
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Malam ini Nara sudah sampai di kota K. Nara sudah bertekad akan menjauh dari Arga dan ingin memulai hidup baru, dia lebih memilih mundur dan menyerah dari pada dia terus tersakiti dan terluka.
Sejujurnya dia tidak ingin pergi, tapi keadaan yang memaksanya untuk memilih keputusan ini. Lagian tidak akan ada yang tau dia tinggal di kota ini, karena memang Nara tidak pernah keluar kota selama dia dan ibunya berpisah dengan ayahnya.
Hati Nara semakin sakit saat bertemu dengan Bu Hesti, wanita yang sudah menghancurkan keluarganya dan sekarang dia malah berurusan dengan anaknya--Hana. Meski sekarang posisinya tertukar, dirinya yang di anggap pelakor. Tapi semua itu tidak benar, dia tidak pernah menjadi perusak rumah tangga orang. Jika pun dia tau Arga sudah menikah, tentu dia tidak akan pernah menerima Arga.
Akhirnya dia merelakan Arga bersama Hana. Dia tidak mau egois karena dia sendiri tau rasanya di khianati.
Nara memejamkan mata untuk sesaat, sesak di dadanya membuat dia tidak bisa menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Saat mata itu terpejam air mata lolos mengaliri pipinya yang putih mulus.
"Mas maaf aku bawa anak kita pergi. Aku butuh waktu, jika hati aku sudah mulai membaik aku akan mempertemukannya denganmu. Maafin aku mas Arga, semoga kamu bahagia bersama Hana!" lirihnya.
Nara menelusuri jalanan kota yang dingin, meski tidak hujan kota ini memang terkenal dingin, karena kebetulan tempat yang akan dia tempati dekat dengan pegunungan.
Nara berjalan di tengah malam buta, dia mencari tempat untuknya beristirahat, perjalanannya lumayan melelahkan. Apa lagi dia tidak hanya membawa diri, tapi membawa anaknya yang masih di dalam rahim, membuatnya mudah lelah. Belum lagi kandungannya masih rawan dia harus extra hati-hati.
Tak jauh segerombolan orang berjalan ke arahnya. Nara menunduk dan dia berharap orang itu tidak akan mengganggunya. Tepat mereka saling berpapasan, orang-orang itu memberi kode satu sama lain. Bahwa mereka menemukan mainan cantik.
Nara mempercepat langkahnya, tapi dia keburu di hadang.
"Aduh neng, geulis pisan euy. Bade Kamana atuh neng? (Aduh mbak cantik sekali, mau kemana mbak?)" Ucap salah satu dari mereka.
Nara tak menggubris, dia paham basa Sunda. Tapi dia tidak bisa jika mengucapkannya.
"Maaf, sa-saya mau pergi!" balas Nara.
"Engke heula atuh neng, kita uulinan dulu! (Entar dulu mbak, kita main-main dulu!)" balas salah satu dari mereka. Dan mereka memberi kode satu sama lain untuk memegangi Nara.
"Lepas!" teriak Nara saat mereka memegangi tangannya.
"Lepas jangan ganggu saya!" pekik Nara.
"Kita main-main dulu neng geulis , ini udah malem neng geulis mau kemana? Nanti ada orang jahat loh!"
"Enggak, lepasin!!" Teriak Nara.
__ADS_1
"Tolong.. tolong.." teriak Nara berharap ada orang yang menolong, tapi tempat itu cenderung sepi, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Air mata sudah membanjiri pipinya.
"Lepasin aku mohon!" Isak Nara.
"Enggak neng, kita main-main dulu. Kita bukan orang jahat atuh!"
Mereka menyeret Nara dan akan membawa Nara ke tempat yang lebih sepi. Nara terus berteriak meminta tolong. Dan tiba-tiba Bughh..
Ada seseorang yang menghajar salah satu dari mereka. Teman-temannya pun bergegas melawan orang yang mencoba ikut campur urusan mereka.
Pria yang menolong Nara melawan lima orang sekaligus. Nara bersembunyi di balik pohon dan ketakutan.
"Kenapa ini seperti Dejavu. Dulu mas Arga yang menolong aku dari para preman-preman, mas Arga aku merindukanmu. Entah kenapa aku sangat merindukan mas Arga," batinnya.
Nara memperhatikan orang yang sedang menghajar para preman itu, hingga mereka terkapar.
"Indit sia ka jauh, ulah sok ngaganggu awewe! (Pergi kalian yang jauh, jangan suka mengganggu perempuan!)" pekik pria yang menolong Nara.
Setelah para preman itu lari tunggang langgang, pria itu menghampiri Nara yang meringkuk di balik pohon.
"Teteh teu nanaon? (teteh gak apa-apa?)" tanya pria itu.
"Jangan ganggu aku!" Isak Nara sambil menunduk ketakutan.
"Teteh gak usah takut, saya teh bukan orang jahat!" ucapnya lembut.
Nara menatap pria itu, pria itu tersenyum lembut menatap Nara.
"Teteh mau kemana? Ini sudah malam, gak baik perempuan berkeliaran malam-malam," ucap pria itu.
"Saya.. mau.. cari kontrakan, saya baru sampai di sini dan saya dari Jakarta," ucap Nara gugup.
