Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Dibuntuti 2


__ADS_3

Sudah dua hari Nana tinggal di Jakarta. Dia juga sudah mulai masuk kantor yang sekarang di pegang Rafi.


Nana tenang dan damai karena tidak ada lagi teror dari cowok gila yang bernama Galang. Sungguh gila, entah kenapa Nana sangat membenci Galang ada alasannya tentu saja padahal dia seorang CEO perusahaan software terbesar, tapi akan di ceritakan nanti kenapa Nana membenci Galang.


"Ya Tuhan, damainya!" gumam Nana sambil menyeruput teh yang ada di dekatnya.


Saat sedang asyik memainkan keyboard nya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Ting!


Nana menoleh, dia mengambil ponselnya dan membuka pesan masuk dari nomer tak di kenal.


[Ya ampun sayang, kenapa kamu pergi tinggalin aku. Kamu di mana? Aku akan susul kamu. Kamu ada dimana sayang?! Kenapa kantor yang pegang Niki?]


Pesan itu cukup membuat mulut Nana menganga dan matanya terbelalak.


"Astaga!!!" teriak Nana reflek.


Membuat Rafi mengetuk pintu ruangan Nana karena kaget Nana berteriak. Karena ruangan mereka satu ruangan namun ada sekatnya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Rafi membuka pintu dan wajahnya terlihat cemas. "Ibu gak apa-apa?" tanya Rafi.


"Saya gak apa-apa Raf, tadi saya dapet pesan yang bikin kaget. Tapi saya gak apa-apa kok."


Rafi terlihat bernafas lega. "Syukurlah!"


"Iya, makasih!" Rafi mengangguk dan kembali keluar.


Nana sudah memblokir nomer Galang berkali-kali, tapi tetap saja dia bisa menghubunginya pakai nomer lain. Meski tidak ada nama, dia tau itu pesan dari Galang karena cuma dia yang bersikap seperti itu padanya.


"Apa aku harus ganti nomer ya. Biar tuh orang gak ganggu hidupku terus."


Sebenarnya Nana sudah berkali-kali ingin mengganti nomer ponselnya. Tapi repot karena banyak nomer klien di ponselnya. Nana memijit pelipisnya, baru saja mendapatkan ketenangan. Eh, gangguan mulai lagi.


Nana menghembuskan nafas berat. "Tuh orang kapan warasnya sih? Mudah-mudahan dia gak tau aku disini, kalo sampe tau berabe." gumam Nana kesal.


***


Sore hari Nana sudah siap untuk pulang. Banyak pekerjaan menumpuk karena sudah lama juga dia tidak mengecek kantor di Jakarta.


Arga mengundurkan diri dan fokus mengurus restoran yang dia miliki. Saat ini Arga sudah punya empat cabang restoran di Jakarta. Makanya dia mundur dari kantor dan memilih mengurus usahanya karena dia ingin mandiri.


Nana mengendarai mobilnya menuju rumah Nara. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Nana segera memakai earphone dan menggeser tombol hijau.


"Iya Hallo! Ada apa Ram?" tanya Nana saat tau yang menelpon Rama.


"Hallo Na. Kita bisa ketemuan gak?" tanya Rama balik.


"Em, boleh! Kapan? Dimana?"


"Nanti jam tujuh aku jemput. Gimana?"


Nana nampak berpikir sebentar. Dia juga bingung ada apa Rama minta ketemuan?

__ADS_1


"Boleh deh! Aku tunggu ya."


"Oke sip, entar aku jemput!"


Sambungan telpon pun terputus. Nana kembali fokus mengemudi. Pikirannya tidak tenang karena pesan dari Galang. Dia takut pria itu mengetahui keberadaannya.


"Semoga dia tidak tau. Kalo tau percuma aku lari ke sini!" lirihnya.


Mobil sudah memasuki area perumahan Arga. Sesampainya di depan gerbang Nana menekan klakson mobilnya, tak lama pak satpam membukakan gerbang. Nana langsung memarkirkan mobilnya di carport.


Setelah itu dia bergegas masuk, dia sudah rindu dengan keponakannya.


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.." jawab Bi Inah.


"Lho bi kok sepi? Pada kemana?" tanya Nana saat mendapati rumahnya sepi biasanya rame suara Argan bermain.


"Oh non Nara sama Dedek Argan lagi pergi non. Di ajak Den Arga katanya mau di ajak ke restoran." Nana mengangguk.


