
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Hari telah berganti Minggu, Minggu telah berganti bulan. Sudah lima bulan berlalu semenjak kepergian Nara, Arga belum menemukan di mana keberadaan sang istri. Bahkan dia sudah meminta bantuan detektif untuk mencari Istrinya. Tapi belum ada titik terang dimana keberadaan sang istri. Nara hilang bak di telan bumi.
Tapi Arga tak menyerah dia terus mencari keberadaan Nara. Hari ini Arga sedang bersiap untuk ke rumah sakit karena hari ini di mana anaknya Hana akan melakukan tes DNA.
Setelah semua urusan dengan Hana selesai, Arga berjanji akan pergi mencari Nara meski harus ke pelosok bumi pun akan dia tempuh.
Arga berangkat bersama Rafi dan Nana. Di rumah sakit pun sudah ada Yusril dan Bu Rina. Mereka sudah tau semua rahasia Arga yang selama ini di sembunyikan dari mereka. Meski Yusril kecewa dengan sikap keponakannya tapi dia mendukung melakukan tes DNA ini. Apa lagi Arga sudah memberikan bukti perselingkuhan Hana.
Di tempat lain Hana gelisah dan panik karena tes DNA itu. Dia memikirkan cara bagaimana agar tes DNA itu di gagalkan, karena dia memang sudah tau bahwa bayinya itu bukan anak Arga tapi Miko.
Saat dia di rumah sakit waktu bangun dari koma. Miko sering menjenguknya, tidak pernah absen. Setiap Hana sedang sendiri Miko menghampirinya dan mereka melakukannya, meski Hana selalu menolak di sentuh Miko, tapi tubuhnya tidak pernah bisa menolak sentuhan Miko.
Pada akhirnya mereka sering melakukannya, sampai akhirnya Hana positif hamil. Dan itu membuatnya stres dia tidak ingin semuanya tau jika itu anaknya Miko dan Miko sendiripun tidak tau jika Hana hamil anaknya.
Dan akhirnya Hana menjebak Arga agar Arga mengakui anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak Arga. Dia sudah bertekad siapapun ayahnya, anaknya harus tetap menjadi anak Arga, bukan Miko.
Tapi Hana kebingungan saat Arga bilang ingin melakukan tes DNA. Dia tidak menyangka jika Arga akan curiga dengan kandungannya. Bagaimana pun caranya dia harus menggagalkan rencana Arga untuk melakukan tes DNA itu.
***
Semuanya sudah berkumpul di rumah sakit. Arga dan yang lainnya sedang menunggu hasil dari tes DNA yang sudah di lakukan dua hari yang lalu.
Namun senyuman tersungging di bibir Hana.
"Kamu tidak akan pernah bisa lepas dari ku mas. Kamu harus jadi ayah dari anakku, sampai kapanpun kamu adalah ayahnya Kevin, bukan Miko." batinnya penuh kemenangan.
Tak lama dokter keluar dan membawa hasil tes DNA Kevin. Arga dan yang lainnya harap-harap cemas, tapi Arga sangat yakin jika Kevin bukanlah anaknya.
Sedangkan Hana terlihat santai dan tenang.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" ucap Arga saat membaca surat tes DNA dari dokter.
"Dokter ini pasti salahkan?" tanya Arga panik.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum. "Itu memang hasilnya pak! Saya bahkan belum membukanya sama sekali jadi itu hasilnya!" jawab Dokter.
Arga terkulai lemas. Dia tidak menyangka jika anak itu benar-benar anaknya. Tapi bagaimana bisa? pikirnya.
Sedangkan Hana tersenyum lega, akhirnya dia bisa mengatasi semuanya. Dia memang sengaja menukar hasil tes itu dengan yang palsu tentu saja dengan bantuan orang lain.
"Sekarang sudah terbukti kan, jika itu anak kamu Arga!" pekik pak Adi. Nafasnya memburu karena kesal dengan Arga yang tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri.
Arga masih terduduk lemas, dia masih belum percaya jika Kevin anaknya. Arga beranjak dan menghampiri Hana, dia menatap tajam Hana.
"Katakan siapa bapak Kevin sebenarnya? Saya yakin itu bukan anak saya!" pekik Arga sambil memegang kedua bahu Hana.
"Arga!!" teriak pak Yusril geram dengan tingkah keponakannya itu.
"Kenapa mas bicara seperti itu? Sudah ada buktinya mas, Kevin anak kamu. Kamu sendiri kan yang meminta tes DNA ini dilakukan, sekarang semuanya udah jelas Kevin anak kamu mas!" Isak Hana sambil menitikkan air mata buayanya.
Pak Adi semakin geram dengan tingkah menantunya itu. Dia menghampiri Arga dan melayangkan pukulan keras di wajah Arga.
"Papa!! Cukup pah jangan pukul mas Arga!" Hana menahan papanya yang ingin terus memukuli Arga.
"Liat anak saya bahkan selalu membela kamu, padahal kamu selalu menyakitinya!" pekik pak Adi geram.
