
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Dua hari lagi pernikahan Arga dan Nara di laksanakan. Memang tidak ada acara besar-besaran, hanya ijab kabul dan acara syukuran kecil-kecilan.
Arga sengaja membuat acara tertutup. Nara tidak mempermasalahkan itu, baginya sah secara hukum dan agama sudah cukup.
Nana pun membantu persiapan acara pernikahan Nara. Dia melakukannya demi Nara. Tapi tetap saja hati Nana gelisah, dia takut papanya tau pernikahan Arga dan Nara. Nana terus berdoa semoga semuanya berjalan dengan lancar.
Siang itu Nara sedang di rumah dan sedang bersantai. Tak lama terdengar suara ketukan pintu.
"Assalamualaikum.." terdengar suara seseorang mengucap salam. Nara beranjak dan membuka pintu.
"Waalaikumsalam.. Pak Rega!"
Rega tersenyum menyapa Nara. "Silahkan masuk pak!"
"Enggak usah Ra. Saya cuma mau minta tolong sama kamu!"
"Minta tolong apa pak?" tanya Nara.
"Rere sakit dan dia ingin bertemu kamu, dia terus manggil-manggil kamu Ra. Saya mau minta tolong kamu agar mau menemui Rere!" jawab Rega dengan wajah yang memohon.
"Ya ampun Rere sakit apa?" tanya Nara cemas.
"Dia demam tinggi!"
"Ya udah tunggu pak, saya ganti baju dulu." Rega mengangguk lalu dia duduk di kursi luar sambil menunggu Nara.
Rega bernafas lega karena Nara mau menemui anaknya. Tak lama Nara sudah siap, mereka bergegas naik mobil dan mobil melaju menuju rumah Rega.
"Maaf ya Ra, saya ngerepotin kamu!" ucap Rega saat di perjalanan.
"Gak apa-apa pak, saya juga sayang sama Rere!" balas Nara.
"Apa nanti tunangan kamu tidak marah?" tanya Rega.
"Bapak tenang aja, nanti saya jelasin sama dia!" Rega mengangguk.
"Ra!" panggil Rega.
"Iya pak!" jawab Nara sambil menoleh ke arah Rega.
"Boleh gak kamu gak usah panggil saya bapak?" Nara terdiam.
"Terus saya harus panggil apa?" tanya Nara.
"Panggil mas aja, lebih nyaman!" jawab Rega. Nara pun mengangguk.
"Baik, maaf pak eh maksud saya mas, kalo saya udah bikin mas gak nyaman!" Rega tersenyum.
"Gak apa-apa, makasih ya." balas Rega tersenyum dan menatap Nara sekilas.
Tak lama mereka pun sampai di rumah Rega. Nara dan Rega bergegas keluar dari mobil. Rega berjalan lebih dulu dan Nara mengikutinya.
Di sana ada Bu Ingrid dan Reva adiknya Rega. Nara menyapa mereka dengan senyuman.
"Kenalin Ra, ini mama saya Ingrid dan ini adik saya Reva!" ucap Rega memperkenalkan keluarganya.
__ADS_1
"Nara!" ucap Nara sambil mengulurkan tangannya pada mereka berdua. Mereka membalasnya dan tersenyum ramah.
"Ya udah mah, aku ajak Nara ke kamar Rere dulu!"
"Iya ga!" jawab Bu Ingrid.
Nara dan Rega pun berjalan menuju kamar Rere.
"Mah itu pacarnya mas Rega?" tanya Reva.
"Gak tau mama juga, tapi mama sempet ketemu dia waktu di restoran!" jawab Bu Ingrid.
"Tapi cantik juga mah, dan kayaknya Rere sayang banget sama dia. Sampe sedang sakit aja Rere manggil-manggil dia!" ucap Reva.
Bu Ingrid hanya mengangkat bahunya. Sebenarnya Bu Ingrid ingin Rega cepat menikah agar ada yang mengurusnya dan juga cucunya, tapi Rega selalu mencari alasan tidak mau menikah.
"Mah kenapa gak kita jodohin aja mereka, mama setuju gak?" usul Reva.
"Mama sih Kalo mas mu setuju dan Rere juga suka. Mama gak masalah!" jawab Bu Ingrid santai.
Reva tersenyum, dia bertekad akan menjodohkan kakaknya itu dengan Nara.
Nara dan Rega masuk ke kamar Rere. Gadis kecil itu sedang terbaring, wajahnya pucat dan sayu.
"Sayang!" panggil Nara.
"Mamii.." Rere langsung beranjak dan memeluk Nara saat Nara duduk di sampingnya.
"Mami, aku kangen mami. Mami jangan tinggalin aku!" ucap gadis itu menangis.
Nara mengusap kepala Rere dan mengecup puncak kepala gadis kecil itu.
"Iya sayang mami ada di sini. Rere jangan nangis lagi ya, mami temenin ya!" ucap Nara.
Kebaikan dan kedewasaan gadis itu membuatnya hatinya tersentuh. Rega tersenyum, lagi-lagi jantungnya berdebar saat melihat Nara.
