
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Nara dan Tika kaget saat tiba-tiba pria itu berlutut di depan Nara. Nara membulatkan matanya tak percaya.
Tiba-tiba lampu jadi terang benderang, dan bunyi ledakan dari balon terdengar dan tempat itu jadi hujan kertas warna-warni yang memang sudah mereka siapkan jika balon di pecahkan akan berhamburan kertas itu.
Tiba-tiba seorang pria berjalan ke arahnya sambil tersenyum.
"Mas Arga!" gumam Nara.
Pria itu berjalan mendekati Nara, lalu pria yang di tolak tadi berdiri dan menunduk hormat pada Arga dan memberikan cincin yang tadi dia pegang untuk melamar kekasihnya.
Arga pun melakukan hal yang sama seperti pria tadi berlutut dan berkata di depan Nara.
"Will you marry me?"
Kali ini Nara yang di buat syok, dia menatap satu persatu teman-temannya. Mereka terlihat mengulum senyum tapi tidak dengan Tika.
"Kalian tau ini?" tanya Nara. Mereka mengangguk kompak tapi tidak dengan Tika.
Nara menatap Arga. "Ini semua kamu yang siapin mas?" tanya Nara.
Arga menggeleng. "Dari pada tempat ini mubazir sudah di buat dengan indah tapi malah tidak di gunakan. Jadi saya manfaatkan saja!" jawabnya.
"So, Will you marry me, Renara Prameswari?" tanya Arga.
Nara terdiam, dia tidak menyangka Arga akan melamarnya. Nara menatap orang-orang di sana.
"Terima.. terima.. terima..!!!" seru teman-temannya serempak sambil bertepuk tangan.
"Please, jangan buat saya patah hati seperti dia!" ucap Arga sambil melirik sekilas pria yang di tolak tadi lalu kembali menatap Nara dengan raut wajah yang memelas.
Nara bingung, apakah dia sudah benar-benar yakin dan siap akan mengarungi rumah tangga bersama Arga. Nara menatap dalam mata pria itu, untuk mencari ketulusan pria itu. Dia memang melihat ketulusan dari pria itu.
Arga menghela nafas berat saat melihat Nara terdiam. Dia kembali berdiri.
"Kau menolak ku?" tanyanya. Nara masih terdiam, dia masih bingung dengan semuanya yang terlalu tiba-tiba dan terlalu cepat.
Arga berbalik dengan raut wajah kecewa dan orang-orang di sana pun terlihat kecewa karena Nara tak menjawab iya ataupun tidak, dia malah menggantung lamaran Arga.
__ADS_1
Arga melangkah meninggalkan Nara. "Mas!" panggil Nara. Arga menghentikan langkahnya.
"Aku mau terima lamaran kamu!" Arga tersenyum, dia langsung berbalik dan menghampiri Nara lalu memeluknya.
"Yeeeee..." sorak Sorai tepuk tangan dari teman-temannya terdengar meriah.
Tika pun meneteskan air matanya terharu melihat sahabatnya di lamar. Tika juga tau tentang trauma masa lalu Nara, sehingga dia ikut bahagia melihat Nara bahagia. Dia memang tidak tau soal acara itu yang di buat untuk Nara, karena tidak ada yang memberitahunya, karena teman-temannya tau kalo Tika ember. Takutnya Tika membocorkan kejutan itu.
"Terima kasih Nara, saya mencintai mu!" bisik Arga bahagia. Nara tersenyum, dia yakin dan dia akan berusaha untuk lepas dari trauma masa lalunya dan semoga Arga bisa mengobati luka itu.
Arga melepaskan pelukannya, lalu dia mengambil tangan Nara dan memasangkan cincin di jari manis gadis itu, lalu Arga mengecup punggung tangan Nara.
Dan meriahnya tepuk tangan kembali terdengar dari teman-teman Nara.
.
Saat Ini Nara sedang dinner romantis, yang dia siapkan bersama teman-temannya tadi siang. Dia tidak menyangka bahwa tempat itu di sediakan untuk dirinya sendiri.
Arga menggenggam tangan Nara. Nara tersenyum menatap Arga.
"Kamu bahagia?" Nara mengangguk. Arga kembali mengecup punggung tangan Nara membuat Nara tersipu.
"Mas!"
"Hm.."
"Tapi kenapa dia gak ikut dalam acara ini?" tanya Nara sedih.
"Dia lagi ada tugas banyak, jadi gak bisa temenin kamu. Tadinya saya mau ajak Nana juga, tapi dia gak bisa. Dia cuma titip doa buat kita." ucap Arga.
Nara tersenyum, dia sudah benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Tiba-tiba lampu di sana menjadi temaram, alunan musik romantis menggema menemani makan malam romantis mereka. Saat ini mereka sedang makan malam di atas rooftop restoran itu, sehingga bisa melihat langit malam yang di taburi bintang-bintang dan semakin menambah keromantisan tempat itu.
