Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Selingkuh?


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Suara adzan subuh berkumandang. Suaranya menggema di sekitaran perumahan karena kebetulan letak mesjidnya berada di belakang perumahan Nara, jadi suaranya cukup nyaring terdengar.


Nara menggeliat dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia merasa ada yang memeluk tubuhnya lalu dia menoleh ke samping dan ternyata suaminya yang sedang memeluknya.


"Kapan mas Arga pulang? Tau-tau udah ada di sini!" gumam Nara. Nara tersenyum menatap wajah tenang suaminya yang sedang terlelap.


Nara mengecup kening, hidung dan bibir suaminya hingga mengusik tidurnya. Arga mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada sang istri. Nara mengusap kepala Arga lembut sambil meremaas lembut rambutnya.


"Manja banget sih, pangeran tampanku!" gumam Nara tersenyum.


Arga mendongakkan wajahnya menatap sang istri dan tersenyum mendengar ucapan sang istri.


"Morning cantik!" Sapanya. Dia mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri. Nara tersenyum sambil mengusap pipi Arga.


"Mas pulang jam berapa? Kok aku gak tau, terus kenapa hape mas gak bisa di hubungi?!" tanya Nara.


"Maaf ya sayang, ada masalah di kantor jadi mas selesain dulu. Mas juga lupa men-charge hape mas!" jawab Arga berbohong.


Nara tersenyum, lalu dia memeluk suaminya.


"Sayang!"


"Apa?" Nara menatap wajah suaminya tanpa jarak.


"Mas sangat mencintai kamu! Percayalah, apapun yang terjadi nanti, mas akan selalu mencintai kamu!" ucap Arga.


Nara menatap manik mata Arga, Nara melihat ada sesuatu beban yang terpancar dari mata suaminya dan seperti ada ketakutan yang tersirat di wajahnya.


Nara mencium bibir suaminya, Arga membalasnya hingga ciuman itu menjadi lebih panas dan bergairah. Mereka saling melumatt, berbelit lidah dan bertukar Saliva.


Tangan Arga sudah mulai menggelayar menelusup masuk ke piyama istrinya dan meremaas benda kenyal favoritnya.


"Mas udah!" Nara menahan Arga yang ingin melakukan lebih.


"Kenapa sayang?"


"Kita sholat dulu ya!" jawab Nara.


"Tapi habis sholat boleh kan?" Nara mengangguk dan tersenyum.


Arga mengangguk bersemangat. Mereka pun melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Setelah sholat mereka pun melakukan aktivitas panas mereka. Sampai Arga melakukannya berkali-kali, karena dia tidak pernah puas dengan tubuh istri keduanya itu yang sudah menjadi candu untuknya.


Nara kembali terlelap setelah selesai melayani suaminya. Arga menatap wajah istrinya yang terlelap karena kelelahan.


Mata Arga mengembun. Dia sangat mencintai Nara, dia tidak ingin kehilangan wanita yang sedang terbaring di sampingnya itu.


"Maafin mas sayang udah bohongin kamu. Tapi percayalah mas gak pernah mengkhianati kamu. Cinta mas hanya untuk kamu Renara!"


Arga mengecup kening istrinya lama, hingga tak terasa air matanya jatuh menetes hingga mengenai kening Nara.

__ADS_1


"Jangan pernah tinggalin mas sayang!" Arga memeluk erat istrinya.


Pikirannya kacau, bagaimana dia menghadapi situasi sekarang. Hana malah hamil, padahal dia sudah sangat senang akan terbebas dari Hana dan akan hidup bersama wanita yang dia cintai.


"Mas sangat mencintai kamu Nara! Mas gak mau kehilangan kamu!"


Arga terus menciumi kening Nara hingga tidurnya terusik.


"Mas jangan ganggu, aku ngantuk!" gumam Nara manja.


Arga tersenyum. "Maaf sayang!"


Arga menyelimuti tubuh istrinya lalu dia beranjak dan membersihkan diri. Setelah itu dia bersiap dengan pakaian kantornya. Dia menatap istrinya yang masih tertidur pulas.


Arga menghampirinya dan duduk sambil menatap wajah lelap istrinya, begitu tenang dan damai melihat wajah istrinya yang sedang terlelap.


Arga mengecup kening Nara dan membuat Nara membuka mata karena merasakan sentuhan.


"Mas mau ke kantor?" tanyanya saat melihat sang suami sudah rapi.


"Iya sayang!" jawabnya sambil mengusap wajah Nara.


"Emang ini jam berapa?"


"Jam tujuh lewat." Nara beranjak dan duduk bersender di ujung ranjang sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Kenapa mas gak bangunin aku? Aku kan jadi gak siapin baju kamu, maaf ya!"


"Kamu tidurnya nyenyak banget sayang. Mas gak tega banguninnya. Kamu juga gak perlu minta maaf!"


Nara mendekat dan memeluk suaminya. Entah kenapa perasaanya tidak enak setelah mimpi yang di alaminya tadi. Tiba-tiba saja dia datangi seorang perempuan dan marah-marah padanya tidak jelas. Tapi Nara tidak tau siapa perempuan itu. Lalu wanita itu membawa Arga pergi dan meninggalkannya seorang diri.


