
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Dua tahun kemudian~
Terlihat seorang anak kecil laki-laki tengah berlarian di pekarangan rumah. Dia tengah bermain dengan ayahnya.
"Ayo jagoan, kita mamam dulu!" ucap sang ayah sambil menggendong jagoan kecilnya.
"Mamam?" tanya bocah kecil itu sambil menatap polos ayahnya. Ayahnya mengangguk sambil tersenyum.
"Iya kita mamam dulu sama bunda ya!"
"Nda mamam!" ucap anak kecil itu berteriak. Si Ayah terkikik melihat tingkah lucu jagoannya itu.
"Ayo sayang kita mamam dulu, nanti main lagi sama ayah ya!" ucap sang bunda menghampiri mereka.
"Mamam nda mamam!" ucapnya sambil bertepuk tangan riang.
"Iya bunda suapin ya!" ucap wanita itu yang tak lain adalah Nara.
"Neng aa mau ke bale desa dulu ya, mau bantuin kerja bakti di sana!" Nara mengangguk.
"Jadi a kedatangan orang kota itu?" tanya Nara.
"Iya jadi, ya mudah-mudahan aja dengan adanya pabrik itu bisa mengurangi pengangguran di desa kita!" Nara mengangguk.
"Ya udah aa berangkat ya! Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.. dadah sama ayah!" ucap Nara pada putranya itu.
Bocah kecil itu melambaikan tangannya dengan kedua pipi yang menggembung karena mulutnya penuh makanan.
"Dadah jagoan ayah!" balas Fahmi sambil melambaikan tangannya.
Setelah Fahmi hilang dari pandangan, Nara membawa putranya masuk ke dalam. Entah kenapa perasaannya akhir-akhir ini tidak enak. Tapi dia sendiri pun tidak tau apa penyebabnya?!
"Nda!!"
"Iya sayang?"
"Aaa.." bocah kecil itu membuka mulutnya lebar-lebar. Nara tersenyum dan menyuapi putranya lagi.
"Kenapa perasaanku gak enak? Ada apa ini? Aku harap semuanya baik-baik aja. Entah kenapa aku jadi inget mas Arga. Sudah dua tahun aku berpisah sama mas Arga, bagaimana keadaannya sekarang?" batinnya.
Nara menatap putranya dengan tatapan sendu. Putra yang dia lahirkan tanpa ayah di sisinya, putra yang dia beri nama Argantara Praditya Putra. Dia harus hidup tanpa ayahnya, meski Fahmi sudah di anggap ayahnya, tetap saja Nara merasa bersalah pada putranya karena memisahkan dia dengan ayah kandungnya.
"Maafin bunda ya sayang, maaf bunda udah egois nak, karena memisahkan kamu dengan ayah!"
"Nda nanis? ( bunda nangis?)" tanya Argan sambil menatap bundanya.
Nara menggeleng sambil mengusap air matanya. "Gak sayang, bunda gak nangis! Mamam lagi ya!" Argan mengangguk.
"Mamam!"
"Iya mamam yang banyak ya, biar adek kuat dan sehat!"
__ADS_1
"Uat eyat! (kuat dan sehat!)" ulangnya sambil manggut-manggut.
Nara tersenyum melihat kepintaran putranya itu.
***
Dua tahun berlalu Arga kehilangan istri yang sangat dia cintai. Meski dua tahun sudah berlalu dia tidak pernah menyerah mencari Istrinya, meski tidak pernah ada titik terang dimana keberadaan istrinya tapi dia masih terus berusaha, dia yakin dia akan menemukan sang istri.
"Papa!" panggil Kevin.
Arga menoleh dan tersenyum menatap anak kecil yang pernah tidak di akuinya itu. Meski Arga masih yakin Kevin bukan anaknya, tapi dia tidak pernah membenci anak tak berdosa itu. Dia menyayanginya seperti anaknya sendiri, bahkan rasanya tidak rela jika Kevin bukan darah dagingnya karena dia sudah terlanjur menyayangi anak itu.
