
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Emosi Arga semakin meluap. Air mata Nara semakin mengalir deras.
Arga membuka celananya, wajahnya terlihat sangat menyeramkan saat sedang marah seperti itu. Nara sampai ketakutan melihat raut wajah suaminya.
"Mas mau apa?" Tanya Nara sambil mundur perlahan, dia sangat takut melihat wajah murka suaminya.
"Mas harus percaya sama aku!" Isak Nara.
Arga menarik kaki Nara, lalu dia menyingkap dres Nara lalu menarik paksa segitiga pengamannya. Arga melakukan penyatuan paksa pada istrinya.
"Aaaaa.." Nara berteriak saat milik suaminya masuk dengan hentakan yang cukup kencang.
Nara menggelengkan kepalanya. "Mas sakit.." pekik Nara. Tapi Arga tak perduli, dia melakukan penyatuan itu dengan emosi yang meluap-luap. Dia melakukannya dengan kasar dan brutal.
"Cukup mas sakit.. Aaaaa.." teriak Nara.
Arga memacu tubuhnya dengan kasar dan semakin brutal, dia seperti sedang memperk*sa seorang wanita. Dia tidak memperdulikan teriakan dan rintihan istrinya.
"Mas cukup sakiiit.." teriak Nara kesakitan, dia memukul-mukul dada Arga dan berusaha mendorongnya tapi Arga menahan tangan Nara.
Arga melu*at kasar bibir Nara bahkan dia menggigitnya hingga bibir Nara berdarah.
Air mata Nara mengalir semakin deras. Arga memacu tubuhnya semakin kasar dan brutal. Dia meluapkan emosinya pada tubuh istrinya.
"Sakit mas aku mohon hentikan, sakit mas!" Rintih Nara memohon. Tapi Arga menghiraukannya, dia terus memacu tubuhnya dengan hentakan kasar. Arga benar-benar kesetanan, dia tidak sadar sedang menyiksa istrinya.
Dia tidak memperdulikan kesakitan istrinya, dia menyetubuhi istrinya tanpa pemanasan dulu. Dia melakukan penyatuan itu cukup lama dan membuat Nara sangat kesakitan, hingga akhirnya dia berada pada puncaknya.
"AAARGH.." Arga berteriak saat pelepasannya tiba.
Tubuhnya ambruk di atas tubuh Nara. Nara menangis, rasanya sakit sekali bukan hanya di tubuhnya tapi juga di hatinya.
"Ibu..." Isak Nara.
Arga menggulir tubuhnya ke samping, dia memeluk erat tubuh istrinya. Nara menatap kosong langit-langit dengan air mata yang terus mengalir. Dia menangis tersedu-sedu, tak pernah terbayangkan olehnya hal ini akan terjadi.
Nara melepaskan tangan Arga dari perutnya. Dia beranjak tapi saat dia melangkah dia terjatuh karena area sensitifnya terasa sangat sakit dan perih.
Arga memejamkan matanya dan tak melihat istrinya yang sedang kesakitan. Nara bertumpu pada meja dan berusaha berdiri, tapi saat dia melangkah dia kembali terjatuh. Kali ini Arga membuka mata dia melihat istrinya yang sedang kesulitan berdiri.
Arga beranjak, bukannya menolong dia malah berlalu ke kamar mandi.
"Mas tolong, sakit..." Rintih Nara sambil menatap Arga yang masuk ke kamar mandi. Dia berharap Arga menolongnya.
Nara merangkak menuju kamarnya, area sensitifnya benar-benar sangat sakit dan perih. Dengan susah payah akhirnya dia sampai di kamar. Nara naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana. Air matanya luruh lantah membasahi pipinya.
"Kenapa kamu gak percaya sama aku mas? Dan kenapa kamu gak mau dengar penjelasan aku? Aku gak pernah selingkuh mas!" Isak Nara.
__ADS_1
Arga mengusap wajahnya kasar, dia menatap dirinya di cermin. Trauma di khianati membuat dia hilang kendali dan tidak bisa mengontrol diri.
Dia duduk di closet sambil mencengkram kepalanya. Bayang-bayang masa lalu di khianati Hana terekam dalam otaknya. Dan sekarang dia harus melihat lagi pengkhianatan yang di lakukan oleh orang yang dia cintai.
Tiba-tiba rintihan kesakitan Nara terngiang-ngiang di kepalanya, wajah memohon Nara terlihat jelas di matanya. Tangisan dan teriakkan Nara terdengar masuk ke gendang telinganya. Arga menutup telinganya, tapi suara tangisan dan teriakkan kesakitan itu terus terngiang-ngiang menembus gendang telinganya.
"Bodoh apa yang kau lakukan brengs*k!!" pekiknya.
Arga segera keluar kamar mandi dan masuk kamar. Dia melihat istrinya sedang meringkuk dengan tubuh yang bergetar. Arga naik ke kasur membuat Nara kaget dan membuat dia ketakutan melihat Arga.
"Mas aku mohon maafin aku. Aku mohon jangan lakukan lagi, sakit mas.." Isak Nara menatap Arga ketakutan dan memohon.
Arga memeluk Nara. Dia tidak menyangka Nara begitu ketakutan melihat dirinya.
"Jangan lagi mas, aku gak mau. Sakit mas, sakit banget," isakkan itu berubah jadi tangisan yang menyayat hati.
Arga mengeratkan pelukannya. "Apa yang saya lakukan ya Allah. Kenapa saya menyiksa istri saya?" batin Arga menyesal.
"Mas harus percaya sama aku. Aku gak ada hubungan apa-apa sama mas Rega, kamu harus percaya mas, semua itu salah paham!" Isak Nara masih terus berusaha menjelaskan.
