
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat membaca
***
Setelah pergulatan panas yang di lakukannya bersama suaminya. Nara mencoba menimbang-nimbang untuk kembali dengan suaminya. Karena bagaimanapun dia masih sangat mencintai Arga.
Nara menatap suaminya yang sudah terlelap, dia tersenyum melihat suaminya yang bebal itu.
Nara mengusap kepala Arga. "Aku juga sangat mencintai kamu mas! Tapi aku takut harus kembali dengan kamu, bagaimana dengan Hana nanti. Aku gak mau di cap sebagai perusak rumah tangga orang!" ucap Nara sendu.
Nara beranjak ingin membersihkan tubuhnya yang sudah melekat aroma bercinta bersama suaminya. Tapi tiba-tiba Arga memeluk pinggang Nara.
"Jangan tinggalin mas sayang!" ucap Arga dengan suara parau.
Nara menghela nafas, Arga kembali membaringkan tubuh istrinya dan mulai menciumi tubuh istrinya.
"Mas udah, nanti Argan nyariin!" ucap Nara sambil meronta.
"Sekali lagi ya sayang! Please!"
"Mas.." rengek Nara. Arga tersenyum dia begitu merindukan rengekan manja istrinya.
Arga tak memperdulikan Nara, dia kembali mengungkung tubuh istrinya dan kembali memulai pertempuran panas itu. Arga benar-benar membuat istrinya tak berdaya.
Di tempat lain, seorang pria tengah termenung. Hilang sudah harapan dia untuk memiliki wanita yang di cintainya. Apa lagi saat dia mendengar suara aneh di dalam kamar Nara. Bukannya dia tidak tau apa yang sedang di lakukan wanitanya, dia sangat tau dan itu semakin membuktikan bahwa dia tidak akan bisa memiliki Nara.
"Iyah!!"
Fahmi menoleh dan tersenyum pada jagoan kecil yang selalu memberinya semangat.
"Iya jagoan, kenapa? hmm..!" Fahmi memangku Argan dan mencium pipi bulat bocah kecil itu.
"Iyah, nda ana? (ayah, bunda mana?)" tanya bocah kecil itu sambil menatap polos ayahnya.
"Bunda lagi mandi sayang!" Jawab Fahmi.
"Nda agi andi? (Bunda lagi mandi?)" tanyanya.
Fahmi mengangguk dan menciumi pipi chubby putra kesayangannya itu.
"Jangan tinggalin ayah nak. Ayah gak mau kehilangan kamu!" ucap Fahmi sambil meneteskan air matanya.
"Iyah nanis? (Ayah nangis?)" tanya Argan sambil mengusap wajah Fahmi.
Fahmi menggeleng. "Ayah gak nangis!"
"Iyah au ain! (Ayah mau main!)"
"Oke kita main ya sayang, adek mau main apa?" bocah kecil itu terdiam nampak berpikir. Fahmi tersenyum melihat tingkah lucu jagoan kecilnya yang semakin pintar.
Sungguh dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan penyemangat hidupnya.
Sedangkan dua sejoli itu masih betah di dalam kamarnya. Arga tak membiarkan istrinya beranjak, setiap istrinya mau beranjak Arga menahannya.
"Mas lepas aku mau mandi!" ucap Nara sebal badannya sudah sangat lengket karena peluh yang membasahi tubuhnya.
__ADS_1
"Gak mau, kamu janji dulu sama mas. Kamu akan pulang sama mas dan Argan!" ucap Arga sambil mendusel-dusel di bukit kembar favoritnya.
Nara berdecak kesal. Dia memukul pelan pipi Arga.
"Nyebelin banget sih, nanti Argan nangis mas!"
"Janji dulu sama mas!" Mohon Arga sambil menatap wajah Nara. Nara memalingkan wajahnya.
"Lalu bagaimana dengan Hana?" tanya Nara.
"Mas akan cerain dia sayang!"
"Kenapa gak dari dulu kamu cerain dia. Kenapa harus nunggu aku yang meminta!" ucap Nara kesal.
Sungguh dia seperti orang jahat yang menginginkan perpisahan Arga dan Hana. Tapi jika dia boleh egois, tentu dia hanya ingin menjadi istri satu-satunya Arga.
"Maaf sayang, masalah semakin rumit semenjak kepergian kamu! Tapi mas sudah berjanji sama kamu, mas janji akan cerain dia!"
Nara berdecak kesal. "Aku akan ikut pulang setelah urusan kamu dengan Hana selesai!" ucap Nara tegas.
Kali ini Nara benar-benar ingin bersikap egois dia juga ingin agar suaminya itu bersikap tegas.
Arga memeluk tubuh istrinya yang masih polos.
"Iya sayang, mas janji akan selesain urusan mas dengan Hana!" Nara menghela nafas berat.
"Kenapa aku seperti orang jahat? Aku menyuruh orang untuk bercerai! Apa aku gak boleh egois jika aku ingin memiliki mas Arga seutuhnya. Ibu maafin aku, karena aku sudah menjadi perusak rumah tangga orang!" batin Nara.
Dia pun tidak ingin melakukan ini. Tapi dia juga tidak ingin terus-terusan jadi yang kedua dan dia juga tidak ingin berpisah dengan suaminya.
"Udah mas, kita mandi dulu!" ucap Nara.
Nara tak menjawab dia beranjak dan mengambil bajunya yang berserakan di lantai dan memakainya, dia keluar kamar. Rumah itu terlihat sepi, dimana pemilik rumah?
"Kamu cari siapa sayang?" tanya Arga.
"Ibu sama bapak kemana ya? Ini udah sore, gak baik kalo Argan main sampai sore!" Jawab Nara.