Dia juga tidak bisa menceraikan Hana karena janjinya untuk bertanggung jawab jika Kevin terbukti anaknya. Padahal dia ingin cepat segera berpisah dengan Hana.
"Ada apa sayang?" tanya Arga.
"Papa beyi obil! (Papa beli mobil!)" jawab Kevin.
"Loh kemarin kan udah beli mobil!"
"Beyi Agi papa! (Beli lagi papa!)"
"Ya udah tapi papa kerja dulu ya, nanti kita beli lagi!" balas Arga.
"Cekayang papa! (Sekarang papa!)" pinta Kevin memaksa.
"Kevin sama mama dulu sana, papa lagi banyak kerjaan!" titah Arga.
Kevin menggeleng, memang jika punya kemauan anak itu selalu memaksa.
"Hana!" panggil Arga berteriak.
Hana menghampiri Arga dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Ajak Kevin saya lagi kerja!" jawab Arga dengan sikap dan nada dinginnya.
Hana mengangguk, dia mengajak Kevin keluar dari ruang kerja papanya. Meski Arga menyayangi Kevin tapi sikapnya pada Hana tidak pernah berubah, dia selalu bersikap dingin dan acuh. Sebenarnya Hana sudah mulai lelah menjalani rumah tangganya bersama Arga, apa lagi Arga tidak pernah menganggapnya ada.
Tapi dia bertahan demi Kevin, yang terpenting Arga menyayangi anaknya. Hana membawa Kevin ke tempat bermainnya, meski Kevin terus menolak karena ingin selalu bersama papanya.
Arga sedang mengurus pekerjaan yang dua tahun belakangan ini benar-benar menguras tenaganya. Dia dan omnya ingin mengembangkan perusahaannya, dia ingin membangun pabrik tekstil di kota K. Karena kebetulan di sana tempat yang tepat untuknya mengembangkan bisnisnya.
Selain itu dia juga sibuk dengan usaha di bidang kuliner miliknya, tadinya usaha kuliner miliknya itu akan dia berikan pada Nara. Bahkan dia sudah mengalih namakan usahanya itu atas nama Nara, tapi dia belum bisa menemukan keberadaan sang istri.
Setiap malam Arga tak pernah berhenti berdoa semoga dia bisa di pertemukan dengan istri tercintanya.
"Sayang, gimana keadaan kamu sekarang? Kamu dimana? Mas sangat merindukan kamu Nara!" lirihnya saat dia mengingat sang istri.
***
"Neng udah siap?" tanya Fahmi di depan pintu kamar Nara.
"Iya a bentar!" sahut Nara dari dalam.
"Bapak, ibu udah siap?" tanya Fahmi kepada kedua orang tuanya yang sudah rapi. Mereka mengangguk.
Fahmi punya adik laki-laki bernama Fahri, tapi adiknya itu sedang menempuh pendidikannya di ponpes di daerahnya, dia akan pulang jika waktu libur. Mungkin bulan ini juga Fahri akan pulang karena merindukan keponakannya.
"Nara masih di dalam?" tanya Bu Mimin. Fahmi mengangguk.
Tiba-tiba Nara membuka pintu dan menggendong Argan. "A aku titip Argan dulu ya, dia rewel banget!" ucap Nara.
__ADS_1
"Sini jagoan ayah!"
Fahmi mengambil Argan dari gendongan ibunya. Anak itu terus menangis saat mau di ajak ke bale desa untuk menyambut bos perusahaan tekstil itu.
"Cup sayang! Kenapa adek nangis terus?" tanya Fahmi sambil menenangkan Argan yang terus menangis.
"Hiks.. hiks.. hiks.. Iyah au nda! (Ayah mau sama bunda!"
"Iya bentar ya, bundanya lagi ganti baju dulu. Adek sama ayah ya!"
"Au, au nda Iyah! (gak mau, mau sama bunda ayah)" balas Argan sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya udah sini sama nenek min ya!" ucap Bu Mimin sambil mengambil Argan dari gendongan Fahmi.
