
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Rere sangat bahagia dengan kehadiran Nara, bahkan dia tidak mau jauh dari Nara. Dia terus lengket dalam dekapan Nara, membuat Rega bingung sendiri dengan sikap anaknya itu. Kenapa bisa dia sedekat itu dengan Nara padahal mereka tidak ada hubungan ikatan apa-apa.
"Ya ampun cantiknya mami manja banget sih!" ucap Nara sambil mengusap kepala Rere yang sedang bersender di dadanya.
Rere mendongak dan menatap Nara. "Mami gak boleh pelgi lagi, mami gak boleh tinggalin aku!" ucap gadis kecil itu sambil menatap Nara dengan tatapan sendu dan memohon.
Nara tersenyum dan mengecup pipi chubby gadis itu.
"Iya sayang, mami akan selalu di dekat Rere!" ucap Nara. Rere tersenyum dan memeluk erat tubuh Nara.
Nara mengusap kepala Rere lembut dan penuh sayang. Dari jauh Rega terus memperhatikan kedua wanita yang berbeda usia itu.
"Kenapa Ra di saat aku ingin melupakan kamu? Kamu justru hadir lagi dan membuat aku ragu untuk melupakan kamu!"
Rega menghela nafas, susah payah dia melupakan Nara tapi lagi-lagi dia di hadapkan dengan kenyataan yang membuatnya harus selalu terlibat dalam lingkaran kisahnya dengan Nara dan Arga.
Rega menghampiri Nara dan Rere yang sedang menonton tv. Gadis itu sabar sekali menghadapi Rere yang rewel. Andai saja Nara belum menikah saat ini juga Rega pasti akan melamarnya dan memintanya untuk jadi ibu buat Rere. Karena gadis itu benar-benar mirip dengan mantan istrinya Angel yang penyayang, sabar dan juga dewasa.
"Sayang!" panggil Rega.
Nara dan Rere menoleh kompak. "Apa papi?"
"Udah malam bobo ya!"
Rere menatap Nara, entah tatapan apa yang dia tujukan gadis kecil itu tapi saat Nara mengangguk, gadis kecil itu menurut.
"Bobo sama mami, papi!"
Kini Rega yang menatap Nara. Nara pun mengangguk dan mengerti tatapan Rega.
"Ayo papi gendong!" ajak Rega tapi Rere menggeleng.
"No! Gendong mami!" Gadis itu mengeratkan pelukannya pada leher Nara dan mendelik tajam ke arah papinya.
Entah kenapa kalau ada Nara, Rere justru memusuhi ayahnya. Rega hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putri kecilnya itu.
"Ya udah mas biar aku yang gendong Rere ke atas!" ucap Nara.
Nara beranjak sambil mengangkat tubuh Rere tapi tiba-tiba tubuhnya lemas, membuat tubuh dia kembali terhempas ke sofa.
"Ra, kamu gak apa-apa?" tanya Rega panik.
"Aku gak apa-apa mas!"
"Sayang papi aja yang gendong ya! Maminya sakit sayang!" Rere mengangguk mengerti.
Rere beralih ke gendongan Rega. "Ra kita ke rumah sakit ya!"
Nara menggeleng. "Gak usah mas, aku cuma kecapean aja di bawa istirahat juga nanti sembuh!" jawab Nara.
"Ya udah sayang kita bobo yuk!" ajak Nara.
"Iya mami!"
Mereka pun masuk ke kamar. Rere langsung berbaring di kasur sambil memeluk Nara dan Nara mengusap lembut kepala Rere.
"Good night sayang!" ucap Rega sambil mengecup kening Rere.
__ADS_1
"Good night papi!"
"Kamu juga istirahat ya Ra!" Nara mengangguk.
"Makasih ya mas!" Rega mengangguk lalu pamit keluar.
Setelah kepergian Rega, Nara kembali melamun karena kebetulan Rere juga sudah memejamkan mata. Hati dan pikirannya tidak lepas dari Arga.
Dia mengambil ponselnya dan melihat-lihat foto suaminya. Air mata mengalir begitu saja. Sekeras apapun dia melupakan dan membenci Arga tidak bisa mengalahkan rasa cintanya.
Tapi saat ini dia butuh waktu sendiri untuk menata hatinya yang hancur di tambah lagi pertemuannya dengan Arga dan Hana di rumah sakit dan dia seolah berfikir Arga tidak pernah berusaha mencarinya dan lebih memilih bersama istri pertamanya dan itu menambah luka hatinya.
Pandangan Nara beralih ke perutnya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat merindukan suaminya dan ingin sekali memeluknya.
"Kamu kangen sama ayah ya nak?"
"Bunda juga sayang. Bunda kangen banget sama ayah, tapi ayah tidak mencintai bunda nak. Ayah tidak pernah mencintai bunda. Apa yang harus bunda lakukan?" isaknya.
Mendengar suara Isak tangis membuat Rere terbangun. Dia menatap Nara yang sedang menangis, dia beranjak lalu mengusap air mata Nara.
"Mami kenapa nangis?" tanya Rere. Nara langsung mengusap air matanya.
"Gak apa-apa sayang! Mami gak nangis kok!" elaknya.
"Apa papi nakalin mami?" tanya gadis kecil itu sambil menatap polos Nara. Nara tersenyum dan menggeleng. Lalu dia memeluk Rere dan mengajak Rere tidur.
"Tidur sayang udah malam. Papi gak nakal kok!"
Rere mengangguk dan langsung memejamkan matanya. Nara mengusap kepala Rere, setelah itu dia mengecup kening Rere dan dia pun ikut terlelap.
