Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Ketemu Onty


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Pagi hari Nara sudah sibuk berkutat di dapur. Dia memang suka memasak dan suka dengan urusan dapur. Nara sedang membuat sarapan dan juga bekal untuk Arga.


Tak lama Nana menghampirinya. "Masak apa Ra?" tanyanya sambil duduk di kursi makan dan menyomot nugget yang sudah matang.


"Capcay sama udang balado! Kamu kuliah na?" tanya Nara balik.


"Iya, tapi kuliah siang!"


"Ya ampun na, cuci muka dulu Sono. Tuh muka ileran juga, maen nyosor aja tuh makanan!" cecar Nara. Nana hanya cengengesan sambil mengunyah nuggetnya.


Lalu dia beranjak dan ke kamar mandi. Tapi matanya melirik sekilas ke jari manis Nara yang tersemat sebuah cincin mas putih. Setelah itu dia bergegas ke kamar mandi.


Nara sedang menyiapkan bekal untuk Arga. "Semoga mas Arga suka!" gumamnya senang.


Setelah selesai menyiapkan sarapan dan bekal. Nara pun bersiap untuk mandi. "Na, cepetan aku mau mandi!" seru Nara.


"Sebentar, gue mules nih!" sahut Nana.


"Kebiasaan deh!" gerutu Nara.


Dia pun ke kamar dan menyiapkan baju untuk kerjanya. Lalu tak lama terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Nara bergegas ke kamar mandi kerena takut kesiangan.


"Lo kerja Ra?" tanya Nana saat Nara lewat meja makan.


"Iya," jawab Nara.


"Udah mau jadi istri bos masih aja kerja," ujar Nana.


Nara tak menggubris dia langsung masuk ke kamar mandi dan bergegas mandi karena takut kesiangan.


Nana menghela nafas. "Sorry Ra, jujur sebenarnya gue gak setuju lo sama bang Arga. Tapi kayaknya lo benar-benar serius sama dia. Gue harus gimana Ra? Gue gak mau suatu saat lo tau kebenarannya tentang bang Arga dan lo benci gue. Gue gak mau Ra lo benci gue!" lirih Nana.


Dia jadi tidak berselera makan, dia beranjak dan masuk kamar. Tak lama Nara pun keluar dari kamar mandi.


"Kemana tuh bocah? Kenapa gak sarapan?" gumam Nara mencari Nana.


"Na, kamu gak sarapan?" tanya Nara saat melewati kamar Nana.


"Belum laper, masih ngantuk mau lanjut tidur!" sahutnya dari dalam.


"Ya ampun na, dasar kebluk!!" Nara kembali ke meja makan lalu sarapan.


Selesai makan Nara bersiap berangkat karena Arga datang menjemput.


"Na, aku berangkat ya!!" seru Nara. Tak ada jawaban mungkin Nana sudah tidur, pikir Nara.


Nara menghampiri Arga yang sedang duduk di luar. "Udah siap?" tanya Arga. Nara mengangguk semangat.

__ADS_1


Arga tersenyum. "Oh iya mas, aku bawa bekal buat kamu!" Nara menyerahkan tas berisi bekal. Tapi raut Arga seperti tidak suka, membuat Nara sedikit kecewa melihat raut Arga, dia kira Arga akan senang.


"Makasih!" ucap Arga lalu dia berjalan lebih dulu ke mobil. Nara mengernyit heran dengan perubahan sikap Arga yang tiba-tiba berubah.


Nara mengikuti Arga dan masuk mobil. Biasanya Arga selalu membukakan pintu mobil untuknya, tapi kali ini dia masuk lebih dulu.


"Apa aku ada salah ya? Kenapa mas Arga jadi aneh?" batin Nara.


Nara melirik Arga, dia fokus menatap ke depan lalu melajukan mobilnya. Bahkan sepanjang perjalanan Arga terdiam dan tidak membuka suara, membuat Nara Semakin bingung.


"Mas!" panggil Nara memberanikan diri.


"Hm.." jawab Arga tanpa menoleh ke arah Nara.


"Mas marah sama aku? Mas marah karena aku kasih mas bekal, kalo mas gak suka biar aku bawa lagi bekelnya!" ucap Nara.


Arga terdiam dan tak menggubris ucapan Nara. Nara menunduk lesu, lalu dia mengalihkan pandangannya ke samping mobil. Hatinya terasa sakit saat Arga mengabaikannya, matanya berkaca-kaca.


Tak lama mereka sampai di Madhava Resto. Nara bersiap akan keluar tapi Arga menahannya, Nara tak berani menoleh. Tapi Arga membalikkan tubuh Nara agar menghadapnya.


"Maaf saya gak bermaksud buat kamu sedih!" ucap Arga. Nara mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Hei tatap aku, lihat aku sayang!" Nara pun menatapnya.


"Saya sedang ada masalah di kantor, jadi pikiran saya agak bercabang. Jangan sedih, saya suka kok bekal yang kamu buat," ucap Arga sambil mengusap air mata Nara yang menetes.


