
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Sudah tiga hari Arga mencari Nara tapi dia belum juga menemukan keberadaan istrinya, ponselnya pun tidak bisa di hubungi. Arga benar-benar frustasi, ketakutannya benar-benar terjadi Nara pergi meninggalkannya setelah tau semua rahasianya.
"Maafin mas sayang. Maaf karena mas udah bodoh!" Arga menyenderkan kepalanya di kursi mobil sambil memejamkan matanya. Hanya penyesalan yang kini menggelayuti relung hatinya.
Dia memutar semua kenangan indah bersama istri tercintanya. Dia sangat merindukan istrinya, senyumnya, tubuhnya dan cintanya.
"Kembalilah Nara. Mas kangen sama kamu, mas gak mau kehilangan kamu. Jangan pergi sayang!" racaunya.
"Apa yang harus mas lakukan? Mas bisa gila tanpa kamu!" lirihnya.
Tiba-tiba dia ingat dengan Hana. Raut wajahnya berubah menjadi emosi. Arga melajukan mobilnya menuju Apartemen, ingin sekali dia memberi pelajaran pada istri pertamanya itu.
Arga melajukan mobilnya seperti orang kesetanan, tak perlu waktu lama dia sampai di apartemen karena laju mobilnya yang sangat kencang.
Arga keluar dari mobil dengan raut wajah yang sangat emosi, terlihat Wajahnya memerah karena menahan amarah dan rahangnya mengeras.
Setelah di depan unitnya, dia langsung menekan password dan masuk. Hana kaget dengan kedatangan Arga yang tiba-tiba tapi tak lama wajahnya terlihat sumringah.
"Mas!" Hana berhambur ke pelukan Arga.
"Aku seneng banget mas ke sini. Aku kangen banget sama kamu mas, anak kamu juga kangen banget sama kamu!" oceh Hana sambil mengeratkan pelukannya.
Arga terdiam sambil mengatur nafasnya, tadinya ingin sekali dia menampar wanita yang ada di hadapannya itu. Tapi dia ingat dengan janin yang ada di kandungan Hana.
"Sebaiknya kamu pulang ke Bandung!" ucap Arga dingin.
Hana melepaskan pelukannya dan menatap Arga.
"Kenapa mas? Apa kita akan pindah ke Bandung lagi?" tanya Hana.
"Kita akan bercerai!" Hana mengernyit.
"Kamu becanda mas? Kamu gak bisa cerain aku mas karena aku sedang mengandung anak kamu!" ucap Hana kesal.
"Saya gak yakin itu anak saya!" celetuk Arga. Mata Hana membulat mendengar ucapan Arga.
"Bisa saja itu anak selingkuhanmu!" Sambung Arga.
Plakk..
"Mas kamu keterlaluan!" pekik Hana kesal setelah menampar Arga.
__ADS_1
"Kenapa? Saya wajar meragukan kandungan kamu karena sebelumnya kamu selingkuh dengan mantan pacar kamu itu!"
Hana menangis mendengar perkataan Arga. Dia tidak pernah menyangka kehamilannya tidak membuat Arga berubah, malah semakin menjadi.
"Kenapa kamu tega mas bicara seperti itu? Ini anak kamu darah daging kamu. Sudah aku bilang berapa kali aku gak pernah selingkuh!" Isak Hana.
"Keputusan saya sudah bulat. Setelah kamu melahirkan, saya akan menceraikan kamu tapi dari mulai sekarang saya tidak akan pernah perduli lagi sama kamu. Sebaiknya kamu pulang ke Bandung, bersiaplah Rafi akan mengantar kamu!" ucap Arga tegas dan tidak memperdulikan Isak tangis Hana.
Hana menggeleng. "Kamu gak bisa lakuin ini sama aku mas. Aku gak mau pisah sama kamu!" Hana memohon dan memegang tangan Arga, tapi Arga menepisnya.
Arga menatap tajam Hana. "Jangan pernah muncul di hadapan saya lagi!" ucap Arga dingin.
Lalu dia berbalik meninggalkan Hana. "Mas!" Hana mengejar Arga dan menahan Arga.
"Jangan lakuin ini sama aku mas. Aku gak mau pisah sama kamu, aku mencintai kamu mas," Isak Hana memohon.
"Tapi saya tidak!" jawab Arga. Arga mendorong bahu Hana pelan, lalu bergegas keluar apartemen.
"Mas!" Hana mengejar Arga lagi.
"Aaargh.." tiba-tiba Hana memekik. Arga menoleh saat mendengar Hana memekik. Wanita itu memegangi perutnya dan kesakitan.
"Mas, perut aku sakit," rintih Hana tubuhnya merosot ke lantai.
Arga menghembuskan nafas kasar, lalu dia menghampiri Hana. "Kamu kenapa?"
"Perut aku sakit mas, perut aku sakit banget!" Jawab Hana sambil meringis kesakitan dan memegangi perutnya.
Arga pun bergegas menggendong Hana ala bridal dan membawanya ke rumah sakit.
***
Nara baru saja selesai memeriksa kandungannya karena tadi tiba-tiba perutnya merasa kram. Untungnya kandungannya baik-baik saja. Nara terus mengusap perutnya sendu.
"Baik-baik ya nak, jangan bikin bunda khawatir. Bunda gak mau kehilangan kamu, kamu harus kuat ya sayang di perut bunda," gumamnya sambil mengelusi perutnya.
