
Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya Arga sekeluarga sampai di rumah. Argan sudah bangun namun kembali tidur saat sampai rumah, Nara langsung menaruh putranya di kasur, setelah itu mengecup kening putranya.
Nara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, rasa rindu menggelayut di hatinya. Nara tersenyum, dia berpikir dia tidak akan pernah kembali ke rumah dan kamar itu lagi.
"Sayang!" Nara menoleh saat Arga memanggilnya.
"Iya mas,"
Arga mendekat pada Nara dan langsung memeluk erat tubuh istrinya.
"Terima kasih sayang, mau kembali pulang ke rumah ini."
Nara sedikit merenggangkan pelukannya lalu mendongak menatap suaminya, Arga pun menunduk melihat wajah istrinya.
"Aku istrimu mas, tentu aku akan ikut denganmu. Apa lagi sekarang aku cuma punya kamu dan Argan, aku gak mau kehilangan kalian. Aku sayang kalian, kalian harta paling berharga untukku."
Arga tersenyum mendengar ucapan istrinya lalu dia mencium kening Nara lembut dan penuh kasih sayang.
"Mas juga sayang kalian, mas juga gak mau kehilangan kalian. Mas mohon jangan pergi lagi, jangan tinggalin mas lagi. Mas gak sanggup jika harus kehilangan kalian lagi, jika kalian pergi lebih baik mas mati!"
"Kamu ngomong apa sih mas, kamu gak boleh ngomong kayak gitu. Aku gak akan meninggalkan kamu. Karena saat jauh dari kamu itu sangat menyakitkan."
Arga tersenyum dan mengeratkan pelukannya sambil mengecup puncak kepala Nara.
***
"Please pa, aku mohon ijinin aku kembali ke Jakarta. Aku gak mau cowok gila itu terus mengejar ku. Aku lelah pa, aku sudah menolaknya berkali-kali tapi tetap saja mengejar!" mohon Nana pada papanya.
Pak Yusril tampak menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Perusahaan biar Niki yang handle, dia sudah waktunya belajar mengurus perusahaan. Biar aku yang urus perusahaan di Jakarta. Papa kan tau bang Arga sudah mengundurkan diri dari perusahaan. Jadi aku mohon pa izinin aku kembali ke Jakarta, nanti aku akan tinggal sama bang Arga biar papa gak khawatir." ucap Nana panjang lebar dia terus berusaha membujuk papanya agar mengizinkan dirinya ke Jakarta.
Pak Yusril nampak terdiam, dia sebenarnya tidak ingin lagi putri sulungnya itu kembali ke Jakarta karena mengkhawatirkannya dan juga tak ingin jauh dari putrinya.
Nana terlihat cemas, dia takut papanya tidak mengizinkan. Dalam hatinya terus berdoa semoga papanya mengizinkannya.
Setelah beberapa menit terdiam pak Yusril nampak menarik nafas panjang, lalu menatap putrinya.
"Baik papa izinkan, asal dengan satu syarat!"
"Syarat? Syarat apa pa?!" tanya Nana dengan alis yang bertaut.
"Kamu harus jaga diri baik-baik dan jangan sekali-kali kasih papa kabar buruk tentang mu."
Nana tersenyum dan langsung berhambur ke pelukan papanya.
"Aku janji akan jaga diri baik-baik, aku janji pa dan aku hanya akan mengabari papa kabar baik saja."
Pak Yusril mengusap punggung anaknya lembut dan mengangguk.
Setelah itu Nana melepaskan pelukannya.
"Pokoknya papa harus jaga kesehatan, dan perusahaan biar Niki yang urus!"
"Iya nak." Pak Yusril nampak berat melepaskan lagi anaknya meski sekarang Nana sudah dewasa tetap saja rasa khawatir selalu ada, seperti dulu saat kuliah dia sebenarnya melarang tapi lagi-lagi Nana berhasil membujuknya.
Akhirnya setelah drama meminta izin selesai, Nana langsung mempersiapkan baju ke koper. Bibirnya tersenyum manis, bahagia karena akan menjauh dari cowok gila yang tak pernah berhenti mengejarnya, bahagia karena akan bertemu sahabatnya.
"Jakarta, i'm coming!!"
__ADS_1
***
Nana mengendarai mobil seorang diri ke Jakarta, tapi Nana nampak khawatir karena sedari tadi seperti ada yang mengikutinya bahkan saat di tol pun dia merasa ada yang mengikuti. Tapi dia berusaha tenang dan tidak panik.
Nana terus memperhatikan dari spion dan mobil itu memang terus di belakang mobil Nana. Nana berusaha tenang dan tidak panik. Tapi tetap saja jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin perlahan keluar membasahi wajahnya, karena ketakutan.
"Tidak mungkin dia kan?! Rasanya tidak mungkin, dari mana dia tau aku ke Jakarta?! Aku sengaja pergi diam-diam dan hanya papa dan Niki yang tau!"
