
Andri terlihat enggan memberikan nomor hpnya.
"Ayolah Mas, itung-itung nambah teman!" bujuk perempuan itu.
"Sa, bantu aku!" bisik Andri.
"Kenapa harus aku?!"
"Ayolah, aku kan pernah bantu kamu waktu sama Tante Sarah itu."
"Jadi kamu nggak ikhlas nih udah bantuin aku?!"
"Ini bukan saatnya untuk membahas ikhlas atau nggak!"
"Mas, jarang-jarang lho anak saya minta nomor duluan ke cowok. Biasanya cowok yang minta nomor ke anak saya!" sahut Ibunya dengan sedikit memajukan wajahnya.
"Buset, Ibunya malah ikut promosi anaknya!" bisik Pipit. "Lagian siapa juga yang minta nomor telfon ulat bulu ini. Kalau pun ada, pasti orang itu punya kelainan mata!"
"Maaf Bu," Andri tersenyum canggung. "Tapi saya udah punya pacar!"
"Nggak papa Mas. Lagian cuma buat nambah-nambah temen doang kok!" sahut si anak.
"Nanti pacar saya marah Mbak," Andri berusaha menolak halus.
"Ngotot amat sih minta nomornya!" bisik Pipit lagi di sampingku.
Aku heran deh, nih mereka berdua, Andri sama Pipit dari tadi bisik-bisik ke aku tapi Ibu sama anak di depanku kok bisa nggak dengar ya?
"Halah, lawongan pacarnya nggak di sini kok Mas! Dia nggak bakalan tahu kalau Mas nggak ngasih tahu!"
Terdengar Pipit berdecak kesal di sampingku. Aku menoleh melihatnya, terlihat wajahnya sudah sangat geregetan karena Ibu dan anak itu begitu ngotot.
"Ck! Maaf Tante, tapi pacarnya itu juga duduk di depan kalian!" ucap Pipit sambil memegang pundakku.
Mataku langsung membulat dan menoleh ke Pipit.
Ibu dan anak itu sama-sama menatapku. Wajah mereka juga terkejut, seperti maling yang tertangkap basah ketika sedang mencuri.
"Apa-apaan kau ini?!!" mataku yang membulat seolah mengatakan itu ke Pipit.
"Biarin, ini supaya dia nggak tambah kegatelan!" mulut Pipit komat-kamit mengatakan itu dengan suara kecil.
"Tapi kenapa harus aku?!" mulutku juga ikut komat-kamit seperti Pipit.
"Lalu siapa lagi? Aku?! Mereka sudah tahu kalau aku punya pacar!!"
Aku menghela nafas dan memutar bola mata mendengar sahutan Pipit.
Aku menoleh ke Andri. Dia tersenyum penuh arti. Seolah mengatakan, aku akan memulai aktingku.
Dan benar saja. Aku langsung terkejut saat Andri menyusupkan tangannya ke pinggangku. Membuatku langsung menegakkan tubuh karena geli.
"Kamu nggak marah kan sayang?" tanya Andri.
__ADS_1
Aku meraih tangan itu dan melepasnya dari pinggangku.
Tapi Andri malah melingkarkan kembali tangannya di pinggangku, bahkan lebih erat. Dia juga menarikku lebih dekat dengannya.
Wajahnya mendekat ke telingaku. "Tolong bantulah aku!" bisiknya di telingaku. Saat dia berbicara, rasanya geli di telingaku karena hembusan nafasnya. "Kalau kau mau membantuku, gajimu akan langsung kukasih besok, plus dengan bonus!"
Aku langsung berhenti memberontak mendengar kata gaji.
Oke! Demi gaji!
Aku melepaskan tangan Andri dan membiarkannya melingkar di pinggangku.
"Yang, kok diem aja sih? Kamu marah ya?" tanya Andri lagi.
Aku hanya diam karena nggak tahu mau jawab apa.
Eh. Kalau aku diam gini, kok kesannya kayak cewek lagi ngambek beneran ya?!
"Nanti aku beliin es krim deh!" bujuk Andri yang hanya mendapat lirikan dariku.
"Mbak, kok wajah Mbak pucat sih? Nggak pakek lipstik ya!" ucap perempuan itu mengomentari wajahku.
"Kayaknya Mbak juga nggak pakai bedak deh!" ucapnya lagi.
Lah, kenapa dia jadi mengomentari wajahku?! Lagian terserah aku dong mau pakek bedak atau nggak!
