Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Pertemuan kembali 2


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Rafi menghampiri Arga yang sudah mulai memberi sambutan kepada para warga. Rafi menunggu Arga selesai memberi sambutan. Setelah selesai Rafi menghampiri Arga dan membisikkan sesuatu.


Mata Arga membulat saat mendengar bisikan dari Rafi. Lalu dia celingak-celinguk ke sekitar.


"Kamu serius?" bisik Arga. Rafi mengangguk.


"Di mana?"


"Di depan!" jawab Rafi.


"Kamu urus acara ini, saya akan menyusulnya!"


"Baik pak!"


Arga beranjak dan pamit pada warga. Arga berjalan cepat ke depan bale desa, dia celingak-celinguk mencari keberadaan sang istri yang di lihat asistennya itu.


Arga berjalan menjauh dari bale desa, dia mencari di mana keberadaan istrinya. Tapi dia tidak menemukan istrinya.


"Awas aja raf, kalo kamu bohong! Akan ku pecat kamu!" gerutunya kesal karena tidak menemukan istrinya.


Arga terus berjalan berharap bisa menemukan istrinya. Saat dia berpapasan dengan warga yang ingin ke bale desa, Arga bertanya sambil memperlihatkan foto Nara.


"Loh ini kan neng Nara. Anak angkatnya pak Harun dan Bu Mimin!"


"Ibu tau di mana tempat tinggalnya?" tanya Arga. Ibu itu mengangguk sambil menunjukkan arah rumah Nara.


Arga tersenyum, tidak sia-sia dia kesini. Ternyata dia mendapatkan kabar bagus.


Arga berjalan menuju rumah yang di tunjukkan ibu tadi. Tak lama dia sampai, dia menatap rumah itu. Terlihat seorang pria sedang memangku anak kecil sambil mengajaknya bermain di depan rumah. Arga terkejut saat melihat anak kecil itu, karena wajahnya sangat mirip dengannya.


"Siapa anak kecil itu? Kenapa dia sangat mirip dengan ku? Apa dia anakku? Apa saat Nara pergi dia sedang mengandung?" Berbagai pertanyaan memenuhi otaknya.


Arga masih mematung di depan rumah itu, hingga akhirnya seorang wanita keluar membawa segelas air. Wanita itu mematung sambil menatap pria yang ada di depan rumahnya. Dan seketika gelas yang dia pegang jatuh dan pecah, membuat pria yang sedang memangku anak kecil itu kaget.


"Neng Kenapa?" tanyanya.


Nara mematung sambil menatap tajam Arga, dadanya terasa sesak, bahkan air mata sudah lolos membasahi pipinya.


"Mas Arga!"


Fahmi yang bingung hanya menatap ke arah pandang Nara. Dia masih belum bisa mencerna situasi ini.

__ADS_1


Arga berjalan menghampiri Nara. Air mata pun sudah mengalir dari pelupuk matanya. Dia benar-benar tidak menyangka akan menemukan istrinya di sini, dia sangat merindukan istrinya.


Nara berusaha menguasai dirinya, meski dia masih syok dengan kehadiran Arga.


"Neng gak apa-apa?" tanya Fahmi.


"Ayo a kita masuk!" Nara menarik tangan Fahmi dan membawanya masuk.


Tapi Arga segera menahannya. "Nara! Mas mohon jangan pergi lagi!" ucap Arga sambil terisak, dia berlutut di hadapan Nara.


"Mas mohon jangan pergi sayang! Jangan tinggalin mas!"


Fahmi yang mulai mengerti dengan situasi ini menghela nafas berat.


"Pergi mas, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi!" ucap Nara sungguh hatinya sangat sakit mengatakan itu.


Fahmi membiarkan Nara bersama Arga dan membawa masuk Argan untuk menenangkan anak itu, karena bocah kecil itu menangis saat melihat bundanya menangis.


"Enggak Nara! Kamu masih istri mas, mas belum pernah menalak kamu dan itu tidak akan pernah terjadi! Kamu akan menjadi istri mas selamanya. Jangan pergi, mas mohon, jangan siksa mas lagi!" lirih Arga sambil menggenggam tangan Nara.


Arga beranjak lalu dia memeluk erat tubuh Nara. Sungguh dia tidak akan pernah melepaskan Nara lagi, dia sangat merindukan istrinya.


Fahmi menatap Nara dari balik jendela, kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Impiannya untuk memiliki Nara semakin jauh, apa lagi sekarang ada suaminya. Fahmi tidak pernah menyangka jika bos perusahaan itu adalah suaminya Nara.


"Neng aa sayang sama neng dan Argan. Aa sudah menganggap Argan seperti anak aa sendiri. Aa gak mau kehilangan kalian, aa sangat mencintai kalian, jangan pergi!" gumam Fahmi sendu.


Fahmi memalingkan wajahnya, saat Arga mencium bibir Nara. Dua tahun lebih kebersamaan mereka, Fahmi sangat mencintai dan menyayangi Nara melebihi dirinya sendiri, meski Nara hanya menganggapnya sebagai kakak.


"Apa aa sanggup kehilangan kalian?" lirih Fahmi.


"Jangan tinggalin ayah nak. Ayah gak mau kehilangan kamu!" ucapnya sambil menatap Argan. Bocah kecil itu sedang merebahkan kepalanya di pundak Fahmi dengan mata yang mulai terpejam.


Arga yang begitu merindukan istrinya. Dia langsung memangut bibir Nara, dia melu*at dan menyesapnya dalam. Tapi Arga kecewa karena Nara tidak membalas ciumannya.


