
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Nara, Arga dan keluarga Fahmi sudah berada di rumah sakit kota. Keadaan Argan kritis dia juga membutuhkan donor darah karena kehilangan banyak darah. Arga dengan sigap mendonorkan darah untuk putranya, karena kebetulan darah mereka sama.
Tak beda dengan Argan Fahmi pun kritis dan masih di ruang ICU, isak tangis tak henti keluar dari Nara dan Bu Mimin melihat putra-putranya terbaring lemah dengan alat medis terpasang di tubuh mereka.
"Sayang ini bunda nak, bangun sayang, jagoan bunda harus kuat! Jagoan bunda harus sembuh!" Nara menggenggam tangan mungil milik Argan sambil menciuminya.
Hati Nara teriris melihat wajah putranya yang pucat dan tubuh mungilnya terbaring tak berdaya dengan mata yang terpejam..
"Jangan tinggalin bunda nak! Bunda gak mau kehilangan kamu. Kamu harus kuat sayang!" Nara menempelkan tangan mungil Argan ke pipinya.
Air mata mengalir deras membasahi pipinya, dadanya terasa sesak dan berat melihat putra semata wayangnya terluka.
Tak lama Arga menghampirinya setelah selesai pemeriksaan dan mendonorkan darahnya.
"Sayang!" Nara menoleh saat Arga memanggilnya.
Arga menghampirinya dan merengkuh Nara ke dalam dekapannya.
"Kita terus berdoa ya sayang dan yakin jagoan kita pasti akan sembuh dan kembali pada kita!" ucap Arga sambil mengusap kepala Nara.
Nara membenamkan wajahnya di perut Arga, karena posisinya Nara sedang duduk dan Arga berdiri.
"Aku gak mau kehilangan Argan mas. Aku gak mau!"
Arga berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Nara. Arga menangkup kedua pipi Nara sambil menyeka air mata yang mengalir.
"Percayalah sayang. Putra kita kuat dia pasti akan sembuh. Mas janji akan selalu ada buat kamu dan putra kita!"
Nara memeluk Arga, beruntungnya ada Arga yang memberinya kekuatan di saat dia lemah seperti sekarang.
"Makasih mas!"
"Ini tugas mas untuk jaga kalian, kamu tidak perlu berterima kasih sayang. Maafin mas karena selama ini udah menelantarkan kalian!"
Nara mengeratkan pelukannya. Tak lama pak Harun masuk. Nara dan Arga melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Pak gimana keadaan a Fahmi?" tanya Nara.
"Fahmi udah sadar neng dan dia ingin bertemu neng!" jawab pak Harun.
Nara menatap Argan. "Biar mas yang jagain adek!" ucap Arga.
Nara mengangguk, sebelum pergi Nara mengecup kepala Argan setelah itu dia keluar bersama Pak Harun.
Sesampainya didepan ruang ICU Bu Mimin dan Fahri sedang duduk. Nara hanya mengangguk untuk menyapa mereka lalu masuk, sebelum menemui Fahmi Nara memakai baju steril terlebih dahulu.
Nara menatap Fahmi yang sama-sama terbaring tak berdaya, matanya terbuka perlahan saat Nara menghampirinya dia seperti merasakan kehadiran Nara. Fahmi tersenyum saat melihat Nara, hatinya menghangat saat melihat wanita yang di cintainya.
Nara duduk di kursi dan menatap Fahmi. "Maafin aku a, ini semua gara-gara aku. Andai aja aku gak pernah hadir dalam kehidupan kamu, kamu gak bakal seperti ini!" Isak Nara.
Air mata Fahmi menetes, sungguh dia tidak sanggup melihat wanita yang dia cintai menangis, dia juga tau wanitanya terluka karena putra kesayangannya juga terluka.
Tangan Fahmi terangkat dan mengusap air mata Nara, lalu dia melepas oksigen yang melekat di mulutnya.
"Maafin aa neng!" ucapnya lirih.
Nara menatap Fahmi, tatapan Fahmi tidak pernah berubah selalu menatapnya lembut dan penuh cinta.
"Ini bukan salah kamu neng, tapi ini salah aa. Maaf aa udah bikin putra kita terluka, maaf aa udah bikin neng terluka, maaf aa gak bisa jagain putra kita," air mata Fahmi mengalir deras.
"Maaf aa udah egois neng sampe putra kita harus terluka!" Mata Fahmi terpejam sesaat menahan rasa sakit bukan hanya di tubuhnya tapi juga di hatinya.
Dia teringat dengan kecelakaan yang menimpa mereka karena bus yang dia tumpangi mengalami rem blong. Sekuat tenaga dia berusaha melindungi putranya, tapi tetap saja putranya terluka.
