Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Penyesalan


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Sudah dua hari sejak kepergian Fahmi untuk selamanya, Argan belum juga sadarkan diri. Nara dan Arga tak pernah meninggalkan putranya. Nara meninggalkan putranya hanya saat pemakaman Fahmi.


Air mata sudah tidak mengalir lagi dari pelupuk mata Nara, namun pandangannya kosong seperti tak ada kehidupan.


"Sayang!"


Panggilan Arga pun tak di hiraukan Nara, karena terlalu sibuk dengan pikirannya yang entah ada di mana. Arga menghembuskan nafas berat, dia menghampiri istrinya lalu mengusap kepalanya.


"Sayang makan dulu ya terus minum obat!" ujar Arga.


Nara tetap tak bergeming tatapannya kosong menatap Argan, Arga mengambil kursi dan menaruhnya di samping Nara. Lalu dia duduk, Arga mengalihkan pandangan Nara padanya.


"Nara liat mas, mas gak mau liat kamu kayak gini bangkitlah sayang demi Argan!" ucap Arga sambil membingkai wajah Nara.


Nara menatap Arga, tatapan itu masih kosong namun tak lama tatapan itu berubah menjadi tatapan sinis. Nara membuang muka membuat Arga mengernyit heran.


"Sayang kenapa?" tanya Arga sambil kembali memalingkan wajah Nara menghadapnya.


"Biarin aku sendiri mas!"


"Tapi sayang-"


"Tinggalin aku!!" sela Nara.


"Mas gak akan ninggalin kamu dan Argan lagi Nara. Dua tahun lebih mas cari-cari kamu dan sekarang mas sudah menemukan kamu, mana mungkin mas ninggalin kamu!" ucap Arga.


"Pergi!!" pekik Nara, Arga menggeleng.


Nara terisak, entah kenapa hatinya benar-benar sakit. Kehilangan pria yang selalu ada untuknya dan sekarang putranya masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri.


"Tapi semua ini terjadi gara-gara kamu mas, kalo saja kamu gak datang mungkin semua ini tidak akan terjadi. A Fahmi mungkin masih ada dan Argan gak bakal berada di sini!" Isak Nara.


Hati Arga berdenyut hebat mendengar ucapan istrinya, sakit dan sesak serasa ada beban berat menghantam dadanya. Tak terasa air matanya menetes.


Sakit sekali, istri yang selama ini dia cari-cari justru menyalahkannya atas kejadian yang menimpa Fahmi dan Argan.


"Maafin mas jika kehadiran mas membuat kamu terluka!" ucap Arga dengan suara yang terasa tercekat karena menahan tangis.


Nara terdiam lalu dia menghembuskan nafas berat sambil menyeka air matanya.


"Pergilah mas, beri aku waktu!" ucap Nara dengan nada yang lebih lembut.


Arga menatap Nara, dia mengusap kepala Nara dan mengecupnya.


"Baiklah, mas akan tunggu di luar. Jika kamu butuh sesuatu panggil mas," ucap Arga, lalu dia beranjak sebelum keluar dia mengecup kening Argan.


Arga keluar, air mata Nara mengalir deras membasahi pipinya. Sakit sekali rasanya dia harus menyalahkan suaminya meski ini memang salahnya, tapi lebih sakit lagi melihat putranya masih terbaring tidak sadarkan diri.


***


Sehari dua hari sudah seminggu berlalu Nara dan Arga di rumah sakit menjaga putranya, namun bocah kecil itu masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


Arga masih tetap setia menemani istri dan anaknya, meski sikap Nara kembali dingin dan acuh padanya.


"Sayang bangun nak. Jagoan bunda ayo bangun, bunda kangen sama adek, jangan bikin bunda takut nak!" gumam Nara.


Keadaan Nara sudah lebih baik dari keadaan saat pertama kali kepergian Fahmi, meski terkadang dia sering melamun.


Arga sedang ke pabriknya karena ada kendala.


Sesekali pak Harun datang menjenguk Argan, sedangkan Bu Mimin masih terpukul dengan kepergian putranya. Fahri sudah kembali ke pesantren karena memang waktu liburnya sudah habis.


Saat sedang menciumi tangan Argan tiba-tiba Argan terisak, sudut matanya mengeluarkan air mata.


"Sayang!" Nara beranjak dan mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata Argan.


"Kenapa nak? Kenapa adek nangis? Sakit ya sayang?" tanya Nara khawatir melihat anaknya menangis.


Nara pun memencet tombol darurat untuk memanggil suster.


"Bangun nak, ini bunda sayang!" ucap Nara sambil menggenggam tangan mungil Argan.


Tak lama dokter datang, dia langsung memeriksa kondisi Argan.


"Dok tadi ada anak saya menangis!" ucap Nara.


"Kondisi anak ibu baik-baik saja, dia juga sudah melewati masa kritisnya tapi dia masih mengalami syok dan juga mungkin merasakan sakit. Tapi kondisi putra ibu cukup stabil!"


Nara menatap putranya sendu, terlihat mata Argan mengerjap pelan dan ingin membuka mata.


"Sayang!" Nara menghampiri Argan dan mengecup kening Argan.


Mata Argan terbuka meski wajahnya meringis mungkin karena sakit.


"Sayang ini bunda nak!"