Arga melepaskan bibirnya dan menatap Nara sambil menangkup kedua pipi Nara.


"Apa kamu tidak rindu sama mas?" tanya Arga. Nara memalingkan wajahnya.


Dia tidak tau bagaimana harus bersikap. Rindu? Tentu saja dia sangat merindukan suaminya itu, dua tahun lebih dia berpisah dengan Arga. Tentu dia sangat merindukannya.


Tapi sekarang keadaannya berbeda. Meski dia masih istrinya Arga, tapi Nara sudah bertekad akan melupakan masa lalunya.


"Pergilah mas! Dan sebaiknya ceraikan aku!"


Ucapan Nara benar-benar menghantam dada Arga, sesak dan sakit. Tentu saja dia sangat kecewa, selama dua tahun ini dia bersusah payah untuk mencari keberadaan istrinya, kenapa di saat dia menemukannya? Dia harus mendengar ucapan yang menyakitkan.


"Tidak akan! Mas tidak akan pernah menceraikan kamu. Selamanya kamu akan tetap menjadi istri mas!"


"Cukup mas! Kamu juga harus pikirin perasaan aku. Aku gak mau terus-terusan jadi yang kedua. Sebaiknya sekarang kamu pergi, istri dan anak kamu pasti sedang menunggu!" sentak Nara sambil mendorong Arga.

__ADS_1


Nara bergegas masuk dan mengunci pintu. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Sungguh dia sangat merindukan Arga, tapi dia tidak mau di jadikan yang kedua oleh pria itu.


"Neng!" panggil Fahmi. Nara segera menghapus air matanya.


"Argan mana a?" tanya Nara.


"Dia tidur di kamar!" Fahmi menghampiri Nara, lalu dia memeluk Nara. Nara menumpahkan air matanya dalam pelukan Fahmi.


"Apa yang harus aku lakukan a? Aku masih sangat mencintainya, tapi aku gak mau terus-terusan jadi yang kedua!" Isak Nara.


Hati Fahmi terasa tercubit, mendengar Nara masih mencintai suaminya. Harapannya semakin melambung jauh untuk memiliki Nara.


Fahmi melepaskan pelukannya dan menatap Nara. Ingin sekali dia mengatakan bahwa dirinya sangat mencintainya.


Fahmi menyeka air mata Nara. "Udah neng jangan nangis lagi. Aa gak mau liat neng nangis!"


Nara kembali memeluk Fahmi. Selama dua tahun ini, pria itu yang selalu menjaganya, bahkan dia yang mendampinginya saat melahirkan Argan. Nara tau jika Fahmi mencintainya, meski Fahmi tidak pernah mengatakannya. Nara tau dari sorot mata Fahmi yang selalu memandangnya penuh cinta.


"Maafin aku a. Aku gak bisa membalas perasaan kamu!" batin Nara.


Fahmi memeluk erat Nara. Dia berusaha menahan air matanya.


"Jangan tinggalin aa neng. Aa gak mau kehilangan kamu!" batin Fahmi.


Fahmi melepaskan pelukannya. "Neng temenin Argan tidur aja! Aa harus kembali ke bale desa!" ucap Fahmi dia berusaha tegar meski hatinya sedang tidak baik.


Nara menatap Fahmi. Dia masih kepikiran dengan Arga, apa pria itu akan menyerah? Tentu saja tidak! Nara tau betul bagaimana kegigihan Arga, dia tidak akan menyerah untuk terus memohon kepadanya.


"A aku boleh minta tolong gak?" tanya Nara.


"Apa?"


"Aa mau gak pura-pura jadi calon suami aku?" tanya Nara.


Hati Fahmi semakin teriris mendengar permintaan Nara. Pura-pura!! Bukan itu yang dia inginkan, dia ingin Nara benar-benar menjadi istrinya.


Nara menatap Fahmi yang terdiam. Nara tau permintaannya ini sangat melukai Fahmi. Tapi tidak ada cara lain, Nara melakukannya agar Arga menjauh darinya, untuk saat ini dia benar-benar tidak ingin berurusan dengan Arga.


"Neng!" Nara menatap Fahmi.


Fahmi yang sudah tidak tahan lagi, dia langsung menarik kepala Nara dan mencium bibirnya. Nara terbelalak kaget, dia tidak menyangka Fahmi akan melakukan itu. Melihat Nara terdiam, Fahmi melumatt dan menyesap bibir Nara lebih dalam, dia menggigit bibir bawah Nara hingga mulutnya terbuka, Fahmi menelusuri rongga mulut Nara dengan lidahnya. Nara hanya terdiam membeku dan masih syok.


Setelah kesadarannya kembali, Nara berusaha melepaskan ciuman Fahmi, dia memukul-mukul dada Fahmi agar dia melepaskan ciumannya.


Fahmi melepaskan pagutan bibirnya dan menatap wanita yang di cintainya.


"Maaf!" lirih Fahmi sambil menunduk, dia benar-benar tidak bisa menahan diri.


"Kamu tau aku sangat mencintai kamu Nara. Aku mencintai kamu dan juga Argan, aku gak mau kehilangan kalian!" ucap Fahmi.

__ADS_1


Nara terkulai lemas. Dia benar-benar menyesal telah meminta Fahmi untuk pura-pura menjadi calon suaminya. Lebih baik Fahmi tidak pernah mengatakan cintanya, karena sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa membalas perasaan Fahmi. Dia tidak ingin hubungannya dengan Fahmi renggang gara-gara ungkapan perasaan Fahmi padanya.


Bersambung..


__ADS_2