Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Papa aja


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Setelah sepuluh hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Argan sudah di perbolehkan pulang. Keadaannya sudah membaik dia juga sudah tidak suka merintih kesakitan lagi, kadang sesekali dia meringis mungkin merasakan pusing.


Nara dan Arga membawa Argan pulang ke rumah pak Harun karena pak Harun sudah menunggunya di rumah.


Arga juga sudah siap untuk membawa keluarganya pulang ke Jakarta.


Sesampainya di rumah, mereka di sambut pak Harun dan beberapa tetangga. Argan tertawa girang melihat orang-orang yang di kenalnya, Nara bahagia melihat putranya kembali tertawa.


"Nda, papan!" ucap Argan girang. (Bunda ada Topan)


Topan temannya Argan selama di situ, usia Topan lebih tua dari Argan tiga tahun, tapi dia sangat suka bermain dengan Argan hingga mereka menjadi akrab.


"Iya sayang ada a Topan!" ucap Nara.


"Papan, papan.." teriak Argan kegirangan melihat teman mainnya semua orang tertawa mendengar panggilan Argan pada Topan.


Arga pun tersenyum bahagia melihat putranya kembali ceria, dan dia senang akhirnya Argan tidak takut lagi dengannya meski masih belum mengenalinya.


Setelah masuk, Argan langsung main dengan Topan. Topan melihat Argan polos, apa lagi saat melihat kepala Argan di perban.


Sedangkan Nara sedang duduk bersama pak Harun dan Arga, Bu Mimin masih enggan menemui mereka. Nara mengerti Bu Mimin pasti marah padanya karena sudah menyebabkan putra sulungnya meninggal.


"Kepala dedek kenapa?" tanya Topan.


"Tatit, papan!" jawab Argan sambil menatap temannya itu. (Sakit, Topan)


"Kepala dedek di bungkus!" ucap bocah kecil itu sambil terkikik.


"Kukus!" ulang Argan.


"Bukan kukus tapi bungkus!" ucap Topan menjelaskan.


"Kukus!" ulang Argan lagi sambil manggut-manggut.


"Bungkus bukan kukus Agan!" ucap Topan tak terima. Dia menyentak Argan kesal karena salah menyebut, hingga membuat bocah kecil itu menangis karena mengira Topan memarahinya.


Nara langsung menghampiri putranya yang menangis.


"Kenapa sayang?" tanya Nara. Dia memangku Argan sambil mengusap air matanya.


Argan tak menjawab dia malah membenamkan wajahnya di dada sang bunda sambil sesenggukan.


"Topan entong nakal ka dedek!" tegur kakaknya Topan karena sudah bikin Argan menangis. (Topan jangan nakal sama dedek)


"Hente teteh, Opan teu nakal!" sahut adiknya.


(Gak teteh, Topan gak nakal)


"Udah teu nanaon teh, mungkin dedek cuma gak enak badan aja!" ucap Nara pada Tita kakaknya Topan.


Nara pun mengajak Argan untuk istirahat, dia membawanya ke kamar dan mengeloni anaknya. Nara ikut berbaring sambil memegangi botol susu Argan yang sudah dia buat sebelumnya.


Tak lama Arga masuk dia duduk di samping Nara yang sedang menidurkan anaknya. Arga mengusap kepala Argan yang sudah terlelap, Nara hanya terdiam sambil menatap putranya terlelap sambil meminum susu.

__ADS_1


cup..


Arga mengecup pipi Nara, Nara tetap tak bergeming meski senyuman tipis tersungging di bibirnya.


Setelah merasa tidur Argan pulas, Nara beranjak dan menyimpan botol susu di meja. Dia melihat suaminya sedang duduk di kursi sambil melamun. Nara menghampirinya, dia mengambil kursi di depan meja rias dan duduk di samping suaminya.


Arga menoleh dan tersenyum lembut pada Nara lalu mengecup bibir istrinya.


"Mas!"


"Hum.. Apa sayang?" tanya Arga sambil menggenggam tangan Nara.


"Aku gak bisa ikut kamu pulang!" Arga terkejut mendengar ucapan istrinya. Dia menatap tajam istrinya yang sedang menunduk dan meremass-remass tangannya.


"Kenapa sayang? Kamu istri mas, kamu harus ikut pulang sama mas!" ucap Arga panik.


Nara mendongak menatap Arga. "Mas aku udah anggep Bu Mimin dan pak Harun seperti orang tuaku sendiri. Aku gak mungkin tega ninggalin mereka cuma berdua, mereka sudah tua. Apa lagi sekarang gak ada a Fahmi yang jagain mereka, di tambah sekarang keadaan mereka masih belum stabil karena kehilangan a Fahmi,"


Arga mengusap wajahnya gusar, dia memang sudah mengatakan pada Nara akan membawanya pulang ke Jakarta setelah Argan keluar dari rumah sakit. Tapi Nara malah menolak.


"Tapi gak mungkin mas ninggalin kamu, mas gak mau kehilangan kamu lagi sayang!" ucap Arga sendu.


Nara menatap Arga sambil mengusap pipi Arga. Arga mengambil tangan istrinya dan mengecupnya.


"Beri aku waktu mas, sampai keadaan ibu dan bapak membaik, setidaknya sampai ada yang jagain mereka. Sampe Fahri lulus di pesantren dan pulang biar bisa jagain kedua orang tuanya!" ucap Nara.


Arga terdiam, hatinya berat untuk berpisah dengan istri dan anaknya. Jika dia tidak pulang dia punya tanggung jawab di kantor.


"Mas, setelah keadaan membaik aku janji mau ikut pulang sama kamu. Kamu juga masih bisa ke sini ketemu aku dan Argan, kamu tidak perlu mencarinya lagi karena kamu sudah tau keberadaan aku!"


