
Karena pekerjaan yang menumpuk, Nana terpaksa pulang malam. Jam setengah tujuh dia baru menyelesaikan pekerjaannya. Padahal karyawan lainnya sudah pada pulang.
"Akhirnya selesai juga!" gumam Nana sambil meregangkan otot-ototnya.
Setelah itu dia mematikan laptopnya dan memasukkannya ke laci. Dia tidak pernah membawa laptopnya pulang karena kalau di bawa pulang sama saja membawa pulang pekerjaan. Sedangkan dia pulang ingin beristirahat untuk menghilangkan penat.
Nana membereskan mejanya. Setelah itu bergegas keluar ruangannya. Kantornya sudah gelap, hanya beberapa lampu di lorong yang menyala.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah sepatu Nana terdengar nyaring karena suasana yang sepi. Nana melirik arloji yang melingkar di tangannya.
Dia mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi atau menelpon Arga, namun ponselnya mati. Nana menghembuskan nafas berat. Dia terus berjalan sesampainya di lobi ada satpam yang menjaga.
"Selamat malam Bu. Baru pulang?" Nana hanya mengangguk dan tersenyum.
Sungguh dia sangat lelah, ingin cepat pulang, mandi dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Dia bergegas ke pinggir jalan untuk menunggu taksi. Nana menyebrang tanpa melihat kanan kiri, karena saking terburu-burunya. Hingga ada mobil yang sedang melaju hingga menabraknya. Mobil itu hanya menabrak pelan Nana karena segera menekan pedal rem, namun karena Nana syok dia langsung pingsan di depan mobil itu.
Seorang pria keluar dari mobil, dia memperhatikan sejenak gadis yang tergeletak itu. Tak lama dia langsung mengangkat tubuh Nana dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Tenang saja pak. Saya akan bertanggung jawab, saya akan mengobatinya!" ucap pria itu pada orang yang berkerumun melihat kecelakaan itu.
Mobil itu membawa Nana pergi. Entah kemana pria itu akan membawa Nana karena tidak ada luka yang serius hanya kening bagian kiri saja yang terlihat memar, mungkin terkena aspal.
***
Nara tengah mondar-mandir di ruang tamu, sesekali dia melirik jam di dinding.
"Udah jam sembilan. Kenapa Nana belum pulang? Nomernya juga tidak aktif!" Nara begitu cemas dan khawatir tidak biasanya Nana pulang terlambat tapi tidak memberi kabar.
"Ya ampun Na, kamu kemana sih? Cepat pulang dong jangan bikin aku khawatir."
Akhirnya Nara memutuskan menghubungi Arga. Nara menekan nomer Arga. Sambungan terhubung tak lama terdengar suara Arga.
__ADS_1
"Halo sayang, kenapa?"
"Mas kapan pulang?"
"Ini mas mau pulang sayang, sabar ya!"
"Bukan gitu mas, ini sampe sekarang Nana belum pulang, di telpon juga gak aktif. Aku khawatir mas sebaiknya kamu ke kantor Nana dulu sebelum pulang. Cari Nana mas, aku khawatir banget!" ucap Nara panjang lebar.
"Mungkin lagi di jalan sayang. Macet!"
"Udah pokoknya mas kesana. Aku gak mau Nana kenapa-napa!"
"Ya udah, iya mas kesana. Kamu jangan khawatir ya, sabar ya sayang!"
"Iya mas. Kamu hati-hati ya!"
"Iya sayang!"
Sambungan telpon pun terputus. Nara masih berusaha menelpon Nana berharap nomer Nana aktif. Namun nihil nomer Nana tetap tidak aktif.
Nara masih mondar-mandir di depan menunggu suami dan sahabatnya. Nara berharap Arga membawa pulang Nana. Sampe jam sebelas malam belum ada satupun yang pulang dan itu semakin membuat Nara khawatir.
Sekitar jam setengah dua belas, terdengar deru mobil di depan. Nara langsung melihat dari tirai ternyata suaminya, tapi tidak bersama Nana.
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
Nara langsung menyalami Arga. "Kok belum tidur sayang?"
"Aku nungguin kamu sama Nana. Nana mana?"
"Kata satpam di sana. Nana sudah pulang dari jam setengah tujuh, mas udah cari kemana-mana. Tapi gak ketemu!"
"Terus gimana mas? Aku khawatir banget sama Nana, dia gak bawa mobil, hapenya gak aktif. Ya Allah lindungi Nana ya Allah!"
Nara mengusap wajahnya gusar, dia benar-benar cemas dengan keadaan Nana.
"Kenapa kamu gak cari Nana sampai ketemu si mas?"
__ADS_1
"Mas udah nyuruh orang-orang mas buat cari. Mas capek banget sayang, makanya mas pulang. Besok mas cari lagi ya. Kamu terus berdoa semoga Nana baik-baik aja dan sedang bersama orang-orang baik!"
"Aamiin ya Allah.." Nara mengusap kedua telapak tangannya ke wajah.
"Ya udah sekarang kita istirahat ya." Nara mengangguk.
Meski dalam hatinya dia sangat menghawatirkan keadaan Nana.
"Kamu di mana na? Semoga kamu baik-baik aja!" batin Nara.
Nara menyiapkan baju untuk suaminya setelah menyiapkan air untuk mandi. Nara duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya berharap Nana menelpon dan mengabarinya bahwa dia baik-baik saja. Tapi layar itu tetap hitam, Nara menghela nafas.
Tiba-tiba Arga memeluknya dari samping. Nara bahkan tidak sadar suaminya sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Sayang, bobo yuk!"
"Tapi mas, Nana-"
"Nana pasti baik-baik aja sayang. Percaya deh!"
Nara menatap Arga dan merebahkan kepalanya di dada Arga. "Aku khawatir banget mas sama Nana. Aku gak mau dia kenapa-napa!" lirihnya.
"Iya, mas juga khawatir. Apa lagi mas yang di kasih tanggung jawab buat jagain Nana. Kita berdoa ya, semoga Nana baik-baik aja dan selalu dalam lindungan Allah!"
Nara mengangguk sambil mengeratkan pelukannya pada sang suami. Arga merebahkan tubuhnya dan juga tubuh istrinya bersamaan tanpa melepaskan pelukan. Mereka saling berpelukan, meski pikiran mereka sama sedang memikirkan satu orang yang sama.
"Kamu di mana na? Jangan bikin Abang khawatir!" batin Arga cemas.
"Mas!"
"Iya sayang!"
"Aku gak bisa tidur, aku kepikiran Nana!" Nara menatap wajah Arga yang sudah terlihat mengantuk.
"Kita berdoa ya, semoga Nana baik-baik aja dan semoga sedang bersama orang baik." Nara mengangguk. Arga mengeratkan pelukannya dan mengecup kening istrinya.
Dia mengusap-usap punggung Nara hingga wanita itu terlelap, Arga pun menyusul istrinya ke alam mimpi.
Bersambung..
__ADS_1
Mampir juga yuk di cerita punya saudaraku. Ceritanya masih baru banget butuh dukungan kalian.