KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Kejadian Di Gang Sepi 2


__ADS_3

Aku terbelalak melihatnya mengeluarkan pisau lipat. Dan pria itu langsung menghunuskan pisaunya ke arah si wanita.


Beruntung aku masih sempat menahan pisau itu. Tapi detik berikutnya...


Jleb!


"AAAAKKHH!!" pekik wanita yang kutolong kala sesuatu terasa menembus kulit perutku.


Kuraba perutku, tanganku langsung gemetar saat aku menunduk dan melihat cairan merah merembes keluar menodai kaos putihku.


Aku terhuyung ke belakang dan menyender pada tembok yang ada di belakangku.


Dengan perlahan tubuhku jatuh merosot. Aku terduduk sambil menyender pada tembok.


Pria yang tadi menusukku terlihat sangat panik. Pria itu langsung kabur, bahkan tanpa membawa tas yang sempat ingin ia ambil tadi.


Aku berusaha mengatur pernafasanku. Aku takut. Rasanya sangat sakit.


Wanita yang kutolong tadi terlihat sangat gemetar melihat darah yang terus mengalir dari perutku.


Ia yang jatuh terduduk di aspal karena sempat di dorong pria tadi, merangkak mendekat ke arahku.


"Mbak, bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit!" ucapnya dengan nada bergetar dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Saat dia berusaha memapahku, darahku tak sengaja mengenainya. Dan entah kenapa tubuhnya jadi tambah gemetar.


Karena tubuhnya yang gemetar, ia jadi tak kuat memapahku.


"M-maaf Mbak, aku fobia darah," ucapnya terbata.


Aku yang sudah merasa lemas hanya bisa duduk menyenderkan tubuhku di tembok.


"Bagaimana ini Mbak? Darahnya keluar terus!" ujarnya yang terlihat semakin panik.


Aku hanya bisa memegangi perutku, berusaha menahan agar darahnya tidak keluar.


Andri...


Dengan sisa tenagaku, aku berucap, "Mbak, beloklah ke gang itu. Nanti ada kos-kosan di sana. Mintalah tolong pada orang yang ada di sana..."


Wanita itu langsung berlari sebelum aku selesai berucap. Padahal aku ingin dia memberitahu Andri. Ah, dia kan tidak tahu Andri.


Aku hanya menatap tubuhnya yang hilang di belokan gang.


Tak kuat duduk lagi, tubuhku akhirnya limbung ke aspal.


Ndri... kamu dimana...


Mataku terasa kian berat. Apa aku akan mati?


Saat aku ingin menutup mataku, terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekat.


"Mana orangnya Mbak?" terdengar suara laki-laki yang sepertinya tak jauh dariku.


Andri. Itu suara Andri!


"Itu Mas di sana!"


Ingin aku bangkit melihat Andri, tapi tubuhku tak kuat.


"TISA?!" seru Andri setelah dia melihat wajahku.

__ADS_1


"Tisa! Apa yang terjadi?! Kenapa perutmu berdarah?!" Andri terlihat panik dan cemas. Dia segera meraih tubuhku ke pangkuannya.


"Tadi ada jambret Mas. Mbaknya ditusuk jambret!"


"Cepat telfon ambulance!"


"Sudah Mas, tapi kita harus keluar dari gang dan ke jalan raya. Karena mobil ambulance nggak bisa masuk sini!"


"Ndri..." terasa bulir bening jatuh dari sudut mataku.


"Jangan menangis, kamu akan selamat!" Andri mengangkat tubuhku dan menggendongnya.


"A-aku takut Ndri..." ujarku lirih.


"Jangan takut Sa, ada aku di sini! Kamu akan selamat! Aku ada di sini!"


Kutatap wajah Andri yang sedang menggendongku. Kelopak mataku terasa sangat berat.


"Tidak Sa! Jangan tutup matamu! Buka terus matamu! Ya, seperti itu! Terus lihat aku dan jangan tutup matamu!" terlihat bulir bening jatuh di pipi Andri.


Apa aku akan mati? Padahal aku belum mengatakan perasaanku lagi padanya.


"Ndri..." panggilku lirih. Andri yang terus berlari sambil menggendongku membuat guncangan pada tubuhku, membuatku sulit untuk berbicara karena menahan rasa sakit.


"Berhentilah sebentar... a-aku ingin bicara sesuatu..." entah kenapa suaraku jadi sulit keluar rasanya.


"Ada apa Sa? Bertahanlah sebentar lagi!" jawab Andri yang memperlambat larinya.


"Berhentilah sebentar..." lirihku lagi. Dan akhirnya Andri berhenti.


