Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Trauma masa lalu


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


****


Nara bersiap akan berangkat bekerja. Kepalanya terasa pusing karena semalaman dia tidak bisa tidur gara-gara ciuman Arga. Semalaman Nara memikirkan perasaannya, apa benar dia menyukai pria itu?


Nara belum bisa menyimpulkan perasaannya saat ini. Hatinya masih gamang, bayang-bayang masa lalu orang tuanya membuat dia takut untuk menjalin hubungan apa lagi sampai berkomitmen, Nara belum siap. Tapi dia merasa senang dan nyaman saat di dekat Arga.


Nara bersiap mengeluarkan motor Nana, tapi seseorang sudah menunggunya di luar. Nara menghela nafas, dia tidak mungkin menolak pria itu yang ingin mengantarnya.


"Kenapa keluarin motor? Kan saya sudah bilang mau jemput kamu!" ucap Arga.


Nara menunduk dia masih malu dengan kejadian semalam.


"Udah ayo, nanti kamu kesiangan!" ucap Arga sambil menarik tangan Nara.


Setelah mengunci pintu, Nara mengikuti Arga menuju mobil. Seperti biasa Arga membukakan pintu mobil untuk Nara. Setelah itu dia memutari mobil dan duduk di depan kemudi lalu memasang seatbelt dan melajukan mobilnya.


Nara terdiam, dia masih canggung dan kikuk berhadapan dengan Arga. Pandangannya terus tertuju ke samping mobil. Arga melirik Nara lalu tangannya terangkat dan mengusap kepala Nara. Nara terkesiap dan menoleh ke arah Arga.


"Kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Nara menggeleng lalu menunduk. Rasanya sulit sekali untuk membuka suara, rasanya suaranya tercekat di tenggorokan.


Arga menggenggam tangan Nara. Ini pertama kalinya untuk Nara bisa sedekat dan seintim itu dengan pria. Biasanya pria yang mendekatinya tidak akan bertahan lama berdekatan dengannya, karena sikapnya yang acuh dan dingin. Tapi Arga masih terus mengejarnya meski Nara sudah mengabaikannya dan bersikap dingin.


Tak lama mereka sampai di Madhava Resto. "Makasih mas!" ucap Nara sebelum keluar.


Tapi Arga menahannya. Nara menoleh ke arah Arga. Arga mencondongkan tubuhnya mendekati Nara.


"Apa kamu sedang memikirkan kejadian semalam? Dan memikirkan perkataan saya?" Nara terdiam, dia tidak tau harus jawab apa.


"Aku duluan ya mas, takut di marahin pak Derry!" ucap Nara dan ingin keluar, tapi Arga menahannya lagi membuat Nara harus menatap pria itu lagi. Arga menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Nara.


"Jangan terlalu di pikirin, saya akan tunggu kamu sampai benar-benar siap. Tapi saya tidak main-main Nara, kalo saya benar-benar menyukai kamu. Dan jika nanti kamu menerima saya, saya tidak ingin menundanya lagi, saya ingin hubungan kita di lanjutkan ke jenjang yang lebih serius!" ucap Arga dengan raut wajah yang sangat serius.


Nara menatap mata Arga, mencari kebenaran atas ucapannya itu dan dia melihat ketulusan di mata Arga. Arga menghela nafas, lalu mengusap pipi Nara.


"Kita jalani aja dulu, Oke?" lanjutnya sambil mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Nara.

__ADS_1


Nara terdiam, jantungnya selalu tidak bisa di kondisikan. Berdebar, berdetak, berdegup sangat kencang. Pria ini bisa saja membuatnya jantungan dengan sikapnya yang di luar dugaan dan lagi-lagi dia mencuri ciumannya.


Arga tersenyum dan mengusap kepala Nara. Dia tau gadis itu masih ragu dengan perasaannya, tapi dia akan buktikan bahwa dia benar-benar serius dengannya.


Nara pun keluar tanpa mengatakan apapun. Hatinya berkecamuk tidak karuan. Arga pun melajukan mobilnya menuju kantor setelah Nara masuk Resto.


Sebelum bekerja Nara pamit ke toilet dulu, dia membasuh mukanya. Memang pikirannya terus tertuju dengan kejadian semalam tentang ciuman dan perkataan Arga. Dia merasa itu terlalu cepat, padahal mereka baru saja mengenal. Tapi dia pun merasa nyaman dengan pria itu, padahal sebelumnya tidak pernah merasakan perasaan nyaman dengan pria manapun.


Nara menatap dirinya di cermin lalu dia memegangi bibirnya.


"Apa iya aku menyukainya?" gumamnya. Tak lama dia menggelengkan kepalanya.


"Gak, aku gak akan jatuh cinta sama siapapun. Aku gak mau nasibku sama seperti ibu," Nara menghela nafas panjang memikirkan rasa takut dan perasaannya yang berkecamuk.


"Kenapa ayah tega lakuin ini sama aku dan ibu, apa salah kami yah? Kenapa ayah menorehkan luka ini sama kami? Hingga aku harus mengalami trauma ini!" lirih Nara.