"Ya udah bi aku pamit ke kamar dulu ya,"


"Iya non, silahkan!"


Nana masuk ke kamar dan juga bergegas membersihkan diri, setelah itu ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan penat sebentar.


***


Jam tujuh malam Nana sudah bersiap namun Rama belum menjemputnya.


"Ada janji sama temen Ra. Katanya jam tujuh mau jemput tapi belum dateng!" Wajah Nana masam karena menunggu sedari tadi Rama belum juga datang padahal sudah jam tujuh lewat.


Nara mengangguk. "Mau ngedate?"


"Ish, bukan dia cuma teman. Teman SMP kebetulan kemarin ketemu dan sempat tuker nomer hape. Argan tidur?"


Nara mengangguk, dia memang sedang menggendong putranya yang dari setadi rewel tapi sekarang sudah terlelap.


Tin! Tin! Tin!


Terdengar suara klakson berbunyi. "Eh, itu kayaknya dia deh. Gue duluan ya Ra!"


"Iya hati-hati na!"


Nana mengacungkan jempolnya pada Nara. Nana bergegas keluar dan ternyata benar Rama yang datang.


"Maaf telat jemput." ucapnya tak enak hati.


"I'ts okey. Kita langsung ke tempat aja ya, tumben kamu minta ketemuan?"


Rama hanya tersenyum simpul. "Iya pengen nostalgiaan aja!" Nana hanya mencebik.


Baru seperempat jalan, Nana merasa ada yang membuntuti. Nana menoleh ke belakang dan ternyata benar ada mobil yang kemarin.


"Ram, kayaknya ada yang ngikutin kita deh?!"


Rama melihat dari spion. "Itu mobil yang kemarin ngikutin aku!" ucap Nana.

__ADS_1


"Kamu tenang aja. Gak usah takut!"


Rama membawa mobilnya sengaja mengecoh orang itu.


"Duh, sebenarnya siapa sih mereka? Kenapa nngikutin aku terus? Apa jangan-jangan beneran Galang. Astaga, jangan sampai itu terjadi." batin Nana.


Rama masih berusaha mengecoh si penguntit itu. Meski mobil harus berjalan berkelok-kelok yang penting mereka tidak tau kemana dirinya akan pergi dan ternyata berhasil, mobil itu menghilang entah dimana?


Nana menghembuskan nafas lega. "Syukurlah!"


"Makanya kamu tenang aja. Ada aku!"


"Iya, pak polisi!" Rama terkekeh mendengar Nana memanggilnya pak polisi.


"Aku ajak kamu keluar, pacar kamu gak marah?" tanya Rama.


"Ha ha ha.. aku gak punya pacar Ram. Jadi santai aja!"


Rama hanya tersenyum lebar. "Syukurlah, takutnya kamu punya pacar dan nanti aku kena tonjok!"


Mereka pun tertawa. "Kan kamu polisi, kalo di tonjok bales tembak aja!"


Lagi-lagi mereka tertawa dengan obrolan garing itu. Tak terasa mereka sampai di tempat tujuan.


"Lho, ini kan Resto punya sepupu aku!"


"Oh, iyakah? Aku gak tau!"


"Ya udah gak apa-apa. Ayo!"


Mereka pun memasuki Resto Renaga dan Rama pun sudah reservasi tempat. Karena hari ini Resto penuh.


Nana di ajak ke lantai atas dan duduk dekat jendela yang menghadap kota Jakarta.


"Bagus banget!" ucap Nana saat melihat kerlap-kerlip lampu kota Jakarta.


"Kamu mau pesan apa na?"


"Samain aja sama kamu!"


Rama mengangguk dan dia pun memesan makanannya. Nana masih memperhatikan keluar melihat keindahan kota Jakarta.


"Cantik ya?" tanya Rama.


"Eh, apa Ram?" tanya Nana balik.


"Itu pemandangannya cantik," Nana mengangguk dan tersenyum kecut. Dia pikir Rama bicara dirinya yang cantik.


"Kepedean sekali aku!" Nana mengerucutkan bibirnya dia malu, meski Rama tak tau isi hatinya tetap saja malu.


Saat sedang asyik menikmati keindahan kota Jakarta tiba-tiba ada seseorang yang menarik Nana membuat Nana terkejut.


Apa lagi saat melihat siapa yang menariknya. Matanya membulat dan mulutnya menganga.


Deg!


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2