Pria itu mengangguk paham. "Ya udah teteh ikut saya aja, nanti saya Carikan kontrakan buat teteh!" ucap pria itu.
Nara menatap pria itu, dia takut jika pria itu juga berniat jahat padanya. Pria itu tersenyum, dia seperti mengerti keraguan Nara.
"Saya bukan orang jahat, teteh tenang aja!"
Nara mengangguk setelah melihat kejujuran pria itu, akhirnya Nara di bonceng pria yang bernama Fahmi menaiki motornya.
***
Di tempat lain Arga sedang gelisah, dia sangat mengkhawatirkan Nara.
__ADS_1
"Sayang kamu di mana? Kenapa kamu pergi?" gumamnya sendu.
Setelah menemui Hana di rumah sakit, Arga bergegas mencari Nara. Dia bertanya pada orang-orang yang tak jauh dari rumah sakit, karena Arga pikir Nara tinggal tak jauh dari rumah sakit. Tapi tak ada satupun yang mengenalnya.
Sampai pada titik dia bertanya pada seseorang yang memang kenal Nara, yaitu pemilik kontrakan yang pernah Nara tempati. Tapi Dewi Fortuna memang sedang tidak berpihak padanya, pemilik kontrakan itu mengatakan Nara sudah pergi keluar kota, tapi pemilik kontrakan itu tidak tau kota mana yang di tuju Nara.
Arga benar-benar frustasi, masalahnya kini semakin runyam. Di tambah akhir-akhir ini dia sering merasa pusing, lemas dan mual di pagi hari, dia juga sering meminta hal-hal yang aneh yang tidak pernah dia inginkan sebelumnya.
Tapi dia pun tidak tau jika sakitnya itu di karenakan morning sickness. Dia pikir hanya masuk angin biasa.
Dia pun sudah meminta pak Adi untuk melakukan tes DNA pada janin dalam kandungan Hana. Tapi karena kandungan Hana lemah terpaksa di tunda, takut berpengaruh pada janinnya. Pada akhirnya mereka akan melakukannya saat bayi itu sudah lahir.
Arga sangat yakin janin yang di dalam kandungan Hana bukan anaknya karena saat dia mengantar Hana periksa, tak sengaja dia mendengar ucapan dokter tentang usia kehamilan Hana yang janggal. Usia kandungannya lebih tua dari saat mereka melakukan hubungan badan lima bulan yang lalu. Dan Arga sangat ingin membuktikan pada pak Adi dan bu Hesti bagaimana kelakuan anaknya yang selalu mereka banggakan. Tapi Arga harus bersabar menunggu sampai bayi dalam kandungan Hana lahir.
"Sayang mas kangen! Kamu di mana? Pulanglah! Maafin semua kesalahan mas Nara. Mas gak mau kehilangan kamu, pulanglah sayang!" Arga menatap langit-langit kamarnya sambil terus memikirkan istrinya.
Kenangan-kenangan indah bersama istrinya terngiang-ngiang di kepalanya. Sampai akhirnya dia terlelap dengan sendirinya karena kelelahan.
***
Semenjak kepergian Nara dari rumahnya, Rega sering murung. Dia begitu kehilangan wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
Di sisi lain Rere pun sangat kehilangan mami tersayangnya. Rega tau alasan kepergian Nara karena Vivi, bi Yayah menceritakan kronologis pengusiran Nara saat itu. Dan akhirnya dia memutuskan hubungannya dengan Vivi. Sebenarnya dia memutuskan hubungannya bukan hanya karena Nara tapi juga karena Rere yang tak pernah menyukai Vivi.
"Kamu di mana Nara apa kamu sudah kembali pada suamimu? Jika iya aku tenang melepasmu, tapi jika tidak aku khawatir kamu di luaran sana sendirian!" gumamnya.
Saat sedang asyik melamun tiba-tiba seseorang menghampirinya, kebetulan Rega sedang berada di kantin kampusnya.
"Bapak gak apa-apa?" tanyanya sambil duduk di hadapan Rega.
Rega terkesiap dan menatap gadis yang ada di hadapannya itu.
"Saya lihat bapak seperti sedang ada masalah!" ucapnya mencoba lebih dekat dengan dosennya itu.
"Saya tidak apa-apa!" jawab Rega datar, lalu dia beranjak dan meninggalkan gadis yang tak lain adalah Nana.
Nana Sebal karena Rega selalu bersikap dingin padanya. Ingin sekali dia mengatakan bahwa dia menyukainya tapi dia tak punya keberanian untuk mengatakan hal itu dan dia juga merasa malu masa wanita yang menyatakan cinta lebih dulu.
Tapi sikap dingin Rega membuat Nana tak tahan ingin mengatakan bahwa dia menyukainya. Tapi kesadarannya masih normal, dia tidak mungkin mengatakan itu. Dia bakal malu setengah mati jika mengatakannya, apa lagi jika Rega menolaknya.
"Aku mencintaimu pak Rega, sampe kapan aku mencintaimu dalam diam seperti ini?" gumamnya sambil menatap nanar kepergian duda beranak satu itu yang sudah mencuri hatinya.
Bersambung..
__ADS_1