juga terus berusaha mencari Nara tapi belum ada titik terang dimana keberadaan sahabatnya itu. Tapi Nana yakin Nara tidak akan pergi jauh, karena dia tau Nara tidak punya saudara jauh mau pun dekat karena ayah dan ibunya sama-sama anak tunggal.
"Gue harus cari lo kemana lagi Ra? Maafin gue Ra, gue tau gue salah. Please Ra balik Ra, gue kangen sama lo!" Nana menangis. Padahal selama ini Nara yang selalu ada di sampingnya dan menemaninya selama dia jauh dari keluarganya.
Saat sedang sibuk menangis tiba-tiba seseorang menyodorkan saputangan pada Nana. Nana menoleh dan dia terkejut saat tau siapa orang yang memberinya saputangan.
"Pak Rega!"
"Hapus air mata kamu. Gak malu apa di liatin orang!" ucapnya datar tanpa menoleh pada Nana.
Nana menerima saputangan itu. "Terima kasih pak!" ucapnya.
Nana menyeka air matanya dan juga ingusnya sampai terdengar bunyi 'sruutttt' lumayan kencang. Rega meringis mendengar suara aneh itu. Jorok, pikirnya.
"Maaf pak!" ucap Nana dengan suara parau dan juga malu karena bersikap konyol di hadapan pria pujaannya, karena dia melakukannya pun reflek.
Setelah itu Nana mengembalikan saputangan Rega.
"Kamu simpan aja!" ucap Rega.
Lalu Rega beranjak dan meninggalkan Nana. Nana menatap punggung Rega yang berjalan menjauh darinya. Nana tersenyum, senang sekali dia dapat perhatian dari pangeran tampannya dan itu membuat dia semakin jatuh cinta padanya.
Saat sedang asyik memandangi sang pujaan hati, dia di kejutkan dengan kedatangan Kevin yang tiba-tiba. Membuat mood nya seketika berubah, Nana berdecak kesal.
"Rese Lo!" sentaknya kesal lalu beranjak dan meninggalkan Kevin.
Kevin melongo dengan sikap absurd gadis itu.
"Salah gue apa coba? Baru aja gue duduk udah di semprot!" keluh Kevin lesu.
Kevin tau betul jika Nana menyukai Rega. Tapi dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Nana, dia harus bisa mendapatkan hati Nana. Makanya dia berusaha mendekati Nana dengan menjadi temannya.
Kevin beranjak dan mengejar Nana.
***
Setelah berfikir, Nara berniat akan pergi dari kota kelahirannya itu. Dia sudah bertekad akan menjauh dari Arga dan akan membesarkan anaknya seorang diri. Karena baginya sudah tidak ada harapan lagi untuk bersama Arga, apalagi setelah melihat Arga dan Hana di rumah sakit kemarin. Nara berfikir Arga memang tidak pernah mencintainya.
Nara membereskan pakaiannya, dia akan pergi sore ini juga. Dia tidak mau menundanya lagi, dia ingin pergi jauh dari suaminya.
"Kita pergi ya nak, kita akan hidup berdua. Cuma kita berdua!" ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Nara menghembuskan nafas kasar. "Mas semoga kamu bahagia dengan kehidupan kamu!" lirihnya sambil meneteskan air mata.
Nara bersiap untuk pergi, dia akan ke terminal untuk keluar kota. Entah kota mana yang akan dia tuju, dia sendiri belum tau. Tapi dia sudah memutuskan untuk tinggal di luar kota dan akan mencari kehidupan baru di sana bersama calon anaknya.
Nara sudah bersiap berangkat dengan kopernya. Dia menunggu taksi di pinggir jalan yang tak jauh dari kontrakannya. Tak lama taksi pun datang, Nara bergegas masuk dan mobil pun melaju membelah jalanan kota yang lumayan ramai.
Nara menatap suasana kota itu dari samping kaca mobil.
"Selamat tinggal kota kelahiran. Entah kapan aku akan ke sini lagi? Atau mungkin aku tidak akan pernah kembali lagi." gumamnya.
Nara mengusap perutnya. Setidaknya Nara tidak sendiri ada calon anaknya yang akan menemaninya nanti.
__ADS_1
"Terima kasih ya sayang kamu hadir di waktu yang tepat. Kamu hadir untuk menemani kesendirian bunda, kamu hadir untuk menguatkan bunda!" ucapnya sendu.
Tak lama dia sampai jalanan yang lumayan sepi. Tiba-tiba ada dua motor yang menghadang mobil taksi itu.
Tiga orang turun dari motor itu dan langsung menghampiri mobil taksi yang di tumpangi Nara.
"Mereka siapa pak?" tanya Nara panik.
"Gak tau non, mungkin begal non!"
"Astaghfirullah, gimana nih pak? Aku takut!"
"Non tenang ya, non diam di mobil jangan kemana-mana!"
"Bapak mau apa?"
"Saya mau lawan mereka!"
"Jangan pak, bahaya!"
Supir itu tak mengindahkan peringatan Nara, dia keluar dan melawan para penjahat itu. Tentu saja supir itu kalah di keroyok tiga orang berbadan kekar dan besar, setelah mengeroyok supir taksi itu hingga babak belur mereka mengetuk-ngetuk pintu mobil.
