
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Seorang pria sudah siap dengan setelan kemeja putih dibalut blazer berwarna abu tua serta celana Chino hitam dan sepatu loafers tak lupa menghiasi kakinya. Penampilan pria itu terlihat semakin tampan dan berkarisma.
Dia keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju sebuah kamar yang tak jauh dari kamarnya. Di depan pintu terpasang stiker bergambar princess Sofia. Pria itu membuka pintu dan nampak sebuah kamar yang identik dengan princess Sofia.
"Morning my little princess!" sapa pria itu tersenyum pada seorang gadis kecil yang sedang di sisir rambutnya oleh sang pengasuh.
Gadis kecil itu menoleh dan tersenyum sumringah melihat kehadiran pria itu, lalu dia langsung berlari dan berhambur ke pelukan Sang ayah.
Pria itu langsung menggendong putrinya.
"Sudah mandi?"
"Udah dong papi, ini cium ketek aku. Udah wangi kan?" tanya gadis kecil itu sambil mengangkat satu tangannya dan memberikan keteknya pada wajah sang ayah.
Pria itu terkekeh sambil mencium ketek gadis kecil itu dan juga menggelitiknya membuat gadis itu tertawa kegelian.
"Papi, stop.. geliii.. hahaha..!" ucap gadis itu tertawa kegelian.
"Hm, iya udah wangi. Udah cantik juga princess nya papi!" ucap Pria itu setelah menghentikan gelitikannya.
"Iya dong papi, aku kan plincess halus selalu wangi!" balas gadis itu dengan bahasa cadelnya. Pria itu tersenyum gemas sambil mencubit lembut pipi sang putri.
"Let's go, kita breakfast!!" seru pria itu.
"Let's go papi.." balas gadis kecil itu sambil mengepalkan tangannya dan menjulur ke depan seperti gaya Superman.
Lalu pria itu membawa gadis kecil itu keluar kamar dan menuju meja makan untuk sarapan.
Pria itu mendudukkan gadis kecil itu di kursi. Baru saja pria itu akan mendaratkan pantatnya di kursi, seorang wanita datang menghampirinya.
"Permisi tuan, ada yang mencari tuan!" ucap wanita itu.
"Siapa bi?" tanya pria itu.
"Kurang tau tuan. Tapi katanya dia ada urusan dengan tuan!" Pria itu mengangguk.
"Baik bi, terima kasih nanti saya ke sana!" balas pria itu sambil tersenyum.
Wanita itu mengangguk dan pamit undur diri.
"Sayang, kamu makan duluan ya di temani ncus. Papi ada tamu, papi harus temui tamu papi dulu!" ucap pria itu pada putri kecilnya.
"Oke papi!" jawab gadis kecil itu sambil tersenyum menggemaskan.
__ADS_1
"Good girl!" pria itu beranjak dan berlalu ke ruang tamu.
Terlihat seorang gadis tengah duduk sambil celingak-celinguk memperhatikan sekeliling, bahkan dia masih belum menyadari kehadiran pria itu yang sedang berjalan menghampirinya.
Pria itu duduk di sofa dan gadis itu masih belum menyadarinya.
"Ekhem.. Kamu mencari saya?" suara bariton pria itu mengejutkan gadis itu.
"Eh, i-iya maaf!" ucap gadis itu gugup, yang tak lain adalah Nara.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu.
"Maaf pak, saya mau mengembalikan dompet bapak yang tertinggal di Madhava Resto!" ujar Nara sambil menyerahkan dompet itu.
Pria itu mengambil dompetnya. "Oh ternyata tertinggal di sana!" gumamnya, yang memang dari kemarin dia mencari-cari keberadaan dompetnya.
Pria itu menatap gadis itu, dia baru inget gadis itu yang dia lihat di Madhava Resto yang melayani ibu-ibu rewel namun dia masih bisa sabar menghadapinya.
"Maaf pak coba periksa, apa ada yang hilang?" tanya Nara.
Pria itu pun memeriksa dompetnya, dia mengernyitkan dahinya.
"Iya ada yang hilang!" ucap pria itu namun masih terlihat santai dan tenang, tidak terlihat marah atau kesal karena ada barang yang hilang.
"Masa pak, tapi sumpah saya tidak mengambil apapun dari dompet itu pak, tadi saya cuma mengecek aja untuk mencari alamat!" ucap Nara menjelaskan dan dia juga terlihat panik, takutnya dia di kira mencuri isi dompet itu.
Pria itu melihat-lihat dompetnya lagi. "Uang utuh, kartu masih ada, SIM ada, tapi kenapa KTP saya gak ada yah?"
"Eh.. maaf pak, tadi saya lupa ambil KTP nya untuk lihat alamat!" ucap Nara tersipu malu. Lalu dia menyerahkan KTP itu.
"Ya, tidak apa-apa. Terima kasih banyak sudah mengembalikan dompet saya dalam keadaan utuh." gadis itu mengangguk.
"Kalo gitu saya permisi!" ucap Nara berpamitan, lalu beranjak.
