
Saat ini Nana sedang makan siang bersama Rega dan putrinya. Nana celingak-celinguk mencari keberadaan istri Rega. Ingin bertanya tapi sungkan. Akhirnya dia hanya menelan rasa penasarannya.
Mereka makan dalam diam, Rere yang biasanya ceria pun hanya terdiam dengan raut wajah yang murung. Rega menyadari perubahan putrinya tapi dia tak ingin menanyakannya sekarang.
Selesai makan, Rega mengajak Nana ke sebuah ruangan. Nana mengekori Rega karena dia pun penasaran apa yang ingin dibicarakan pria itu yang katanya penting.
Selama mengikuti Rega Nana celingak-celinguk mencari keberadaan istri Rega. Takutnya tiba-tiba datang dan melabrak Nana dan menuduhnya pelakor. Tapi anehnya Nana tak melihat satu pun Foto pernikahan Rega dengan istrinya. Hanya terlihat foto dirinya dan putrinya Rere tak ada foto lain.
Pikiran Nana semakin tidak karuan, dia benar-benar takut tiba-tiba di labrak. Sesampainya di ruangan kerja Rega, Nana hanya terdiam mematung.
"Duduk Na, apa kamu mau berdiri saja?!"
Nana duduk di sofa di samping Rega, karena kebetulan hanya ada satu sofa yang tak terlalu panjang di ruangan itu. Nana duduk mepet ke pojok dan itu membuat Rega mengernyit heran.
Tapi Rega tak ingin menanyakannya. Rega beranjak dan mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya. Dia mengambil sebuah buku yang berukuran tidak kecil juga tidak besar.
Mata Nana membulat saat Rega menyerahkan buku itu pada Nana. Terpampang jelas di cover itu ada namanya, 'Nana Maulida'.
Nana menelan ludah, selama ini dia mencari-cari di mana keberadaan diarynya, sampai-sampai dia menyalahkan adiknya Niki yang mengambil dan menghilangkannya. Karena di buku diary itu semuanya rahasia hatinya pada dosen pujaannya yang tak lain pria yang ada di hadapannya ini.
Nana menatap Rega, namun saat Rega menatapnya Nana kembali menunduk. Lidahnya terasa kelu saat ingin bertanya pada Rega apakah dia sudah membaca isi diary itu.
Dan lagi Rega hanya terdiam membisu, sebenarnya dia menunggu reaksi Nana dan ternyata gadis itu menahan malu yang luar biasa.
Rega menghembuskan nafas berat. "Saya sudah membaca semuanya Na!"
Deg!
Jantung Nana bertalu-talu tak karuan, itu artinya Rega tau perasaan Nana yang dia simpan rapat-rapat selama ini. Meski saat wisuda dia ingin mengutarakan perasaannya dan ternyata gagal karena Rega sudah punya calon istri dan dia kembali menyimpan rapat-rapat perasaannya dan hanya di buku diary itu rahasianya dia tumpahkan.
__ADS_1
"Apa segitu besarnya kamu mencintai saya na?!"
Glek..
Lagi-lagi Nana hanya bisa menelan ludah mendengar pertanyaan Rega. Tangannya gemetar, jantungnya serasa mau copot. Nana menunduk dalam dia tidak tau bagaimana mengatasi situasi sekarang.
Tiba-tiba Rega mengangkat dagu Nana dan pandangannya kini saling beradu.
"Apakah cinta itu masih ada Na?!" tanya Rega.
Rega menatap dalam mata Nana. "Aku masih melihat cinta itu di matamu Na! Kenapa kamu mencintaiku Na? Padahal kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku di luar sana. Sedangkan aku,"
Rega tak melanjutkan ucapannya, dia tertegun melihat Nana memejamkan matanya dan dia tertegun melihat wajah cantik gadis itu.
"Katakan sesuatu Na!" suara Rega mampu membuat Nana membuka mata.
"Maaf!" cuma kata itu yang terucap dari mulut gadis cantik itu.
