
Kisah Cinta Renara
By Un Kurniasih
Selamat Membaca
***
Arga masih memangut bibir Istrinya, dia benar-benar merindukan istrinya. Nara memukul-mukul dada Arga dan berusaha melepaskan ciuman Arga. Arga pun melepaskan pagutan bibirnya dan menatap istrinya.
"Kenapa sayang? Mas kangen banget sama kamu!" ucapnya sendu.
Nara menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh dia pun sangat merindukan suaminya, tapi rasa sakit di hatinya masih sangat terasa saat di bohongi oleh orang yang sangat di cintainya. Rasa sakit itu benar-benar membekas di hatinya.
Arga memeluk erat Nara. "Jangan pergi sayang. Jangan tinggalin mas, mas gak mau berpisah sama kamu!" lirih Arga.
Nara terdiam tanpa mengatakan apapun. Dia tidak tau harus bagaimana sekarang? Jujur dia juga tidak ingin berpisah dengan Arga. Tapi jika ingat Kebohongan dan pengkhianatan Arga, hati Nara benar-benar hancur. Arga membuka luka lama yang sudah susah payah dia sembuhkan.
Air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Tetaplah di samping mas. Jangan pergi sayang! Mas gak mau kehilangan kamu!"
Nara melepaskan pelukannya. Lalu menatap Arga dingin.
"Lupakan aku mas dan lebih baik kamu urus istri kamu!" entah ucapan itu lolos begitu saja dari mulutnya, meski hatinya sakit saat mengatakan itu.
Arga benar-benar teriris mendengar ucapan istrinya, dia tau kesalahannya fatal. Padahal dia tau bahwa istrinya itu trauma kebohongan dan pengkhianatan namun bodohnya dia malah melakukan itu, meski tidak sepenuhnya dia bersalah karena dia tidak pernah mengkhianati Nara. Tapi dia bersalah karena sudah membohongi Nara.
"Lupakan aku mas dan hiduplah bahagia bersama istri dan anak kamu. Aku ikhlas melepas kamu bersama Hana, lebih baik aku yang mundur. Aku gak mau hidup di cap seorang pelakor!" Isak Nara.
Arga menggeleng cepat, dia tidak sanggup kehilangan isterinya.
"Enggak, mas gak mau kehilangan kamu. Mas gak mau berpisah sama kamu sayang!"
Nara memalingkan wajahnya, dadanya terasa sesak dan berat. Beberapa saat Nara mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu dia kembali menatap Arga.
Entahlah bagaimana dia akan hidup tanpa Arga, tapi dia yakin bisa hidup tanpa Arga apa lagi sekarang ada janin di rahimnya, dia harus kuat demi anaknya.
Tapi jika dia pergi bagaimana nasib anaknya? Tentu saja dia tidak akan tega anaknya hidup tanpa ayah. Nara benar-benar dilema dan bingung, apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia bertahan dengan Arga namun dia harus siap untuk terluka lagi atau pergi menjauh dari suaminya dan membiarkan anaknya hidup tanpa ayah?
Arga meraup wajah Nara lalu menyeka air mata yang mengalir dari sudut matanya. Dia kembali menyesap bibir Nara yang sangat dia rindukan, Nara tak menolak karena dia pun sangat merindukan hangatnya kecupan sang suami.
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah? Aku masih ingin bersama suamiku, tapi aku takut akan terluka lagi dan juga rasa sakit yang di torehkan mas Arga belum bisa aku lupakan. Apa lagi suamiku masih mencintai istri pertamanya dan itu akan membuatku semakin terluka jika aku masih bersamanya. Apa yang harus aku lakukan Tuhan?!" batin Nara gelisah.
__ADS_1
Mereka mencurahkan kerinduan yang selama seminggu ini terpendam. Mereka tak perduli di mana mereka berada sekarang, beberapa orang melihat dan saling berbisik melihat kedua sejoli itu namun kedua insan itu menghiraukannya.
Seseorang yang terus menatap tajam ke arah mereka berdua terlihat geram, dengan kepalan tangan yang kuat, sehingga urat-urat menyembul keluar.
Dia menghampiri Arga dan Nara. "Arga!!" panggilnya dengan suara lantang.
Sontak membuat Arga dan Nara melepaskan pagutan bibir mereka. Arga dan Nara menoleh ke arah suara, terlihat seseorang dengan wajah yang yang memerah menahan amarah.
"Jadi ini wanita yang sudah merebut suami anak saya! Ini wanita penggodanya!" ucapnya lantang.
Membuat orang disekitar menatap ke arah mereka dan menatap sinis ke arah Nara dan Arga saat mendengarkan ucapan seseorang itu.
"Cukup mah! Nara bukan wanita seperti itu!" bantah Arga.
"Dasar wanita tidak tau diri! Pelakor! Wanita murahan, berani-beraninya kamu merusak rumah tangga anak saya!" sentak bu Hesti kesal.
Nara terpaku menatap wanita yang ada di hadapannya yang sedang melabraknya. Dadanya semakin bergemuruh tatkala melihatnya. Dia sangat mengenal wanita itu, karena wanita itulah yang menghancurkan keluarganya dan menyebabkan luka di hatinya dan ibunya. Dia lah Hesti yang merebut ayahnya dari sang ibu.
Hesti menatap tajam Nara. Dia terkesiap saat mengamati wajah Nara. Dia ingat dia pernah bertemu Nara saat di rumah sakit waktu Hana terapi.
