
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Setelah memesan makanan, Arga dan Nana sarapan lebih dulu sebelum mereka berbicara.
Selesai makan, Nana pamit ke toilet sebentar. Arga menunggu, dia tau apa yang akan di bicarakan adik sepupunya itu. Arga menghela nafas berat.
"Apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah melepaskan Nara!" Gumamnya.
Tak lama Nana kembali dari toilet, dia kembali duduk di depan Arga dan menatap tajam Arga.
"Biasa aja liatnya na!" Ucap Arga.
"Gimana bang apa yang mau lo lakuin?" Tanya Nana tak menggubris ucapan Arga. Arga hanya mengangkat bahunya.
"Lo gimana sih bang, lo bilang bakal talak Hana kalo dia sadar. Kenapa sekarang lo malah jadi plin-plan gini!" Kesal Nana.
"Kamu tau keadaan Hana. Saya tidak mungkin menceraikan Hana dalam keadaan seperti itu. Apa kamu tidak kasian sama dia?"
"Bodo, gue gak perduli. Pokoknya lo harus cepat selesain urusan lo sama Hana bang, sebelum lo nyesel dan kehilangan Nara!" Ucap Nana kesal sambil menatap tajam Arga.
"Saya akan cerain dia setelah keadaannya membaik!"
"Kasian banget Nara, dia malah jadi istri simpanan lo dan jadi istri kedua lo!" cibir Nana kesal. Arga hanya menghelakan nafasnya.
"Lo harus cepat ambil keputusan kalo lo masih mau bersama Nara bang! Jangan sampe dia terluka karena ulah lo. Inget dia punya trauma sama laki-laki bang. Kalo lo sampe ngecewain dia, dia bisa benci lo seumur hidupnya, seperti dia benci bapaknya!" sambung Nana panjang lebar.
Arga menghembuskan nafas kasar. Dia sendiri bingung bagaimana menghadapi masalahnya itu. Tapi saat ini dia tidak mungkin menceraikan Hana. Dia tidak sejahat dan setega itu. Tapi dia juga tidak mau menyakiti Nara, dia sangat mencintai istri keduanya itu.
"Terus kapan lo pulang? Kasian Nara sendirian, lo malah ninggalin dia di malam pengantinnya!" Tanya Nana masih sambil menatap tajam pria di hadapannya itu.
"Lusa mungkin!"
"Jangan lama-lama, entar dia curiga!" Ucap Nana lalu beranjak.
"Mau kemana?" Tanya Arga.
"Balik ke Jakarta!" Jawab Nana.
"Sendiri?"
"Gue bisa sendiri. Gue mau nemenin istri simpanan lo. Dari pada gue di sini bikin kesel!!" Jawab Nana sambil mendelik tajam Arga.
"Bagus deh, saya percaya sama kamu. Jagain istri saya!" Balas Arga santai.
"Cihh, gila lo!" Nana berdecih kesal sambil menghentakkan kakinya. Lalu dia meninggalkan Arga di kantin rumah sakit.
Lagi-lagi Arga menghela nafas berat. "Sabar ya sayang. Saya pasti akan kembali dan memilih kamu, cuma kamu wanita yang saya cintai Nara!"
***
Nara tidak jadi ke Resto karena hari ini Tika sedang cuti, akhirnya Nara memilih jalan-jalan di mall dekat apartemennya. Dia ingin menghilangkan penat dan kesepiannya.
Nara jalan-jalan sambil melihat-lihat, tapi dia tidak berniat untuk membeli apapun. Dia hanya ingin belanja saat ada Arga saja.
Tak lama perut Nara keroncongan, dia melirik arloji yang melingkar di tangannya. Sudah waktu jam makan siang. Nara mencari tempat makan yang membuat selera makannya bertambah.
Tak lama dia melihat restoran Korea, Nara ingin mencoba makan di sana. Nara masuk ke restoran Korea itu.
Dia memilih tempat duduk yang paling pojok dekat jendela. Tak lama pramusaji datang menghampirinya.
"Silahkan kakak ini menunya!" Ucap pramusaji itu sambil menyerahkan buku menunya.
"Saya lihat-lihat dulu ya mas!" Ucap Nara.
__ADS_1
"Baik kakak, saya tinggal dulu jika sudah bisa panggil saya!" Nara mengangguk.
Nara melihat-lihat menu makanannya. Dia membaca satu persatu menu makanan, untung saja di sana juga di cantumkan makanan itu terbuat dari apa saja. Jadi Nara tidak bingung memilihnya, karena ini pertama kalinya dia makan makanan Korea.
Setelah memilih makanannya. Nara memanggil pramusaji lagi.
"Silahkan kakak mau pesan apa?" Tanya pramusaji.
"Kimchi bokkeumbap, sama aku pengen coba kimchi jeon, minumnya lemon tea ada gak mas?"
"Ada kak, ada tambahan lagi kak?" Nara menggeleng.
"Baik kakak, tunggu sebentar ya kakak," Nara mengangguk.
Pramusaji itu bergegas ke belakang untuk membuat pesanan Nara.
Nara ingin menelpon Arga tapi takut mengganggunya karena sibuk. Apa lagi Arga sampai rela meninggalkannya saat malam pengantin. Nara berpikir itu urusan yang sangat penting, jadi Nara tidak berani mengganggunya.
Tak lama pesanan datang. Setelah menaruh pesanan di meja, lalu pramusaji itu pun pamit.
Nara mulai makan nasi goreng ala Korea itu. Dia mengecapnya. "Lumayan, cocok sama lidahku!" Gumamnya.
Saat sedang asyik makan, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan anak kecil yang dia kenal.
"Mami..!!" Nara menoleh dan tersenyum.