Nara menempelkan tangan Fahmi di pipinya. Dia tidak sanggup berkata-kata lagi, dia merasa jadi wanita jahat karena sudah melukai perasaan pria yang mencintainya dengan sangat tulus bahkan menjaganya dengan tulus.
"Terima kasih neng, kamu udah hadir dalam hidup aa. Aa sangat bahagia dengan kehadiran kamu, kamu juga udah kasih jagoan kecil buat aa. Aa bahagia pernah memiliki kalian, aa bahagia pernah menjadi bagian dari kalian!" Fahmi berucap dengan nafas yang mulai agak sulit.
"Maafin aku!" lirih Nara. Fahmi tersenyum dan mengusap pipi Nara.
"Aku sayang sama kamu," lanjutnya. Fahmi tau Nara menyayanginya tapi tidak mencintainya.
"Jaga putra kita ya neng, maaf aa gak bisa jagain kalian lagi!" Nara menggeleng.
"Aa udah janji bakal membesarkan putra kita sama-sama. Aa harus kuat, aa harus sembuh. Aa harus lihat Argan tumbuh besar," pinta Nara, air mata mengalir deras.
Fahmi tersenyum tentu dia ingin sekali, tapi dia merasa waktunya sudah tidak banyak.
"Aa seneng, neng bisa berkumpul lagi dengan suami neng itu berarti jika aa pergi, aa bisa tenang karena sudah ada yang jagain kalian, kalian harus hidup bahagia, jangan kabur-kaburan lagi ya!" ucap Fahmi tersenyum lega.
__ADS_1
"Enggak, aa gak boleh pergi kemana-mana. Aa udah janji bakal jagain aku sama Argan. Aa harus kuat, aa harus jagain kami, jangan pergi!" tangisan Nara semakin pecah. Fahmi tersenyum getir sambil terus mengusap pipi Nara.
Nafasnya mulai terasa sesak, tapi dia menahan sebisanya dia masih ingin melihat dan berbicara dengan wanitanya.
Fahmi menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Nara.
"Aku mencintai kamu Nara. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku, terima kasih sudah mengizinkan aku untuk mencintai kamu!" ucapnya entah kenapa dia bicara dengan begitu tenang dan santai, tidak seperti sebelumnya yang terasa berat.
Nara menatap Fahmi, pria itu begitu tulus mencintainya, begitu tulus menjaganya tapi dia sudah menyakitinya. Nara merasa bersalah sudah menyakiti pria sebaik Fahmi.
Nara beranjak lalu dia mendekat pada Fahmi dan mencium bibir Fahmi, cukup lama Nara memberinya ciuman itu untuk pria yang mencintainya dengan tulus.
Setelah melepaskan kecupannya Nara menatap mata Fahmi yang tatapannya sudah mulai redup, namun bibirnya tersenyum lembut menatapnya.
"Aku juga mencintai kamu Fahmi Pratama!" ucap Nara. Fahmi tersenyum bahagia mendengar ucapan cinta dari wanitanya meski dia tau Nara melakukannya untuk membahagiakannya.
Dia memang mencintai Fahmi, meski rasa itu mungkin berbeda saat dia mencintai Arga. Entahlah cinta seperti apa yang dia punya untuk Fahmi? Yang pasti saat bersama Fahmi Nara merasa nyaman dan bahagia.
Nara merebahkan kepalanya di dada Fahmi, dada itu yang selama ini menjadi sandarannya saat dia gelisah dan sedih selama dua tahun lebih ini.
"Aku mohon berjuanglah demi putra kita!" ucap Nara.
Fahmi tersenyum dan mengusap-usap kepala Nara. Hatinya terasa sangat bahagia, tenang dan damai. Dia merasa lega untuk meninggalkan dunia ini, keluarganya, putranya dan wanitanya.
Sampai akhirnya Nara tidak merasakan lagi belain Fahmi di kepalanya dan detak jantung Fahmi semakin melemah.
Nara mengangkat kepalanya, mata Fahmi terpejam, wajahnya begitu tenang meski terlihat sangat pucat.
"A!" Nara menepuk pelan pipi Fahmi.
"Aa bangun, jangan tinggalin aku sama Argan aku mohon. Apa yang harus ku katakan kalo Argan nanyain kamu?" Nara membingkai wajah yang sudah sangat pucat dan juga dingin.
"Aku mohon bangun jangan tinggalin aku. Maafin aku a Fahmi, bangun, bangun Argan butuh kamu!" Nara sedikit mengguncang tubuh Fahmi, namun tetap tak bergeming.
"Aa.." pekik Nara dia memeluk erat raga yang sudah tak bernyawa lagi.
Tak lama dokter dan suster datang, suster langsung membawa Nara keluar dan dokter memeriksa Fahmi.
Sesampainya di luar Nara ambruk dan tidak sadarkan diri.
"Nara!" pekik pak Harun dan Bu Mimin.
Bersambung..
__ADS_1