Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Sarapan


__ADS_3

Deg!


"Bang Arga, ngagetin aja deh!" kesal Nana sambil melepaskan tangan Arga.


"Kamu ngapain disini? Ini udah malam na!"


"Ini baru jam delapan bang, masih sore. Aku lagi ngobrol sama temen!"


"Pulang na!"


"Ish, Abang nih aku belum makan, belum ngobrol. Masa pulang?!"


Arga menghela nafas. "Na om Yusril udah titipin kamu ke abang, jadi sekarang kamu tanggung jawab Abang."


"Maaf bang, kenalin saya Rama. Temannya Nana. Abang tenang aja nanti jam sembilan saya antar pulang Nana," ucap Rama menengahi pertengkaran mereka.


Arga tak menjawab dia hanya menatap Rama dingin dan acuh.


"Baiklah, Abang tunggu jam sembilan. Gak usah di antar dia biar kamu pulang sama abang." ucap Arga lalu dia pergi meninggalkan mereka.


Nana menghembuskan nafas berat lalu dia kembali duduk. Makanan sudah tersaji sedari tadi saat mereka bertengkar.


"Maaf ya Ram, itu kakak sepupu aku pemilik Resto ini. Tapi udah kayak kakak kandung aku sendiri, jadi dia posesif benget sama aku!"


"Gak apa-apa. Justru bagus dong, dia benar-benar jagain kamu." Nana hanya tersenyum kecil.


Akhirnya mereka makan. Selesai makan mereka mengobrol ringan.


"Oh iya, aku masih penasaran kenapa kamu merubah cita-cita kamu dari pilot jadi polisi?" tanya Nana penasaran.


Rama menghela nafas dan diam sejenak. Lalu menatap Nana.


"Ini semua karena papa aku na!"


"Kamu di paksa?" Rama menggeleng.


"Saat aku kelas 1 SMA, rumah aku di rampok dan rampok itu membunuh papa di depan mataku sendiri dan juga mamaku juga adikku. Aku juga masih ingat di punggung tangan kiri penjahat yang membunuh papa aku ada tato bergambar kepala singa. Makanya saat itu aku bersumpah akan mencari dia dan menghukum dia. Makanya saat itu aku putuskan merubah cita-cita ku menjadi polisi. Agar aku bisa mencari pembunuh itu dan membalas dia!"


"Apa kamu sudah menemukan pembunuh papamu?" Rama menggeleng.


"Dia menghilang bak di telan bumi. Aku sudah menyelidikinya, tapi belum menemukan apapun!"


"Apa dia sudah meninggal?!"


Rama menatap tajam Nana, dia tidak terima jika pembunuh itu sudah mati. Dia harus hidup sampai dirinya bisa menemukannya dan menghukumnya dengan caranya sendiri.


"Aku berharap dia masih hidup. Aku ingin menghukumnya dengan caraku!" ucap Rama dengan rahang mengeras dan tangan yang di atas meja mengepal.


Nana melihat kemarahan Rama. Nana mengusap tangan Rama yang mengepal. Membuat Rama terkesiap dan langsung menatap Nana.


"Aku doain semoga dia masih hidup dan kamu bisa menemukannya." Rama tersenyum dan menggenggam tangan Nana.


"Makasih ya Na!" Nana mengangguk dan tersenyum.


"Na, ayo pulang!" Tiba-tiba Arga datang dan mengajak Nana pulang. Nana menghela nafas, dia tidak bisa menolak lagi karena ini sudah jam sembilan lebih.


"Aku pulang ya Ram!" Rama mengangguk dan tersenyum.


"Makasih ya udah temenin aku ngobrol!" Nana mengangguk.


"Maaf aku malah tinggalin kamu!"

__ADS_1


"Gak apa-apa. Kamu hati-hati!" Nana mengangguk.


Nana beranjak dan mengikuti Arga. Wajahnya cemberut dan membuat Arga mencebikkan mulutnya.


"Kalian itu sudah dewasa, bukan ABG lagi. Kalo udah cocok langsung nikah aja!" ucap Arga tiba-tiba saat di mobil.


Nana yang sedang memasang seatbelt langsung menoleh dan membelalakkan matanya.


"Maksud loe apa bang?" tanya Nana kesal.


"Kamu pasti ngerti. Males jelasin dua kali!"


"Ck, aku sama Rama tuh cuma teman gak ada hubungan apa-apa, jadi jangan ngomong macam-macam, atau gue sleding lu!" kesal Nana.


Arga hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu mau nungguin siapa Na? Oh, aku tau jangan-jangan kamu sama Galang ya!"


Mata Nana hampir saja keluar mendengar ucapan Arga. "Amit-amit, amit-amit. Ogah banget sama dia. hiiiiyyy.."


Arga tertawa terbahak. "Kenapa sih na? Dia ganteng, CEO, dia juga cinta mati sama kamu. Kenapa gak mau?" goda Arga.


