Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Kecelakaan


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Nana baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dia merentangkan kedua tangannya ke atas dan meregangkan otot-ototnya. Lalu dia melirik arloji di tangannya.


"Huhh.. selesai juga nih kerjaan!" gumamnya sambil menghembuskan nafas berat karena merasa lelah.


Setelah selesai membereskan mejanya, Nana beranjak dan keluar ruangannya. Saat dia berjalan dia berpapasan dengan Rafi.


"Bu Nana mau pulang?"


"Iya pak, pak Rafi juga mau pulang?"


"Enggak Bu saya masih ada kerjaan," jawab Rafi.


"Ya udah aku pulang dulu ya pak! Jangan terlalu banyak bekerja pak, sekali-kali holiday!!" Rafi mengangguk dan tersenyum sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Hati-hati Bu!" Nana mengangguk dan tersenyum.


Rafi menatap kepergian Nana dengan pandangan Nanar. Sudah sekian lama dia menyimpan perasaan itu pada anak bosnya namun dia sadar diri, dirinya dan Nana bagai langit dan bumi.


Rafi menyukai Nana semenjak dia masih bekerja di Bandung di kantor pusat. Saat itu perusahaan sedang mengadakan Family Gathering dan saat itu dia melihat Nana dan adiknya Niki yang sedang mengobrol. Rafi langsung terpesona dengan kecantikan gadis itu, namun dia harus menelan pil pahit saat tau jika Nana adalah anak dari bos besarnya. Tentu saja dia merasa Insecure karena pada saat itu dia hanya karyawan biasa, meski sekarang dia sudah menjadi asisten dia tetap merasa tidak pantas bersanding dengan Nana.


Namun perasaan itu tidak pernah berubah, masih tersimpan rapi dalam hatinya, meski dia tau dia tidak akan pernah bisa memiliki wanita pujaannya, cukup dia dan Tuhan yang tau perasaannya.


Saat asyik melamun, tiba-tiba ponselnya berdering. Rafi menatap siapa yang meneleponnya, ternyata bosnya.


Setelah itu dia mengangkat dan berbicara dengan Arga di telpon.


***


Argan tak berhenti menangis, dia terus memanggil-manggil bundanya. Sudah dua hari Fahmi membawa Argan pergi, selama dua hari itu dia sudah berfikir banyak tentang apa yang harus dia lakukan.


"Ndaaa.. huhuhu.. hiks.. hiks.." tangis Argan tak mau berhenti.


"Iyah, nda.. hiks.. hiks.. hiks.."


"Iya sayang adek gak boleh nangis lagi ya, kita pulang ketemu bunda oke!" ucap Fahmi sambil mengusap air mata bocah kecil itu.


"Yuyang Iyah, mumu nda! (Pulang ayah, ketemu bunda!)"


"Iya nak kita pulang, kita ketemu bunda tapi adek gak boleh nangis lagi ya!"


"Yeyeh Nanis? (Gak boleh nangis?)" tanyanya sambil sesenggukan. Fahmi tersenyum dan mengangguk.


Fahmi mempersiapkan semuanya termasuk susu Argan, takut di jalan Argan minta susu. Argan sudah berhenti menangis meski masih sesenggukan, dia sedang bermain dengan mobil-mobilannya.

__ADS_1


Setelah dua hari dia membawa Argan pergi, Fahmi sadar dia tidak boleh egois. Meski dia sangat mencintai Nara dan Argan tapi mereka bukanlah miliknya. Apa lagi selama dua hari ini Argan terus menangis karena jauh dari bundanya, Fahmi tidak tega membiarkan Argan terus menangis.


Fahmi mencoba ikhlas dan merelakan Nara dan Argan, meski hatinya sangat berat dan sakit.


"Maafin ayah ya sayang udah bikin adek sedih. Maaf ayah udah egois nak, ayah akan lakukan apapun untuk kebahagiaan kalian. Meski ayah harus kehilangan kalian. Ayah sayang kalian Argan, Nara."


Setelah semuanya siap, Fahmi mulai meninggalkan tempat tinggalnya selama pergi bersama Argan. Dia menggendong Argan di depan, bocah kecil itu terlihat riang gembira karena ingin ketemu bundanya.


"Iyah, nda!!"


"Iya sayang, kita ketemu bunda ya!" balas Fahmi sambil mengusap kepala Argan.


Bocah kecil itu bertepuk tangan riang sambil teriak-teriak lucu.


"Mumu nda, (Ketemu bunda)" celotehnya berulang-ulang.


Fahmi tersenyum melihat tingkah menggemaskan putranya. Tapi senyuman itu tak berlangsung lama karena setelah ini dia harus siap kehilangan penyemangat hidupnya. Hatinya benar-benar sakit dan berat melepas mereka.


Andai saja dia lebih dulu bertemu dengan Nara atau setidaknya Nara sudah tidak punya suami tentu dia sangat bahagia karena punya banyak kesempatan untuk memilikinya, namun semua itu hanyalah asa yang tak akan pernah menjadi nyata.