Nara ketakutan, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan.
"Keluar!!" teriaknya.
Salah satu dari mereka membuka pintu mobil dan menarik Nara dari mobil.
"Lepasin!!" pekik Nara saat mereka memegangi Nara.
"Serahin barang berharga Lo!!" teriak salah satu dari mereka.
Bughh..
Tiba-tiba seseorang memukul salah satu dari mereka. Membuat yang lainnya kaget begitu juga Nara.
"Mas Rega!" Rega langsung menarik Nara dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Masuk ke mobil!" serunya. Nara mengangguk dan langsung masuk ke mobil.
Rega langsung melawan para penjahat itu, meski awalnya dia kewalahan tapi akhirnya dia bisa melumpuhkan para penjahat itu hingga mereka kabur dengan mobilnya.
Nara turun dari mobil dan menghampirinya.
"Kamu gak apa-apa?" Nara menggeleng.
"Aku gak apa-apa mas! Kamu yang terluka!" ucap Nara, melihat wajah Rega memar.
"Saya gak apa-apa cuma luka dikit. Kamu mau kemana? Saya anter pulang!"
Nara terdiam dan menunduk. "Saya mau ke terminal mas!" Rega mengernyit heran.
"Terminal? Emang kamu mau kemana?"
"Mas gimana supir taksi itu kasian dia!" Nara mengalihkan pembicaraan dan menatap supir taksi itu.
"Nanti saya telpon ambulan!"
Setelah menelpon ambulan dan menunggu ambulan sampai datang, Rega dan Nara pergi.
"Kamu mau kemana Ra? Kenapa sampe bawa koper kayak gini?" tanya Rega saat di mobil.
__ADS_1
"Aku gak tau mas mau kemana?" Rega melirik Nara sekilas lalu kembali fokus menatap ke depan.
"Saya anter kamu pulang kalo gitu!"
"Jangan mas, anterin saya ke terminal aja," jawab Nara.
"Kamu ada masalah sama suami kamu?" Nara terdiam dan tak menjawab, saat ini dia benar-benar tidak ingin membicarakan tentang Arga.
"Ini udah sore Ra, gak baik melakukan perjalanan malam. Lebih baik saya anter kamu pulang!"
"Gak usah mas, kalo gitu anter saya cari penginapan aja!" Jawab Nara.
Rega menghela nafas, dia yakin Nara sedang menghadapi masalah berat. Sampai dia harus membawa koper dan pergi dari rumah dan dia juga yakin Nara sedang ada masalah dengan suaminya.
Rega menoleh menatap Nara, gadis itu sedang melamun sambil menatap kosong ke arah depan.
"Apa yang terjadi dengan kamu Ra? Sepertinya kamu sedang menghadapi masalah berat?" batin Rega.
Tak lama mobil sampai di halaman rumah Rega. Nara masih sibuk dengan lamunannya.
"Ra!" panggil Rega tapi Nara tak menggubris dia masih asyik dengan lamunannya.
Rega menepuk pundak Nara hingga dia terkejut.
"Maaf saya ngagetin kamu ya?" Nara menggeleng.
"Gak mas! Kita-" belum sempat menyelesaikan ucapannya Nara mengernyit heran saat melihat sekitar.
"Loh kita kok ke rumah kamu mas!"
"Sebaiknya kamu tidur dulu di rumah saya, dari pada kamu tidur di tempat lain!"
"Tapi mas-"
"Ra saya gak mau kamu kenapa-napa! Lagian Rere pasti senang ada kamu, dia juga sangat merindukan kamu!" sela Rega.
"Tapi mas, aku-"
"Udah ayo turun, ini demi kebaikan kamu!" Nara menghela nafas, dia pun menurut. Dia turun dan mengikuti Rega masuk.
Nara masuk ke rumah Rega. "Assalamualaikum.." Rega mengucap salam.
"Waalaikumsalam.." jawab Wiwi dan Rere yang kebetulan sedang berada di ruang tamu.
"Papi!" gadis itu berlari dan berhambur ke pelukan ayahnya, Rega langsung menggendong dan mencium pipi putrinya. Gadis kecil itu belum menyadari kehadiran Nara.
"Lagi apa princessnya papi?"
"Gambal papi!" tiba-tiba gadis itu menoleh ke arah Nara.
"Mamiii..!!" Rere langsung lepas dari gendongan Rega dan berlari ke arah Nara. Nara merentangkan tangannya dan memeluk gadis kecil yang sangat dia rindukan itu.
"Mami.." mata gadis kecil itu berkaca-kaca.
"Sayang mami kangen banget!"
"Aku juga mami, huhuhuhu.." akhirnya tangis gadis itu pecah karena bahagia. Akhirnya setelah sekian lama dia bisa bertemu dengan orang yang sangat di rindukannya itu.
Rega tersenyum melihat kebahagiaan putrinya. Sudah lama Rere terus menanyakan Nara, tapi Rega selalu melarangnya untuk bertemu Nara, karena dia tidak ingin anaknya terus-terusan berharap pada Nara. Dia tidak ingin kesalahpahaman itu terjadi lagi, jadi dia berusaha untuk menjauhkan Rere dengan Nara.
Bersambung..
__ADS_1