Karena rasa panik yang mulai mendera akhirnya Nana memutuskan menuju kantor polisi. Nana takut dia orang jahat yang ingin mencelakainya. Akhirnya dia ke kantor polisi apa mobil itu tetap akan mengikutinya atau tidak?
Nana melihat kantor polisi terdekat dia langsung melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Mobil yang mengikutinya berhenti kala mobil Nana masuk kantor polisi. Mobil itu terdiam sejenak, lalu melaju meninggalkan kantor polisi.
Nana bernafas lega, dia melihat mobil itu sudah pergi.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu mobil dan Seketika membuat Nana kaget karena pikirannya sedang tidak baik. Nana membuka kaca mobil ternyata seorang polisi yang mengetuk kaca mobil.
"Selamat siang Bu!"
"Siang pak!"
"Eh, Nana!" ucapnya kaget.
"Rama!" Nana tak kalah kaget.
"Kamu ngapain di sini? Ada perlu?!"
"Enggak Ram, tadi tuh ada yang ngikutin aku. Aku takut orang jahat jadi aku putusin ke sini!" ucap Nana menjelaskan.
Rama mengangguk mengerti. "Apa mau saya kawal?"
"Takutnya dia tidak pergi jauh, malah khawatir dia nunggu kamu. Itu bahaya Na!"
Nana nampak berpikir ada benarnya juga apa yang di katakan Rama, akhirnya Nana pun setuju di kawal Rama. Rama adalah teman saat SMP Nana dulu, ya meski mereka tidak terlalu dekat tapi mereka sering ketemu dan pernah satu kelompok.
Nana melajukan mobilnya di ikuti Rama di belakang, untung saja rumah Arga sedikit lagi sampai. Sekitar dua puluh lima menit lebih Nana sampai di rumah Arga.
Sebelum masuk, Nana keluar dan mengucapkan terima kasih pada Rama.
"Makasih ya Ram, udah bantuin aku!"
"Tenang aja kali na, itu sudah tugas aku untuk melayani dan melindungi masyarakat."
Nana tersenyum. "Aku gak nyangka kamu jadi polisi, padahal dulu cita-cita kamu jadi pilot!"
"Ceritanya panjang na, kenapa aku rubah cita-cita ku, lain kali aku cerita. Aku minta nomor hape kamu, boleh?!"
"Boleh dong."
Akhirnya mereka pun bertukar nomer ponsel. Setelah memastikan Nana aman, Rama pamit buat kembali ke kantor.
Nana langsung mengklakson saat di depan pagar rumah Arga. Tak lama terdengar suara langkah kaki. Seorang satpam membukakan pagar.
Nana memasukan mobilnya. Lalu keluar dari mobil dan meminta pak satpam untuk mengeluarkan kopernya untung pak satpam sudah mengenal Nana jadi tidak perlu banyak tanya.
Nana memencet bel, tak lama seseorang membukakan pintu ternyata bi Inah.
"Eh, non Nana kirain siapa?"
__ADS_1
"Iya bi, Abang ada?"
"Ada non, Non Nara juga ada!"
Nana tersenyum, lalu dia masuk di ikuti pak satpam membawa koper.
"Taro aja di situ pak. Terima kasih!"
"Sama-sama non, kalo gitu saya pamit keluar!"
Nana mengangguk. Dia langsung menyenderkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata, merasa lelah di tambah rasa panik dan takut. Nafasnya masih terasa ngos-ngosan seperti habis lari di kejar anjing.
"Nana!"
Nana membuka mata, matanya berbinar dan tersenyum kala melihat sahabat yang di rindukannya.
Mereka saling melepas rindu. "Aku kangen banget sama kamu!"
"Aku juga Ra, loe jangan pergi-pergi lagi jangan tinggalin gue. Loe tau gak gue stres loe pergi," ucap Nana.
"Ih, lebay!"
"Ish, beneran karena gue harus ngurus bayi besar yang uring-uringan terus, stres gue!"
Ucapan Nana membuat Nara bingung dan mengerutkan keningnya.
"Bayi besar? Siapa?"
"Ish, masa loe gak tau. Laki loe, gue stres dia uring-uringan terus, marah-marah Mulu gak jelas!"
Nara tergelak mendengar penjelasan Nana. Nana hanya mencebik sebal.
"Jagoan gue mana?"
"Tidur!"
"Yah!"
"Kalo Abang?"
"Sama, tidur."
Nana hanya menggelengkan kepalanya mendengar kakak dan keponakannya kompak.
"Bapak sama anak kompak amat!" Nara terkekeh.
"Kasian mereka habis perjalanan jauh." Nana mengangguk.
"Ya udah sama emaknya aja. Lagian aku masih kangen sama kamu,"
"Sip!"
Mereka tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawain?
Bersambung..
Maaf ya aku hiatus lama, soalnya aku malah drop. Ini juga masih agak lemes tapi aku usahain lanjutin cerita Nara. Tapi kali ini kita bakal fokus cerita Nana biar Nara bahagia. Kira-kira siapa ya jodoh Nana?
Terima kasih yang masih setia dengan cerita Renara.
__ADS_1