Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Terlalu cepat


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Setelah seharian bekerja, tubuh Nara terasa sangat lelah dan pegal. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Untung saja hari ini dia tidak lembur, jadi dia tidak pulang malam.


Hari ini Arga tidak menjemputnya, entah kemana pria itu tidak ada kabar sama sekali. Tapi Nara juga tidak perduli, dia bertekad akan menjauhi Arga. Karena dia tidak mau terlena dengan perasaannya. Dia bertekad dengan pendiriannya untuk tidak membuka hati untuk pria manapun dari pada nanti dia terluka dan kecewa.


Nara beranjak dan berniat akan mandi, tapi tak sengaja tangannya menyentuh sesuatu di saku celana. Nara meraba saku celana dan dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


Nara menepuk jidat, dia lupa untuk menyerahkan dompet pelanggan yang tertinggal kepada pak Derry. Nara pun menaruh dompetnya di nakas, dan berniat akan menyerahkan dompet itu pada pak Derry besok.


Dia bergegas menuju kamar mandi karena badannya sudah terasa sangat lengket dan gerah.


Baru saja dia keluar kamar dan akan melangkah ke kamar mandi, ada yang mengetuk pintu depan. Langkah Nara yang akan ke kamar mandi pun berubah rute berbalik menuju depan.


Tok! Tok! Tok!


"Iya sebentar!!" serunya saat pintu itu terus di ketuk.


Nara membuka pintu, seorang pria tengah berdiri di depan pintu dan tersenyum ke arahnya.


"Mas Arga!" pria itu tersenyum manis.


Sedangkan Nara hanya mematung di ambang pintu, dia bingung bagaimana menghadapi pria itu. Sungguh dia ingin menjauhinya, tapi setiap melihat pria itu dia merasa hangat dan nyaman berada di dekatnya.


"Gak di suruh masuk nih?" tanya Arga.


Nara tersadar dan mempersilahkan Arga masuk lalu mempersilahkan duduk.


"Mas mau minum apa?" tanya Nara.


"Teh manis panas aja!" jawab Arga. Nara mengangguk dan beranjak ke dapur.


Nara menghela nafas sambil mengaduk teh manis itu. Perasaannya gamang, dia ingin menjauhi Arga. Tapi kenapa hatinya menolak? Hatinya merasa nyaman bersama pria itu dan ragu untuk menjauh darinya, apa dia benar-benar jatuh cinta pada pria itu?


Nara selalu mengelak jika dia menyukai pria itu, padahal faktanya dia memang menyukai pria itu, meski belum seutuhnya dia mencintai. Namun dia sendiri belum sadar akan hal itu.


Nara kembali ke depan sambil membawa teh hangat di tangannya, lalu dia meletakkannya di meja.

__ADS_1


"Silahkan mas!" Arga mengangguk dan tersenyum.


Lalu dia mengambil teh itu meniup dan menyesapnya perlahan karena teh itu masih panas, terlihat asapnya yang masih mengepul.


"Ada apa mas ke sini?" tanya Nara. Arga melirik Nara sambil menyesap teh manis itu, lalu dia kembali menaruh cangkir itu di meja.


"Emang gak boleh saya kesini?" tanya Arga balik.


"Ini udah malam mas, gak enak kalo di liat tetangga!" ujar Nara merasa tak nyaman.


Arga menghela nafas. Lalu dia mendekat ke arah Nara, dan duduk di samping Nara lalu menggenggam tangan Nara.


"Saya serius, saya ingin menikahi kamu Nara!" Nara terkesiap mendengar ucapan Arga. Dia menatap tajam mata Arga, apa benar yang di katakan pria itu?


"Mas bercanda?" Arga menggeleng. Lalu dia mengusap pipi Nara.


"Saya serius, saya menyukai kamu dan mencintai kamu Nara. Saya ingin menjadikan kamu pendamping hidup saya!" ucap Arga yakin.


Nara terdiam, jujur dia masih belum percaya dengan perkataan pria itu. Dia menatap lekat mata Arga untuk mencari kebenaran atas ucapannya. Nara melihat ketulusan di mata itu.


Nara mengatur nafasnya, dia merasa gugup dan juga tegang lalu dia kembali menatap Arga.


"Tapi kita baru kenal mas, aku.. aku.." ucap Nara gugup.


