
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat membaca
***
Nara dan yang lainnya masih menunggu, Nara terus menghubungi Fahmi tapi belum juga di angkat oleh pria itu.
Baru saja Nara akan meletakkan ponselnya di meja, ponselnya berdering. Dia menatap layar ponsel yang tertera nama A Fahmi.
Nara langsung mengangkatnya. Arga menyuruh Nara untuk meloudspeaker ponselnya.
"Hallo neng!" ucap Fahmi di sebrang telpon.
"Hallo a, aa dimana? Kenapa belum pulang sama adek?" tanya Nara dengan Isak tangisnya.
Fahmi terdiam, sungguh dia tidak ingin mendengar tangisan Nara.
"Aa, ayo pulang a! Ini udah malam!" pinta Nara sambil terus menyeka air matanya.
"Maafin aa neng! aa gak mau kehilangan adek. Aa mau bawa adek pergi!" ucap Fahmi sambil menahan tangisannya.
Nara menggeleng frustasi. Sedangkan Arga terlihat geram mendengar ucapan pria itu.
"Enggak a! Ayo pulang a, bawa adek pulang!" Isak Nara memohon.
Arga yang sudah jengah merebut ponsel Nara.
"Kembalikan anak saya atau saya laporkan kamu ke polisi!" bentak Arga emosi.
Pak Harun dan Bu mimin ketakutan melihat kemarahan Arga yang begitu menyeramkan, apa lagi sampai ingin melaporkan anaknya ke polisi.
Terdengar kekehan Fahmi di sebrang telpon.
"Argan anak saya, bukan anak anda tuan. Sampai kapanpun Argan adalah putra saya!" jawab Fahmi lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Hallo Fahmi! Hallo!" Arga berdecak kesal.
Nara semakin histeris mendengar ucapan Fahmi hingga dia tidak sadarkan diri.
"Nara!"
Arga meletakkan tubuh istrinya di sofa. "Nara bangun sayang!" ucap Arga sambil menepuk-nepuk pipi Nara.
Pak Harun dan Bu Mimin semakin merasa bersalah.
"Aya-aya wae kalakuan anak maneh min! Ngerakeun!" (Ada-ada aja kelakuan anak kamu min! memalukan!)" ucap pak Harun kesal.
Bu Mimin mendelik tajam suaminya.
__ADS_1
"Siga lain anak manehna wae!" jawab Bu Mimin tak kalah kesal. Karena suaminya selalu seperti itu menyalahkannya jika anak-anaknya berbuat salah.
Di tempat lain, Fahmi sedang duduk sambil memeluk Argan. Dia sedang menimang-nimang Argan agar dia tertidur.
"Kamu dan bunda cuma milik ayah. Ayah gak mau kehilangan kalian. Maaf ya, ayah pisahin dulu adek sama bunda, cuma sebentar kok sayang. Nanti kita kumpul lagi ya!" ucap Fahmi sambil mengusap kepala Argan.
"Iyah!" panggil Argan sambil menatap Fahmi dengan mata sayu karena sudah mengantuk.
"Iya sayang!"
"Nda ana Iyah? (Bunda mana ayah?)" tanya bocah kecil itu.
"Bunda di rumah, sekarang adek bobo sama ayah ya!"
"Obo mama Iyah? (Bobo sama ayah?)" tanyanya lagi. Fahmi mengangguk lalu dia menyenderkan tubuh mungil bocah kecil itu di atas tubuhnya.
"Maaf ya sayang, ayah gak mau kehilangan kamu dan bunda. Ayah mencintai kalian. Kalian cuma milik ayah!" ucap Fahmi sendu sambil menepuk-nepuk bokong Argan agar anak itu terlelap.
"Maafin aa neng! Aa gak mau kehilangan kamu dan juga putra kita. Aa gak akan biarin kalian pergi tinggalin aa!" lirih Fahmi. Dia memejamkan matanya, seketika air mata mengalir dari sudut matanya.
Dia teringat tangisan Nara di telpon tadi. Sebenarnya dia tidak ingin membuat Nara menangis dan khawatir, dia tau gadis itu pasti sedang frustasi mencari anaknya, tapi dia cuma ingin mempertahankan sesuatu yang dia anggap miliknya. Meski kesadarannya masih normal, bahwa Argan dan Nara bukanlah miliknya. Tapi baginya Nara dan Argan adalah miliknya.
Dia yang menemani Argan bahkan saat dia masih dalam kandungan. Dia juga yang menemani Nara saat melahirkan di klinik, dia yang menyemangati Nara saat wanita itu berjuang untuk melahirkan putranya, dia juga yang mengadzani putra Nara.
Meski hati Fahmi sakit, saat Nara memanggil nama suaminya saat sedang berjuang melahirkan Argan. Tapi rasa sakit itu tak berlangsung lama, setelah putra yang di lahirkan Nara itu berada dalam gendongannya. Dia menatap wajah mungil putranya, meski dia bukan ayah kandungnya dia begitu bahagia saat Argan lahir ke dunia, seolah bayi itu adalah anaknya yang sedang dia tunggu-tunggu.
Fahmi bahagia dengan kehadiran Argan karena menambah warna dalam hidupnya. Makanya saat itu dia bertekad akan menikahi Nara. Tapi lagi-lagi dia harus menelan pil pahit, karena wanitanya itu masih status istri orang.
"Maafin aku Nara! Aku gak mau kehilangan kamu, aku sangat mencintai kamu neng!"
Fahmi terisak hingga tubuhnya bergetar, dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan putranya yang sangat dia sayangi dan juga tidak mau kehilangan ibu dari anaknya.