Arga beranjak lalu mengulurkan tangannya pada Nara, membuat Nara kebingungan.
"Kita mau ngapain mas?"
"Dansa!"
"Aku gak bisa dansa mas!" tolak Nara.
"Saya ajarin!" Arga memberi isyarat agar Nara membalas uluran tangannya. Nara tersenyum lalu membalas uluran tangan Arga.
Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Tangan kanan Arga memeluk pinggang Nara, begitu juga tangan Nara. Tangan kiri mereka saling bertemu dan menggenggam. Mereka bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti aluna musik merdu.
Nara menatap wajah tampan pria yang sekarang sudah menjadi tunangan dan calon suaminya. Dia tidak menyangka akan jatuh cinta, bahkan dia tidak pernah bermimpi akan jatuh cinta dengan seorang pangeran tampan seperti Arga.
__ADS_1
Pangeran itu mampu mengobrak-abrik hatinya dan perasaannya. Padahal sebelumnya Nara bisa mempertahankan perasaannya agar tidak runtuh dan terlena saat banyak pria mencoba mendekatinya, dia mampu mempertahankan itu.
Tapi tidak dengan Arga, pria itu sudah menghipnotisnya dan membuatnya terbuai dan terlena dalam jeratan cintanya. Nara yang sudah bulat tidak ingin berkomitmen pun luluh lantah di buatnya. Pria itu sudah membuat Nara terjebak dalam permainan cintanya.
Mereka masih berdansa menikmati alunan musik. Arga tersenyum begitu juga Nara. Arga mengeratkan pelukannya, lalu dia mengalungkan kedua tangan Nara di lehernya dan kedua tangannya memeluk pinggang Nara. Membuat jarak mereka semakin dekat dan intim.
Arga memiringkan kepalanya dan mengecup lembut bibir merah muda sang kekasih. Nara membalasnya dan menikmatinya.
Terlihat seorang gadis sedang menatap mereka yang begitu bahagia. Raut wajah gadis itu terlihat ambigu. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi pikirannya berkecamuk.
"Kenapa harus dia bang? Dia sahabat gue? Gue gak mau dia terluka!" gumam gadis itu.
Gadis itu adalah Nana, dia datang hanya saja dia tidak menunjukkan diri. Hubungan Arga dan Nara menjadi pro dan kontra untuknya. Sejujurnya Nana tidak setuju Arga mempunyai hubungan dengan sahabatnya. Tapi melihat Nara begitu bahagia, dia tidak tega untuk memisahkan gadis itu dari Arga. Apa lagi dia tau Arga adalah orang pertama yang menempati hatinya, Arga cinta pertamanya Nara.
Nana menghela nafas, lalu dia berlalu meninggalkan tempat itu. Dia bingung bagaimana memisahkan mereka, hubungan mereka pasti akan mendapat masalah di masa depan.
Nana berdecak kesal. "Ternyata lo beneran serius sama Nara bang! Sampe lo lamar dia, kalo papa tau. Gue takut Nara yang jadi korbannya!" lirih Nana.
Nana begitu menyayangi Nara karena dia sudah anggap Nara seperti saudaranya sendiri. Nana masih berdiam diri di atas motor maticnya, pikirannya melambung akan masalah yang akan di hadapi mereka di masa depan.
"Kenapa lo gak pikirin itu sih bang?" gumamnya lagi kesal.
Nana pun melajukan motornya kencang dan pulang.
Nara dan Arga kembali duduk setelah menikmati dansa romantis serta kecupan penutup mengakhiri dansa mereka.
"Mas udah malam, kita pulang yuk!" Arga mengangguk.
Mereka pun bersiap pulang. Wajah mereka terlihat berseri dan bahagia. Sepanjang perjalanan senyuman tak lepas dari keduanya. Arga terus menggenggam tangan Nara.
Membuat Nara semakin menyunggingkan senyumnya. Dia sudah yakin dengan keputusannya menerima Arga sebagai pendamping hidupnya. Sekarang dia hanya perlu berdoa, semoga nasibnya tidak sama seperti ibunya. Semoga Arga laki-laki baik, bertanggung jawab, setia dan jujur dan Nara melihat itu semua di dalam diri Arga.
Tak terasa mereka sampai di depan rumah Nara. Sebelum keluar Arga memberikan kecupan hangat di kening Nara.
"Langsung tidur ya!" Nara mengangguk.
Arga tersenyum dan mengusap pipi Nara. "Saya gak sabar ingin cepat menikahi kamu!" Nara tersenyum dan tertunduk malu.
"Aku masuk ya mas!"
"Iya sayang!"
"Mas hati-hati!" Arga mengangguk dan tersenyum.
Nara pun keluar, dia melambaikan tangannya pada Arga dan Arga membalasnya. Setelah Nara masuk ke rumahnya, Arga pun melajukan mobilnya menuju apartemennya.
__ADS_1
Bersambung..