Arga terdiam memperhatikan kegugupan gadis itu. Dia langsung menarik kepala Nara dan mencium bibir gadis itu, bibir itu selalu menggodanya dan Arga tidak bisa menahan diri.


Arga melu*at dan menyesap bibir Nara, sampai membuat gadis itu terbuai. Arga tersenyum saat Nara membalas ciumannya.


Setelah cukup puas, mereka melepaskan bibirnya masing-masing. Arga mengusap bibir Nara yang basah.


"Kamu tidak menolaknya. Itu artinya kamu juga menyukaiku!" ucap Arga yakin karena Nara tidak menolak ciumannya.


Wajah Nara merona, lalu dia menunduk malu karena dengan bodohnya dia menikmati ciuman itu. Arga tersenyum. "Sekarang juga kamu sudah bisa membalas ciumanku!"


Nara semakin menunduk lebih dalam mendengar ucapan Arga, sungguh dia sangat malu. Arga tersenyum dan memegang dagu Nara dan mengangkat wajahnya, hingga mata mereka kembali saling bertatap.


"Saya akan beri kamu waktu untuk memikirkan ini. Saya tunggu jawaban kamu, saya tau ini terlalu cepat. Tapi saya benar-benar yakin untuk memilih kamu!" ucap Arga mantap.


Nara terdiam sambil menatap Arga serius. Arga menatap Nara dan tersenyum.


"Kalo gitu saya pamit pulang!" ucapnya sambil mengusap kepala Nara.


Arga beranjak dan melangkah keluar dari rumah itu tanpa menunggu jawaban Nara, sedangkan Nara masih terdiam mematung. Lalu dia memegangi bibirnya, sentuhan bibir Arga masih sangat terasa.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.


***


Sebelum berangkat ke Resto, Nara berniat akan mengembalikan dompet pelanggan yang tertinggal. Pagi-pagi sekali dia berangkat untuk mencari alamat yang tertera di KTP si pemilik dompet.


Nara membaca nama si pemilik KTP.


"Rega Sebastian!" ucapnya membaca nama pemilik KTP itu, Lalu Nara bergegas menaiki motornya dan menuju alamat yang tertera di KTP.


Tak lama Nara meninggalkan rumah, Arga datang untuk menjemputnya. Dia bergegas turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Nara.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum.."


Arga mengetuk pintu itu, tapi tidak ada jawaban dari Nara. Arga mengintip dari jendela, di dalam terlihat sepi dan juga motor Nana tidak ada.


"Apa Nara sudah berangkat ya?" gumam Arga.


Arga pun kembali ke mobilnya dan memastikan gadis itu sudah berangkat ke Resto.


Nara mencari-cari alamat rumah itu, sesekali dia bertanya pada orang untuk menemukan alamat itu. Tak lama dia menemukan perumahan yang ada di alamat itu.


"Blok A, no 23!" gumam Nara. Lalu Nara melajukan motornya mencari rumah no 23.


Tak lama dia menemukan rumah yang di cari. Nara tersenyum puas, setelah beberapa menit dia berkeliling akhirnya dia menemukan rumah itu.


Nara memarkirkan motornya di depan rumah dengan pagar warna hitam itu. Lalu Nara celingak-celinguk, gadis itu tersenyum saat melihat benda putih bergambar lonceng yang tertempel di dinding. Dia pun langsung memencetnya.


Setelah beberapa kali memencet bel, terdengar suara langkah kaki mendekatinya.


"Cari siapa ya?" tanya seorang satpam saat membuka pintu pagar.


"Maaf pak apa benar ini rumahnya pak Rega Sebastian?" tanya Nara.


Satpam itu mengangguk. "Iya ini rumahnya pak Rega!" Jawab satpam itu.


"Boleh saya bertemu pak Rega? Saya ada urusan dengannya!"


"Baik tunggu sebentar mbak!" ucap satpam itu. Lalu dia mengambil ponsel di sakunya dan menelpon seseorang, ternyata dia memberi tau seseorang akan kedatangan Nara.


Selesai menelpon, Satpam itu mempersilahkan Nara masuk.

__ADS_1


"Silahkan mbak, tunggu di dalam aja!" Nara mengangguk dan tersenyum.


Bersambung..


__ADS_2