Arga mendekat dan mengecup bibir Nara.


"Semangat ya kerjanya. Inget setelah kamu menjadi istriku, kamu tidak bisa lagi kerja di sana," sambungnya.


Nara menatap Arga, lalu mengangguk. "Udah jangan sedih lagi ya. Senyum dong!"


"Aku masuk ya mas!" Arga mengangguk, sebelum Nara keluar Arga mengecup kening Nara.


***


Jam makan siang, Rega berniat mengajak putrinya makan di luar dan kebetulan dia memilih di Madhava Resto.


Rega menjemput Rere di rumahnya, Rere pun sudah siap berangkat, karena sebelumnya Rega sudah berpesan pada pengasuh Rere agar bersiap-siap.


"Kita mau makan di mana ga?" tanya bu Ingrid mamanya Rega yang kebetulan sedang menginap di rumah Rega.


"Madhava Resto aja mah," Bu Ingrid mengangguk.


Mereka pun bergegas berangkat menuju Madhava Resto. Sepanjang perjalanan Rere terus bernyanyi dan bergembira, membuat semua yang melihatnya pun ikut bahagia melihat tingkah lucu dan menggemaskan gadis kecil itu.


"Papi kita mau ke lumah onty?" tanya Rere antusias.


Rega terdiam. Ternyata anaknya masih ingat dengan janji yang dia buat, padahal susah payah dia membuat gadis itu lupa akan janji itu.


Melihat ayahnya terdiam, Rere mengira apa yang di ucapkannya benar.


"Yeeeee.. mau ke lumah onty!" ucapnya girang dan bersemangat.


Rega menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kecut.

__ADS_1


"Ga, kamu janjiin apa sama Rere? Onty siapa?" tanya bu Ingrid. Rega hanya menoleh sekilas dan tersenyum kecut.


"Gak apa-apa mah!" jawab Rega.


Tak lama mereka pun sampai di Madhava Resto.


"Papi ini lumah onty?" tanya Rere tak sabar.


"Bukan sayang, kita makan dulu oke!" balas Rega.


"Gak mau! Aku mau ketemu onty papi!" Rere merajuk sambil mengerucutkan bibirnya sambil melipat tangannya di dada dan melirik tajam ayahnya.


"Tapi ontynya lagi sibuk sayang, jadi gak bisa ke rumah onty!"


"Gak mau aku mau ketemu onty!!" Rere semakin merajuk dan tak mau keluar mobil.


"Ayo sayang kita mamam dulu, ketemu ontynya habis mamam, oke!" ucap bu Ingrid membujuk cucunya.


"Mah, jangan bilang gitu. Nanti dia nagih terus, aku gak tau siapa onty yang dia maksud!" ucap Rega tak suka dengan ucapan ibunya.


"Dari pada dia ngambek gitu, gak mau makan. Nanti kita cari akal lagi deh buat ngelabuin dia!" sahut bu Ingrid. Rega hanya memutar bola matanya malas.


"Ayo sayang kita mamam dulu, oke!" bujuk bu Ingrid. Rere masih mematutkan wajahnya.


"Ayo sus ajak!" serunya pada pengasuh Rere.


"Iya nyonya!"


Akhirnya dengan bujuk rayu, Rere mau keluar mobil dan masuk ke resto. Untungnya Rega sudah membooking tempat untuknya dan keluarganya. Saat mereka sedang berjalan menuju tempat duduk mereka, tiba-tiba Rere berteriak.


"Ontyyyy...." Rere berlari dan langsung memeluk salah satu pelayan di sana. Rega dan yang lainnya kaget melihat reaksi Rere seperti itu.


Rega lebih kaget saat melihat orang yang dimaksud anaknya adalah gadis yang pernah mengembalikan dompetnya.


"Gadis itu!" gumamnya pelan.


"Tuan, itu orang yang udah nolongin non Rere waktu itu!" ucap si pengasuh saat melihat gadis yang pernah menolong Rere.


Rega mengangguk. Terlihat anaknya tidak mau lepas dari pelukan gadis itu, Rega menghampiri anaknya.


"Sayang ayo kita makan!" ajak Rega.


Gadis itu pun terlihat terkesiap saat melihat kehadiran Rega.


"Gak mau papi, aku mau sama onty!!" rengek Rere sambil memeluk erat leher gadis itu yang kebetulan dia sedang berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Rere.


"Tapi ontynya lagi kerja sayang, ayo sama papi!" bujuk Rega.


"Gak mau, mau sama onty!" kekeuh Rere sambil memalingkan wajahnya dari sang ayah dan mengeratkan pelukannya pada leher gadis itu.


Rega tersenyum canggung pada gadis itu. "Gak apa-apa pak, biar adek cantik ini sama saya!" ujar gadis itu.


"Yeeeee.. onty mau makan sama aku?" tanya Rere senang.


"Iya onty temenin, tapi adek makan yang banyak ya," Rere mengangguk semangat.

__ADS_1


Rega pun pasrah karena kemauan anaknya tidak bisa di tentang.


Bersambung..


__ADS_2