Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Kepergian Nara


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Nara melepaskan pelukan Arga. Dia menatap Arga dengan tatapan dingin.


"Urus istri kamu mas! Dia sedang mengandung anak kamu. Bukankah kamu sangat ingin memiliki anak!" ucap Nara dengan nada datar. Sikap Nara kembali seperti dulu, dingin dan acuh.


Arga menggeleng. "Kamu istri mas sayang. Mas hanya ingin punya anak dari kamu! Dan mas juga akan menceraikan Hana!" ucap Arga sambil menangkup kedua pipi Nara, tapi Nara membuang muka.


Nara tersenyum kecut. "Bagaimana kamu akan menceraikan dia, sedangkan dia sedang mengandung anak kamu!" ucap Nara ketus.


"Sebaiknya kamu urus istri kamu itu dan gak usah perduli lagi sama aku. Biar aku yang pergi agar tidak jadi duri di dalam rumah tangga kalian, aku gak mau di cap sebagai pelakor!" sambung Nara.


Nara melangkah pergi tapi Arga menahannya. Dia memeluk Nara lagi. Sekuat tenaga Nara menahan air matanya.


Nana dan bi Inah menatap mereka dengan berlinangan air mata dan terus berdoa semoga Nara tidak pergi.


"Jangan tinggalin mas sayang. Mas gak mau kehilangan kamu!"


Nara menghela nafas berat. "Kamu inget kan mas apa yang aku katakan dulu? Kesalahan yang tidak akan pernah aku maafkan. Dan sekarang kamu melakukannya. Kamu mengkhianati aku dan membohongi aku--" Nara menjeda ucapannya karena merasa sesak di dadanya.


Pertahanannya pun runtuh, dia tidak bisa lagi menahan air mata yang memaksa keluar dari kelopak matanya. Bulir-bulir bening itu mengalir dengan derasnya, seolah dia tau jika hati pemiliknya sedang sangat terluka.


"Kamu jahat mas! Kamu datang menawarkan cinta tapi ternyata cinta kamu hanya kebohongan. Kamu anggap aku apa mas? Kenapa kamu mempermainkan aku? Kamu tau kan aku trauma kebohongan dan pengkhianatan?"


"Maafin mas Nara. Mas mohon, percayalah! Mas sangat mencintai kamu! Kamu satu-satunya wanita yang mas cintai! Kamu sudah janji akan selalu percaya sama mas!" lirih Arga sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara.


"Kamu sudah merusak kepercayaan aku mas dengan kebohongan yang kamu lakukan. Bagaimana aku bisa percaya lagi sama kamu? Bahkan pernikahan kita di awali dengan kebohongan." jawab Nara.


Nara melepaskan tangan Arga yang melingkar di perutnya. Tapi Arga menahannya.


"Lepas mas, biarkan aku pergi. Sebaiknya kamu urus istri kamu, dia membutuhkan kamu!"

__ADS_1


Nara memaksa melepaskan pelukan Arga. Setelah lepas Nara berjalan cepat keluar, Arga mengejarnya.


"Nara jangan tinggalin mas! Mas mohon sayang jangan tinggalin mas!"


Arga berlutut di depan Nara. Dia menggenggam erat tangan Nara. Nara memalingkan wajahnya, agar tidak melihat wajah Arga yang sedang menangis dan memohon padanya.


Nara memaksa melepaskan tangan Arga. Setelah itu dia bergegas berlari agar Arga tidak bisa mengejarnya. Dia bergegas masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya sedari tadi karena dia sudah memesan taksi itu dari tadi.


Arga mengejar Nara yang sudah masuk mobil.


"Sayang buka sayang! Jangan tinggalin mas!" Arga mengetuk-ngetuk pintu mobil taksi itu.


"Jalan pak!" Seru Nara.


"Nara! Jangan tinggalin mas!" Arga terus mengetuk-ngetuk pintu mobil itu meski mobil itu sudah melaju, sampai akhirnya dia tidak bisa lagi mengejar mobil itu karena sudah melaju kencang.


Arga terkulai dan berlutut, dia menatap kepergian mobil taksi yang membawa istrinya pergi.


"Jangan tinggalin mas Nara. Maafin mas!" lirihnya dengan deraian air mata.


"AAAARGHH.." teriaknya frustasi.


"Mas sangat mencintai kamu Nara, jangan tinggalin mas!" isaknya dengan kepala yang tertunduk lesu.


Tak jauh berbeda dengan Arga, sepanjang perjalanan tak henti-hentinya air mata mengalir membasahi pipi Nara. Rasa sakit di bohongi dan di khianati benar-benar menghancurkan perasaannya.