***
Pagi hari Nara sudah sibuk di dapur membantu bi Yayah memasak, meski bi Yayah melarang tapi Nara memaksa.
"Gak apa-apa bi, gak enak kalo saya tinggal di sini tanpa bantu apa-apa!" Jawab Nara.
"Tapi nanti tuan marah non!"
"Gak bakalan bi, percaya deh," bi Yayah pun mengangguk pasrah.
"Bibi mau masak apa?"
"Bikin nasi goreng non, buat sarapan. Dan sekalian masak juga buat makan siang!"
Nara mengangguk. Nara pun membantu bi Yayah menyiapkan bahan yang akan di masak.
Rega sudah rapi karena pagi ini dia ke kampus. Dia berjalan ke kamar Rere, tapi dia tidak melihat Nara dan hanya melihat putrinya yang masih terlelap.
"Nara kemana?" gumamnya.
Tiba-tiba dia mendengar suara Nara di bawah. Rega pun turun ke bawah, dia melihat Nara sedang sibuk memasak membantu bi Yayah. Rega berdiri sambil melipat tangan di dada menatap wanita yang masih tersimpan di hatinya itu.
"Cantik!" gumamnya tersenyum. Rega terus memperhatikan Nara sambil tersenyum.
Bahagianya jika Nara benar-benar menjadi istrinya, tapi sayangnya itu tidak akan pernah terjadi dan dia hanya bisa berharap.
Nara masih belum sadar sedang di perhatikan, dia masih asyik memasak sambil sesekali bercanda dengan bi Yayah.
"Oh iya non, bibi mau ke toilet dulu ya. Bibi mules!" ucap bi Yayah.
"Iya bi, ini biar aku yang jagain!"
"Iya non makasih!" Bi Yayah pun segera berlari kecil menuju toilet.
Nara celingak-celinguk mencari blender, tapi dia tidak menemukannya.
__ADS_1
"Di mana ya? Aku lupa nanya si bibi lagi!"
Tak sengaja dia melihat blender itu di atas. Nara pun mengambil kursi plastik untuk mengambil blender itu. Dia naik dan mencoba meraih blender yang ada di atas itu, tapi tubuhnya yang pendek membuat dia sulit menggapainya.
Saat dia berjinjit untuk meraih blender itu, dia terpeleset.
"Aaaa.."
Grepp..
Hampir saja Nara terjatuh, untung seseorang segera menangkap tubuh Nara hingga dia tidak terjatuh ke lantai.
Nara melihat siapa yang sudah menolongnya, seketika mata mereka bertemu. Dan untuk sesaat mata mereka saling menatap cukup dalam.
Ada desiran aneh yang menggelayar di hati pria yang sedang memeluk tubuh Nara dan jantungnya berdetak kencang.
"Apa-apaan nih?" tiba-tiba seseorang mengagetkan mereka hingga mereka melepaskan diri masing-masing.
Rega dan Nara terlihat gugup. Nara menatap Seorang wanita dengan penampilan yang cukup Sexy.
"Dia siapa mas?" tanya wanita itu menghampiri Rega.
"Kenalin ini Nara Vi!"
"Aku gak perlu tau siapa nama dia? Yang aku tanya siapa dia? Kenapa dia ada di sini?" Tanya wanita itu ketus
"Dia temen saya!"
"Temen? Ngapain pagi-pagi ada di sini? Dan kenapa juga kalian peluk-peluk?" tanya wanita itu sambil menatap sinis Nara.
"Kamu sendiri ngapain di sini Vi? Ini masih pagi!"
"Emang kenapa mas? Aku kan calon istri kamu!" ucap wanita itu.
Tiba-tiba mereka mendengar suara Isak tangis Rere dan memanggil-manggil Nara.
"Mas, aku samperin Rere dulu ya. Dia pasti nyariin aku!" ucap Nara.
Dia pamit dan bergegas naik ke atas dan bi Yayah pun sudah kembali ke dapur.
Rega mengikuti Nara ke atas dan di ikuti wanita yang mengaku calon istri Rega.
"Mami.. huhuhuhu.. mami Nala!" Isak Rere.
Nara bergegas masuk ke kamar, dan melihat Rere sedang menangis.
"Sayang!" Nara menghampiri gadis kecil itu.
"Mami.." Rere langsung memeluk Nara erat, seolah tak ingin membiarkan Nara pergi.
"Mami jangan pelgi lagi, mami jangan tinggalin aku.. huhuhuhu.."
"Enggak sayang, mami ada di sini. Mami gak tinggalin Rere cup sayang jangan nangis lagi ya." Rere menangis tersedu-sedu.
Dia kira Nara meninggalkannya lagi, karena saat bangun dia tidak melihat Nara. Dia takut Nara meninggalkannya lagi seperti dulu, saat dia terbangun Nara tidak ada di sisinya.
Wanita yang bernama Vivi itu merasa heran dengan Rere, kenapa dia memanggil Nara mami.
"Mas kamu harus jelasin sama aku. Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa Rere memanggilnya mami?" tanya Vivi.
Rega menghela nafas. Sejujurnya dia tidak pernah mencintai Vivi tapi karena dulu dia sendiri yang meminta ibunya untuk mencarikan jodoh dan akhirnya dia di pertemukan dengan Vivi, mau tidak mau dia harus menerimanya. Dan lagi Rere tidak pernah menyukai Vivi, tapi karena sudah terlanjur akhirnya Rega mau menerima perjodohan itu.
Rega mengajak Vivi keluar kamar dan membiarkan Rere dan Nara.
Bersambung..
__ADS_1