"Nda, tatit!" ucapnya dengan suara lemah dan merintih. (Bunda, sakit)


"Sabar ya sayang, cuma sebentar kok sakitnya. Adek kan jagoan!" ucap Nara menenangkan putranya. Meski Argan terus menangis karena merasakan sakit.


"Sus, tolong suntikkan obat pada infus untuk menghilangkan rasa sakitnya!" ucap dokter.


"Baik dok!" Dokter pun pamit setelah melihat keadaan Argan membaik.


Argan terus menangis karena mungkin kepalanya pusing dan tubuhnya sakit.


"Tatit!!" isaknya. Nara tidak tega melihat putranya kesakitan.


"Sabar ya sayang, adek udah di obatin nanti sakitnya sembuh sayang!" ucap Nara.


"Tatitt Nda!" Nara meniup-niup kepala Argan.


"Udah bunda tiup nanti pasti sembuh!" ucap Nara lalu dia mengecup kening Argan.


"Iyah.. tatit hiks.. hiks.. hiks.."


Hati Nara teriris mendengar Argan memanggil ayahnya karena dia tau yang di maksud Argan itu Fahmi bukan Arga.


"Nda Iyah ana?" tanyanya sambil sesenggukan. (Bunda ayah mana?)


Nara terdiam dia tidak tau bagaimana menjelaskan pada putranya.

__ADS_1


"Iyah, Yaya Adan tatit!" lirih bocah kecil itu. (Ayah kepala Argan sakit)


Nara mengecup kening Argan lembut, dia tidak tau harus bagaimana memberitahukan putranya tentang ayahnya yang udah tidak ada di dunia ini lagi.


Mendengar putranya sadar Arga langsung menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera ke rumah sakit.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Arga langsung meluncur ke rumah sakit, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu putranya dan memeluknya.


Sesampainya di depan ruangan Argan, Arga mendengar putranya menangis dan memanggil-manggil ayahnya. Arga menghembuskan nafas kasar, dia tau yang di maksud putranya itu adalah Fahmi bukan dirinya, lalu dia membuka pintu.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Nara menoleh dan melihat suaminya, lalu dia kembali mengalihkan pandangannya pada putranya.


"Sayang, jagoan ayah sudah bangun!" ucap Arga menghampiri Argan sambil mengecup kening Argan.


Tapi Argan menatap bingung dan takut pada Arga, dia langsung beranjak ke pelukan Nara, melihat itu hati Arga benar-benar hancur melihat putranya ketakutan melihatnya.


"Nda, tatut.. hiks.. hiks.. hiks..!" (bunda takut)


"Gak usah takut sayang, itu ayah Argan!" Argan kembali menatap Arga namun dia memalingkan wajahnya takut karena bukan Fahmi.


"Nda, Iyah.. hiks.. hiks.. hiks..!" isaknya tersedu-sedu.


Nara menghela nafas, dia menatap suaminya yang menunduk sedih. Nara pun tidak tega melihat suaminya sedih karena putranya tidak mengenalinya.


"Coba liat itu ayah sayang, ayah Argan!" Nara masih mencoba membujuk Argan. Argan menggeleng tanpa menoleh lagi pada Arga.


"Tatit nda hiks.. hiks.. hiks..!"


"Makanya adek jangan nangis terus biar gak sakit!" ucap Nara dia mengusap punggung Argan agar anak itu terlelap.


Arga masih mematung dan berharap bisa memeluk putranya, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Ya Allah ampuni atas segala dosa-dosa ku. Kenapa putraku sendiri tidak mau melihatku? Apa ini hukuman buatku!" lirih Arga dalam hati.


Air mata pun mengalir ke pipinya. Nara menatap Arga yang menangis dia tega melihat suaminya menangis. Dia tau Arga sangat terluka dengan sikap Argan, tapi dia pun tidak tau harus bagaimana.


Setelah merasa tenang, Argan pun kembali terlelap. Arga sudah duduk di sofa dengan pandangan kosong. Hatinya benar-benar hancur karena tidak bisa menjadi ayah buat putranya sendiri.


Setelah menidurkan Argan, Nara menghampiri Arga. Dia tidak bisa lagi mendiamkan suaminya yang saat ini pasti sedang sangat terluka.


Nara duduk samping Arga dan menggenggam tangan Arga, Arga menoleh dia langsung memeluk Nara dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara. Nara memeluk erat kepala Arga, tubuh Arga bergetar dia menangis dalam pelukan istrinya.


Dia tidak menyangka perbuatannya sudah menjauhkannya dengan darah dagingnya.


"Mas sabar ya, suatu saat Argan pasti akan memanggil kamu ayah!" ucap Nara.


"Maafin mas Nara, semua ini kesalahan mas. Mungkin ini hukuman untuk mas karena sudah menyakiti kalian!" Isak Arga.


Nara menghembuskan nafas berat. Dia tidak menyangka semua ini akan terjadi dalam hidupnya. Takdirnya begitu berat tapi dia berusaha kuat untuk menghadapi takdir hidupnya yang keras.


Arga masih menangis dalam pelukan Nara, penyesalan tak ada artinya lagi semuanya sudah terjadi, namun kesalahan masih bisa di perbaiki dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.


Bersambung..


Yuk mampir juga di karya temanku ceritanya seru dan juga menarik. Mohon dukungannya juga buat karya temanku. Siapkan tisu buat baca, bikin mewek ceritanya..

__ADS_1


Dari Author kak Nur Seri Bulan



__ADS_2