
...Hallo semua Nara come back. Maaf ya hiatusnya lama. Othornya baru semangat nulis lagi. Semoga tetap setia di cerita ini. ...
...***...
Setelah hari-hari di lewati tanpa istri dan anaknya, rasa rindu yang Arga rasakan semakin menggebu. Sudah sebulan berlalu kini waktunya Arga mengunjungi anak dan istrinya, semoga untuk kali ini dia bisa membawa mereka pulang dan kembali hidup bersama.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya, dia akan langsung ke kota K untuk menyusul keluarga kecilnya. Senyuman terus tersungging di bibir pria berusia tiga puluh dua tahun itu.
Rasa rindu kepada anak dan istrinya tak terbendung lagi, apa lagi setiap melakukan panggilan video, dia selalu meneteskan air mata karena begitu merindukan mereka.
Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, akhirnya Arga langsung menyusul anak dan istrinya. Kali ini dia berangkat sendiri, karena Rafi harus menghandle kantor, selain itu dia juga ingin menikmati waktu bertiga bersama keluarganya.
Sebenarnya Nana juga ingin ikut menjemput Nara, tapi tidak bisa karena sekarang dia harus mengurus kantor menggantikan papanya di Bandung.
Sepanjang perjalanan Arga terus berdoa semoga Nara mau pulang sekarang. Perjalanan terasa sangat jauh dan lama di kala kita ingin cepat sampai karena rindu yang sudah menggebu-gebu.
Setiap perjalanan macet Arga berdecak kesal dan memukul kemudi karena sudah tidak sabar ingin bertemu anak dan istrinya.
Setelah beberapa jam perjalanan yang cukup menguras energi akhirnya dia sampai di desa tempat Nara tinggal, karena dia berangkat sore otomatis sampai desa tengah malam.
Suasana desa sudah sepi, tidak seperti di kota meski malam tiba kota selalu hidup karena ada saja orang atau kendaraan yang berlalu lalang atau berjualan. Sedangkan di sini sudah seperti desa tidak berpenghuni.
Arga memarkirkan mobilnya di halaman rumah pak Harun yang memang luas. Arga sudah tidak sabar ingin segera mengetuk pintu, namun dia urungkan karena ini sudah malam takut mengganggu yang sedang terlelap.
Tapi Arga ingin sekali bertemu anak dan istrinya. Dilema, bagaimana jika Bu Mimin yang membukakan pintu wanita baya itu pasti marah, karena dia memang tidak suka padanya setelah kepergian Fahmi.
Akhirnya Arga terpaksa menunggu di luar dan tiduran di ranjang yang terbuat dari bambu. Namun semakin malam semakin dingin, Arga menggigil kedinginan. Terpaksa dia kembali ke mobil, tapi saat dia akan masuk seseorang memanggilnya.
"Pak Arga!"
Arga menoleh, ternyata pak Harun. Arga langsung menyalami pak Harun.
"Datang kapan?" tanya pak Harun.
"Baru aja pak, mau mengetuk pintu takut mengganggu yang sedang tidur!" jawab Arga.
"Ya udah ayo masuk, bapak mau ambil sarung karena malam ini bapak mau ronda!" ucap pak Harun. Arga mengangguk.
Setelah masuk, Arga berniat masuk ke kamar Nara tapi kamarnya di kunci. Terpaksa Arga tidur di ruang tamu beralaskan tikar yang di beri pak Harun.
***
__ADS_1
Adzan subuh berkumandang merdu dari mesjid, seperti biasa Nara bangun setiap mendengar suara adzan.
Dia keluar kamar dan langsung ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Selesai sholat subuh, dia ke depan untuk membuka tirai tapi dia terkejut saat melihat seonggok tubuh sedang meringkuk di balik selimut.
"Siapa?" pikir Nara.
"Gak mungkin bapak, kan?!" gumamnya.
Nara mendekati Arga yang sedang meringkuk, Nara membuka selimut karena penasaran. Tapi saat dia membuka selimut, dia kaget karena orang itu tiba-tiba menariknya, hampir Nara berteriak kaget namun bibirnya segera di bungkam Arga.
Nara bernafas lega, dia pikir siapa? Ternyata suaminya yang sedang dia rindukan. Dia pun membalas sebentar ciuman suaminya, lalu melepaskannya takut ada pak Harun atau Bu Mimin.
