KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Kejadian Di Gang Sepi


__ADS_3

Pagi harinya, aku bersiap ke kantor pagi-pagi sekali agar aku tak berangkat ke kantor bareng Andri. Aku memang berniat meninggalkannya.


Kututup pintu kamar dengan sangat pelan. Aku juga berjalan mengendap-ngendap. Agar Andri tidak mengetahui kepergianku.


Aku menyunggingkan senyum girang kala berhasil keluar dari kosan.


"Hihihi, seru juga ngerjain Andri. Pasti nanti dia ngetokin pintu kamar aku buat ngajak bareng. Tau-tau ternyata aku udah sampai ke kantor duluan!" gumamku sambil berbelok di gang depan.


Tapi seketika langkahku langsung terhenti kala melihat orang yang berdiri di depan sana sambil menyender pada bagian depan mobilnya.


"Hai Sa! Udah siap ya. Yuk kita berangkat!" ucap Andri sambil tersenyum padaku.


Tidak! Bagaimana dia bisa tahu kalau aku akan pergi duluan?!


Andri bahkan sudah lengkap dengan setelan jas rapinya.


"Ayo, tunggu apalagi? Kamu lagi buru-buru ke kantor kan, makanya kamu berangkat sepagi ini. Iya kan?" ujar Andri yang melihatku tetap bergeming tidak masuk ke dalam mobilnya.


Aish! Sepertinya dia tahu rencanaku, tapi pura-pura tidak tahu!


Aku hanya bisa melirik Andri yang terus saja tersenyum kepadaku, sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Kok kamu ta--"


"Tahu dong!" potong Andri. "Kan kita udah sehati, makanya aku tahu kalau kamu akan berangkat pagi!"


Kuputar bola mataku mendengar gombalan dari Andri.


Oh iya, cincinya!


Dengan sengaja aku menaruh kedua tanganku di atas pangkuanku. Agar Andri dapat melihat bahwa aku tak memakai cincin pertunangan.


Hihihi, aku ingin tahu reaksi Andri setelah melihat cincin itu tak ada di jariku.


Satu menit, dua menit, Andri tak kunjung melihat ke tanganku.


"Ehem!" Aku bahkan sengaja berdehem agar Andri menoleh dan melihat ke tanganku. Tapi ternyata Andri malah tetap fokus menyetir.


"Sa, apa jadwalku hari ini?" tanya Andri memecah keheningan.


Oh, jadi dia lagi mode serius kerja toh. Oke lah. Ternyata Andri orang yang tidak mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan.


Bagus, ternyata dia orang yang tau mana waktu kerja, dan mana waktu untuk hal yang lain.


"Sa, kok kamu bengong? Ada apa? Apa kamu sakit?" tangan Andri tiba-tiba terulur menyentuh keningku. Sontak saja membuatku kaget.


"Eh. Nggak kok, aku nggak papa!" jawabku sambil menyingkirkan tangannya dari keningku.


"Sa, untuk yang kemarin aku--"


"Untuk jadwal hari ini..." Aku sengaja memotong ucapan Andri agar dia tak melanjutkan perkataannya yang jelas sudah kuketahui dia akan membicarakan apa.


"Hari ini ada meeting bersama di kantor dengan beberapa karyawan, untuk membahas tentang bisnis wahana permainan tempo hari yang ingin kamu bangun." Andri tampak manggut-manggut setelah mendengarkanku.

__ADS_1


_________


Aku dan Pak Yosua sama-sama menyiapkan dokumen untuk meeting yang akan berlangsung pagi ini.


Sementara Andri, dia belum datang ke ruang meeting.


"Ini waktu kerja, bukan waktu bergosip!"


Aku mendongak saat mendengar teguran Andri kepada para karyawan yang sedari tadi terus berkumpul di depan pintu ruang meeting, entah mereka membicarakan apa. Karena aku tak bisa mendengarnya dari sini.


Para karyawan itu bergegas masuk setelah kedatangan Andri. Kami pun segera memulai meeting.


Di meja yang panjang ini, aku duduk di antara Andri dan Pak Yosua. Menyimak presentasi salah satu karyawan yang sedang berdiri di depan kami.


Selama beberapa menit meeting berlangsung. Kini kami sedang mendiskusikan wilayah strategis yang cocok untuk membangun wahana permainan.


"Bagaimana kalau kita membangunnya di sini?" ujar Pak Yosua padaku sambil menunjuk sebuah denah yang ia sodorkan padaku.


Aku sedikit mendekat ke arahnya untuk melihat denah tersebut.