***


Nana sedang duduk menatap tajam pria yang ada di hadapannya itu. Dia terlihat sangat geram apa lagi setelah mendengar kalo Hana hamil.


"Kenapa lo bodoh banget si Arga? Terus sekarang gimana, lo gak bisa cerain Hana?!" Sentak Nana sambil memelototi Arga.


Nana benar-benar kesal dengan kakak sepupunya itu.


"Bisa-bisanya lo ngelakuin hal bodoh. Argh.. terserah lo bang, gue gak mau nolongin apa-apa lagi. Gue capek!" Sentak Nana geram. Nafas Nana memburu karena kesal dan emosi.


"Kasian banget Nara harus punya suami bodoh kayak lo!" hardik Nana semakin kesal.


Arga semakin stres, dia datang bercerita pada Nana berharap bisa membantunya tapi malah di semprot habis-habisan.


"Udah Sono lo ke kantor, gue juga mau ke kampus!" usir Nana dia benar-benar kesal dengan kakak sepupunya itu.


Nana ke kamar, sedangkan Arga masih terpaku di tempatnya. Perkataan Nara terngiang di kepalanya tentang kebohongan dan pengkhianatan kesalahan yang tidak akan pernah dia maafkan.


"Ya Tuhan apa yang harus saya lakukan?"


Arga benar-benar frustasi masalahnya semakin rumit. Yang dia takutkan sekarang hanya takut kehilangan Nara, cuma Nara yang ada di pikirannya sekarang.


"Maafin mas sayang!" lirih Arga.


***


Malam hari Nara menyiapkan makan malam untuk suaminya. Dia membuat makanan kesukaan suaminya.

__ADS_1


Tak selang berapa lama terdengar suara deru mobil Arga. Nara langsung ke depan dan menyambut suaminya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Nara langsung mengecup punggung tangan Arga. Wajah Arga terlihat sangat lelah dan penat.


"Mas mandi dulu ya, terus kita makan!" Arga tersenyum dan mengangguk. Dia memeluk pinggang istrinya dan berjalan menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Arga malah memeluk Nara.


"Mas mandi dulu, mas pasti capek. Biar seger sayang!" ucap Nara.


"Peluk dulu sayang. Mas kangen sama kamu!" jawab Arga.


Nara membalikkan tubuhnya lalu mengajak Arga duduk, dia pun membenamkan wajahnya di dada istrinya. Nara memeluk kepala Arga dan mengusapnya.


"Mas gak apa-apa?" tanya Nara khawatir.


Arga menggeleng. Nara mengusap kepala Arga dan mengecupnya. Hanya Nara yang mampu menghilangkan penat dan kegundahan hatinya, hanya Nara yang bisa jadi penyemangatnya, hanya Nara yang bisa menguatkannya, hanya Nara wanita yang di cintainya.


Dia sangat takut kehilangan wanita yang sedang memeluknya itu. Dia memang bodoh dan tidak bisa tegas dalam hal bertindak. Sekarang dia harus terjebak dengan masalah yang dia buat sendiri. Perbuatannya menjadi Boomerang untuknya.


Arga beralih membenamkan wajahnya ke ceruk leher Nara. Aroma tubuh Nara seperti aroma terapi yang mampu menenangkannya.


Nara tersenyum melihat kemanjaan suaminya.


"Udah sayang mandi dulu ya!" ucap Nara.


Arga mendongak dan menatap Nara. "Mandiin ya?"


"Aku udah mandi mas!" Arga mengerucutkan bibirnya.


Nara tersenyum, dia mengecup bibir suaminya sekilas. Tapi saat dia ingin melepaskan kecupannya Arga menahan tengkuknya hingga kecupan itu menjadi lumatann, yang awalnya lembut menjadi semakin agresif dan bergairah, hingga terdengar bunyi decapan dari peraduan bibir mereka.


Mereka melepaskannya setelah cukup kekurangan oksigen. Arga mengusap bibir istrinya yang membengkak dan basah.


Nara mengusap wajah tampan suaminya. Arga mengambil tangan Nara yang menempel di pipinya dan mengecupnya.


"Mandi dulu sayang, terus kita makan setelah itu istirahat!" ucap Nara sambil mengusap kepala suaminya. Arga mengangguk, lalu dia beranjak ke kamar mandi.


Nara tau suaminya sedang ada masalah, tapi untuk saat ini dia ingin Arga tenang dulu dan tidak ingin banyak bertanya dulu, takut menambah beban pikirannya.


"Masalah apa yang sedang kamu hadapi mas?!" gumam Nara lirih.


Dia pun beranjak dan menyiapkan baju untuk suaminya. Nara membereskan blazer Arga, tapi tak sengaja dia menemukan beberapa helai rambut panjang melekat di blazer suaminya.


"Rambut siapa ya? Kenapa rambutnya panjang dan agak kriting!"


Deg!


Tiba-tiba saja hati Nara terasa berdenyut. Pikiran negatif memenuhi kepalanya.


"Astaghfirullah, aku gak boleh berfikiran negatif. Aku percaya mas Arga pria yang setia tidak mungkin dia selingkuh!" gumam Nara.


Dia berusaha menepis pikiran buruk tentang suaminya. Meski di hatinya ada ketakutan bahwa suaminya selingkuh.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2