Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Aku bukan pelakor


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Sudah lima bulan berlalu Nara dan Arga menjalani pernikahannya, selama itu mereka menjalaninya dengan baik dan harmonis. Meski sejujurnya sudah beberapa kali Nara mencurigai suaminya selingkuh.


Pernah tak sengaja dia mengangkat telpon Arga dari seorang perempuan bernama Hana, tapi belum sempat dia bicara Arga sudah mengambil ponselnya dan itu membuat Nara takut jika suaminya menduakannya.


Tapi Arga tidak pernah menunjukkan sikap seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dia selalu bersikap biasa dan itu membuat Nara percaya suaminya tidak mungkin selingkuh dengan wanita lain.


Dia juga yakin Arga pria yang setia dan dia juga yakin Arga mencintainya


Arga pun jarang menginap di Apartemen, hanya sesekali dia menginap dan itu membuat Hana sangat kesal, terutama pada Nara. Keadaan Hana sudah membaik dia sudah bisa berjalan normal lagi.


Saat ini Nara sedang berdiri menatap cermin di kamar mandi. Arga baru saja berangkat ke kantor. Sudah dua bulan ini dia telat datang bulan, dia sedang memastikan apakah dia hamil atau tidak, karena dia juga sering merasakan lemas dan pusing akhir-akhir ini.


Nara sedang menunggu hasil dari testpack itu. Setelah beberapa saat dia melihat garis dua di testpack itu. Nara mengangkat testpack itu dan menatapnya dengan lekat.


Dia tersenyum senang. "Aku hamil!" ucapnya bahagia. Dia menatap perutnya dan mengusapnya.


"Aku hamil," Nara begitu bahagia dia terus mengusap perutnya yang masih rata.


"Ya Allah nak, akhirnya kamu tumbuh di rahim bunda!" ucapnya bahagia.


Nara benar-benar bahagia, dia akan memberikan kejutan ini pada suaminya. Raut bahagia terpancar di wajahnya, dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan pada suaminya tentang kehamilan itu.


"Mas Arga kita akan jadi ayah dan bunda!" Nara terus mengusap perutnya dengan hati yang sangat bahagia. Tak terasa dia meneteskan air mata bahagianya, akhirnya doanya dan sang suami terkabul.


"Nana juga pasti senang banget bakal punya ponakan. Aku juga bakal kasih dia kejutan!" Nara benar-benar sangat bahagia. Kebahagiaannya tak terlukis lagi oleh apapun.


Siangnya Nara berniat ke kantor Arga karena dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar bahagianya itu, sekalian membawa makan siang untuk suaminya.


Nara ke kantor Arga di antar pak Aris. Nara sudah menyiapkan kejutan untuk Arga, dia menaruh testpacknya di tempat makan, biar Arga mengira itu adalah makanannya.


Sepanjang perjalanan senyuman terus tersungging di bibirnya. Tak henti-hentinya dia bersyukur karena doa-doanya terkabul. Dia terus mengelus perutnya.


"Baik-baik ya sayang di perut bunda!" gumamnya.


Tak lama mereka sampai di kantor Arga. Nara turun dari mobil. Nara tersenyum menatap gedung kantor suaminya, senyuman bahagia tak terlepas dari bibir mungilnya.


"Aku punya kejutan buat kamu mas!"


Nara melangkah masuk ke dalam kantor. Lalu dia menghampiri resepsionis untuk menanyakan suaminya.


"Permisi mbak!"


"Iya bu!"


"Saya mau ketemu pak Arga. Apa pak Arganya ada?"

__ADS_1


"Pak Arga sedang ada meeting bu, jika ibu mau silahkan ibu menunggu di ruangan bapak!" jawab resepsionis itu.


"Baik kalo gitu!"


Nara berjalan menuju ruangan suaminya. Saat sedang menunggu lift tiba-tiba ada seseorang yang menarik rambutnya ke belakang hingga membuat Nara terhuyung dan hampir terjengkang, untuk saja dia bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Nara meringis karena orang itu tiba-tiba menarik rambutnya dengan begitu kencang. Nara menoleh dan ingin tau siapa yang sudah menarik rambutnya. Saat dia menatap orang itu tiba-tiba


Plakk..


Tamparan keras mendarat di pipi Nara, hingga wajahnya tertoleh ke samping. Beberapa orang yang tak jauh dari mereka kaget melihat wanita itu menampar Nara.


"Dasar pelakor!!" teriak wanita itu yang tak lain adalah Hana.


Hana sudah tidak tahan lagi untuk memberi pelajaran pada madunya itu. Karena gara-gara dia Arga selalu mengabaikannya dan mengacuhkannya. Selama ini dia tahan karena keadaannya belum pulih sepenuhnya.


"Apa maksud mbak?" tanya Nara bingung sambil memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan itu.


Plakk..


Satu tamparan lagi mendarat sempurna di pipi mulus Nara yang satunya. Nara benar-benar kaget dan bingung, tiba-tiba ada wanita gila yang menamparnya.


"Apa-apaan mbak ini? Kenapa mbak tampar saya?" tanya Nara bingung.


"Karena kamu itu pelakor, kamu sudah merebut suami saya! Jadi kamu pantas dapat tamparan itu!" pekik Hana kesal dan dia menjambak rambut Nara.


"Arghh.. mbak lepas!" Nara berusaha melepaskan cengkraman tangan Hana di rambutnya. Dia meringis kesakitan karena Hana menjambak rambutnya dengan kencang.