"Mas kamu gak apa-apa?" tanya Hana. Arga terdiam sambil menatap tajam pak Adi.
Pak Adi menatap geram pak Yusril, sahabat yang dulunya terlihat akrab kini malah menjadi perang dingin.
"Ajari keponakan mu itu agar tau bersikap. Dia bahkan tidak mau mengakui anaknya sendiri, memalukan!" geramnya sambil menatap tajam pak Yusril.
Pak Adi dan bu Hesti meninggalkan rumah sakit. Pak Yusril mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
***
Di tempat lain seorang wanita yang sedang hamil besar tengah membungkuk di tengah sawah. Dia sedang membantu pak Tani dan Bu Tani bercocok tanam padi.
Tak jauh seorang pria menghampirinya, dia menggelengkan kepalanya melihat sikap keras kepala wanita itu.
"Neng Sini!" panggil pria itu.
Wanita itu menatap dengan tatapan malas, dia tau kehadiran pria itu hanya untuk melarangnya bekerja di sawah.
"Apa a?" tanya wanita itu dengan nada malas.
__ADS_1
"Kan aa udah sering bilang, jangan ke sawah kasian bayi kamu neng kepanasan!" omel pria itu. Sedangkan wanita itu hanya menanggapi dengan ledekannya.
"Tuh di bilangin selalu kayak gitu, ayo cepat naik. Cuci kaki terus pulang!" omel pria itu lagi.
Wanita itu berdecak kesal. "Bawel kayak emak-emak!" gerutunya kesal.
Pria itu hanya terkekeh kecil, melihat kekesalan wanita itu. Wanita itu berjalan di pinggiran sawah dan menuju sungai kecil untuk mencuci kaki dan tangannya.
Pria itu hanya memperhatikan tingkah menggemaskan wanita itu. Sudah lima bulan wanita itu tinggal bersamanya dan keluarganya, bahkan keluarganya sudah menganggap wanita itu keluarganya sendiri.
Bahkan disaat para tetangga menghakimi wanita itu karena kehamilannya, keluarga itu tetap membelanya. Wanita yang tak lain adalah Nara dia beruntung bertemu keluarga pak Harun yang sangat baik terhadapnya dan pria yang mengomelinya itu adalah Fahmi pria yang sudah menolongnya saat di ganggu preman malam itu.
Keluarga itu sangat senang dengan kehadiran Nara, karena kebetulan mereka tidak mempunyai anak perempuan.
Sebenarnya Fahmi menyukai Nara, tapi dia tidak berani mengatakannya. Apa lagi saat tau Nara masih bersuami. Mereka percaya dengan Nara, meski orang lain tidak mempercayainya, tapi keluarga Fahmi percaya dengan Nara.
"Udah ayo kita pulang. Kasian dedek dalam kandungan kamu!" ucap Fahmi.
"Bawel!" balas Nara sambil mendelik sebal.
Dia tidak menyangka Fahmi akan seposesif itu padanya. Nara hanya menganggap Fahmi sebagai kakak, dia senang dengan kebaikan keluarga Fahmi yang begitu menyayanginya. Dia benar-benar beruntung bertemu dengan mereka.
Awalnya Fahmi ingin mencarikan tempat untuknya beristirahat malam itu. Tapi karena sudah malam tidak ada tempat yang buka, akhirnya Nara di bawa pulang ke rumahnya dan akhirnya Nara di suruh tetap tinggal di sana.
"Ya udah aku mau pamit sama bapak dan ibu!" ucap Nara. Fahmi mengangguk, Nara menghampiri pak Harun dan Bu Mimin untuk pamit pulang.
"Ibu, bapak Nara pulang dulu ya!" ucapnya pada kedua suami istri yang sudah dia anggap orang tuanya sendiri.
"Iya neng, sebaiknya neng pulang dan istirahat!" ucap Bu Mimin. Nara mengangguk, setelah pamit dia menghampiri Fahmi yang tengah menunggunya.
"Ayo bawel!" ucapnya sebal, selalu saja Fahmi melarangnya jika ingin ke sawah. Jika ada kesempatan seperti sekarang, lagi-lagi Fahmi menjemputnya dan menyuruhnya pulang. Padahal Nara sangat suka di sawah bisa bermain sembari membantu Bu Mimin dan pak Harun.
Fahmi berjalan di belakang Nara, dia tersenyum kala Nara terus menggerutu. Fahmi mensejajarkan langkahnya dengan Nara dia mengacak rambut Nara gemas.
"Gak usah pegang-pegang nyebelin!" ucap Nara sambil membenahi rambutnya yang di acak-acak Fahmi.
"Ya ampun bumil sewot mulu deh!" ucap Fahmi gemas karena Nara terus menggerutu kesal tapi menurut Fahmi itu sangat lucu.
Nara hanya membalas dengan menye-menye menirukan ucapan Fahmi dan itu membuat Fahmi tergelak. Neng geulis nya itu selalu membuatnya tertawa. Semenjak kehadiran Nara kehidupan Fahmi begitu berwarna.
Tak lama mereka pun sampai di rumah.
__ADS_1
Bersambung..