Memory tentang masa lalunya terekam dalam otaknya, saat ayahnya datang bersama wanita lain dan menceraikan ibunya di depan Nara. Padahal waktu itu ibunya sudah memohon agar tidak di ceraikan demi Nara. Tapi pria itu tak memperdulikannya sama sekali, bahkan tak memperdulikan Nara.


Nara menangis, saat itu dia sudah mengerti permasalahan orang tuanya, makanya dia sangat trauma dengan pria apa lagi pernikahan.


Tak lama ada beberapa orang yang masuk ke toilet dan menyadarkan Nara dari lamunannya. Nara langsung menghapus jejak air matanya yang mengalir. Setelah itu dia bergegas kembali keluar untuk bekerja.


Hari ini pengunjung lumayan ramai, Nara sedikit melupakan tentang Arga dan juga tumben hari ini pria itu tidak datang ke Resto.


"Permisi, maaf bu tolong jangan bikin keributan di sini ya!" ujar Nara ramah.


"Ini nih teman kamu, bisa kerja gak sih? Liat nih baju saya kotor gara-gara dia. Terus pesanan saya juga salah, bisa kerja gak sih dia?" kesal ibu itu marah-marah.


"Maaf ya ibu, maaf atas kesalahan dan kelalaian kami. Kami akan mengganti makanan ibu dan jika ibu berkenan saya akan membantu membersihkan baju ibu, tolong maafkan kesalahan teman saya bu!" balas Nara sopan dan ramah.


Nara sudah biasa menghadapi orang-orang seperti ibu itu dan orang seperti dia harus di lembutin. Kalau sama-sama keras yang ada bakal panjang ceritanya.


Teman-teman ibu itu pun berusaha menenangkannya agar tidak marah-marah lagi.


"Baiklah, cepat ganti makanan saya karena saya sudah lapar!" ucap ibu itu ketus.


Nara dan yang lainnya mengangguk. Dini, pelayan yang di marahi itu bernafas lega, karena sebelumnya ibu itu mengancam akan melaporkan dia ke managernya.


"Saya mau di layani sama mbak ini, gak mau sama dia!" ketusnya dengan manik mata mengarah ke Nara lalu mendelik tajam ke arah Dini.


Nara mengangguk dan tersenyum lembut pada ibu itu. Lalu dia mulai melayani ibu itu.

__ADS_1


.


.


Sore hari lagi-lagi Nara harus menghadapi pengunjung yang bawel dan suka marah. Tapi Nara berusaha sabar dan menghadapinya dengan tenang. Sikap Nara tak luput dari perhatian seseorang, dia tersenyum melihat gadis itu, sambil terus memperhatikannya yang begitu sabar menghadapi pelanggan yang super bawel itu.


Nara menghembuskan nafasnya berkali kali, kali ini dia benar-benar lelah, harus menghadapi pelanggan yang rewel.


"Gila ya itu ibu-ibu. Rewel banget di kasih makan apa dia sama emaknya!" gerutu Tika. Nara terkekeh mendengar dumelan Tika.


"Sabar Tik, namanya juga emak-emak!" imbuh Nara.


"Untung ada lo Ra, gue gak tau kalo gak ada lo. Gimana ngehadapin si nenek lampir itu?" Nara tersenyum dan menepuk pundak Tika.


"Udah, ayo kita lanjut kerja!" Tika mengangguk.


Nara dan Tika membantu membersihkan meja yang sudah di tinggal pengunjung. Tiba-tiba seorang pria menghampirinya.


"Permisi!" Nara menoleh dan menatap pria itu.


"Iya ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nara.


"Maaf mbak, toilet di mana ya?"


"Oh, itu pak di sebelah kiri, terus lurus belok kiri lagi, di sana toiletnya!" jawab Nara. Pria itu tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih!" Nara mengangguk, lalu dia kembali membersihkan meja itu setelah itu dia membersihkan meja lain.


Tapi dia menemukan dompet yang tertinggal di salah satu meja. "Punya siapa nih?" gumam Nara sambil mengambil dompet itu.


Nara celingak-celinguk mencari siapa yang tadi duduk di sini. Dia tidak memperhatikan siapa orang yang duduk di sini, jadi dia tidak tau siapa pemilik dompet ini.


Tak lama Tika menghampirinya. "Cari siapa Ra?" tanya Tika yang melihat Nara celingak-celinguk.


"Nih, ada dompet yang ketinggalan, kamu tau siapa yang duduk di sini?" Tika menggeleng.


"Ya udah deh, nanti kita kasih aja ke pak Derry. Biar dia yang urus!" Tika mengangguk.


Nara melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai, dia menuju ruang pak Derry untuk menyerahkan dompet pelanggan yang tertinggal. Tapi dia baru ingat jika tadi pak Derry pamit keluar karena ada urusan mendadak.


Akhirnya Nara menyimpan dompet itu di saku celananya dan akan menyerahkan jika pak Derry sudah datang.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2