Fahmi menaiki bus menuju rumahnya karena memang dia membawa Argan keluar kota. Argan masih berceloteh riang membuat siapapun yang melihatnya merasa gemas dengan tingkah lucu bocah kecil itu. Setiap yang di lihatnya selalu di komentari dengan bahasanya yang tidak bisa di mengerti orang, hanya Fahmi, Nara dan nenek kakeknya yang mengerti bahasa Argan, ya karena mereka mengenal Argan sudah dari dalam kandungan.


Meski mereka tidak ada hubungan darah tapi hubungan mereka melebihi hubungan darah sangat erat dan kuat. Bahkan Argan juga sangat lengket dengan Fahmi karena dia menganggap Fahmi adalah ayahnya.


Fahmi tersenyum bahagia melihat putranya tertawa riang.


"Ayah bahagia liat kamu tertawa nak, maafin ayah udah buat adek nangis!" ucapnya sambil menciumi pipi bulat Argan. Bahkan Fahmi menggesek-gesekkan bulu halus di dagunya hingga Argan tertawa kegelian.


"Iyah au tutu! (Ayah mau susu!)"


"Adek mau susu?"


"Au tutu Iyah!" jawabnya sambil mengut-mangut, sambil menunggu ayahnya mengambil susu bocah itu mengemut jempolnya.


Fahmi mengambil susu yang kebetulan sudah dia buat sebelum naik mobil dan susunya juga masih hangat, karena tadi dia memberi airnya agak panas.


Argan tertawa riang melihat minuman kesukaannya.


"Tutu Iyah tutu!" pintanya tidak sabar saat Fahmi membuka tutup botolnya.


"Iya sayang bentar ya!"


Orang-orang yang melihatnya merasa gemas, melihat tingkah lucu bocah kecil itu, selain itu wajah tampannya membuat Argan semakin di sukai banyak orang.


Bocah kecil itu langsung menyedot susunya sambil bersender di dada ayahnya. Fahmi tersenyum getir sambil mengusap punggung Argan. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya namun dia tahan sebisanya.


Sungguh dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Argan. Tapi dia harus rela demi kebahagiaan putranya dan wanitanya.


Lama kelamaan bocah kecil itu terlelap dengan mulut bergerak masih menghisap dotnya.


Orang-orang melihat sambil bertanya-tanya dalam benaknya, di mana ibunya anak itu? Tapi tak ada yang berani bertanya, takut menyinggung perasaan Fahmi.

__ADS_1


***


Nara terdiam dan tidak mau makan, tatapannya kosong. Pikirannya terus tertuju pada putra semata wayangnya.


"Kenapa kamu tega a sama aku? Kenapa kamu pisahin aku sama Argan?!"


Arga sudah melacak keberadaan Fahmi karena kebetulan ponsel Fahmi tidak di matikan, jadi dengan mudah Arga melacaknya. Dia sudah menyuruh anak buahnya untuk ke tempat di mana keberadaan Fahmi dan Argan. Sedangkan dia terpaksa di rumah untuk menemani istrinya yang masih syok.


"Sayang makan dulu ya! Kalo kamu sakit, nanti gimana dengan adek?" bujuk Arga agar istrinya mau makan.


Karena sudah dua hari ini Nara tak memakan apapun. Arga sangat khawatir dengan keadaan anak dan istrinya.


Nara masih terdiam dengan pandangan kosong dan air mata yang terus mengalir. Arga memeluk istrinya memberinya kekuatan.


"Argan pasti pulang sayang, percayalah! Argan pasti kembali sama kita!" ucap Arga sambil mengecup puncak kepala Nara.


Tangis Nara kembali pecah, dia tidak sanggup jika harus kehilangan putranya.


"Bawa pulang Argan mas. Kembalikan putra kita!" Isak Nara.


Arga mengusap lembut Kepala Nara. "Mas janji sayang, mas akan bawa kembali putra kita!"


"Argan jangan tinggalin bunda nak!" Isak Nara.


Tak selang berapa lama, ponsel Arga berdering. Arga melepaskan pelukannya dan mengangkat telpon dan ternyata dari anak buahnya.


"Hallo! Bagaimana?!"


"...."


"Jangan becanda kamu!!" sentak Arga.


"...."


Nara tegang mendengar Arga marah dia juga khawatir takut terjadi sesuatu dengan putranya. Tak selang berapa lama Arga terkulai lemas.


"Mas kenapa? Apa yang terjadi? Argan gak apa-apa kan? Argan baik-baik aja kan mas?" tanya Nara bertubi-tubi.


Arga menatap istrinya dan air matanya menetes.


"Argan dan Fahmi kecelakaan!"


Duarrr..


Bak tersambar petir mendengar ucapan Arga.


"Kamu bohongkan mas?! Gak mungkin, gak mungkin!!" teriak Nara histeris.


"Argaaaan.."


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2