KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Siapa Faiz?


__ADS_3

Ini nggak mungkin! Kenapa fotonya sama persis?! Apa jangan-jangan dia... Orang Sinting itu?!


"Tisa?"


Aku tersadar kembali saat Faiz menarik hpnya, tapi tanganku masih tidak mau melepaskan hp itu.


"Ah, iya. Maaf Iz," segera aku melepaskan hp itu.


Kugeleng-gelengkan kepalaku, berusaha menyingkirkan dugaanku tadi.


"Tisaaaa!"


Suara nyaring Pipit membuat kami sama-sama menoleh.


"Aku hari ini nginep! Kangen banget tahu nggak sih. Udah lama nggak nginep di sini. Taraaa, aku bawain kamu cilok!" Pipit menunjukkan kresek yang ada di tangannya membuatku tersenyum kepadanya.


"Eh, ini siapa?" tanya Pipit yang baru menyadari keberadaan Faiz. "Maaf ya, tadi nggak sadar aku kalau ada orang lain."


"Iya, nggak papa kok," jawab Faiz sambil tersenyum.


Senyumannya itu menambah kadar manis di wajahnya.


Tampan sih, tapi sayangnya di hati ini sudah terpatri nama Andri di dalamnya. Eaaa, bucin amat yak. Ketularan Pipit nih kayaknya.


Move on dong Tisa!


"Kenalin, aku Faiz," senyuman itu masih lekat di sana ketika dia mengulurkan tangannya ke Pipit.


Kulirik Pipit yang mendelik saat melihat senyuman Faiz. Dia langsung menyambar tangan itu sambil menyebutkan namanya.


Ah, dia yang begitu, kenapa jadi aku yang malu?


Setelah beberapa detik, Pipit tak kunjung melepaskan tangan Faiz.


Kusenggol Pipit untuk menyadarkannya.


"Pit, inget kamu udah punya Ayang!" bisikku.


Setelah aku membisikkan itu, akhirnya Pipit melepaskan tangan Faiz.


"Kalau gitu, aku masuk dulu ya," pamit Faiz.


Aku dan Pipit pun juga berlalu masuk ke dalam kamarku.


"Duh Tiss, dia mirip banget kayak Harry Potter!" Pipit mulai heboh setelah aku menutup rapat pintu kamar. Ternyata dia sepemikiran denganku.


Aku menghiraukannya, mengambil cas-casan dan segera mengecas hpku.


Rencananya, aku akan menelfon Orang Sinting itu setelah bateraiku terisi.


"Rasanya jadi pengen aku bungkus bawa pulang deh! Higggh gemes banget!"


Aku segera menoleh menatapnya ketika mendengar ucapannya barusan.


"Kamu lupa ingatan kalau udah punya Ayang?!"


"Ayang? Ayang yang mana ya?" tanya Pipit yang pura-pura lupa, membuatku melempar bantal ke arahnya.

__ADS_1


"Vir, aku mencintaimu Vir!" ucapku berdialog menirukan tapasya, berusaha mengolok-olok Pipit. "Kemana orang yang dulu mengatakan cinta pada Virman hah?"


"Aelah Tisa. Maruk dikit nggak papa lah!" timpal Pipit sambil nyengir. "Lagian kenapa yang ngekos di sini pada ganteng-ganteng sih?!"


Kuputar bola mata mendengar ucapannya itu.


"Pertama ada Hot Dady-nya Tante Sarah, kedua Andri, terus dateng lagi cogan baru, Faiz! Aakh... Apa aku ikut ngekos di sini aja ya? Amh--" Kusumpal mulut Pipit dengan cilok.


"Ketimbang mikir yang aneh-aneh, makan nih cilok!"


"Ih, khamu nggak bisha lihat temhen shenweng ya?!" sewot Pipit dengan mulut penuh cilok.


Kini perhatian Pipit teralih ke paper bag yang berisi sepatu pemberian dari Orang Sinting.


Gawat! Pipit nggak boleh tahu isinya!


Telat, tangan Pipit dengan cepat menyambar paper bag itu.


"Ini apaan Tis?"


Dengan gerakan sat-set Pipit, kotak yang ada di dalam paper bag itu sudah terbuka.


"Wuaah.. Bangus banget sepatunya! Kamu dapat darimana ini Tis?"


Aku hanya menghela nafas panjang mendengar pertanyaannya.


"Setiap kali aku punya barang bagus, kenapa kamu malah tanya dapat darimana. Bukannya tanya beli dimana?" protesku.


