Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Malam pengantin yang kandas


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Arga menerima telpon dari seseorang di balkon. Nara menunggu Arga di depan tv sesekali dia melirik suaminya yang sedang berbicara serius dengan orang di sebrang telpon.


Tak lama Arga selesai menelpon, dia kembali ke dalam. Arga menatap Nara lalu dia menghampirinya.


"Sayang, saya harus ke Bandung. Ada masalah di sana, maaf saya harus tinggalin kamu!" Ucap Arga sambil mengusap lembut pipi Nara


"Ke Bandung? Kenapa mendadak mas?" Tanya Nara.


"Iya ini masalah urgent, om Yusril menyuruh saya ke sana malam ini juga!"


"Apa gak bisa di tunda besok mas? Ini kan malam pengantin kita!" Lirih Nara.


Arga memeluk Nara. "Gak bisa sayang, masalah ini sangat urgent, saya harus kesana sekarang. Gak apa-apa kan kamu sendiri di sini?"


Nara terdiam, rasanya sedih di tinggal saat malam pertama. Arga mengangkat kepala Nara, gadis itu meneteskan air matanya. Arga mengusap air mata Nara.


"Saya mohon jangan menangis sayang! Saya gak akan lama. Maafin saya, tapi ini benar-benar masalah urgent! Saya janji akan cepat pulang!" ucap Arga.


Nara pun mengangguk pasrah. Arga mengecup kening Nara. "Terima kasih sayang!"


Lalu Arga beranjak dan ke kamar untuk bersiap. Nara mengikuti suaminya dan membantu Arga bersiap.


Sebelum pergi, Arga memeluk Nara dan menciumi pucuk kepala Nara. Dia juga mencium bibir Nara cukup lama.


"Maaf ya sayang, saya harus ninggalin kamu. Saya janji akan cepat pulang. Jangan sedih ya!" Nara mengangguk meski hatinya sangat sedih.


Nara mengantar Arga keluar, sebelum meninggalkan istrinya Arga kembali memeluk dan mencium bibir Istrinya lagi.


"Mas hati-hati ya!" Arga mengangguk sambil mengusap pipi Nara.


"Kamu juga hati-hati. Kalo ada apa-apa telpon saya! Nanti kamu telpon Tika buat temenin kamu selama saya pergi!" ucap Arga.


"Kenapa gak Nana aja mas?"


"Nana juga harus ikut ke Bandung, om Yusril juga nyuruh Nana pulang!"


Nara mengangguk. "Ya udah nanti aku minta temenin Tika!"


Arga kembali memeluk Nara. Dia juga tidak ingin meninggalkan istrinya di malam pengantin mereka. Tapi kalo dia tidak pulang, takut Yusril marah besar.


Arga mengecup kening Nara, lalu dia pamit. Baru beberapa langkah berjalan, Arga berbalik dan kembali menghampiri Nara dan memeluknya.


"Maafin saya!" ucap Arga merasa bersalah.


Arga kembali memangut bibir Istrinya, seharusnya ini adalah malam indah dia bersama Nara. Tapi malah ada masalah yang menghalangi malam indahnya bersama sang istri.

__ADS_1


Arga melepaskan bibirnya dan mengusap sisa Saliva di bibir Nara.


"I love you sayang!"


"I love you too! Cepat pulang ya mas!"


"Pasti sayang, tunggu saya!" Nara mengangguk lalu memeluk erat tubuh suaminya. Rasanya berat membiarkan suaminya pergi, padahal baru beberapa jam mereka menikah. Tapi sudah di tinggal sendiri.


Arga melepaskan pelukannya, lalu dia mengecup kening Nara lagi dan pamit. Setelah Arga hilang dari pandangannya Nara kembali masuk dan menutup dan mengunci pintu.


Nara menghela nafas, dia masuk ke kamar lalu dia berbaring di kasur. Air matanya mengalir. Tidak pernah terbayangkan olehnya akan di tinggal saat malam pengantinnya.


Arga berdecak kesal, di saat dia ingin menikmati malam indah bersama istrinya. Gangguan justru muncul, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Nara sendirian di apartemen.


"Kenapa harus sekarang?" pekiknya kesal.


Arga menjemput Nana di rumah Nara. Sesampainya di sana, Nana sudah menunggu.


Nana langsung masuk ke mobil Arga. Dia pun sama kesalnya.


Nana menghela nafas berat. "Nara sendirian?" tanya Nana.


"Ya mau sama siapa lagi?"


Nana berdecak kesal. "Gimana nih bang? Lo harus segera selesain urusan lo! Gue gak mau Nara kenapa-napa!"


"Bisa diem gak? Saya lagi pusing!" kesal Arga. Nana hanya mendelik tajam dan dia pun terdiam.


Sepanjang perjalanan mereka terdiam, Nana sempat terlelap sebentar tapi dia kembali bangun. Sekitar tiga jam lebih mereka sampai di Bandung.