"Dekat dengan tempat wisata ya. Sepertinya bagus!" ucapku yang setuju dengan usul Pak Yosua.


"Ehem! Ehkhem!"


Aku menoleh ke Andri yang berdehem beberapa kali.


Ada apa dengan Andri? Sepertinya tenggorokannya terasa tidak nyaman. Apa dia sakit tenggorokan?


"Ndri, kamu sakit tenggorokan?" tanyaku padanya. "Ini, minumlah sedikit. Agar tenggorokanmu terasa lebih enak!" Aku menggeser botol minuman yang ada di depanku.


"Tidak perlu!" jawab Andri yang masih terus fokus mendengarkan presentasi. Ia tak menoleh padaku.


"Kebetulan aku juga tak mendapatkan jatah minum. Aku haus, biar aku saja yang minum!" ujar Pak Yosua sambil meraih air yang tadi kuberikan pada Andri.


Tapi tiba-tiba tangan Andri meraih botol yang sedang diraih oleh Pak Yosua. Mereka saling mempertahankan botol yang ada di depanku.


Sampai Andri melemparkan tatapan tajam, baru Pak Yosua melepaskan botol itu. Setelah itu, Andri langsung menenggak habis air tersebut.


________


Aku langsung membereskan beberapa dokumen setelah meeting selesai.


"Sa!" Panggil Pak Yosua. "Aku pesan makanan untuk makan siang. Tapi ternyata malah gratis satu porsi lagi. Kamu mau nggak?" tanya Pak Yosua.


"Mau Pak! Terimakasih ya!"


Siapa yang akan menolak makanan gratis?


"Kalau gitu nanti makan siang bareng ya?" Aku menjawab Pak Yosua dengan anggukan.


"Siang ini perusahaan akan mentraktir semua karyawan makan siang bersama-sama!" ujar Andri tiba-tiba yang memang belum keluar dari ruang meeting.


Sontak, semua karyawan yang ada di dalam ruangan ini bertepuk tangan dan bersorak riuh. Aku pun juga ikut bertepuk tangan.

__ADS_1


Tumben Andri mentraktir semua karyawan? Hari ini kan bukan hari ulang tahunnya?


________


Aku bersenandung ria sambil memasak air untuk merebus mie instan di dapur.


Saat membuka lemari tempat penyimpan makanan, ternyata persediaan mie instanku habis.


"Ck. Perasaan kemarin masih sisa satu deh!" kututup lemari itu dengan kesal. Dengan terpaksa kumatikan kompor.


Aku pun kembali ke kamar untuk mengambil uang. Rencananya aku akan beli mie instan di toko.


Jam di hpku menunjukkan pukul tujuh malam. Tapi suasana malam ini cukup sepi.


"Tumben sepi, biasanya jam segini masih rame!" gumamku sambil terus berjalan.


Setelah belok, akhirnya aku sampai di toko yang kutuju.


"Yaah, kok tutup sih?" Aku menatap toko kecil di depanku.


Aku pun memutuskan untuk membeli mie instan di toko yang satunya.


Saat baru belok ke gang, ada segerombolan anak cowok duduk bergerombol hampir menutupi jalan di depan sana.


"Duh, mereka duduknya kenapa sampai nutupin jalan gitu sih?! Apa mereka tidak tahu kalau fungsi jalan itu bukanlah tempat nongkrong, melainkan akses untuk orang lewat!"


Aku menghela nafas panjang dan memilih jalan lain.


"Gara-gara mereka, aku harus lewat sini!"


Aku sedikit mempercepat langkahku kala melewati gang yang terbilang sepi ini.


Ada dua tiang lampu, tapi lampu yang satunya mati. Sehingga yang menyinari gang ini cuma satu lampu yang ada di ujung gang.


"TOLONGGG!" teriak seorang wanita yang berdiri di bawah lampu di ujung gang.


Seorang pria terlihat memaksa mengambil tas milik wanita itu. Tapi wanita itu masih berusaha mempertahankan tas miliknya.


"TOLOOONGG!!"


Aku segera berlari untuk menghampirinya.


"Mas, lepasin nggak!" Aku membantu wanita itu sambil terus memukuli pria itu.


"Heh, jangan ikut campur urusanku!" ancam pria itu sambil melotot padaku.


"Cepat serahkan tas ini! Atau..."


Aku terbelalak melihatnya mengeluarkan pisau lipat. Dan...


"AAAAKKHH!!" pekik wanita yang kutolong kala sesuatu terasa menembus kulit perutku.


Kuraba perutku, tanganku langsung gemetar saat aku menunduk dan melihat cairan merah merembes keluar menodai kaos putihku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2