Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Menyesal


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Nana baru saja akan terlelap setelah menyelesaikan tugas kuliahnya. Baru saja dia akan memasuki alam mimpi dia mendengar suara ketukan pintu. Nana membuka mata, lalu menatap jam di dinding, jam sebelas malam.


"Siapa yang malam-malam datang?" Gumamnya.


Tok! Tok! Tok!


Dengan malas Nana beranjak lalu keluar kamar dan membuka pintu depan.


"Nara!" Nana panik melihat Nara berdiri sambil menangis.


"Lo sama siapa ke sini? Bang Arga mana?"


Nara tak menjawab dia langsung memeluk Nana.


"Aku takut na, aku takut.." Isak Nara.


"Ayo kita masuk!" Nana mengajak Nara masuk.


"Gue ambil minum dulu ya!" Nana beranjak ke dapur.


Nara masih terisak dan menangis. Saat dia tersadar dari pingsannya, dia melihat Arga sedang tertidur pulas di sampingnya dan memeluknya.


Hatinya sakit saat melihat Arga, dia juga takut melihat Arga. Apa lagi saat mengingat kebrutalan Arga menyetubuhinya, Nara sangat takut melihat kemarahan suaminya.


Lalu dia melepaskan tangan Arga yang melingkar di perutnya, lalu dia beranjak. Nara berjalan perlahan sambil menahan rasa sakit di area sensitifnya. Dia berjalan keluar kamar, lalu dia mengambil tas dan ponselnya. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah meninggalkan Arga, dia masih takut melihat Arga. Lalu dia naik taksi dan pulang ke rumahnya.


Nana kembali membawa segelas air dan memberikannya pada Nara. Nara meminumnya, lalu menaruh gelasnya di meja.


"Ada apa sih Ra? Lo lagi berantem sama bang Arga?" tanya Nana.


Nara tak menjawab dia menunduk sambil menangis sesenggukan. Nana mendekat dan memeluk Nara.


"Ya udah kalo lo belum mau cerita, sebaiknya lo istirahat ini udah malam," ucap Nana.


Nana mengantar Nara ke kamarnya, tapi dia bingung melihat cara jalan Nara agak aneh. Tapi Nana belum mau menanyakannya, karena dia ingin membiarkan Nara tenang dulu.


"Ya udah lo tidur ya, kalo lo butuh sesuatu panggil gue!"


Nara tak menjawab, dia berbaring memiringkan tubuhnya. Air mata tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya.


Nana pun meninggalkan kamar Nara lalu masuk ke kamarnya. Nana mengambil ponsel di nakas.


Dia menelpon Arga, dia ingin tau apa yang terjadi dengan Nara. Kenapa Nara sampai menangis seperti itu? Tapi tak ada jawaban dari Arga.


"Lo kemana sih bang? Ngeselin banget!" gerutunya. Dia mencoba menelpon lagi, tapi tetap tak di angkat.


"Apa yang dia lakuin sama Nara? Awas aja lo Arga kalo lo nyakitin Nara. Gue gak bakal tinggal diem!" Kesal Nana.


Dia kembali berbaring dan melanjutkan mimpi yang tertunda tadi.


***


Dari ufuk timur cahaya kuning kemerahan menyembul keluar, mentari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya.


Arga terbangun, karena terganggu dengan suara ponselnya. Matanya masih terasa berat untuk di buka, tangannya meraba-raba mencari keberadaan ponselnya tapi dia tidak menemukannya, karena ponselnya ada di meja dekat tv.


Tangan Arga meraba sisi sampingnya, dia terus meraba-raba mencari keberadaan istrinya.


"Sayang!" Arga membuka mata saat tidak bisa menggapai tubuh istrinya.


Arga beranjak, dia panik karena istrinya tidak ada.

__ADS_1


Arga mencari-cari Nara. "Sayang kamu di mana?" Teriak Arga. Dia mencari ke seluruh ruangan apartemen tapi dia tidak menemukan Istrinya.


"Sayang kamu di mana? Jangan tinggalin mas, maafin mas sayang!" Arga mengacak rambutnya frustasi.


Dering ponsel terus berbunyi. Arga beranjak dan mengambil ponselnya, hanya bunyi alarm. Tapi banyak panggilan dari Nana, Hana dan juga Rafi. Arga pun bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu, karena masih ada waktu untuk sholat subuh.