"Om, pah!" Arga menyalami kedua pria paruh baya itu begitu juga Nana.


"Kenapa susah banget di hubungi ga?" tanya Yusril kesal.


"Maaf om, saya sibuk!" Yusril hanya menggelengkan kepalanya.


"Udah pak Yus gak apa-apa, yang penting Arga sudah di sini!" ucap pak Adi.


"Gimana keadaan Hana pah?" tanya Arga.


"Dokter lagi memeriksanya, sebentar lagi mungkin kita bisa menjenguknya!" jawab pak Adi.


"Dia terus nanyain kamu ga pas sadar, dari pagi om hubungi kamu susah banget. Kamu juga na susah banget di hubunginya!" ucap pak Yusril kesal.


"Maaf pah, banyak tugas jadi aku gak aktifin hape aku," jawab Nana asal. Pikiran Nana kacau, Nana berharap Arga cepat menyelesaikan masalahnya dengan Hana.


Tak lama suster keluar, dia memberitahukan bahwa pasien sudah bisa di jenguk.


Arga dan yang lainnya segera masuk. Seorang wanita tengah berbaring di atas brankar, dia membuka mata saat mendengar suara langkah kaki banyak.


"Mas Arga!" wanita itu tersenyum melihat kedatangan Arga. Arga menghampirinya dan wanita itu langsung memeluk Arga.


"Akhirnya kamu datang mas, kenapa lama sekali? Aku butuh kamu mas, aku gak mau sendirian!" Isak wanita itu.

__ADS_1


"Saya di sini, sudah jangan menangis!" ucap Arga sambil mengusap kepala wanita itu.


"Mas aku gak mau lumpuh, aku gak mau lumpuh mas!" tangis wanita itu pecah.


"Lumpuh?" tanya Arga heran.


"Iya pak Arga, Bu Hana mengalami kelumpuhan, sebab kecelakaan itu kaki Bu Hana mengalami kerusakan syaraf dan tulang kakinya," jawab dokter.


"Aku gak mau lumpuh mas, aku gak mau!" wanita bernama Hana itu menangis histeris.


Arga memeluk tubuh wanita itu yang histeris karena tidak terima dengan keadaannya. Arga berusaha menenangkannya.


Nana menghela nafas berat. Keadaan semakin rumit, dan Nana berharap semuanya cepat berakhir dan masalah ini tidak melukai Nara. Tak lama dokter pamit keluar.


Setelah merasa lebih tenang, Hana kembali berbaring. "Jangan tinggalin aku mas!"


"Iya saya di sini!"


Setelah beberapa saat, Yusril pamit pulang bersama Nana.


"Ga, om pulang dulu. Kamu jagain istri kamu!" ucap pak Yusril.


"Iya om!" jawab Arga.


Nana hanya menatap tajam Arga, dan keluar lebih dulu. Setelah berpamitan dengan pak Adi, pak Yusril pun pergi.


"Pah, sebaiknya papa juga pulang dan istirahat. Biar Hana saya yang jaga!" ucap Arga.


"Ya udah, papa pulang ya ga!" Arga mengangguk.


Arga duduk di samping Hana. Pikiran Arga kacau, dia menatap Hana yang mulai terlelap. Pikirannya tertuju pada Nara yang sedang sendirian di Apartemen.


"Apa yang harus saya lakukan? Keadaan Hana seperti ini, kalo saya menceraikan Hana. Kasian dia dan juga om Yusril pasti akan marah besar!" batin Arga frustasi.


"Mas!" panggil Hana.


"Iya, kenapa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Arga.


"Aku cuma butuh kamu!" jawab Hana.


"Saya di sini, udah kamu tidur!"


"Temenin aku, kamu tidur di sampingku. Aku pengen tidur di pelukan kamu!" ucap Hana.


"Kamu lagi sakit, kalo saya tidur di sini kamu gak bisa istirahat dan tempatnya jadi sempit!" ucap Arga. Hana menggeleng.


"Aku bisa istirahat dipelukan kamu, itu lebih nyaman mas. Aku mohon!"


Arga menghela nafas berat. Dia pun membenarkan posisi tidur Hana, untungnya ranjang itu lumayan besar cukup untuk dua orang. Arga berbaring dan memeluk Hana. Hana menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya dan memeluk erat tubuh suaminya, serta menghirup aroma tubuh suaminya yang sudah lama tidak ia hirup.


Malam ini harusnya Arga menikmati malam pertamanya bersama Nara tapi kejadian tak terduga justru menghampirinya. Hana istri pertamanya justru tersadar dari koma tepat di malam pengantinnya.


Sedangkan Nara dia sudah terlelap, malam indah yang harusnya dia lewati bersama sang suami, kandas begitu saja. Dia melewati malam itu sendiri, seperti malam-malam sebelumnya.

__ADS_1


Bersambung..


...Ada yang masih baca gak sih? Kok sepi ya... 😞😞😞...


__ADS_2