Setelah semuanya siap, Nara dan yang lainnya siap berangkat ke bale desa. Argan tidak mau lepas dari bundanya.
Entah kenapa hari ini Argan rewel dari pagi sampe sekarang.
"Sayang!" panggil Nara, Argan sedang menyandarkan kepalanya di pundak Nara sambil mengemut jari jempolnya. Matanya sembab karena terus menangis. Tapi sekarang sudah mulai tenang.
Tak lama mereka pun sampai di bale desa. Di sana sudah banyak orang berkumpul untuk menyambut bos perusahaan yang akan memberi pekerjaan pada warga sekitar karena akan membangun perusahaan di desanya itu.
Meski awalnya ada pro dan kontra antara warga dan para petinggi perusahaan. Tapi pada akhirnya mereka menyetujui pembangunan perusahaan pabrik tekstil itu, karena pemilik perusahaan berjanji akan memperkerjakan warga desa agar bisa mengurangi pengangguran di desa itu.
Nara duduk sambil memangku Argan, yang masih tidak mau lepas dari gendongannya. Padahal Fahmi sudah mengajaknya untuk membeli mainan yang ada di sekitar, kebetulan banyak yang berjualan di sekitar bale desa.
"Adek kenapa?" tanya Nara melihat putranya berubah jadi murung.
Argan menatap polos Nara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Adek mau pulang aja?" tanya Nara. Argan menggeleng, dia kembali merebahkan kepalanya di dada sang bunda sambil mengemut jari jempolnya.
Nara mengusap kepala Argan. Fahmi sedang membantu panitia di depan, karena kebetulan dia juga termasuk panitia yang menyelenggarakan acara itu.
Dari kejauhan Fahmi terus menatap Nara. Dia tersenyum melihat wanita dan putra yang di sayanginya itu.
Tak lama beberapa mobil mewah berdatangan. Mereka adalah karyawan dan bos perusahaan tekstil itu yang akan merealisasikan pabrik mereka. Tapi saat seseorang keluar dari salah satu mobil, tubuh Nara menegang, jantungnya berdetak kencang tidak karuan, dadanya sesak dan bergemuruh. Bagaimana tidak karena salah satu dari mereka adalah Arga suaminya.
Arga keluar dari mobil itu di ikuti para bawahannya. Dia berjalan menghampiri para warga yang sudah siap menyambutnya. Dia berjalan penuh wibawa dan gagah. Nara mengalihkan pandangannya agar Arga tidak melihatnya.
"Sayang, kita pulang ya!" ucap Nara. Air mata sudah mengalir deras membasahi pipinya.
Dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan suaminya. Susah payah dia menghindar, tapi malah bertemu di sini.
Dari kejauhan Fahmi melihat gelagat aneh dari Nara, dia juga melihat Nara yang menangis. Fahmi menghampiri Nara.
"Neng kenapa?" tanya Fahmi cemas. Nara segera menghapus air matanya.
"A aku mau pulang ya, Argan juga minta pulang!" jawab Nara. Fahmi heran dengan sikap Nara.
Nara beranjak dan bergegas pergi meninggalkan bale desa. Tapi seseorang melihat Nara.
"Loh itu kaya Bu Nara!" Gumamnya pelan sambil menelisik. Dia berjalan menjauh dan menghampiri seseorang yang mirip Nara itu.
Dia memperhatikan wanita yang mirip Nara sedang berbicara dengan seorang laki-laki dan menggendong anak kecil.
"Aku gak salah lihat, itu benar bu Nara!" ucapnya yakin. Meski penampilan Nara berubah, karena saat ini rambut Nara pendek sebahu. Tapi pria yang melihatnya itu yakin bahwa wanita itu adalah istri dari bosnya yang selama ini di cari-cari.
Bersambung..
...Ini penampilan Nara yang baru dengan rambut sebahu....
__ADS_1