"Ya karena kamu nggak mungkin beli barang bling-bling kayak gini! Apalagi ini kayaknya barang mahal. Nggak mungkin banget seorang Tisa mau ngeluarin banyak duit cuma buat ditaroh di kaki!" tandas Pipit mantap.


Ah, dia memang sahabatku, dia tahu semua sifat-sifatku.


"Ahaha, bukan!"


"Apa jangan-jangan, kamu udah cowok ya Tis?"


"A-apaan sih Pit! Nggak ada yang begituan tahu. I-itu aku beli sendiri kok! Dan juga harganya murah! Beli di pinggir jalan tadi!" lancar juga nih aku bohong.


"Masa sih?" Pipit kembali meneliti sepatu di tangannya. "Tapi ini kayaknya berlian asli deh!"


"Ahaha, palsu itu!" Aku berusaha memaksakan tawa. "Masa kamu nggak tahu barang palsu sih?!"


"Tapi kayaknya ini beneran berlian asli deh Tis!" lagi-lagi Pipit meneliti berlian yang bertaburan di sepatu itu.


"Dibilang palsu ya palsu! Udah, kamu mandi sana!" seruku sambil merampas sepatu itu dari tangan Pipit, dan segera menaruhnya kembali ke dalam kotak. "Udah, kamu mandi sana! Bau tahu nggak! Pasti pulang kerja langsung ke sini kan?"


Pipit pun nyengir sambil mencium bajunya sendiri, yang memang bau cat rambut yang agak menyengat.


"Yaelah Tis, biasanya kamu juga nggak mandi sehari kalau lagi libur!"


"Udah, pokoknya kamu mandi sana!" segera kudorong Pipit keluar dari kamar setelah memberinya handuk.


Setelah itu aku bergegas menyembunyikan sepatu tadi ke dalam lemari.


Sambil menunggu Pipit mandi, kuhidupkan hpku yang sedang dicas.


Ternyata baru terisi empat puluh persen. Belum terisi penuh, tapi kumainkan hp itu sambil dicas.

__ADS_1


Triririring!


'Orang Sinting', itulah nama si penelfon.


Baru juga mau kutelfon, eh ternyata nelfon duluan dia. Segera kugeser tombol hijau.


[ Aku kira kamu udah ganti kartu aja. Dari tadi aku telfon nggak bisa. ]


"Apa maksudnya gambar Naruto yang kamu kirim?!" tanyaku mengabaikan ucapannya barusan.


[ Ahaha. Jadi kamu udah liat ya. Gimana? Aku ganteng kan? Atau jangan-jangan, kamu udah jatuh cinta sama aku! ]


"Dih, nggak jelas banget tahu nggak sih!"


[ Apanya yang nggak jelas? Bukannya kamu suka Naruto ya? Makanya aku kirimin kamu gambar Naruto! ]


"Dari mana kamu tahu kalau aku suka Naruto?!"


Ceklek!


Tiba-tiba Pipit membuka pintu kamarku. Segera kumatikan sambungan telfon.


"Kamu lagi telfonan sama siapa Tis? Suaramu kenceng banget tahu nggak, sampai kedengeran dari luar!"


"Ahaha, iya kah? Aku nggak lagi telfonan sama siapa-siapa kok. Cuma lagi nonton film aja," jawabku berbohong.


"Oh iya, ini ada titipan buat kamu!" Pipit mengulurkan paper bag warna silver kepadaku.


"Apaan nih Pit?"


"Ya mana aku tahu, orang aku juga belum buka!"


Mataku terbelalak saat tahu isi paper bag itu.


Apa?! Gaun pengantin?


Yang lebih mengejutkan lagi adalah model gaun ini!


Modelnya tidak terlalu terbuka, bahkan leher gaunnya tertutup dengan renda di sekitarnya. Cocok untukku yang lebih suka memakai pakaian yang agak tertutup.


Kutatap wajah Pipit yang juga terlihat terkejut.


Sebelum dia sempat bertanya, sebuah pesan masuk ke hpku.


[ Gimana? Gaun pengantinnya udah kamu coba belum? Bagus kan gaunnya? ]


Mataku kembali membulat saat membaca pesan dari Orang Sinting itu.


Bagaimana dia bisa tahu kalau aku lebih suka memakai gaun yang tertutup?!


Kutatap kembali wajah Pipit yang masih terlihat penasaran.


"Pit, siapa yang tadi ngasih ini sama kamu?!"


"Faiz tadi yang ngasih. Tapi--"


Segera aku keluar dari kamar meskipun Pipit belum selesai ngomong.

__ADS_1


Apa?! Jadi orang sinting itu adalah Faiz?!


BERSAMBUNG


__ADS_2