
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Nara sudah berkali-kali menelpon Arga, tapi tidak di angkat-angkat. Nara menghela nafas, dia tau pria itu sedang marah padanya.
"Mas Arga pasti marah!" gumam Nara.
"Ra, lo gak di jemput?" tanya Tika tiba-tiba.
"Enggak tik, kayaknya dia masih ada kerjaan!" jawab Nara.
"Kalian gak lagi berantem kan?" tanya Tika penuh selidik. Nara menggeleng dan tersenyum.
"Ya udah gue duluan ya!"
"Iya, hati-hati tik!"
"Oke, elo juga!" jawab Tika sambil naik ke motor Rico.
"Daaahh.." Tika melambaikan tangannya dan Nara membalasnya.
"Apa aku ke apartemen mas Arga ya? Dia pasti sudah pulang!" Nara pun memesan taksi online dan akan ke apartemen Arga. Untung Arga pernah mengajaknya ke sana jadi dia tau alamatnya.
Tak lama menunggu, taksi pun datang. Nara bergegas masuk ke dalam mobil dan taksi pun melaju.
Sekitar lima belas menit dia sampai didepan lobby apartemen Arga. Setelah memberi ongkos, Nara bergegas masuk ke Apartemen. Lalu dia memasuki lift dan menekan nomer sembilan karena unit Arga ada di lantai sembilan.
Nara keluar dari lift dan berjalan menuju unit Arga. Di depan pintu apartemen Nara langsung memencet bel. Sesaat dia menunggu tapi belum ada jawaban, Vara kembali memencet bel.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekati pintu, lalu pintu pun terbuka. Terlihat Arga baru selesai mandi, rambutnya masih basah dan hanya memakai celana training panjang dan bertelanjang dada. Raut Arga terlihat kesal melihat Nara dia kembali masuk lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Nara mengikuti Arga.
"Mas marah sama aku?" tanya Nara sambil duduk di samping Arga. Arga terdiam dan fokus mengeringkan rambutnya.
Nara mengambil handuk dari tangan Arga, lalu membantu mengeringkan rambut Arga. Arga terdiam dan membiarkan Nara melakukannya.
"Mas jangan salah paham. Dia itu bukan siapa-siapa, dia cuma pelanggan di sana, tadi itu dia kesedak jadi aku bantuin dia kasih minum!" Nara berusaha menjelaskan kejadian itu.
Arga memalingkan wajah. "Kamu lebih memilih makan sama dia daripada sama saya!" ucap Arga ketus.
Nara tersenyum melihat pria itu merajuk seperti anak kecil. Nara memalingkan wajah Arga agar menatapnya.
__ADS_1
"Anaknya itu, anak yang pernah aku tolong saat dia mau diculik. Dan anaknya itu pengen ketemu aku dan berterima kasih, makanya tadi mereka minta aku untuk menemani makan, sebagai tanda ucapan terima kasih!" ucap Nara memberi alasan.
Arga melengos dan masih kesal lalu dia beranjak, tapi Nara menahannya.
"Mas jangan marah, kamu harus percaya sama aku. Aku cuma sayang sama kamu!" Arga menghembuskan nafas kasar.
Dia kembali duduk dan menghadap Nara. "Saya gak suka kamu deket-deket dengan dia, atau pria manapun. Kamu cuma milik saya Nara!" ucap Arga penuh ketegasan. Nara mengangguk.
"Aku tau, aku cuma milik kamu!" balas Nara lalu memeluk Arga. Arga pun membalas pelukan kekasihnya itu.
"Saya sudah putuskan, pernikahan kita akan di percepat jadi Minggu depan!" Nara melepaskan pelukannya dan menatap Arga setelah mendengar ucapan Arga.
"Secepat itu mas?"
"Kenapa? Kamu tidak suka?"
"Bukan begitu, apa tidak terlalu mendadak. Kita belum mempersiapkan apapun!" balas Nara.
"Itu urusan saya. Kamu tunggu beres aja!"
"Mulai besok kamu gak usah kerja lagi, dan saya sudah bilang manager kamu kalo kamu bakal resign mulai besok!" sambung Arga.
Nara pun mengangguk pasrah. Arga tersenyum lalu dia kembali memeluk Nara.