Beberapa orang berusaha melerai mereka, tapi Hana tak mau melepaskan cengkeramannya.


"Mbak lepas, kasian bu Nara!" ucap salah satu karyawan di kantor itu.


"Diem kamu!! Jangan ikut campur urusan saya!" teriak Hana pada karyawan itu.


Hana mendorong Nara hingga tersungkur. Nara benar-benar tidak mengerti kenapa wanita itu menyerangnya.


Wajah Hana memerah begitu juga matanya yang terlihat sangat emosi. Beberapa orang berusaha memegangi Hana tapi Hana menepisnya.


Hana menghampiri Nara dan mencengkram erat dagu Nara.


"Dasar wanita murahan, berani sekali kau menghancurkan rumah tanggaku! Berani sekali kau menggoda suami ku!!" pekik Hana sambil menatap tajam Nara.


"Apa maksud mbak aku gak ngerti?!"


"Jangan-jangan pura-pura tidak tau PELAKOR!!" pekik Hana kesal sambil menghempaskan wajah Nara.


"Aku bukan pelakor!" ucap Nara dia benar-benar bingung dengan kehadiran wanita itu. Nara beranjak dan menatap tajam Hana.


"Cihh, dasar wanita murahan. Jangan pura-pura polos. Kau sudah merebut suamiku!!" pekik Hana. Nafasnya memburu dan dia kembali menyerang madunya itu. Dia ingin menampar Nara tapi Nara menahan tangan Hana.


"Kamu gak bisa seenaknya tampar saya dan saya tidak pernah merebut suami kamu!" Nara kesal dengan perlakuan buruk wanita asing yang sedang hamil itu, terlihat perutnya yang agak membuncit.


"Dasar pelakor tidak tau diri, kau sudah merebut mas Arga dariku dan kau pura-pura tidak tau!" Hana kembali menjambak rambut Nara tapi kali ini Nara pun membalas menjambak rambut Hana.

__ADS_1


Hati Nara berdenyut mendengar ucapan Wanita itu menyebut nama suaminya.


Tak lama satpam datang dan melerai keributan itu. Penampilan Nara dan Hana sudah berantak tidak karuan.


"Maaf Bu jangan membuat keributan di sini!"


"Pak siapa wanita ini? Kenapa dia bisa masuk kantor suami saya?" tanya Nara kesal.


"Maaf Bu," ucap satpam itu.


Satpam itu menarik Hana untuk keluar, tapi Hana berontak.


"Asal kamu tau ya saya ini istrinya Arga Praditya, saya sudah menjadi istrinya selama tiga tahun dan sekarang saya sedang mengandung anaknya!" pekik Hana dia kembali menghampiri Nara setelah bisa Lepas dari cengkeraman satpam.


Nara menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Tidak mungkin, aku istrinya mas Arga. Bukan kamu!" bantah Nara.


"Cih, kau itu hanya pelakor yang sudah merebut suamiku!!" Hana terus berbicara dengan nada tinggi karena emosi.


"Aku bukan pelakor!" Hana ingin menyerang Nara lagi tapi segera di tahan oleh satpam.


"Kau mau bukti? Saya punya bukti kalo saya ini istrinya Arga Praditya!"


Nara terdiam, jantungnya berdetak kencang saat wanita itu mengatakan bukti. Nara takut apa yang di bilang wanita itu benar bahkan dia sampai mau menunjukan buktinya.


Hana mengambil sesuatu dari tasnya dia mengambil buku nikahnya, lalu dia melemparkannya pada Nara.


"Itu bukti kalo saya ini istrinya mas Arga!" Nara berjongkok mengambil kedua buku nikah itu lalu membukanya. Air mata seketika mengalir dari pelupuk matanya. Dia tidak percaya apa yang dia lihat di depan matanya.


"Gak mungkin, kamu pasti bohong-" Dada Nara terasa sesak, tenggorokannya terasa tercekat.


"Ini gak mungkin!" Nara melihat jelas di sana foto suaminya dengan wanita yang ada di hadapannya itu dan tanggal pernikahannya tiga tahun yang lalu.


"Kamu sudah lihat kan buktinya! Mas Arga itu suami saya!"


Nara masih belum percaya tapi bukti yang dia lihat sudah sangat jelas terpampang di depan mata, hatinya benar-benar hancur apakah suaminya membohonginya?


"Dan kamu pelakor. Pergi kamu dari kehidupan suamiku. Berani-beraninya kamu menikahi dia saat saya sedang koma!" Pekik Hana kesal, dia segera menghampiri Nara dan ingin menampar Nara lagi, tapi segera di tahan oleh satpam.


Hati Nara sangat hancur. "Kamu pembohong!" Nara berusaha meyakinkan bahwa semua ini hanya kebohongan.


"Cihh.. tanyakan saja pada mas Arga!"


Nara terkulai lemas dan menatap buku nikah milik suaminya dan wanita itu.


"Ada apa ini?"


Tiba-tiba suara seseorang membuyarkan ketegangan itu.


Bersambung..


...Mohon dukungannya ya, maaf kalo ceritanya kurang menarik. Tinggalkan jejak, Like, komen, vote dan giftnya.....

__ADS_1


...Terima kasih yang sudah mendukung aku. Tanpa kalian cerita ini tidak ada apa-apanya 🙏🙏...


__ADS_2