Nara bergegas ke bagian farmasi untuk menebus obat dan vitamin untuk kandungannya. Nara duduk menunggu panggilan.
Nara melihat sekelilingnya, wanita-wanita lain di antar oleh suaminya. Sedangkan dirinya hanya sendirian, hati Nara terasa sakit dan dia sangat sedih karena tidak ada suami di sisinya.
"Maafin bunda ya nak. Kamu gak di antar sama ayah." gumamnya lirih.
Saat sedang asyik mengelus perutnya, tak sengaja Nara mendengar suara seseorang yang tidak asing. Nara mencari-cari asal suara itu dan dia melihat Arga suaminya sedang bersama Hana. Arga sedang memapah Hana yang terlihat kesakitan.
Hati Nara terasa berdenyut sakit melihat ayah dari anaknya sedang bersama istri pertamanya. Air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata.
Nara bergegas memakai masker agar tidak terlihat oleh Arga. Tak lama namanya di panggil, Nara beranjak dan bergegas pergi takut Arga melihatnya.
Arga yang tak sengaja samar-samar mendengar seseorang memanggil nama istrinya menoleh.
__ADS_1
"Renara?" batinnya.
Arga celingak-celinguk mencari keberadaan istrinya. Dia berharap bisa menemukan istrinya yang sangat di rindukannya itu.
"Mas ayo cepat! Perut aku sakit banget!" rintih Hana.
Arga pun mengalihkan perhatiannya pada Hana dan segera membawa Hana menuju dokter.
"Mungkin saya salah dengar." batin Arga.
Nara pulang naik taksi. Lagi-lagi air mata lolos begitu saja tanpa perintah, tapi dia berusaha kuat dan tidak boleh lemah demi anak yang ada di perutnya.
"Udah gak ada harapan lagi aku sama mas Arga. Dia bahkan sedang bahagia bersama istri dan anak pertamanya. Bahkan dia tidak berusaha mencari aku. Baiklah mas jika itu yang kamu inginkan aku akan menjauh dari kamu dan tidak akan mengganggu kamu dan istri kamu. Aku yakin bisa mengurus anakku sendiri," Nara bermonolog dalam hati dengan air mata yang mengalir deras sambil mengelus perutnya.
Tak lama dia sampai di kontrakannya. Nara langsung beristirahat karena tubuhnya merasa lelah.
***
Hana dan Arga sudah kembali ke apartemen. Saat Arga akan pergi Hana menahannya.
"Mas aku mohon! Jangan ceraikan aku, aku gak mau berpisah sama kamu. Kalo kamu tidak mau melakukannya demi aku, setidaknya kamu lakukan demi anak kamu. Aku mohon mas!" Hana memohon pada Arga.
Arga terdiam dengan pikiran yang semakin kacau. Dia memejamkan matanya sesaat dan menghela nafas panjang.
"Kamu dengarkan tadi apa kata dokter? Aku gak boleh stres itu bisa mempengaruhi kandunganku. Aku mohon mas bertahanlah demi anak kamu!" lirih Hana.
Dia mengambil tangan Arga lalu meletakkannya di perut buncitnya. Arga masih memalingkan wajahnya tapi saat tangannya menyentuh perut buncit Hana dia langsung menoleh.
Hatinya terenyuh saat menyentuh perut buncit istrinya itu. Ini yang dia dambakan selama ini kehadiran seorang anak.
Hana tersenyum senang saat Arga mengelus-elus perutnya. Rencananya berhasil untuk merayu Arga, dia tidak akan membiarkan suaminya mencari Nara. Dia tidak rela jika suaminya menemukan Nara dan kembali hidup bersama, karena baginya Arga adalah miliknya.
"Aku gak akan biarin kamu pergi dari aku mas. Kamu cuma milik aku bukan pelakor itu." batin Hana.
Hana menatap Arga yang masih mengelus-elus perutnya. Hana mengalihkan pandangan Arga dan langsung mencium bibir Arga, hormon kehamilannya membuat dia rindu akan sentuhan dan belaian.
Arga terdiam dan tidak membalasnya, dia masih mencerna pikirannya yang kacau. Sedari tadi pikirannya hanya pada Nara, bahkan saat mengelus perut Hana yang dia pikir itu adalah perut Nara.
Tanpa sadar dia membalas ciuman itu dan dia pikir itu adalah Nara. Hana senang saat Arga membalas ciumannya. Tapi saat ciuman Arga beralih ke leher Hana dia tersadar, saat mencium aroma berbeda dari tubuh istrinya.
Arga langsung menjauhkan kepalanya, kesadarannya kembali dia melihat Hana di hadapannya bukan Nara. Arga langsung beranjak dan sekilas menatap Hana.
"Saya pergi!" ucap Arga.
"Tapi mas-" belum sempat dia melanjutkan ucapannya, Arga sudah melenggang pergi dari kamarnya.
Hana berdecak kesal, dia memukul-mukul bantal untuk melampiaskan kekesalannya.
"Padahal aku pengen banget di sentuh mas Arga!" pekiknya kesal.
__ADS_1
Bersambung..
...Mohon dukungannya ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like, komen, vote, dan juga rate.. Kalo ada gift juga boleh. Terima kasih.. 🙏🙏...