"Ini keputusanku dan ini pilihanku, aku harus siap dengan semuanya. Aku berharap mas Arga adalah pilihan terbaik dan tepat untukku!" batin Nara penuh harap.
"Saya tidak akan melepaskan mu Nara. Saya mencintai kamu. Apapun yang akan terjadi nanti saya akan tetap mencintai kamu dan memilih kamu!" batin Arga.
Tak lama mereka pun melepaskan pelukannya. "Saya anter kamu pulang!" ucap Arga. Nara mengangguk.
***
Pagi hari Nana mengetuk pintu kamar Nara.
"Ra, bangun gue mau bicara!!!" seru Nana sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Nara.
"Ra, cepetan gue mau bicara sama Lo!"
Nara yang masih terlelap segera membuka mata, ketukan pintu itu sangat mengganggunya.
"Nara!!" panggil Nana lagi sambil mengetuk pintu kamar dengan kencang.
Nara beranjak dan menguap, tangannya menutupi mulutnya yang terbuka.
"Ada apa sih Nana, pagi-pagi udah heboh?"
__ADS_1
"Nara!!"
Nara pun beranjak dan membuka pintu. "Ada apa sih na? Heboh banget pagi-pagi!" tanya Nara.
"Gue mau bicara sama lo, penting!"
"Aku cuci muka dulu bentar, biar seger!" Nara pun berlalu ke kamar mandi.
Nana terlihat gusar dan gelisah. Berkali-kali dia menghembuskan nafas kasar.
"Ra, cepetan!"
"Sabar na!" Nara keluar dari kamar mandi dan menghampiri Nana. Setelah cuci muka dia terlihat lebih segar.
Nara pun duduk di depan Nana. "Ada apa na? Ada masalah penting apa?" tanya Nara.
"Lo serius mau menikah sama bang Arga Minggu depan?" tanya Nana.
Nara mengangguk. "Kenapa? Ada masalah?"
"Lo yakin Ra? Lo gak akan nyesel, setau gue lo gak mau nikah kan? Kenapa sekarang tiba-tiba lo mau nikah dan mendadak kayak gini? Lo yakin dengan keputusan lo? Lo yakin sama bang Arga?" tanya Nana bertubi-tubi.
"Ya ampun na, bisa satu-satu gak nanyanya?"
"Jawab Ra!"
"Aku yakin dengan keputusan ku. Aku sayang sama mas Arga, mungkin ini cara Tuhan menyembuhkan trauma ku dengan mempertemukan aku dengan mas Arga. Dan aku sudah bulat dengan keputusanku tanpa ragu sedikitpun. Kenapa sih Na? Kamu kayak gak suka aku sama mas Arga."
Nana menghela nafas berat. Dia bingung jika Nara sudah yakin seperti itu dia tidak mungkin mencegahnya, bahkan dia melihat sendiri keyakinan itu di mata Nara.
"Na, kenapa sih? Ada apa? Ada yang salah antara aku dan mas Arga?"
"Gue emang gak setuju lo sama bang Arga Ra. Tapi mau gimana lagi, keputusan lo udah bulat. Kayaknya gue harus ngomong sama bang Arga. Semoga aja dia mau berubah pikiran dan gak jadi nikahin Nara!" batin Nana bermonolog.
"Na, kok kamu diem sih? Ada apa?"
"Gak apa-apa. Gue kaget aja, tiba-tiba bang Arga nelpon dan minta bantuan gue buat mempersiapkan pernikahan lo sama dia Minggu depan!" jawab Nana.
"Udah gue mau mandi dulu. Gue ada kuliah pagi," sambung Nana lalu dia beranjak.
Nara menatap Nana. Dia merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Nara pun beranjak, hari ini dia tidak bekerja. Entah apa yang akan dia lakukan di rumah tanpa kegiatan.
Nara pun ke dapur dan memulai membuat sarapan. Tapi dia teringat dengan sikap Nana yang aneh itu.
"Nana kenapa ya? Kayak ada yang dia sembunyiin!" pikir Nara.
__ADS_1
Bersambung..
...Masih sepi 😭😭😭 kasih dukungannya dong. Like dan Komennya.. 🙏🙏🙏...