KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Kedatangan Seseorang


__ADS_3

"Tisa, kamu..." ucapan Andri menggantung membuatku penasaran.


"Kenapa Ndri?" Aku balas menatap manik hitam itu.


"Ng... Nggak," sahutnya gugup. Terlihat dia bersusah payah menelan salivanya.


Aku tersenyum melihat wajahnya yang seolah sedang terpesona melihatku.


Sedetik kemudian senyumku hilang begitu ditampar kenyataan bahwa kami tak lagi bersama.


Tolong jangan menatapku dengan tatapan seperti itu Ndri! Berhenti terus membuatku berharap padamu!


"Emm.. sebaiknya kit--" ucapan Andri kembali menggantung karena seraknya suara. "Ehem ehem.. ayo kita balik ke kantor," lanjutnya setelah suaranya kembali normal.


"Balik ke kantor apanya?" sahut Mama yang membuatku menoleh. "Ini udah jam tiga, nanggung. Bentar lagi juga pulang. Mending kalian di sini aja, temenin Mama."


"Tapi, Ma-"


"Udah, nurut sama Mama. Lagian perusahaannya nggak bakalan bangkrut cuma karena kamu absen satu jam," potong Mama.


Ting tong!


Suara bel mengalihkan perhatian kami.


"Nah, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga!" ucap Mama tersenyum penuh arti ke Andri.


Andri menatap Mama bingung. "Siapa Ma?"


"Sebentar lagi kamu juga tahu!" Mama berjalan menuju ruang tamu.


Penasaran dengan siapa yang datang membuat aku dan Andri mengekor di belakang Mama.


Ting tong!


Bel kembali berbunyi. Rupanya si tamu tak sabar ingin dibukakan pintu.


"Iya, sebentar," sahut Mama.


"Ck, nggak sabaran banget sih!" Andri berdecak kesal di sampingku.


Pintu terbuka dengan sangat slow motion, memperlihatkan kaki cantik nan mulus di depan sana.


Aish! Gemas kali aku rasanya ingin menyerobot Mama dan membuka pintu secara cepat dan lebar-lebar karena tak sabar ingin lihat siapa di luar sana.


Entah ini cuma menurutku saja atau Mama memang sengaja membuka pintu itu secara perlahan.


Yang jelas, beberapa detik kemudian, orang yang berdiri didepan kami membuatku terperangah.


Aku bisa merasakan mulutku sedikit terbuka saat menatapnya.


Perempuan yang tingginya hampir sama denganku itu memakai dress selutut berwarna biru langit.


"Tutup tuh mulut!" Andri menutup mulutku.


Seketika aku langsung menoleh ke Andri. Meskipun dia berbicara denganku, tapi matanya mengarah ke perempuan di depan kami.


Ada senyum kecil di bibirnya yang membuatku sedikit sedih.


"Kasian lalatnya nanti kalau masuk ke sana!" ujar Andri lagi tapi matanya masih fokus menatap perempuan cantik di depan kami.


Siapa perempuan ini? Mama memeluknya hangat. Setelah itu kami membawanya duduk di ruang tamu.


Perempuan cantik dengan rambut sebahu yang kutahu bernama Indah saat berkenalan tadi duduk berdekatan denganku.


Anting panjang di telinganya menambah kesan cantik.

__ADS_1


Saat bercakap-cakap dengannya, aku menyimpulkan dia orang yang mudah bergaul dengan orang baru.


Sikapnya itu membuat orang menjadi nyaman di dekatnya, itulah yang terasa olehku.


Terbersit sedikit rasa iri di benakku. Sebelumnya aku tak pernah merasa iri pada seseorang.


Tapi setelah melihat Andri tersenyum melihatnya, membuatku jadi iri.


Indah dari tadi juga curi-curi pandang ke Andri.


Sebenarnya dia siapa? Atau jangan-jangan dia..


"Tisa, bantuin Mama yuk!" ajak Mama yang segera kujawab dengan anggukan kepala.


Aku terus mengekor di belakang Mama menuju ke dapur.


Mulutku ingin bertanya ke Mama mengenai siapa perempuan tadi.


"Kamu pasti penasaran siapa dia kan?"


Aku nyengir mendengar perkataan Mama yang seolah tahu isi kepalaku.


"Iya, Ma. Hehehe. Dia siapa Ma?"


"Dia itu calonnya Andri!"


Deg!


Langkahku terhenti seketika, begitu juga dengan senyumku. Badanku jadi terasa tak bertenaga.


