KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Jalan-jalan Bareng


__ADS_3

"Ada apa nih?" tanya Andri yang baru datang.


Setelah berpamitan denganku, Pipit pergi ikut dengan Virman.


"Telat kamu! Dramanya sudah selesai!" ucapku sambil berlalu pergi ke dapur.


"Hah? Drama apa?" Andri mengikutiku ke dapur.


"Tau ah! Kepo kamu!!"


Aku memasak air ingin membuat susu jahe.


Virman pasti sekarang lagi mengajak Pipit shopping sebagai tanda permintaan maaf.


Pipit kan suka shopping. Pasti dia langsung luluh hatinya. Hadehhh.


"Masak airnya lebih ya. Aku juga mau bikin teh," ucap Andri.


Aku pun menambahkan air.


"Yang bareng sama Pipit tadi siapa?" tanya Andri.


Dia kepo banget sih!


"Mbah buyut aku!" ucapku kesal. "Ya pasti pacarnya lah!"


"Tapi aku lihat tadi kayaknya mata Pipit sembap. Sepertinya habis nangis. Dia habis bertengkar dengan pacarnya ya?"


Aku mengangguk.


"Pacarnya selingkuh?" tebak Andri.


Dia dukun ya?! Kok bisa tahu?!


Aku mengangguk lagi.


"Tapi kayaknya mereka balikan lagi ya?"


Lagi-lagi aku mengangguk.


"Kenapa balikan lagi? Kan udah diselingkuhin?!"


"Karena dia bodoh!" sahutku.


Ya. Hanya itu kata yang pas untuk Pipit. Bertahun-tahun aku mengenal Pipit. Aku mengenalnya sebagai orang yang keras kepala dan nggak mau ngalah.


Tapi begitu kenal Virman, dia jadi lembek dan menjadi sangat penurut sama cowok satu itu.


Entah sudah berapa kali dia menjejali Pipit dengan janji-janji palsunya itu.


Pipit selalu saja terbujuk oleh rayuannya itu.


Tring!


Sebuah pesan masuk di hpku.


[ Tisa, besok ulang tahunmu kan?! Aku akan mentraktirmu!! ]


Aku tersenyum membaca pesan dari Pipit. Ternyata dia masih ingat dengan ulang tahunku.


Meskipun dia jadi bodoh karena cinta, tapi dia tetap sahabat terbaikku.


"Kenapa senyum-senyum sendiri? Chat dari pacar?!"


Aku mendongak menatap Andri.


"Kepo! Memangnya kenapa kalau dari pacar?!" sahutku.


"Emangnya kamu udah punya pacar?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Kepo banget sih!" Aku berlalu keluar dari dapur setelah menyeduh susu jahe. Aku membawa susu jahenya ke kamar.


________


Sesuai pesan Pipit kemarin, aku menunggunya di sebuah taman.


Katanya hari ini dia akan mentraktirku. Aku sudah nggak sabar.


Kira-kira dia akan mengajakku makan dimana ya?!


"Tisa!!"


Aku tersenyum melihat kedatangan Pipit. Tapi aku mengernyit melihat ada Virman di belakangnya.


Aku segera menarik Pipit menjauh dari Virman.


"Katanya kau akan mentraktir aku?! Kok pacarmu juga ikut sih?!" bisikku.


"Ahaha, maaf ya. Karena dia juga menyadap pesan di hpku, jadi dia tahu kalau aku mengajakmu pergi. Jadi dia minta ikut!" jawab Pipit dengan berbisik juga.


"Ck! Kalau gitu kau pergi saja dengannya. Aku nggak mau ikut. Kalau aku ikut, nanti aku akan jadi nyamuk di antara kalian!" sahutku kesal.


"Tenang, Tisa. Kamu nggak akan jadi nyamuk, karena sebentar lagi obat nyamuknya akan datang!"


Aku mengernyit mendengar ucapan Pipit. "Obat nyamuk? Apa maksudnya?"


"Karena Virman ikut, pastinya kamu nanti akan kesal kalau jadi nyamuk kan?! Nah, karena itu aku juga mengajak satu orang lagi!"


Hah?! Satu orang lagi?! Siapa?!


"Nah itu dia sudah datang!"


Aku menoleh melihat arah yang ditunjuk Pipit.


"Hai, semuanya! Udah lama ya, nunggunya?"


Andri?! Kenapa Pipit malah ngajak Andri?!!


"Aku tidak kepikiran orang lain lagi. Semuanya terlalu mendadak. Saat aku mau berangkat kesini, Virman tiba-tiba datang ke rumah dan minta ikut. Karena tidak ada waktu lagi, aku hanya teringat dengan Andri. Yasudah, aku mengajaknya!"