Selesai sholat Arga bergegas ke rumah Nara karena dia yakin Nara ada di sana. Sepanjang perjalanan Arga terus berdoa semoga Nara bisa memaafkannya.


Sekitar dua puluh lima menit dia sampai di rumah Nara. Terlihat Nana sedang memanaskan motornya.


Arga menghampiri Nana. Nana menatap tajam Arga, tepat Arga berdiri di hadapannya.


Plaakk..


Tamparan keras dia layangkan ke pipi Arga. Arga memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan itu, lalu menatap tajam Nana.


"Gue udah bilang jangan pernah sakitin Nara. Kenapa lo sakitin dia??" Pekik Nana kesal.


Meski Nana tidak tau apa masalahnya karena Nara belum cerita apapun, tapi Nana yakin Arga sudah menyakiti Nara. Karena tidak mungkin Nara datang sendiri dalam keadaan menangis tadi malam.


"Lo apain dia Arga? Lo janji bakal jagain dia, tapi lo malah bikin dia nangis," pekik Nana kesal.


Arga tak menjawab dia masuk dan mencari Nara. Di kamarnya tidak ada, di dapur pun tidak ada. Arga menghela nafas, dia berbalik ke depan, tapi dia mendengar suara pintu terbuka ternyata dari kamar mandi.


Arga menoleh dia bernafas lega saat melihat istrinya. Nara mematung sambil menatap Arga, dia menahan air matanya agar tidak terjatuh.


"Mau apa mas ke sini?" Tanya Nara dingin. Nara berjalan perlahan mendekati Arga, area sensitifnya masih terasa sakit meski tidak sesakit kemarin.


Arga langsung memeluk Nara. "Maafin mas sayang, mas tau mas salah, mas khilaf sayang. Maafin mas udah nyakitin kamu. Mas hanya takut kehilangan kamu, mas gak mau kamu di ambil orang lain, mas gak rela. Maafin mas Nara!"


Nara tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memukul-mukul dada Arga.


"Mas jahat! Kenapa mas gak percaya sama aku? Aku gak selingkuh, aku bukan wanita murahan mas, kenapa mas gak percaya sama aku?"


Arga mengeratkan pelukannya. "Mas percaya sama kamu. Mas percaya sayang, maafin mas!"


Air mata pun mengalir dari pelupuk mata Arga. Dia sangat menyesal sudah menyakiti istrinya.


"Gue gak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka? Tapi gue harap mereka kembali baik-baik aja." batin Nana.


Arga melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Nara sambil menghapus jejak air matanya.


"Mas sayang sama kamu, mas cinta sama kamu, maafin mas!"


"Kalo mas cinta kenapa mas gak percaya sama aku? Kenapa mas lakuin itu sama aku? Sakit mas, sakit itu masih terasa," Isak Nara berderai air mata.


"Kamu boleh pukul mas, kamu boleh hukum mas. Tapi mas mohon maafin mas!"


Arga kembali memeluk istrinya, dia mengecup puncak kepala Nara. Nara melepaskan pelukan Arga.


"Sebaiknya mas pulang, biarin aku sendiri!" Ucap Nara kembali dingin.


"Mas gak mau pulang tanpa kamu, kita pulang sama-sama ya!" balas Arga sambil menggenggam tangan Nara.


Tapi Nara melepaskan genggaman Arga. "Aku bilang pulang mas. Biarin aku sendiri!"


Nara bergegas masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.


"Sayang mas mohon maafin mas. Ayo kita pulang sayang, kita bicarain ini!" Ucap Arga sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Nara.


Nara tak menggubris dia duduk di depan pintu sambil menyenderkan punggungnya ke pintu. Air mata mengalir deras membasahi pipinya.


"Sayang buka sayang. Maafin mas, mas mohon sayang!" Tubuh Arga pun merosot dan bersender di pintu.


"Mas tau mas salah. Mas khilaf sayang. Mas hanya takut kehilangan kamu, mas gak mau kamu di ambil orang." Ucap Arga sambil menitikkan air mata penyesalan.


Nana menatap lirih Arga. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka? Ya Tuhan semoga mereka baik-baik aja!" batin Nana.