Perempuan tadi.. calonnya Andri?! Ya Tuhan.. Kalah jauh banget aku! Jadi merasa tambah insecure!


Saat Mama tahu aku tak lagi berjalan mengikutinya, ia pun menoleh.


"Tisa? Kok kamu bengong?" tangannya melambai ke arahku. "Ayo, dapurnya di sebelah sini!"


Di dapur, aku membantu Mama membuat minuman.


Saat Mama hendak menuangkan minuman ke gelas, Andri mencegahnya.


"Udah, sini Ma. Biar Tisa aja yang bikin." Andri mengambil alih teko kaca dan memberikannya kepadaku. "Mending Mama ke depan aja, ngobrol-ngobrol sama Indah."


"Tapi Ndri--"


"Udah, nggak papa. Tisa udah biasa bikin minuman kok Ma. Dia kan asisten aku." Andri segera mendorong Mama keluar dari dapur.


Aku pun menuangkan minuman ke dalam gelas satu per satu.


"Cepetan ya Sa! Aku udah haus nih!"


Aku hanya membalas dengan lirikan ketika Andri kembali muncul ke dapur.


"Bakinya ada di sebelah sini," tunjuk Andri ke sebuah lemari dapur.


Kujawab dengan helaan nafas panjang. Setelah menunjukkan tempat baki di simpan, Andri bergegas keluar dari dapur.


"Oh iya! Ada yang kelupaan!" badan Andri kembali muncul di ambang pintu dapur.


"Di lemari atas kamu, ada camilan. Tolong dihidangkan untuk Indah juga ya!" setelah mengatakan itu Andri kembali menghilang dari pandangan.


Heeegh! Sepertinya aku sudah beralih profesi. Dari asisten di kantor, menjadi asisten rumah tangga!


"Cepetan ya Sa! Aku udah haus nih!" ucapku menirukan gaya Andri menyuruhku tadi. "Emang cuma dia doang yang haus? Aku juga haus kali!"


Dengan kesal aku langsung menuangkan minuman ke gelas sampai full.

__ADS_1


Kusambar gelas itu dan langsung menenggaknya.


Glek glek glek!


"Ah.."


Puas aku menghabiskan minuman itu. Dengan emosi, kutaruh gelas di tanganku ke meja dengan kasar.


Tak!


"Hegh! Kalau emang haus dan pengen cepet-cepet minum, langsung aja ke dapur dan ambil sendiri!" sungutku sambil menatap ambang pintu dapur yang kosong.


Kubuka lemari di atasku untuk mengambil camilan yang dimaksud Andri tadi.


Susah payah aku berjinjit-jinjit menggapai camilan itu tapi tetap saja tak sampai.


Tak kehilangan akal, aku pun mengambil kursi yang ada di dapur untuk kugunakan sebagai pijakan.


Aku tersenyum saat berhasil mengambilnya.


"Sa, kok lama bang-- Kamu ngapain?! Kenapa naik kursi segala?!"


Saat menggerakkan kaki kiriku untuk melihat ke Andri, kakiku malah terlalu berpijak ke pinggir.


"Aaakh!!"


Hup!


Aku membuka mata saat Andri berhasil menangkapku.


"E e eh!" Andri terlihat panik saat dia kehilangan keseimbangan.


Brugh!


"Aww!" Aku meringis sakit saat jatuh dan tertindih tubuh Andri.


"Aduhh, lagian kenapa pakek naik kursi segala sih?!" protes Andri yang hendak bangun.


"Aku nggak nyampek!" sungutku kesal. "Lagian kamu yang nyuruh aku buat--"


Ucapanku terpotong saat tatapan kami bertemu karena Andri tak kunjung menyingkir dariku.


Deg


Deg


Deg


Tiba-tiba tangan kanan Andri menyibak poni rambut yang menutupi wajahku. Sementara tangan kirinya menopang tubuhnya agar tak menindihku.


Dengan gerakan perlahan, Andri menyelipkan poniku ke belakang telinga.


Blush!


Kurasakan wajahku mulai memanas.


Aaargghh!! Nggak! Nggak boleh! Jangan sampai Andri melihat wajahku yang merah ini!!


Karena panik aku malah tak sengaja menyenggol tangan kiri Andri yang dibuat untuk menopang tubuhnya.


Dug!


Cup!!


Aaargghh!!!

__ADS_1


Mataku membulat begitu mulut Andri mendarat di hidungku.


BERSAMBUNG


__ADS_2