Aku menghela nafas mendengar tuturan Pipit. "Ya udah deh. Apa boleh buat."


"Sesuai kesepakatan, kita naik mobil kamu ya Ndri?" ucap Pipit. Dan Andri mengangguk.


Darimana Pipit tahu kalau Andri punya mobil?!


Kami pun berjalan ke arah mobil Andri.


"Eits! Kamu mau kemana Tis?!" Pipit mencegah saat aku hendak masuk ke mobil.


"Ya mau masuk ke mobil lah. Kemana lagi?!"


"Maksudku, kenapa kamu mau duduk di belakang? Duduk depan sana!"


"Memangnya kenapa kalau aku duduk di belakang?! Kursinya muat kok buat tiga orang!"


"Apa kau mau aku terlihat seperti supir?!" kini Andri yang menjawab ucapanku.


"Ck! Iya-iya, aku duduk di depan!" Aku pun akhirnya duduk di depan.


________


Ternyata Pipit mengajak kami nonton ke bioskop.


Aku menatap malas layar besar di depanku. Isi filmnya hanya seputar tentang percintaan dan perselingkuhan.


Aku heran dengan Pipit yang membeli tiket film seperti ini.


Kenapa dia susah-susah datang ke bioskop hanya untuk menonton film seperti ini.

__ADS_1


Kalau cuma cerita tentang perselingkuhan, di TV juga banyak film cerita kayak gini.


Setelah menonton film, Pipit mengajakku ke pasar malam.


Ini pertama kalinya aku datang ke pasar malam.


Di sini begitu ramai, banyak bermacam-macam permainan. Ada juga penjual macam-macam jajanan.


Aku berjalan ke salah satu stand penjual jajanan.


"Eits! Kamu mau kemana?!" Pipit mencekal tanganku.


"Aku mau ke sana, mau beli makanan. Lapar!" sahutku.


"Nanti! Setelah ini kita akan ke kafe dan makan. Sekarang, kita naik itu dulu!" Pipit menunjuk ke arah bianglala.


"Pemandangan dari atas sana bagus banget! Kita bisa lihat kelap-kelip seluruh lampu kota!!"


Sesuai instruksi dari Pipit, kami semua menuju ke bianglala, menunggu antrian naik.


Akhirnya tiba giliran kami.


"Untuk orang dewasa, hanya boleh isi dua orang," ucap Mas penjaga bianglala.


Aku mengernyit mendengar peraturan itu.


"Kalau gitu kita duluan ya Tis! Daaah.." Pipit berlalu naik ke kotak bianglala dengan pacarnya.


"Eh, Pit! Aku berdua sama kamu aja!" cegahku. "Biar Andri sama Virman naik berdua!!"


"Nggak lucu tahu, kalau cowok sama cowok satu kotak bianglala. Entar orang lain mikirnya aneh-aneh lagi!" ucap Andri.


"Dah Tisa!!" Pipit melambaikan tangannya ketika kotak bianglala yang dinaikinya sudah tertutup pintunya.


Dan sekarang, jadilah aku naik bianglala berdua dengan Andri.


Kami duduk berhadap-hadapan. Bianglala pun mulai bergerak.


Tak ada perbincangan di antara aku dan Andri. Kami sama-sama diam menikmati pemandangan di bawah sana.


Begitu sampai di puncak atas, seperti yang dikatakan Pipit. Kelap-kelip lampu kota terlihat sangat indah dari sini.


Ingin berfoto untuk mengabadikan momen seperti ini? Tentu saja tidak!


Aku tidak akan mengeluarkan hpku. Bisa-bisa nanti hpku jatuh ke bawah.


Biar saja hanya otakku yang merekam semua pemandangan indah ini.


"Pemandangannya bagus banget ya!"


"Iya!" Aku mengangguk menyahuti perkataan Andri.


"Kamu nggak mau foto?" tanya Andri.


"Nggak. Takutnya nanti hpku jatuh!"


"Aku fotoin pakek hpku deh!" tawar Andri.


Tentu saja aku tidak menolak tawaran Andri. Aku ingin sekali mengabadikan momen indah ini.


"Boleh!" Aku mengangguk setuju. "Nanti fotonya kirimin ke aku ya!"


"Tapi kan aku nggak punya nomor kamu!" sahut Andri. "Nanti aku minta nomor kamu ya!"


"Oke!" Aku pun mulai berpose. "Kelap-kelip lampunya liatin juga ya!"


"Siap!"


CEKREK!

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2