Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Mami bukan Onty!


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Merasa bosan karena tidak ada kegiatan. Nara memutuskan untuk jalan-jalan ke supermarket sekalian beli isi dapur yang kosong.


Nara sudah siap dengan pakaian santainya. Nara bersiap dan akan menunggu taksi onlinenya di pinggir jalan. Dia berjalan menuju jalan besar yang tak jauh dari rumahnya, dia menunggu taksi onlinenya didekat konter hp. Tak lama taksinya pun datang, Nara segera naik taksi.


Sekitar lima belas menit dia sampai di supermarket. Nara bergegas turun lalu masuk, sebelum masuk supermarket, Nara mengambil troli yang sudah di sediakan. Nara menelusuri supermarket itu sambil mencari barang yang dia cari, sekalian cari diskonan hehe..


Nara membeli minyak goreng, tepung, telur dan juga beras dan keperluan lainnya. Biasanya dia beli di warung, cuma karena kali ini dia ingin jalan-jalan jadi sekalian belanja.


"Kayaknya sampo juga habis!" gumam Nara dia berjalan sambil mendorong troli nya menuju peralatan mandi.


Setelah semuanya di dapat, Nara bergegas ke kasir. Nara menghela nafas, saat melihat antrian panjang di kasir. Dia pun menunggu antrian sambil memainkan ponselnya.


Tapi tak sengaja dia mendengar suara anak kecil yang tidak asing. "Kenapa kayak suara Rere ya!" gumam Nara.


"Ah mana mungkin, mungkin aku lagi kangen aja sama Rere jadi salah denger!"


Tapi saat dia menoleh ke samping kanan, dia memang melihat gadis kecil itu dan sedang celingak-celinguk sambil memanggil papinya.


"Rere!" Nara bergegas menghampiri Rere. Rere berdiri tepat di bawah rak bersisi botol-botol minuman kaca dan Nara melihat rak itu goyang dan seperti ingin jatuh dan menimpa Rere.


"Rere!" teriak Nara. Dia berlari dan langsung memeluk Rere dan melindungi Rere, namun justru dia yang terkena botol kaca itu dan mengenai beberapa bagian tubuhnya.


"Mami!!" ucap Rere kaget saat melihat Nara.


Semua orang kaget dengan suara pecahan botol-botol itu. Beberapa orang segera membantu Nara dan Rere.


Tubuh Nara tertimpa rak botol itu dan kepalanya terkena botol kaca itu. Rere menangis melihat kening Nara berdarah.


"Mami hiks.. hiks.. hiks.."


"Kamu gak apa-apa kan sayang?" tanya Nara. Rere menggeleng.


"Mbak gak apa-apa?" tanya orang-orang. Nara menggeleng, tapi kepalanya terasa pusing.


Tak lama Rega dan pengasuh Rere datang. Mereka memang sedang mencari-cari Rere karena tiba-tiba anak itu hilang dari pandangan mereka.


"Sayang!"


"Papi huhuhuhu.. mami papi.. mami teluka!!" Isak gadis kecil itu.


"Nara, kamu gak apa-apa?" Nara menggeleng.


"Ini kenapa ya?" tanya Rega pada orang yang ada di sana. Lalu salah satu dari mereka menjelaskan kronologisnya. Tapi tiba-tiba Nara pingsan.


"Nara!!" Rega segera menggendong Nara. Rere dan pengasuhnya segera mengikuti Rega yang sedang menggendong Nara.


Rega membawa Nara ke klinik terdekat untuk di obati. Rere terus menangis melihat Nara terluka.


"Mami!" panggilnya sambil menangis.

__ADS_1


Sesampainya di klinik, Nara di baringkan di brankar dan langsung di obati oleh dokter. Rega menunggu di luar bersama Rere yang berada di pangkuannya.


"Mami gak apa-apa kan papi?" tanya gadis kecil itu tersedu-sedu.


"Onty gak apa-apa, udah jangan nangis lagi ya sayang!" jawab Rega sambil mengusap air mata Putrinya. Rere menggeleng.


"Bukan onty papi, tapi mami!" ucap gadis kecil itu menegaskan. Rega menghela nafas, dia sudah mengatakan agar Rere tidak memanggil Nara mami, tapi Rere tetep kekeuh ingin memanggil Nara mami.


"Sayang itu bukan mami, tapi onty!"


"Mami papi, mami.." ucap Rere tak terima lalu kembali menangis.


"Iya, iya sayang iya mami, udah cup cup cup.. don't cry oke!" Rega mengusap kepala putrinya.


Tak lama dokter keluar. Rega segera beranjak sambil menggendong Rere.


"Gimana keadaannya dok?" tanya Rega.


"Keadaan istri bapak baik-baik aja. Hanya luka kecil, mungkin tadi dia kaget dengan benturan di kepalanya sehingga dia pingsan!" jawab dokter.


Rega tersenyum kikuk, saat dokter itu mengira Nara istrinya.


"Iya terimakasih dok!" Dokter itu mengangguk lalu pamit.


Rega dan Rere masuk, Nara sudah sadar dan sedang duduk.


"Mami!!" panggil Rere. Rere minta lepas dari gendongan Rega dan ingin memeluk Nara.


Tapi Rega menahannya. "Jangan sayang, ontynya lagi sakit!" ucap Rega.


"Mami papi, bukan onty!" tegas Rere.


"Saya baik-baik aja pak!" jawab Nara.


"Makasih udah nolongin Rere!" Nara mengangguk.


"Mami!" Rere memaksa turun dan ingin di pangku Nara.