Pria itu pun ikut beranjak dan tiba-tiba dia mengulurkan tangannya.
"Saya Rega!" ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Saya tau, saya tadi lihat KTP bapak dan di situ ada nama bapak beserta fotonya," balas Nara datar tanpa membalas uluran tangan Rega.
"Maaf pak saya harus kembali ke restoran, takut kesiangan!" sambung gadis itu lalu dia bergegas keluar rumah tanpa menunggu jawaban dari pria itu karena takut kesiangan.
Pria itu terkesiap dengan sikap gadis itu. Benar-benar cuek dan acuh.
"Gadis unik!" gumam Rega. Tangannya masih terulur lalu dia menariknya kembali.
"Hum.. Saya lupa kasih dia uang tanda terima kasih." gumamnya. Dia pun kembali menghampiri putrinya di ruang makan.
Selesai mengantarkan dompet, Nara bergegas melajukan motornya menuju restoran.
***
__ADS_1
Sudah seminggu berlalu, Nana masih juga belum kembali. Nara sudah merindukan sahabatnya itu dan Nana juga belum mengabarinya lagi. Dirinya pun belum sempat menghubungi Nana karena sibuk dengan pekerjaan.
Nara akan bersiap pulang. Saat dia keluar dari resto seseorang sudah menunggunya sambil bersender di mobil. Dia tersenyum menatap Nara yang sedang berjalan ke arahnya.
"Udah lama?" tanya Nara.
Arga menggeleng. "Baru kok," jawabnya sambil mengusap surai kepala Nara.
Sikap lembut Arga membuat hati Nara selalu menghangat dan juga membuat dia merasa semakin nyaman didekat pria itu. Tapi Nara masih bingung dengan perasaannya, dan Arga pun sudah sering menanyakan jawaban padanya.
"Ayo kita pulang!" ajak Arga. Nara mengangguk.
Seperti biasa Arga membukakan pintu mobil untuk Nara. Setelah Nara masuk ke dalam mobil, Arga bergegas memutari mobil dan duduk di depan kemudi, lalu memasang seatbelt dan melajukan mobil.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan, entah kenapa tiba-tiba hening melanda, bahkan sampai ke rumah pun mereka masih terdiam.
Nara melepaskan seatbeltnya, lalu menoleh ke arah Arga. "Makasih ya mas!" ucap Nara, lalu bersiap keluar tapi Arga menahannya. Nara pun kembali menoleh.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya Nara!" Nara terdiam lalu dia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Dia merasa gugup, sejujurnya dia juga sedikit menyadari perasaannya, bahwa dia menyukai pria itu.
Nara kembali mendongak dan menatap Arga.
"Apa mas yakin? Kita baru saja kenal mas!" ucap Nara sambil bertanya.
Arga menggenggam tangan Nara. "Sangat, saya sangat yakin. Saya tidak pernah main-main, saya ingin kamu jadi pendamping hidup saya Nara!" Jawab Arga mantap.
Nara terdiam lalu kembali menundukkan kepalanya. Setelah beberapa saat dia menghela nafas, lalu kembali menatap Arga.
"Kita jalani aja dulu ya mas. Aku ingin meyakinkan dan memantapkan hati aku dulu. Jujur aku juga sayang sama kamu, tapi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, aku masih ragu mas. Aku butuh waktu untuk meyakinkan hati aku!" ucap Nara menjelaskan.
Arga tersenyum sambil mengusap kepala Nara, lalu dia mengangguk.
"Saya akan tunggu kamu sampai siap. Tapi aku harap kamu cepat mengambil keputusan, karena aku gak mau terlalu lama menjalin hubungan tanpa ikatan!" Nara mengangguk.
Arga tersenyum lalu dia mendekat dan mengecup kening Nara. Nara tersenyum senang dengan perlakuan Arga kepadanya.
"Jadi sekarang status kita apa?" tanya Arga.
"Menurut kamu?" tanya Nara balik.
"Pacar Atau kekasih?"
Nara mengerutkan keningnya. "Emang apa bedanya pacar sama kekasih?" tanya Nara.
"Hum.. beda. Kalo pacar itu lebih seperti ke hubungan yang hanya main-main yang biasa di lakukan anak abege gitu. Sedangkan kekasih lebih ke hubungan yang menginjak ke jenjang yang serius seperti kita, kata kekasih juga bisa di pakai untuk orang yang sudah menikah, contohnya kekasih halal. Tapi kalo pacar halal terdengar aneh gak sih? Gak cocok iya kan?" jawab Arga di selingi pertanyaan.
Nara tergelak mendengar penjelasan Arga. Arga justru terenyuh karena baru kali ini dia melihat gadis itu tertawa bahagia. Biasanya wajahnya datar tanpa ekspresi, tersenyum pun jarang.
"Kamu kata siapa seperti itu mas? sok tau!" cibir Nara sambil tertawa-tawa mendengar penjelasan Arga yang ngaco.
"Cantik!" gumam Arga saat melihat gadis itu tertawa bahagia dan yang membuatnya senang dirinya yang membuat gadis itu tertawa.
__ADS_1
Bersambung..