"Sayang!" Nara beranjak dan gadis kecil yang tak lain adalah Rere langsung berlari dan berhambur ke pelukan Nara.
"Mami, aku kangen sama mami!" Ucap Rere antusiaa. Nara tersenyum sambil mengecup pipi chubby gadis kecil itu.
"Mami juga kangen banget sama Rere!" Balas Nara. Rere langsung memeluk erat leher Nara.
"Hai kak!" Sapa Reva.
"Hai Va, kalian cuma berdua?"
"Tadi sama pacar aku kak, tapi dia lagi ke toilet!" Jawab Reva.
Rere tidak mau jauh dari Nara, dia terus nemplok di gendongan Nara. Sambil menunggu pesanan Rere dan Reva datang, Nara makan lebih dulu agar nanti dia bisa menyuapi Rere.
Gadis kecil itu terus mengoceh, dan membuat Nara selalu tertawa. Dia bersyukur dengan kehadiran Rere dia tidak merasa sepi dan bosan lagi.
Selesai makan, Nara menyuapi Rere. Saat sedang asyik mengobrol dan makan, tiba-tiba Reva pamit ke toilet.
"Kak aku ke toilet dulu ya!"
"Iya va!"
"Ayo sayang makan yang banyak ya, biar kuat dan sehat!" Ucap Nara sambil mengelap bibir Rere yang belepotan.
"Iya mami.." jawab gadis kecil itu nurut.
"Anak pinter!" Ucap Nara sambil mengusap surai kepala Rere. Tak lama seseorang datang menghampiri mereka.
"Sayang!" Panggilnya.
"Papi..." ucap Rere girang.
"Hai Ra!" Sapa Rega sambil duduk di bangku sebrang Nara. Nara membalas dengan senyuman.
"Kok kalian bisa bareng?"
"Kebetulan tadi ketemu di sini mas!" Jawab Nara. Rega mengangguk.
"Onty Eva mana sayang?" Tanya Rega pada Rere.
"Ke toilet mas," Nara yang menjawab karena Rere sedang mengunyah makanannya.
"Oh!" balas Rega mengangguk.
__ADS_1
"Good girl, makan yang banyak ya sayang!" Ucap Rega sambil mengusap kepala Rere yang sedang makan dengan lahap.
"Iya papi, kan ada mami," jawab Rere senang.
Nara hanya tersenyum sambil mengusap pipi chubby gadis kecil itu. Rega pun tersenyum.
"Oh iya Ra, selamat ya atas pernikahan kamu!" Ucap Rega.
"Iya mas makasih, maaf ya mas aku gak undang kamu. Karena memang kami tidak mengadakan resepsi pernikahan," balas Nara.
"Tidak apa-apa. Terus suami kamu mana?" Tanya Rega lagi.
"Dia lagi ke Bandung, lagi ada pekerjaan!" Jawab Nara. Rega mengangguk.
"Mami!"
"Iya sayang,"
"Nanti aku bobo sama mami ya!" Ucap Rere. Nara tersenyum kikuk, dia bingung mau jawab apa.
"No sayang! Mami kan tidak pulang ke rumah!" Ujar Rega.
"Aku mau bobo sama mami, papi!" Ucap Rere kekeuh.
"Iya nanti bobo sama mami ya, tapi Rere harus makan yang banyak, oke sayang!" Ucap Nara. Rere mengangguk semangat.
"Oh iya mas, aku pamit ke toilet sebentar ya!" Ucap Nara.
"Oh iya Ra, silahkan!"
"Sayang, mami ke toilet dulu ya," pamitnya pada Rere.
"Iya mami!" Nara tersenyum dan mengusap kepala Rere.
Nara beranjak, tapi saat dia baru berjalan beberapa langkah ada pramusaji yang tak sengaja menabraknya hingga menumpahkan kopi panas yang sedang dia bawa hingga mengenai tangan Nara.
"Aaa.. panas.. panas.."
"Nara!" Rega langsung menghampiri Nara dan melihat tangan Nara. Reflek Rega langsung meniup tangan Nara yang memerah karena tersiram kopi panas itu.
"Maaf kakak, saya tidak sengaja!" Ucap pramusaji itu panik.
"Lain kali hati-hati dong mas, ini panas loh!" Sentak Rega kesal.
"Iya maafkan saya pak, saya benar-benar tidak sengaja. Maafin saya kak!" Ucap pramusaji itu merasa bersalah.
Rega mengajak Nara kembali duduk. Rega terus meniupi tangan Nara yang memerah.
"Aku gak apa-apa mas, nanti juga sembuh!" Ucap Nara.
"Gak apa-apa gimana Ra, ini sampe merah begini. Pasti panas banget!" Rega kembali meniupi tangan Nara.
"Mami.." Rere menangis melihat Nara terluka.
"Cup sayang, mami gak apa-apa kok, jangan nangis ya!" Ucap Nara menenangkan Rere.
"Huhuhuhu.. mami teluka papi.." Isak Rere.
"Iya sayang nanti kita obati mami ya!" Rere mengangguk.
Siapapun yang melihat mereka, pasti mengira mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Beberapa orang terus menatap ke arah Nara dan Rega. Tak lama pramusaji yang tadi nabrak Nara, menghampiri dan memberi salep untuk luka Nara.
"Biar saya obati!" Ucap Rega setelah menerima salep itu.
"Gak usah mas, aku sendiri aja!" Tolak Nara.
"Gak apa-apa saya aja!" Nara pun mengangguk. Tangan satunya mengusap kepala Rere yang sedang memeluknya.
Rega mengolesi salep itu dengan lembut dan hati-hati. Jantungnya kembali berdebar saat berdekatan dengan Nara. Rega berusaha mengendalikan perasaannya.
__ADS_1
"Sadar Rega, dia sudah punya suami!" batin Rega.
Bersambung..