"Tante Hesti!" gumam Nara pelan.
"Jadi Tante Hesti ibunya Hana. Apa Hana juga anak ayah? Apa Hana saudaraku? Apa ayah ada di sini?" batin Nara penuh tanya.
"Kamu kenal mama Hesti?" tanya Arga heran. Nara terdiam sambil terus menatap bu Hesti.
"Siapa dia? Kenapa dia tau namaku? Kenapa wajahnya tidak asing?" batin Hesti.
Sesaat mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Hingga suara dering ponsel membuyarkan lamunan mereka. Ternyata suara ponsel bu Hesti, dia mengangkat telponnya dan berbicara dengan seseorang di sebrang telpon.
Setelah selesai menelpon dia menatap Arga.
"Ayo Arga! Hana sudah sadar dan dia mencari kamu!" ucap bu Hesti.
"Dan kamu wanita murahan, jauhi menantu saya. Jangan ganggu rumah tangga anak saya, gara-gara kamu anak saya hampir bunuh diri!" pekik bu Hesti pada Nara.
"Mah cukup jangan bicara kasar sama Nara! Hana seperti itu bukan karena Nara!" ucap Arga tegas.
"Diam kamu Arga! Cepat temui Hana dia membutuhkanmu!" sentak bu Hesti.
"Enggak! Saya gak akan menemui Hana!" tegas Arga.
Arga menggenggam erat tangan Nara dan tak mau menuruti kemauan bu Hesti. Tapi bu Hesti menarik tangan Arga.
__ADS_1
"Lepas mah, saya gak mau bersikap kasar sama mama!" ucap Arga.
Nara terdiam dan melihat pertengkaran suami dan mertuanya. Akhirnya Nara yang mengalah dia melepaskan genggaman tangan Arga.
"Temui Hana mas dan lupakan aku!" Nara bergegas pergi meninggalkan Arga.
"Sayang tunggu!!" Arga ingin mengejar Nara tapi bu Hesti menahannya.
"Cukup Arga, saat ini Hana sedang membutuhkan kamu. Kamu yang sudah membuat Hana masuk rumah sakit!" pekik bu Hesti kesal. Arga semakin frustasi dengan keadaan yang semakin rumit.
Arga menatap Nara yang berjalan jauh sampai Nara masuk taksi dan hilang dari pandangannya.
"Ayo Arga!" pekik bu Hesti.
"Sayang mas janji, setelah urusan mas dengan Hana selesai, mas akan jemput kamu, tunggu mas sayang. Mas pasti akan jemput kamu!" batin Arga.
Akhirnya dia masuk ke rumah sakit, dia bertekad akan menyelesaikan masalahnya satu persatu, saat ini dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Hana, setelah semuanya selesai baru dia akan kembali ke pelukan Nara. Karena sampai kapanpun dia tidak akan pernah melepaskan Nara dia akan memperjuangkan Nara.
Bu Hesti menatap tajam ke arah Nara tadi pergi.
"Aku gak akan membiarkan kamu menghancurkan rumah tangga anakku, cewek sialan!" geram bu Hesti.
***
Nara menangis di dalam taksi. "Sudah tidak ada harapan lagi bunda sama ayah nak! Kamu harus kuat ya, kita akan hidup berdua. Kita pasti bisa hidup tanpa ayah. Bunda janji akan membahagiakan kamu sayang. Maafin bunda ya nak, bunda lebih memilih mundur dan menyerah. Bunda gak bisa bersama ayah lagi!"
Nara menangis sambil mengusap perutnya. Nara sudah bertekad akan menjauh dan akan pergi dari kehidupan Arga. Dia akan pergi keluar kota dan akan mencari kehidupan baru.
Setelah beberapa saat dia sampai di kontrakannya karena dia sudah tidak tinggal bersama Rega lagi, karena Vivi mengusirnya dari rumah Rega. Nara sadar diri dia bukan siapa-siapa di sana, jadi dia lebih memilih pergi dari pada harus berdebat dengan Vivi. Meski dia khawatir dengan Rere pasti gadis kecil itu akan mencarinya.
Rega tidak tau Nara pergi karena saat Vivi mengusirnya, Rega sedang berada di kampus dan Rere sedang di sekolahnya. Cuma bi Yayah dan satpam rumah yang tau Nara pergi.
Sesampainya di kontrakan, Nara langsung beres-beres. Dia akan langsung ke terminal dan tidak ingin menundanya lagi. Keputusannya sudah bulat untuk pergi keluar kota dan menjauh dari Arga.
"Maafin aku mas! Aku lebih baik mundur! Cukup, aku tidak ingin terluka lagi!"
Setelah semua beres, dia menemui pemilik kontrakan untuk mengembalikan kunci lalu dia kembali ke taksi yang menunggunya dan taksi pun melaju ke terminal.
"Selamat tinggal mas Arga, selamat tinggal Nana, selamat tinggal Rere dan mas Rega. Selamat tinggal kota kelahiran. Maaf aku harus pergi!!"
Bersambung..
...Duh aku gak tau beberapa hari ini otakku buntu! Jadi maaf kalo ceritanya makin ga jelas.. Kalo gak suka skip aja, jangan komen yang bikin othor down. Karena aku masih pemula jadi belum bisa bikin cerita menarik.. Aku masih belajar!!...
__ADS_1
...Terima kasih yang sudah dukung aku! Mohon maaf kalo ceritanya tidak bisa menghibur kalian.. 🙏🙏🙏...