"Karena aku sudah mencintai kamu pak! Aku sudah berusaha melupakan kamu, tapi tidak bisa. Tapi aku terus berusaha agar aku bisa melupakan kamu pak dan saat aku berhasil melupakan kamu justru aku malah bertemu denganmu lagi. Aku harus bagaimana, perasaan itu tidak bisa aku buang, tidak bisa aku kubur. Saat bertemu kamu justru perasaan itu semakin dalam dan besar. Maafkan aku, aku tau ini salah. Aku janji akan melupakan bapak dan perasaan ini!" ucap Nana mengeluarkan isi hatinya. Lalu dia menunduk dalam. Sesungguhnya dia sangat malu.
Rega tersenyum. "Jangan pernah lupakan aku Na! Aku tidak mau kamu melupakan ku. Aku tidak mau kamu berhenti mencintaiku. Tetaplah seperti itu!" ujar Rega.
Membuat Nana langsung menatap pria di hadapannya.
"Maksud bapak aku harus terus menderita dengan perasaan ini sedangkan aku tidak akan pernah bisa memiliki bapak. Sampai kapanpun itu mustahil. Bapak egois menyuruhku berhenti untuk melupakan mu, apakah bapak ingin aku terus tersiksa dengan perasaan ini? Perasaan yang tidak akan pernah bisa terbalas!"
Air mata Nana sudah mulai menganak sungai, bahkan sekali kedip air mata itu berebut berjatuhan dari kelopak matanya.
Rega menatap dalam Nana dan mencerna ucapan Nana. Tiba-tiba dia mendekat dan menarik pinggang Nana sehingga wajah mereka sangat dekat tanpa jarak.
__ADS_1
Nana terpaku dengan sikap Rega. "Lepas pak! Nanti ada istri bapak dan salah paham!"
Rega mengerutkan keningnya, dia nampak berpikir sebentar dan akhirnya dia mengerti. Nana mengira Rega punya istri. Padahal istrinya yang dia nikahi dua tahun lalu sudah meninggal karena kecelakaan dan dia kecelakaan bersama selingkuhannya. Padahal pernikahan mereka baru seumur jagung. Tapi itulah takdir, Rega tak berjodoh dengan wanita yang bernama Denisa itu. Dia malah berselingkuh dan akhirnya kecelakaan bersama selingkuhannya.
Nana berusaha melepaskan pelukan Rega tapi Rega semakin mengeratkan pelukannya. Hingga tiba-tiba Rega mencium bibir Nana. Nana terkejut, tubuhnya yang tadi berontak kini membeku karena kaget dan tidak menyangka Rega akan melakukan itu.
Melihat Nana terdiam, Rega berusaha agar Nana membalas ciumannya. Nmaun Nana masih terpaku, jantungnya hampir copot dari tempatnya. Tangannya meremas baju yang dia kenakan saat Rega mulai menelusuri rongga mulut Nana.
Ini adalah ciuman pertama Nana dan yang mengambilnya adalah pria pujaannya.
"Apakah ini mimpi?" batin Nana.
Rega semakin menarik pinggang Nana hingga tubuh mereka tak berjarak. Setelah pikirannya sadar Nana mendorong Rega dan menatap tajam Rega.
"Apa yang bapak lakukan?!" teriak Nana dengan air mata yang mengalir dan nafas yang memburu.
"Membalas perasaan mu Na! Apakah salah jika aku merasakan hal yang sama denganmu?!"
Nana terdiam mencerna ucapan Rega. Dia tertegun apakah cintanya tidak bertepuk sebelah tangan?
"Tapi istri bapak bagaimana? Aku tidak mau jadi orang ketiga di antara kalian!" Isak Nana.
Rega tersenyum. "Aku tidak punya istri na! Justru aku sedang mencari istri untuk mendampingi ku!" ujar Rega.
Kali ini Nana terkejut mendengar ucapan Rega. Tiba-tiba Rega mendekat dan membisikkan sesuatu.
"Jadilah istriku Na!"
Deg!
__ADS_1
Bersambung..