"Aku gak mau kehilangan kalian, Nara, Argan. Kalian milik ayah!" ucap Fahmi dengan Isak tangis yang sudah pecah. Membuat Argan yang sedang tertidur di atas tubuhnya terbangun dan menatap ayahnya.
"Iyah nanis? (Ayah nangis?)" tanya Argan sambil mengucek matanya.
Fahmi tak menjawab dia memeluk erat putranya dan menciumi wajah putranya. Dia tidak rela jika Arga mengambil penyemangat hidupnya.
Dia pun tidak menyangka akan sebesar ini cintanya pada Nara dan Argan. Padahal banyak gadis di desanya yang menginginkan dirinya untuk menjadi suami tapi tak ada satupun gadis yang mampu meluluhkan hatinya, sampai akhirnya dia bertemu Nara dan wanita itu sudah meluluh lantakkan perasaannya.
***
Pagi hari Fahmi terbangun saat mendengar tangisan Argan.
"Cup sayang! Kenapa jagoan ayah nangis?" tanya Fahmi sambil memangku Argan dan mengusap air matanya.
"Au nda Iyah! (Mau sama bunda ayah?)" Jawabnya dengan suara serak dan parau sambil menangis sesenggukan.
Fahmi mengerti karena Argan tidak pernah jauh dari Nara, setiap hari Argan selalu bersama bundanya. Sesekali sama Fahmi jika Nara mau memasak atau membereskan rumah.
"Iya nanti kita pulang ketemu bunda ya!" ucap Fahmi menenangkan Arga.
__ADS_1
"Uyang Iyah, au mama nda! (pulang ayah, mau sama bunda!)" ucapnya menangis tersedu-sedu.
Fahmi sebenarnya tidak tega memisahkan putranya dengan bundanya. Tapi ambisinya untuk memiliki Nara dan Argan sangat kuat, dia tidak akan membiarkan orang lain mengambil apa yang sudah menjadi miliknya.
Di tempat lain, Arga dan yang lainnya masih terus berusaha mencari Fahmi dan Argan. Pak Harun bertanya pada para tetangganya apa ada yang melihat Fahmi membawa Argan. Ada beberapa warga yang lihat Fahmi membawa Argan naik angkot jurusan terminal.
Mendengar itu Arga semakin panik, jangan-jangan Fahmi sudah membawa anaknya pergi keluar kota. Arga tak menyerah dia harus segera menemukan putranya dan membawanya pulang.
Sedangkan Nara masih terus menangis, setelah dia sadar dari pingsannya. Dia tidak tidur sama sekali karena terus memikirkan putranya.
Bahkan tangisan putranya terus terngiang-ngiang di telinganya, karena dia tau betul Argan akan menangis jika jauh darinya.
Bu Mimin berusaha menenangkan Nara.
"Argan sayang, cepat pulang nak! Jangan tinggalin bunda!"
***
Di kota lain Hana dan Kevin mendatangi kantor Arga. Dia menemui Rafi untuk menanyakan Arga karena Kevin terus merengek menanyakan papanya.
Tanpa mengetuk pintu dulu Hana langsung masuk begitu saja ke ruangan Rafi, padahal Rafi sedang membicarakan pekerjaan dengan Nana. Kebetulan setelah lulus kuliah, Nana ikut mengurus perusahaan papanya dia di tempatkan sebagai wakil direktur.
"Rafi, kapan mas Arga pulang?" tanya Hana tanpa basa-basi.
"Lo bisa sopan gak sih! Ketuk pintu dulu kek, kita lagi sibuk nih!" kesal Nana.
Hana tak menggubris ucapan Nana, dia menatap Rafi meminta jawaban.
"Oh maaf bu saya kurang tau, karena pekerjaan di sana belum bisa di tinggalkan!" jawab Rafi santai.
Hana berdecih sebal mendengar jawaban Rafi yang selalu sama, memang ini bukan pertama kalinya Hana menemui Rafi untuk menanyakan Arga.
"Nyebelin banget sih nih cewek! Kapan sih bang Arga cerain dia? Apa sih yang dia pertahanin? Katanya udah gak cinta, tapi masih aja di pertahanin, sebel gue!" batin Nana kesal.
"Mama, papa, papa.." rengek Kevin sambil menarik-narik tangan Hana.
"Berisik deh, bapak Lo gak ada!" sentak Hana.
Rafi dan Nana kaget mendengar Hana menyentak anaknya.
"Lo gila ya?! Anak lo sendiri Lo marahin!!" kesal Nana.
Hana tak perduli, dia meninggalkan ruangan Rafi, tanpa mengatakan apapun lagi.
Sebenarnya dia sudah lelah dengan rumah tangganya bersama Arga, kehadiran Kevin tak membuat Arga berubah baik padanya, bahkan dia semakin dingin dan acuh. Padahal dia pikir dengan kehadiran Kevin sikap Arga akan melunak.
Arga mau menginap di apartemen hanya karena Kevin, itu pun kadang cuma seminggu sekali dan setiap menginap pun dia hanya mau tidur bersama Kevin. Dia benar-benar sudah tak di anggap oleh Arga, bahkan mungkin sudah tak di anggap istri!
Hana meninggalkan kantor dengan perasaan dongkol, karena lagi-lagi tak mendapat jawaban yang memuaskan kapan Arga pulang. Dia ingin pergi berlibur untuk menenangkan pikirannya, tapi jika tidak ada Arga tidak ada yang menjaga Kevin.
"Terpaksa aku harus titipin Kevin ke papa dan mama." batin Hana kesal.
__ADS_1
Bersambung..