
Halo semua apa kabar? Sudah lama banget aku hiatus. Pasti udah pada kabur ya nih reader. Mau lanjut pun ragu, lanjut apa enggak ya atau aku buat cerita baru aja gitu tapi sayang ini kalau tidak di lanjut.
Menurut kalian lanjut apa enggak nih? Kalian pasti udah lupa ceritanya ya?
Terakhir Nana dan Rega celaka. Masih penasaran gak sih lanjutannya? Terus mereka selamat apa enggak menurut kalian? Untuk bab ini aku up sedikit. Sekalian nunggu komentar kalian lanjut apa enggak
...----------------...
Nara khawatir karena sudah hampir tengah malam, sahabatnya atau adik iparnya itu belum juga pulang.
Dia sudah menghubungi Arga, dan Arga pun berjanji akan menyusul Nana ke kantornya. Nara masih mondar-mandir di ruang tamu dengan perasaan khawatir dan cemas. Dia takut terjadi sesuatu seperti waktu lalu saat dia kecelakaan, untungnya Rega yang menolongnya.
Tak lama anaknya Argan bangun karena haus. Dia menghampiri sang ibu dan memeluk kaki sang ibu.
"Nda!"
"Sayang, kok bangun?"
Nara langsung menggendong jagoan kecilnya, lalu menciumnya gemas. Matanya bengkak karena baru bangun tidur, badannya juga terlihat lemas mungkin karena masih mengantuk.
"Aus!" jawabnya.
Nara mengajak Argan ke dapur untuk membuat susu. Sambil menunggu suami dan adik iparnya pulang, dia akan menidurkan Argan. Setelah selesai Argan langsung mengajak ke kamar untuk tidur.
"Bobo, nda!"
"Iya sayang, bobo lagi ya!"
Nara menidurkan Argan namun pikirannya masih tertuju pada Nana. Dia khawatir, dia benar-benar merasa punya adik yang selalu membuatnya khawatir, meski usia mereka sama tapi Nana memang cenderung lebih manja di banding Nara. Tiba-tiba dia ingat Rega, mudah-mudahan Nana ada di sana, pikirnya.
Setelah Argan kembali terlelap. Nara beranjak dan ingin menghubungi Rega, tapi nomer Rega tidak bisa di hubungi. Tak lama teleponnya berdering.
Mas Arga Calling..
Nara menarik nafas, semoga suaminya membawa kabar baik.
"Halo mas! Gimana mas? Nana ada di kantor?" tanyaku tak sabar.
"Halo sayang! Tadi mas Sudah tanya pada security yang jaga malam, katanya Nana sudah pulang. Dia di jemput laki-laki kata pak Security!" jawab Arga.
"Itu pasti mas Rega, mas. Coba kamu ke rumah mas Rega. Aku gak tenang sebelum mendapatkan kabar dari Nana mas!"
__ADS_1
"Iya sayang, ini mas mau ke sana!"
Setelah menenangkan istrinya untuk berpikir positif. Arga memutuskan sambungan telepon. Dia langsung melaju menuju rumah Rega.
Sekitar tiga puluh menit, dia sampai di perumahan tempat tinggal Rega. Tapi karena sudah malam rumah itu terlihat sepi.
Arga turun dan menekan bel yang terletak tak jauh dari pagar. Tak lama seorang satpam berlari tergopoh menghampiri Arga.
"Ada yang bisa saya bantu pak?!" tanya satpam itu.
"Maaf pak, saya ingin bertemu pak Rega!" jawab Arga.
"Pak Rega tidak ada pak, tadi yang saya dengar pak Rega kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit."
Deg!
Jantung Arga berdetak kencang, jika benar Nana bersama Rega. Itu berarti Nana juga mengalami kecelakaan, pikir Arga.
"Rumah sakitnya di mana ya pak?"
"Husada Nusa!"
Sekitar empat puluh menit Arga sampai, rumah sakit yang di tuju adalah rumah sakit yang dekat dengan rumahnya. Arga yakin, Rega memang sengaja mengantar Nana pulang ke rumah tapi mereka malah kecelakaan.
Sesampainya di sana, Arga langsung menanyakan adiknya. Di mana dia di rawat.
"Sus, pasien bernama Nana Maulida. Kasus kecelakaan di rawat di mana?"
"Sebentar pak, saya cek dulu!"
Suster pun terlihat memainkan komputer yang ada di depannya.
"Maaf pak, tidak ada pasien bernama Nana Maulida!" ujar Suster itu.
Arga mengerutkan keningnya bingung. Tidak mungkin tidak ada nama adiknya. Pasti saat kecelakaan identitas adiknya juga di temukan.
"Suster yakin, coba periksa lagi. Tadi saya dapet kabar adik saya kecelakaan dan dia ada di rumah sakit ini!"
Suster kembali mengecek, namun jawabannya sama tidak ada pasien bernama Nana Maulida. Akhirnya Arga menanyakan Pasien bernama Rega.
"Rega Sebastian?" tanya Suster. Arga mengangguk cepat.
__ADS_1
"Dia masih di ruang ICU pak. Silahkan bapak lurus belok kiri lalu belok kanan. Nanti bapak akan menemukan ruang ICU."
"Terima kasih Sus!"
Arga bergegas, menuju ruang ICU. Dia merasa ada yang janggal, kenapa tidak ada adiknya dalam kecelakaan itu?
"Ya ampun Na, jangan bikin Abang tambah khawatir!"
Tak lama dia sampai ke ruang ICU. Di sana sudah ada suami istri paruh baya, juga seorang gadis muda dan gadis kecil yang tak lain adalah Rere. Dia sedang menangis dalam pelukan Reva.
"Permisi!"
Semuanya menoleh, saat Arga memanggil. "Om, Arga!" ucap Rere.
"Gimana keadaan papi?" tanya Arga.
Rere hanya menggeleng tidak tau bagaimana keadaan ayahnya. Dia sendiri masih syok saat mendengar ayahnya mengalami kecelakaan.
Arga menatap kedua orangtua Rega. "Om, Tante! Saya ingin bicara, boleh?"
Mereka mengangguk, lalu mereka berjalan agak menjauh dari Rere dan Reva.
"Maaf om, Tante sebelumnya. Apa om dan Tante tau hubungan Rega dan gadis bernama Nana?" tanya Arga.
Dia tau hubungan Nana dan Rega baru saja mereka jalin, takutnya jika Arga langsung menanyakan Nana, mereka justru bingung dan tidak paham arah pembicaraan Arga.
Mereka mengangguk kompak. "Iya, Rega pernah bercerita pada kami!"
Arga menghembuskan nafas. "Kamu siapa?" tanya Bu Ingrid.
"Saya kakaknya Nana!"
Lalu Arga menceritakan dirinya yang sedang mencari adiknya. Karena belum pulang sampai sekarang, dan dia juga menceritakan saat ke kantor Nana dan kemungkaran Nana di jemput Rega, tapi dia shock saat tidak ada nama Nana di rumah sakit ini.
"Saya tidak tau, tapi kami memang di hubungi pihak kepolisian tentang kecelakaan Rega. Tapi polisi tidak menemukan korban lain selain Rega!" ujar papanya Rega.
Arga menghembuskan nafas berat. Lalu kemana Nana? Jika dia bersama Rega, kenapa dia tidak ada dalam kecelakaan itu?
Pikiran Arga semakin kacau dan kalut. Sedari tadi ponselnya terus bergetar. Dia tau itu pasti istrinya yang sedang menunggu kabar darinya.
Bersambung..
__ADS_1