"Sini sayang!" Nara merentangkan tangannya. Dengan senang hati Rere langsung menghampirinya.


"Rere gak apa-apa kan? Rere gak terluka kan?" tanya Nara khawatir sambil mengusap wajah Rere.


"Gak mami, kalna mami tolong aku!" jawab Rere. Nara tersenyum.


"Syukurlah!" ucap Nara sambil mengecup kepala Rere.


Rega terenyuh dengan sikap gadis itu. Entah kenapa dia merasakan jantungnya berdebar-debar saat melihat Nara. Rega terus memperhatikan Nara yang sedang berbicara dengan putrinya.


"Cantik, dewasa, baik, penyayang dan perhatian!"


Itulah yang di pikirkan Rega. Dia tersenyum menatap gadis itu yang begitu dekat dengan putrinya. Bahkan tidak biasanya Rere mudah akrab dengan orang yang baru kenal.


Rega memalingkan wajahnya saat Nara menoleh ke arahnya.


Akhirnya Rega mengantar Nara pulang, setelah menyelesaikan belanjaannya dan belanjaan Nara. Sebenarnya Nara menolak untuk di antar pulang, tapi Rega memaksa, karena tidak mungkin dia membiarkan Nara pulang sendiri dan Rere pun terus merengek agar ikut dengan Nara.


Rere duduk di pangkuan Nara, gadis kecil itu terlihat bahagia dan senang. Nara terus tersenyum melihat tingkah lucu gadis kecil itu. Rega sesekali melirik Nara di sampingnya yang sedang asyik mengoceh dengan Rere.

__ADS_1


Entah kenapa hati duda anak satu itu, terasa bahagia dan senang. Sesekali dia menyunggingkan senyum.


Tak lama mereka sampai di depan rumah Nara. Rega bergegas keluar dan membukakan pintu mobil Nara, lalu dia menggendong Rere yang sudah terlelap di pangkuan Nara, setelah itu dia memberikan Rere pada pengasuhnya untuk di pangku.


"Saya bantu!" ucap Rega saat Nara ingin beranjak.


"Gak usah pak, saya bisa sendiri!" balas Nara. Dia beranjak dan ingin melangkah tapi kakinya masih sakit sehingga dia hampir terjatuh, tapi Rega segera menangkap tubuhnya.


"Biar saya bantu sampe ke dalam," Nara pun mengangguk.


Tiba-tiba ada mobil berhenti di belakang mobil Rega, ternyata Arga.


Arga keluar dari mobil dan terlihat kesal melihat Nara bersama pria lain. Dia langsung menghampiri Rega dan melayangkan pukulan pada Rega.


"Aaaa.. mas!!" teriak Nara.


"Berani-beraninya kamu menyentuh tunangan saya!!" pekik Arga.


"Mas cukup, jangan pukul pak Rega!" pekik Nara menghentikan Arga yang ingin memukul Rega lagi.


"Maaf sepertinya anda salah paham, saya cuma mau bantu Nara!" ucap Rega sambil memegangi wajah yang kena pukulan itu. Arga kesal dan ingin memukul Rega lagi, tapi Nara menahannya.


"Mas udah!!" Nara memeluk erat tubuh Arga.


"Pak Rega sebaiknya bapak pulang. Terima kasih sudah bantu saya, dan saya minta maaf!" Rega mengangguk lalu dia masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.


Arga terlihat kesal. "Mas kenapa sih kamu harus pukul-pukul kayak gitu? Pak Rega itu tadi nolongin aku!"


Arga tak menjawab dia berjalan menuju mobilnya.


"Mas!" panggil Nara.


"Aaargh.." Nara terjatuh karena kakinya sakit.


Arga menoleh dan kembali menghampiri Nara. Lalu dia menggendong Nara ala bridal dan membawanya ke dalam. Setelah itu dia menaruhnya di sofa.


"Jangan marah, aku gak suka kamu marah-marah kayak gini," lirih Nara.


"Kenapa kaki kamu dan kening kamu?" tanya Arga sambil mengusap kening Nara yang terluka yang di balut kain kasa.


"Gak apa-apa, tadi aku cuma kecelakaan kecil!" jawab Nara.


Arga menatap Nara. "Apa karena pria itu?" Nara menggeleng.


"Bukan mas, justru pak Rega yang nolong aku!" jawab Nara. Arga menghembuskan nafas kasar.


"Lain kali hati-hati, saya tidak mau kamu terluka. Dan lain kali kalo kamu mau keluar, harus sama saya!" ucap Arga tegas. Nara tersenyum dan mengangguk.


Arga memeluk Nara dan mengecup kening gadis itu. "Saya sangat mencintai kamu Nara. Saya tidak mau kamu terluka!"


Nara mendongak dan menatap Arga. "Aku juga cinta sama kamu mas!" Arga tersenyum dan mengusap lembut pipi Nara dan mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir ranum gadis itu.


Entah kenapa, Nara begitu mencintai pria itu. Dia sudah benar-benar terjebak dengan cinta Arga. Apapun yang di katakan Arga dia selalu menurut, dia seperti terhipnotis oleh setiap yang di lakukan pria itu.


Tapi akankah Nara siap menghadapi masalah yang akan menimpanya di masa depan? Keputusannya untuk menikah dengan Arga apakah keputusan tepat atau sebaliknya?


Bersambung..

__ADS_1


...Apa cerita-ceritaku gak menarik ya, kenapa gak ada yang mau mampir!! 😟😟...


__ADS_2