"A-aku mencintaimu Ndri..." ucapku lirih. "A-aku minta maaf... a-aku tak benar-benar marah padamu..."


"Maaf ya Ndri..." lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulutku.


"Kenapa kau minta maaf. Semua akan baik-baik saja. Kau akan selamat, dan kita akan menikah!"


Mataku benar-benar terasa sangat berat.


"Tidak Sa! Jangan tutup matamu! Buka matamu Sa! Kau tidak boleh meninggalkanku! Kita akan menikah Sa. Tisaaa!!"


Suara Andri hilang seiring menutupnya mataku.


_________


Suara bising membangunkanku. Saat kubuka mataku, aku ternyata ada di kamarku.


"Haah... jadi yang tadi itu cuma mimpi!" Aku terkekeh saat meraba sudut mataku yang basah.


"Aku bahkan sampai menangis!" kuusap sudut mataku.


Ternyata jam menunjukkan pukul delapan malam di hpku. Sepertinya tadi aku tertidur.


Kruyuuuk!


Suara perut menyuruhku untuk makan. Aku pun bergegas ke dapur.


Tapi, saat aku membuka pintu kamarku, tiba-tiba saja aku sudah berpindah tempat. Pintu kamarku seolah berubah menjadi pintu kemana saja seperti di Doraemon.


"Di mana ini?" semua bangunan di sini putih. Dan sepertinya ini di rumah sakit.


"Sepertinya aku tadi belum bangun dari tidurku. Buktinya ini aku masih di dalam mimpi!"

__ADS_1


Mataku tak sengaja menangkap sosok Andri yang terlihat mondar-mandir.


"Wah, ada Andri juga di mimpiku ternyata!" segera kuhampiri Andri.


"Ndri!"


Tiba-tiba saja keluar seorang perempuan yang memakai baju hijau dari sebuah ruangan, yang membuat Andri mengabaikan panggilanku.


"Apa anda keluarga pasien?" tanya perempuan itu pada Andri.


"Iya sus, ada apa?"


"Pasien kehilangan banyak darah. Dan segera membutuhkan donor darah. Darah pasien O, dan kebetulan di rumah sakit sedang kehabisan stok darah O!"


"Golongan daraku bukan O!" jawab Andri.


"Kalau begitu, segera hubungi keluarga pasien yang lain. Karena pasien harus segera mendapatkan donor darah!" ucap suster itu.


"Aku harus menghubungi Ayah!"


Andri lalu merogoh saku celananya kirinya, lalu berganti merogoh saku celana kanannya.


"Sial! Aku meninggalkan hpku di kosan!" Andri terlihat frustasi, ia mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Siaal! Lagian ini rumah sakit besar! Bagaimana bisa kehabisan stok darah?!" teriak Andri marah.


Baru kali ini aku melihat Andri semarah ini.


"Sabar Ndri, kenapa kamu marah-marah?" ucapku berusaha menenangkannya. Tapi ia tak menggubrisku.


"Suster, darah saya O! Silahkan ambil darah saya," ucapku yang memang mempunyai golongan darah O. Tapi suster itu malah mengabaikanku.


"Sus! Loh, kok malah pergi sih?!"


Kuhampiri Andri lagi yang sedang terlihat bingung.


"Ndri, siapa sih pasien itu? Kok kamu khawatir banget?" tanyaku pada Andri.


Tidak mungkin itu Papa atau Mamanya Andri. Kalau itu mereka, aku pasti akan dihubungi juga kan.


"Aakhh!" tiba-tiba perutku terasa sakit. Aku terkejut saat perutku tiba-tiba berdarah tanpa sebab.


Dan tiba-tiba saja, aku berpindah di sebuah ruangan yang sepertinya operasi sedang berlangsung di sana.


Mataku terbelalak saat mendapati orang yang sedang dioperasi itu adalah aku.


"Aakhh!" lagi-lagi aku merasakan sakit pada perutku saat mereka melakukan sesuatu pada orang yang sedang terbaring di sana.


Ini hanya mimpi. Lantas kenapa terasa sangat sakit?


"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!" mereka mengabaikanku.


Aku pun segera keluar dari ruangan itu dan menghampiri Andri.


"Ndri, mereka melakukan sesuatu pada orang yang mirip denganku. Dan itu terasa olehku juga! Lihat Ndri perutku berdarah! Aaakh!!" Aku terjatuh ke lantai. Tapi Andri malah mengabaikanku.


"Andri, tolong aku! Aaaakkhh!!" Aku mengerang kesakitan. Aku berharap segera bangun dari mimpi ini!


Perlahan, pandanganku mulai gelap.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2