Arga masih terdiam sambil menunduk. Nara mengusap pipi Arga.


"Mas aku mohon izinin aku!" pinta Nara penuh harap.


Nara tersenyum dan memeluk Arga. "Terima kasih mas!" Arga mengeratkan pelukannya.


"Apapun akan mas lakukan demi kebahagiaan kamu dan Argan, sayang!"


***


Sore harinya setelah Argan mandi Nara berniat ingin mengganti perban di kepala Argan, tapi bocah kecil itu menolak.


"Perbannya ganti dulu ya dek, ini udah basah!" bujuk Nara. Argan menggeleng.


"Au, tatit nda!" ucapnya memberi tau kalo perbannya di ganti kepalanya sakit.


(Gak mau, sakit bunda)


"Gak sakit sayang, bunda pelan-pelan kok gantinya!" ucap Nara membujuk.


"Ayim nda, ayim.." Argan menggeleng kencang tidak mau di ganti. (Alim bunda, alim) Alim itu dalam bahasa Indonesianya tidak mau.


"Ya udah, kalo adek gak mau. Tapi adek ganti baju ya, nanti kedinginan!" ujar Nara.


"Ngingin!" ulang Argan sambil mempraktekkan seperti orang kedinginan. Nara tertawa melihat tingkah lucu putranya.


Argan pun merangkak mendekati bundanya, dan mulai memakai bajunya.


"Nda!"


"Iya sayang!"

__ADS_1


"Iyah ana?" (Ayah mana)


Nara terdiam, dia mencari jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan putranya.


"Nda!" Argan memukul wajah Nara karena bundanya malah terdiam.


"Emm.. ayah lagi ketemu Allah sayang!" ucap Nara.


"Mumu Oyoh?" tanyanya. (Ketemu Allah?)


"Iya Ayah lagi ketemu Allah, karena ayah sudah rindu sama Allah!" ucap Nara dia menahan air matanya yang ingin terjatuh.


Setelah memakaikan baju pada putranya, Nara memangku Argan.


"Nda!" Nara menatap putranya yang menatapnya polos.


"Mumu iyah nda, Mumu Oyoh!" ucapnya. (Mau ketemu ayah bunda, sama ketemu Allah)


Nara tersenyum dan mengecup pipi bulat putranya.


"Entar ya, belum saatnya sayang. Sekarang adek doain ayah, biar ayah bahagia sama Allah!" ucap Nara menjelaskan pelan-pelan agar putranya itu mengerti.


Meski dia tau putranya tidak mengerti, namun siapa sangka bocah kecil itu menengadahkan kedua tangannya seolah sedang berdoa, setelah itu dia mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.


Air mata yang menggenang pun luruh lantah membasahi pipi Nara. Melihat kepintaran putranya, dia sering melihat Fahmi mengajak Argan berdoa mungkin yang dia ingat saat mendengar kata doa, seperti itu.


"Dah nda!" ucapnya sambil menatap polos sang bunda. (Sudah bunda)


Nara tersenyum dan memeluk erat tubuh mungil putranya.


"Anak solehnya bunda!" ucap Nara sambil mencium sayang putranya.


Sedari tadi Arga terus memperhatikan istri dan anaknya di ambang pintu, perasaannya saat ini campur aduk. Ada kebahagiaan saat bisa bersama istri dan anaknya, namun ada luka karena darah dagingnya tidak mengenalinya justru malah orang lain yang di anggap ayahnya.


Arga menghampiri kedua harta berharganya, dia duduk di samping Nara dan memeluk istri dan anaknya. Nara tersenyum dan mengecup pipi Arga, dia tau suaminya terluka karena putranya tidak mengenalinya sebagai ayah.


"Hallo jagoan ayah sudah mandi?!" sapa Arga.


Argan yang sedang dalam dekapan bundanya menoleh dan menatap bingung Arga karena menyebut dirinya ayah, karena yang dia tau ayahnya hanya Fahmi.


"Mas!" Arga menoleh dan menatap istrinya.


"Apa sebaiknya kamu jangan di panggil ayah!" ucap Nara membuat tenggorokan Arga tercekat.


"Maksud kamu?" tanya Arga cemas. Nara tersenyum.


"Argan pasti bingung mas kalo dia memanggil kamu ayah juga, karena yang dia tau ayahnya hanya a Fahmi. Gimana kalo dengan panggilan lain biar kamu juga deket dengan Argan sebagai ayahnya?" usul Nara.


Arga terdiam, benar apa yang di katakan istrinya. Argan sudah lekat dengan Fahmi sebagai ayahnya, kalo dia juga di panggil ayah pasti Argan bingung, sekarang aja bocah kecil itu tengah melongo kebingungan menatap kedua orangtuanya berbicara.


"Gimana kalo papa aja!!" usul Nara. Arga tersenyum melihat wajah polos putranya. Lalu dia mengangguk menatap istrinya.


"Baiklah, gimana kalo sekarang Argan main sama papa?" tanya Arga sambil memangku putranya.


Bukannya menjawab bocah kecil itu malah menepak wajah ayahnya.


"Aduh.." Arga pura-pura meringis dan pura-pura menangis. Argan ketakutan melihat ayahnya menangis, lalu dia menoleh ke bundanya.


"Di sayang papanya, kasian papanya nangis tuh!"


"Papa!" ulang Argan. Nara mengangguk. Argan pun memeluk kepala ayahnya yang sedang menunduk dan pura-pura menangis, sambil mengusap rambutnya.

__ADS_1


Nara dan Arga tersenyum. "Makasih sayang!" ucap Arga. Nara pun ikut mengusap rambut suaminya dan tersenyum lucu melihat polah tingkah putranya yang semakin pintar.


Bersambung..


__ADS_2