Tapi seketika dia sadar, dia ingat kalau Nara milik orang lain. Mungkin Jika Nara belum bertunangan, Rega akan meminta Nara menjadi maminya Rere. Melihat begitu bahagianya Rere saat melihat Nara, Rega yakin Rere sangat menyayangi Nara.
Bu Ingrid dan Reva menyusul ke kamar Rere. Mereka juga melihat kedekatan dan keakraban Rere dan Nara. Mereka tersenyum saat melihat Rere kembali tersenyum dan mau makan.
"Mas, ikut aku! Aku mau bicara!" bisik Reva sambil menarik tangan Rega.
"Ada apa sih dek?" tanya Rega.
Reva mengajak Rega ke luar kamar Rere di ikuti Bu Ingrid. Mereka pun duduk di sofa ruang keluarga.
"Ada apa sih dek, mah?" tanya Rega.
"Mas lihat kan, Rere deket banget sama kak Nara?" Rega mengangguk.
"Emang kenapa?" tanya Rega.
Bu Ingrid hanya terdiam dan membiarkan putrinya itu berbicara dengan putranya.
"Mas, Rere itu butuh sosok ibu dan aku yakin kak Nara cocok jadi ibunya Rere dan dia juga sepertinya sayang sama Rere!" Rega mengangguk dan mengerti arah pembicaraan adiknya itu.
"Kenapa mas sama kak Nara gak menikah aja?"
Rega tersenyum lalu beranjak. "Tidak mungkin itu terjadi!" ucap Rega lalu meninggalkan ibu dan adiknya.
"Kenapa gak mungkin mas?" tanya Reva agak berteriak karena Rega sudah berjalan menaiki tangga.
Rega tak menggubris dia terus menaiki tangga dan berjalan menuju kamar anaknya. Reva hanya menghela nafas panjang. Karena memang sulit membujuk kakaknya itu. Dia dan ibunya sudah berkali-kali menjodohkan Rega dengan anak teman mamanya, tapi tidak ada satupun perempuan yang di terima Rega.
__ADS_1
Rega mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit. Terlihat Nara sedang membacakan buku cerita dan Rere nemplok di tubuh Nara sambil memeluk erat tubuh gadis itu. Rega tersenyum.
"Meskipun saya mau. Belum tentu Nara mau. Apa lagi dia sudah bertunangan," lirih Rega.
.
Setelah Rere terlelap, Nara pamit pulang sama Rega dan yang lainnya.
"Saya anter Ra!"
"Gak usah mas, saya pulang sendiri aja!" ucap Nara.
"Gak bisa gitu Ra, kan saya yang bawa kamu ke sini. Jadi saya juga yang harus anter kamu pulang!" balas Rega.
"Iya Ra, biar Rega anter aja!" timpal bu Ingrid. Nara pun mengangguk.
Nara pamit pada bu Ingrid dan Reva. Lalu dia pulang di antar Rega.
Sesampainya di rumah, terlihat mobil Arga sudah bertengger di depan rumahnya.
"Makasih ya mas udah antar saya pulang!" ucap Nara.
"Enggak Ra, harusnya saya yang terima kasih karena kamu sudah membantu saya!" Nara mengangguk.
Rega menatap Arga yang sedang berdiri di depan rumah Nara.
"Tunangan kamu sudah nunggu!"
"Iya, itu calon suami saya. Dua hari lagi kami akan menikah!" balas Nara.
Deg!
Entah kenapa hati Rega terasa tercubit saat mendengar Nara akan menikah.
"Saya permisi mas!" Rega mengangguk. Nara pun keluar dari mobil dan langsung menghampiri Arga yang sedang berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.
Rega tersenyum kecut. "Apa yang kamu harapkan Rega! Dia milik orang!" gumamnya. Lalu dia melajukan mobilnya.
Nara menghampiri Arga dan memeluk pria itu, tapi Arga melepaskan pelukan Nara. Nara tau pria itu sedang marah.
"Mas mau kemana?" tanya Nara saat Arga berjalan keluar.
"Pulang!" jawab Arga ketus. Tapi Nara menahannya.
"Aku jelasin ya, jangan marah sayang!" ucap Nara membujuk. Arga tak menggubris dan melepaskan genggaman Nara.
"Mas!" Nara mengejar Arga yang berjalan cepat menuju mobilnya. Nara ikut masuk saat Arga masuk mobil.
Nara mendekat dan memeluk Arga, lalu dia mulai menceritakan apa yang terjadi. Setelah mendengar penjelasan Nara, Arga menatap Nara.
"Saya tidak suka kamu pergi tanpa ijin saya, apa lagi pergi sama pria lain! Jangan pernah temui dia lagi!" ucap Arga tegas.
Nara mendongak dan menatap Arga. "Maaf, aku janji akan selalu ijin sama kamu setiap mau pergi!"
Arga mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Nara. Nara tersenyum.
"Makasih mas, karena kamu sudah mau mencintai aku!" Arga tersenyum sambil mengusap pipi Nara, lalu memeluk Nara.
"Saya janji akan bahagiain kamu Nara!" Nara mengangguk dan mengeratkan pelukannya.
Bersambung..
...Mohon dukungannya terus ya. Tinggalkan jejak kalian, Like dan komen kalian penyemangat aku.. 🤗🤗...
__ADS_1