Nana menghampiri Arga. "Bang sebaiknya biarin Nara tenang dulu, jangan paksain dia!" Ujar Nana.

__ADS_1


Arga beranjak lalu dia duduk di sofa. Nana mengikuti Arga dan ikut duduk.


"Sebenarnya kenapa sih bang? Apa yang terjadi?"


Arga terdiam dan mengusap wajahnya kasar. Lalu dia menyenderkan kepalanya di sofa.


"Baru kali ini gue liat bang Arga nangis!" gumam Nana dalam hati.


Arga sangat menyesal telah melakukan kesalahan besar pada istrinya. Dia berharap Nara memaafkannya, meski dia tau kesalahannya sulit untuk di maafkan.


Nana menghela nafas. "Ya udah deh bang, kalo lo gak mau cerita. Gue titip Nara, gue mau berangkat!" ujar Nana pamit.


Arga tak menjawab dia bersender sambil memejamkan matanya dengan pikiran kacau.


***


Seminggu berlalu, Nara masih mendiamkan Arga dan menghindarinya. Dia masih belum mau bicara dengannya meski Arga terus memohon.


Arga mengerti dengan sikap Nara, karena memang kesalahannya sulit untuk di maafkan.


Arga sedang duduk berdua di ruang tamu bersama Nana. Sedangkan Nara sedang bekerja di resto. Sebenarnya Arga tak mengijinkan Nara bekerja karena dia masih sakit, tapi Nara memaksa dan mengabaikan larangan Arga. Alhasil Arga pun tak bisa berbuat apapun.


"Na, Nara selalu minum obat yang saya kasih kan?" Tanya Arga.


"Iya!" Jawab Nana sambil fokus pada tugasnya.


Arga tersenyum, dia selalu mengingatkan Nana agar Nara minum obat yang di resepken dokter Arin.


"Na saya titip Nara ya!" Nana mendongak menatap Arga.


"Titip? Maksud Lo?"


"Saya mau ke Bandung. Ada kerjaan!"


Nana menghela nafas, lalu dia duduk tegap dan melipat tangan di dadanya, lalu menatap tajam Arga.


"Kerjaan atau Hana?"


"Dua-duanya!"


Nana memutar bola matanya malas. "Lo cepetan deh bang selesaiin masalah lo sama Hana. Sebelum Nara tau lalu dia kecewa dan terluka lagi, lo mau itu terjadi?"


"Saya janji na kalo Hana sudah sembuh total saya akan cerain dia. Kalo saya cerain dia sekarang, bukan cuma pak Adi yang murka tapi papa kamu juga!" Jawab Arga kesal.


Nana menghela nafas berat. "Terserah lo deh bang, lo urusin sendiri gue gak mau ikut campur lagi!" kesal Nana sambil menghembuskan nafas kasar.


"Berapa lama lo di sana?" Tanya Nana.


"Tiga hari mungkin!" Jawab Arga.


"Lo kebangetan ya, lo sama Nara aja belum baikan, udah mau cari masalah lagi!" Ketus Nana.


"Saya titip Nara. Jagain istri saya baik-baik, jangan lupa kasih dia obat yang teratur, jangan biarin dia terlalu capek, dia masih sakit dan satu lagi--"


"Lo bawel banget sih bang kayak emak-emak. Gue tau, tenang aja istri simpanan lo pasti aman sama gue." sela Nana.


Arga berdecak kesal. "Jangan pernah bilang Nara istri simpanan, saya pelintir kamu!" Kesal Arga sambil memelototi Nana.


Nana mendelik tajam. "Emang kenyataannya begitu Tukimin!" Ketus Nana.


Arga semakin kesal dengan sikap sepupunya itu.


"Udah Sono lu pulang, temuin istri pertama lo. Timang-timang dia dahh sekalian.." kesal Nana.


Arga beranjak, sebelum pergi dia mengirim pesan pada Nara.


📨 "Sayang mas mau ke Bandung dulu ya ada kerjaan. Kamu jangan terlalu capek, jangan lupa minum obat. Mas cuma sebentar, baik-baik ya sayang. I love you.. 😘😘"


Arga mengirim pesan itu pada Nara. Setelah itu dia bergegas berangkat ke Bandung bersama Rafi.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2