Trauma masa lalu yang di berikan ayahnya, kini dia harus mengalaminya lagi dari pria yang di cintainya. Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih sangat mencintai suaminya itu dan dia tidak tega melihat Arga seperti itu. Tapi kesalahan suaminya benar-benar sulit untuk di maafkan. Luka lama yang perlahan sembuh itu kembali menguak lebar dalam hatinya.


Nara mengelus perutnya. "Maafin bunda nak, karena kamu harus jauh dari ayah!" isaknya.


Sudah hampir lima belas menit mobil itu berputar-putar. Supir taksi yang melihat penumpangnya sedang menangis tidak ingin mengganggunya, dia tau penumpangnya itu sedang mengalami masalah. Dia membiarkan agar penumpangnya itu tenang lebih dulu setelah itu barulah dia akan bertanya kemana tujuannya.


"Maaf mbak, kita mau kemana ya?" tanya supir taksi itu setelah melihat Nara lebih tenang.


Nara yang mendapat pertanyaan itu segera menyeka air matanya, lalu dia menyebutkan tempat yang dia tuju.


Mobil pun melaju ke tempat tujuan penumpangnya. Tak perlu waktu lama mereka sudah sampai. Setelah memberikan ongkos Nara turun, setelah Nara turun mobil pun melaju meninggalkannya.

__ADS_1


Nara berjalan menyusuri tempat yang di penuhi pohon rindang. Di sekitarnya terdapat beberapa gundukan tanah yang membentuk persegi panjang dan di selimuti rumput hijau. Dan di ujung sisi tersemat sebuah nama si pemilik gundukan itu.


Saat ini dia sedang berada di pemakaman, dia ingin mengadu pada ibunya meski dia tau itu tidak akan membantunya menyelesaikan masalah. Tapi setidaknya bisa membuat hatinya merasa lebih lega setelah bercerita.


Saat dia sampai di makam ibunya, dia melihat gundukan tanah itu bertaburan bunga. Nara terheran siapa yang habis ke makam ibunya? Tidak mungkin suaminya kan? Tapi saat ini Nara tidak ingin memperdulikannya saat ini dia ingin mengeluarkan semua sesak yang bersarang di dadanya.


Di sisi lain Arga tidak bisa mengendalikan diri, dia mengamuk dan melempar semua barang yang ada di sekitarnya. Nana, bi Inah dan yang lainnya tidak berani mendekat melihat kemarahan pria itu.


"AAARGHH.." pekiknya frustasi.


"Ini semua salah lo bang, lo yang udah membuat masalah ini. Gue udah sering peringatin lo tapi lo gak pernah mau denger omongan gue!" lirih Nana.


Nana menatap nanar kakak sepupunya itu. Setelah puas menghancurkan barang-barang di rumahnya dan menyebabkan rumahnya seperti kapal pecah. Arga terduduk sambil mencengkram kepalanya, dia terlihat sangat frustasi.


"Renara..!!" teriaknya.


***


Setelah lelah Nara mencari tempat tinggal akhirnya dia mendapat kontrakan, untuk sementara dia akan tinggal di sana sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan ke selanjutnya.


Dia masih memiliki tabungan, cukup untuk membayar sewa dan kehidupan sehari-hari. Tapi tetap dia harus mencari kerja, agar tabungannya tidak cepat menipis dan juga dia harus punya tabungan untuk melahirkan anaknya nanti.


Nara merenung dengan posisi duduk berjongkok sambil memeluk lututnya. Pandangan matanya kosong menatap lantai. Rasa sakit yang di torehkan suaminya benar-benar membuat trauma dia kembali kambuh.


"Kenapa kamu tega mas! Kenapa?" gumamnya dengan air mata yang terus mengalir.


Dia mengabaikan suara ponsel yang terus berbunyi. Pikirannya benar-benar tidak karuan, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Tapi apapun yang terjadi dia harus kuat demi calon anaknya yang sedang berada dalam rahimnya.


Nara mengelus perutnya. "Baik-baik ya nak di dalam perut bunda. Jangan bikin bunda khawatir ya nak, sekarang kita cuma berdua. Kamu harus kuat buat nemenin bunda!" ucapnya dengan suara yang hampir tercekat karena menahan tangis.


Tapi pada akhirnya tangisnya pecah, padahal dia ingin memberitahu kan kabar bahagia ini tapi dia malah lebih dulu mendapatkan kabar buruk.


Nara membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan menangis. Perasaannya benar-benar hancur, bagaimana bisa suaminya melakukan itu padanya. Padahal dia sangat mencintai suaminya dan sangat percaya pada suaminya.


"Kamu jahat mas!"


Bersambung..

__ADS_1


...Mohon tinggalkan jejaknya ya! Jangan lupa like, komen dan Vote-nya kalo ada kasih hadiah juga. Terima kasih 🙏🙏...


__ADS_2