"Iya Neng, jadi perempuan itu harus pintar dandan. Kayak anak saya nih!" ucap si Ibu membanggakan anaknya.
"Maaf ya, tapi aku suka kok yang natural gini! Lebih alami!" sahut Andri membelaku.
"Lagian, bibir pink gini kok dibilang pucat sih?!" Andri menyelipkan anak rambut ke belakang telingaku.
"Atau.. kalian mau melihat bibir pink ini berubah jadi merah dengan caraku?!!"
Mataku membulat mendengar ucapan Andri.
Apa maksudnya merubah bibirku jadi merah dengan caranya?!
Aku langsung menoleh ke arahnya yang sedang tersenyum menantang ke arah Ibu dan anak di depan kami.
Sepertinya kata-kata Andri barusan telah membungkam mulut Ibu dan anak itu.
Suasana jadi sedikit kaku setelah drama barusan. Ibu dan anak di depanku jadi lebih banyak diam.
"Silakan diminum sianida-nya. Eh, maksudku sirupnya!" ujar Pipit memecah keheningan.
"Aduh, maaf ya Jeng. Si kecil lagi rewel, maunya digendong mulu!" Tante Rini kembali ke ruang tamu dengan membawa Dedek bayi.
Dedek bayi itu bermata lebar dan mempunyai kulit putih, persis seperti Pipit. Semoga sifat bucin-nya Pipit nggak menurun ke dia.
"Tante, aku boleh coba gendong Dedek bayi nggak?" ucapku karena gemas melihat bayi bermata lebar itu.
"Boleh-boleh! Itung-itung latihan, biar nanti nggak kaget pas punya anak! Apa lagi udah ada yang ngincer tuh!"
__ADS_1
Hah? Ngincer? Maksudnya?
Aku mengernyit bingung karena tidak mengerti maksud ucapan Tante Rini.
Aku bangkit dari dudukku, dan berjalan ke arah Tante Rini.
"Aku juga mau gendong! Aku duluan ya!" perempuan alis tebal itu menyerobotku ketika aku ingin menggendong Dedek bayi.
Aku hanya menghela nafas dan kembali duduk.
"OEEEE!!" tiba-tiba Dedek bayi menangis.
Perempuan itu berusaha menenangkan Dedek bayi dengan cara menimang-nimangnya.
Sebuah senyum tersungging di bibirnya ketika Dedek bayi berhenti menangis.
Sesaat Dedek bayi itu malah tertawa terbahak-bahak.
"Aahkkk! Dia ngompol!!" pekik perempuan itu yang membuatku terkekeh.
Ahaha! Untung tadi bukan aku yang pertama menggendong!
"Aduh, maaf ya!" Tante Rini mengulurkan tangannya untuk mengambil Dedek bayi dari gendongan perempuan itu.
Tapi tangan Dedek bayi malah berpegangan erat di baju perempuan itu.
Dengan tertawa, Dedek bayi itu enggan melepaskan baju yang dipegangnya meskipun Tante Rini sudah berusaha melepaskan.
PLEK!
Sesuatu terjatuh dari baju perempuan itu bersamaan dengan lepasnya tangan Dedek bayi.
Kami semua menatap kebawah. Melihat benda apa yang jatuh barusan.
Kain?!
Setelah itu, aku mengangkat wajahku. Menatap perempuan tadi.
Mataku terbelalak dan hampir menyemburkan tawa melihat dada yang besar tadi kini sudah tak sama besarnya. Yang sebelah kiri besar, sementara sebelah kanan kecil. Sumpelannya jatuh!
"MUAHAHAHAHA!!" tawa Pipit meledak seketika.
Tak ketinggalan pula dengan Tante Rini, ia juga tertawa terbahak-bahak. Pun dengan Dedek bayi, meskipun bayi itu tidak mengerti apa yang membuat tertawa, tapi melihat semua orang tertawa dia juga ikut tertawa.
Aku menoleh ke Andri. Dia memalingkan wajahnya. Pundaknya terus bergetar menandakan dia juga tertawa tapi menahannya.
"Ayo kita pulang!" Ibunya menarik tangan anaknya. "Jeng, kami permisi pulang!" mereka berdua bergegas keluar dari rumah Pipit.
Pipit meraih kain yang jatuh tadi. "Mbak, kainnya ketinggalan!" teriak Pipit.
Si Ibu balik lagi dan meraih kain di tangan Pipit. Kemudian langsung bergegas menyusul anaknya yang sudah ngibrit duluan.
BERSAMBUNG
__ADS_1