"Ya udah kita mandi dulu, terus nanti kita cari Argan!" Nara mengangguk.
Selesai mandi dan kedua sejoli itu sudah terlihat segar, terutama Arga wajahnya bersinar bagai mentari yang menyinari bumi. Setelah sekian lama dia berpuasa akhirnya dia bisa menuntaskan hasratnya yang selama ini tertunda.
"Mas aku cari Argan dulu ya!" Arga mengangguk.
"Iya sayang, mas temenin ya?"
"Gak usah, mas pulang aja!" Jawab Nara membuat wajah Arga merengut.
"Mas gak mau pulang tanpa kamu sama Argan!" ucap Arga.
Nara memberengut sebal, dia berjalan keluar di ikuti Arga. Saat dia keluar pak Harun dan bu Mimin juga baru datang, tapi mereka tidak membawa Argan bersamanya.
"Bu, pak, adek mana?" tanya Nara.
"Adek lagi sama ayahnya!" jawab bu Mimin keceplosan. Terlihat wajah tidak suka Arga mendengar ucapan bu Mimin.
Pak Harun menyikut pinggang istrinya itu membuat bu Mimin tersadar, karena memang dia sudah terbiasa dengan panggilan itu.
"Maaf pak Arga!" ucap bu Mimin tak enak hati.
__ADS_1
"A Fahmi bawa adek kemana ya Bu? Ini udah sore gak baik adek main di luar!" tanya Nara.
"Paling juga main di rumah Topan neng. Neng tunggu aja!" Jawab bu Mimin. Nara mengangguk.
"Kalian sudah makan?" tanya Bu Mimin. Nara dan Arga menggeleng.
"Ya udah ayo neng, kita masak!" Ajak bu Mimin.
Nara mengikuti Bu Mimin ke dapur, sedangkan Arga duduk bersama pak Harun di depan. Mereka mengobrol membicarakan pabrik yang sudah mulai beroperasi.
Selesai memasak Nara menghampiri pak Harun dan suaminya, tapi Nara gelisah karena Fahmi belum pulang bersama putranya.
"Pak, mas kalian makan dulu ya!" ucap Nara, sedangkan dia berlalu ke depan rumah.
Nara mondar-mandir di depan rumah sambil sesekali melirik ke depan, berharap Fahmi pulang bersama putranya. Hari sudah mulai gelap tapi pria itu belum pulang membawa putranya.
Arga menghampiri Nara. "Sayang!" Nara menoleh dan menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas kenapa adek belum pulang? Gak biasanya a Fahmi membawa adek sampe menjelang Maghrib!" ucap Nara khawatir.
Arga memeluk Nara dan menenangkannya. "Kita masuk dulu ya, nanti kalo sehabis Maghrib adek belum pulang kita cari adek!" ucap Arga.
Nara mengangguk. Entah kenapa perasaan Nara tidak enak, meski dia yakin Fahmi tidak akan pernah menyakiti putranya tapi perasaan Nara saat ini benar-benar gelisah.
Setelah menunaikan sholat Maghrib. Nara mengajak Arga mencari Argan. Karena anak itu masih belum pulang juga. Sebenarnya perasaan Arga pun tidak enak tapi dia tidak ingin membuat istrinya semakin khawatir jika dia menunjukkan kekhawatirannya.
"Ya udah neng sama ibu, pak Arga sama bapak. Kita cari adek sama-sama!" ucap pak Harun.
Nara mengangguk, air mata sudah mengalir deras membasahi pipinya.
"Sayang percayalah, kita akan menemukan putra kita!" ucap Arga menenangkan istrinya.
"Aku takut mas, aku gak mau kehilangan Argan. Cuma dia yang aku punya!"
"Ssstt.." Arga menaruh jari telunjuknya di bibir Nara.
"Kamu punya mas sayang, kamu punya mas yang akan selalu ada di samping kamu!" ucap Arga. "Udah ayo kita cari adek!" ajak Arga.
Mereka pun berpencar mencari keberadaan Fahmi dan Argan. Nara terus menghubungi ponsel Fahmi, tapi tidak di angkat-angkat.
Nara sudah frustasi, dia tidak mau kehilangan putranya.
"Kamu bawa Argan kemana a?" Isak Nara.
"Neng sabar ya, adek pasti baik-baik aja sama ayahnya!" ucap Bu Mimin menenangkan Nara.
Dia tau putranya itu sangat menyukai Nara, karena Fahmi sering bercerita jika dia ingin menikahi Nara dan dia juga siap jadi ayah untuk anak Nara. Bu Mimin berpikir, Fahmi membawa Argan pergi karena dia tidak mau berpisah dengan anak kecil yang sudah di anggap anaknya itu.
Setelah berkeliling desa dan masih belum menemukan Argan. Bu Mimin mengajak Nara pulang karena sudah malam, meski Nara menolak.
"Neng percaya sama ibu. Fahmi pasti pulang bawa adek!"
"Ibu tau kan aku gak pernah jauh dari Argan, aku takut Bu. Aku gak mau kehilangan putraku?" Isak Nara. Bu Mimin memeluk gadis itu yang sudah dia anggap putrinya sendiri.
Dengan berat hati Nara kembali ke rumah sambil menunggu kabar dari Arga dan pak Harun. Nara terus menangis memikirkan putranya, dia berharap Arga dan pak Harun pulang membawa Argan.
Tak lama Arga dan pak Harun datang. Nara beranjak dan menanyakan putranya tapi mereka pun tidak menemukan Argan. Tangis Nara semakin pecah, Arga memeluk istrinya dan menenangkannya.
Bersambung..
__ADS_1