"Gak usah pura-pura amnesia!" sentak Nana kesal dan hanya di balas dengan tertawaan Arga.


Nana hanya mencebik kesal dan mengalihkan pandangannya ke samping. Tapi saat dia melihat spion dia melihat mobil yang selalu membuntutinya itu.


Tapi kali ini Nana diam, dia ingin tau apa yang di inginkan orang itu? Kenapa dia terus membuntutinya?


Tetapi saat sampai rumah, mobil itu tak melakukan apa-apa. Dia hanya mengikuti dan setelah mobil ini masuk ke dalam rumah. Mobil itu pergi.


"Aneh!" gumam Nana pelan.


"Apa yang aneh na?" tanya Arga yang tak sengaja mendengar gumaman Nana.


"Loe yang aneh!"


Arga hanya menggelengkan kepalanya.


"Tate nanun, Tate yayus jeja!" (Tante bangun, Tante harus Kerja)


Argan membangunkan Nana dengan menepuk-nepuk pipi Nana. Namun tak membuat Nana membuka mata meski dia mendengar suara lucu Argan.


"Tate nanun!" (Tante bangun)


Namun tetap tak membuat Nana membuka matanya. Tiba-tiba..


Plak..


Kali ini Argan menepuk pipi Nana dengan keras membuat Nana meringis dan langsung membuka mata.


"Tate nanun, tutah yiyang!" (Tante bangun, udah siang)


"Iya, iya. Bawel banget sih nih anak kecil!" ucap Nana kesal. Dia bangun dan duduk sambil mengucek mata.


Lalu dia menatap Argan yang sedang menatapnya polos.


"Tate tutah nanun?" tanyanya dengan tatapan polos (Tante sudah bangun?)


"Udah bawel, ini Tante udah bangun!" jawab Nana dengan muka bantalnya.


Argan tersenyum riang sambil bertepuk tangan senang.


"Nda, Tate tutah nanun!" (Bunda, Tante sudah bangun)

__ADS_1


Argan berjalan sempoyongan sambil membawa boneka tayo yang hampir seukuran tubuhnya lalu menghampiri bundanya yang sedang menyiapkan sarapan.


"Kenapa sayang?"


"Tate tutah nanun, nda!"


Nara tersenyum. "Ya udah sekarang adek mamam ya,"


"Au nda, au mamam. Au tutu!" (Gak mau bunda, gak mau makan, mau susu)


Rengek Argan. "Bunda buat bakso sama nugget loh!" bujuk Nara.


"Tato, Nanat?" Nara mengangguk.


"Au, au nda. Au tato, au Nanat!" ucapnya antusias. Nara tersenyum dan menyuapinya tapi Argan menolak.


"Mamam yiyi," (makan sendiri)


"Bunda suapin aja ya sayang, nanti berantakan!"


"Au, mamam yiyi!" (Gak mau, mau makan sendiri)


Nara menghela nafas. Dia pun membiarkan anaknya makan sendiri. Ya meski nanti sangat berantakan bahkan bukan hanya di mejanya tapi sampe ke lantai-lantai.


Nana sudah siap dan rapi, begitu juga Arga.


"Sarapan dulu mas, Na!" Nana mengangguk.


"Iya sayang!"


Cup..


Arga mencium kening Nara. "Mas ada Nana juga!" bisik Nara sebal.


"Biarin!" ucap Arga santai. Dia langsung duduk dan siap sarapan. "Hei jagoan, makan sendiri?"


"Mamam yiyi papa!" wajahnya sudah tidak karuan. Nasi sudah menempel di wajahnya saus tomat juga memenuhi mulutnya. Arga dan yang lainnya tertawa melihat tingkah lucu bocah kecil itu.


Nana gemas sambil mencubit pipi chubby Argan sampai Argan menangis.


"Huwaaaaa.. Tate kakal nda.. huhuhu.."


"Gitu aja nangis. Masa jagoan nangis!" Ledek Nana.


Membuat tangis Argan pecah. "Udah sayang jangan nangis, kan lagi mamam sendiri." Nara yang duduk di samping Argan menenangkan putranya.


"Mamam yiyi nda, hiks hiks hiks.."


"Iya ayo lanjut mamam nya!"


Argan manggut-manggut dan melanjutkan makannya dengan isak yang masih tersedu-sedu.


"Masa jagoan nangis, wleeee.." ledek Nana.


Pluk..


"Auw, dasar ya bocah!" gerutu Nana sebal.


Karena Argan melempar sendok yang ada di meja dan tepat mengenai kepala Nana. Arga tertawa dan Nara hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.


Begitulah sehari-hari mereka jika sarapan selalu ada aja drama yang di perbuat dan selalu ada aja tingkah lucu dari Argan yang membuat mereka tertawa. Belum lagi Nana yang selalu godain Argan dan akhirnya ribut.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2