"Mas ngagetin aja deh!" sebal Nara sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mas kangen banget sama kamu sayang! Semalam mas mau masuk ke kamar tapi di kunci!"
"Mas sampe jam berapa? Kok aku gak tau!"
"Jam sebelas, semalam sempat ngobrol sebentar sama pak Harun, kebetulan dia yang bawa masuk mas saat dia mau ngeronda!" Nara mengangguk.
Arga kembali menarik kepala istrinya dan mencium bibirnya. Tapi Nara menahannya.
"Kamu sholat dulu gih, takut keburu siang! Nanti kalo mas masih ngantuk, tidur aja lagi sama adek!" Arga mengangguk.
"Sayang kamu mau pulang kan sama mas?" tanya Arga.
"Nanti kita bicarain lagi ya mas!" Arga menghembuskan nafas berat.
Arga berdoa semoga Nara mau pulang bersamanya. Dia tidak ingin jauh lagi dengan anak dan istrinya.
Selesai sholat subuh, Arga membaringkan tubuhnya di samping putranya. Dia mendekap putranya yang masih terlelap. Arga mengecup kening putranya sebelum akhirnya dia kembali mengarungi mimpi karena memang sangat mengantuk.
Semalam dia tidak bisa tidur karena tidur di tikar dan juga kedinginan, entah jam berapa baru bisa terlelap karena sangat mengantuk dan lelah.
Selesai masak Nara kembali masuk ke kamarnya. Dia tersenyum melihat anak dan suaminya terlelap apa lagi dengan posisi yang sama. Satu tangannya menutupi matanya dan tangan satunya di perut.
Nara terkekeh melihat tingkah kompak anak dan ayah itu, ternyata punya kebiasaan yang sama.
Nara mengecup kening putranya. "Sayang bangun yuk, kita mandi dulu!" Nara membangunkan Argan. Namun dia hanya terusik dan mengganti posisi tidurnya, kakinya malah menindih perut Arga.
__ADS_1
Nara kembali membangunkan putranya. "Adek, bangun yuk sayang!" ucapnya sambil menepuk pelan pipi Argan.
Argan membuka mata perlahan dan menatap bundanya malas.
"Au nda, obo Agi!" ucapnya kesal dengan suara parau. (Gak mau bunda, mau bobo lagi)
Nara terkekeh. "Bobonya entar siang lagi nak!" ucap Nara sambil mengangkat tubuh putranya.
Kepala Argan lemas di pundak Nara, saat matanya menangkap tubuh seseorang matanya terbuka sempurna.
"Papa!" ucapnya.
"Apa sayang?" Argan menunjuk ke arah Arga.
"Oh iya itu papa sayang, mau jemput kita pulang!"
"Puput tita uyang!" ulangnya. (Jemput kita pulang)
Nara tersenyum dan mengangguk. Lalu dia pun bergegas memandikan Argan.
***
Arga terbangun dan mencari-cari keberadaan anak dan istrinya.
Arga beranjak dari tempat tidur lalu keluar kamar. Dia mencari keberadaan anak dan istrinya. Dia menemukan mereka sedang duduk berkumpul di ruang tamu.
"Eh, pak Arga!" Sapa pak Harun. Arga tersenyum dan menghampiri mereka lalu menyalami Bu Mimin.
"Apa kabar Bu?" tanya Arga.
"Alhamdulillah, sehat pak Arga!" Bu Mimin tersenyum simpul, namun raut wajahnya terlihat sedih dan takut.
Arga duduk di samping Nara.
"Jadi pak Arga mau bawa pulang neng Nara sama Argan?" tanya bu Mimin langsung. Arga mengangguk.
Bu Mimin tertunduk sedih, bagaimana tidak dia begitu menyayangi Nara dan Argan. Mereka sudah dia anggap anak dan cucu sendiri.
Arga menatap bu Mimin, dia tau Bu Mimin sangat kehilangan Nara dan Arga.
"Bu, pak. Saya mau bilang terima kasih banyak karena kalian sudah menjaga anak dan istri saya dengan baik. Maaf saya harus membawa pulang anak dan istri saya, tapi saya tidak akan menghalangi kalian untuk bertemu mereka. Jika kalian mau, bagaimana kalau kalian ikut kami?!"
__ADS_1
Pak Harun dan Bu Mimin saling berpandangan.
Bersambung..