Arga menangis dia benar-benar menyesal telah melakukan kesalahan besar.
"Sakit mas, sakit banget.." rintih Nara, bukan hanya tubuhnya tapi juga hatinya.
Tiba-tiba Nara memejamkan matanya tak sadarkan diri. Arga belum menyadari istrinya pingsan dia masih memeluk erat Nara.
"Maafin mas sayang! Maaf!" Isak Arga menyesal.
Padahal waktu Hana mengkhianatinya, dia tidak seemosi dan semarah ini hingga melakukan hal kejam itu. Dia hanya mengabaikan dan mendiamkan Hana. Tapi saat ini Arga benar-benar murka melihat wanita yang sangat dia cintai bersama pria lain. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada istrinya itu, tapi dia malah hilang kendali dan malah menyiksa istrinya.
"Sayang bangun! Bangun sayang! Nara bangun.." Arga menepuk-nepuk pipi Nara.
Arga membaringkan tubuh istrinya. "Sayang bangun, mas mohon bangun sayang," Arga menangis. Dia benar-benar menyesal telah melakukan kebodohan pada istrinya.
Arga bergegas menelpon dokter untuk memeriksa Nara.
***
Di lain tempat, Rega sedang memarahi Reva karena sudah melakukan hal bodoh hingga kesalah pahaman itu terjadi. Dia sudah memberitahu jika Nara sudah menikah dan memberitahu kesalahpahaman yang terjadi di cafe.
"Maaf mas, aku gak tau kalo kak Nara sudah menikah," ucap Reva sambil menunduk.
"Jangan di ulang lagi Reva, mungkin sekarang mereka sedang bertengkar gara-gara kamu. Kamu harus menjelaskan semuanya pada suaminya Nara, kamu harus bertanggung jawab," ucap Rega tegas.
Reva mengangguk. "Iya mas," jawab Reva.
"Lagian kamu kenapa gak bilang sih ga, kalo Nara sudah menikah?" tanya bu Ingrid nimbrung pembicaraan mereka.
"Saya kan udah bilang, saya dan Nara gak mungkin bersama. Kalian yang maksain!"
"Tapi mas suka kan sama kak Nara?" Tanya Reva penuh selidik.
Rega menatap tajam Reva. "Bukan urusan kamu! Kamu harus cepat selesain masalah ini," jawab Arga dingin.
"Tapi aku gak tau di mana rumahnya kak Nara mas!"
__ADS_1
"Cari tau sendiri!" Ucap Rega lalu beranjak dan berlalu pergi.
Rega berharap Arga tidak melakukan apapun pada Nara, entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Maafkan aku Ra, semoga kamu baik-baik aja," Rega menghela nafas, lalu dia melajukan mobilnya menuju rumah.
***
Nara baru selesai di periksa. "Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Arga.
"Istri bapak mengalami syok berat dan juga kelelahan. Dan tubuhnya juga kurang fit," jawab Dokter Arin.
Arga menghela nafas. "Dok tadi saya berhubungan dengan istri saya tapi--" Arga tidak melanjutkan ucapannya dia tidak tau bagaimana menjelaskannya. Dia melihat jelas istrinya kesakitan saat dia setubuhi tadi.
"Tapi apa pak?" tanya dokter Arin.
Arga terdiam lalu dia menghembuskan nafasnya. "Bisa tolong periksa ar*ea kewanita*n Nara gak dok? Saya takut kenapa-napa, tadi dia merintih kesakitan!"
Dokter Arin mengangguk. "Tolong tinggalkan saya bersama bu Nara!" Arga mengangguk.
Arga keluar kamar lalu dia duduk di sofa. Ponsel Nara terus berdering, Arga mengambil ponsel Nara. Dia melihat wallpaper di ponsel Nara adalah foto dirinya. Arga menghela nafas.
Tertera nama Reva di layar ponsel Nara. Arga mengangkatnya.
Cukup lama mereka ngobrol dan Reva menjelaskan semua yang terjadi adalah salahnya. Reva berkali-kali meminta maaf pada Arga, karena dia kesalahpahaman itu terjadi dan dia juga menjelaskan kalo Rega dan Nara tidak ada hubungan apa-apa, semuanya murni kesalahannya.
Arga menghembuskan nafas kasar. Dia menjambak rambutnya kesal.
"Bod*h kau Arga, brengs*k, kenapa kau tidak mendengarkan penjelasan istrimu dulu?!" sesal Arga sambil mengusap wajahnya kasar.
"Maafin aku sayang!" Arga menitikan air matanya. Lagi-lagi rintihan kesakitan Nara terngiang-ngiang di kepalanya. Dia benar-benar menyesal.
Tak lama dokter Arin keluar, Arga segera beranjak.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
"Daerah kewanitaan bu Nara terluka, bahkan membengkak, sebaiknya untuk beberapa waktu jangan berhubungan dulu ya pak, biar sembuh dulu. Ini sudah saya resepkan obat tolong nanti di tebus!" jawab dokter Arin dengan tatapan agak sinis pada Arga.
Dia tau Nara habis mengalami kekerasan seksual, makanya dia geram dengan Arga. Kenapa dia bisa Setega itu pada istrinya? pikir Dokter.
Dokter Arin pamit. Tapi sebelum pergi dia mengatakan sesuatu.
"Jaga istrinya pak. Jangan di sakiti lagi!"
Deg!
Mendengar ucapan dokter Arin hati Arga berdenyut hebat.
"Saya permisi!" Arga mengangguk, lalu dia menutup pintu.
Tubuh Arga merosot dan menyender di pintu.
"Lo breng*ek Arga!!" pekiknya.
Bersambung..
__ADS_1