KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Kiriman Gaun pengantin


__ADS_3

Apa?! Jadi orang sinting itu adalah Faiz?!


Kuketuk pintu kamarnya dengan tak sabar.


"Faiz!"


Tak ada jawaban darinya.


Kembali kuketuk pintu itu dengan lebih keras.


"Faiz!!"


Kembali tak ada jawaban. Membuatku tak henti-henti mengetuk pintu itu sambil memanggil-manggil namanya.


"Faiz!! Faiz!!"


Sepertinya dia tak ada di dalam kamar karena dari tadi tak ada respon darinya.


Gegas aku pergi ke dapur. Ternyata di sana hanya ada Andri yang sedang senyum-senyum tak jelas sambil memandang hp, persis seperti kemarin.


Di nampak seperti terkejut saat melihatku. Tapi tak kuhiraukan dia dan beralih menuju ke kamar mandi.


Dan benar saja, Faiz baru saja keluar dari salah satu kamar mandi yang ada di sana.


"Faiz!" panggilku sambil berjalan menghampirinya yang sedang telanjang dada karena habis mandi.


"Ya? Ada apa Sa?"


Kuabaikan dada bidang dan roti sobek yang ada di perutnya itu.


"Kamu kan, orang itu?!"


Dia menatapku bingung.


"Kamu kan orang sinting itu?!" Faiz terlihat tambah bingung. "Maksudku, kamu kan orang yang dijodohin Ayah sama aku?!"


"Aku nggak ngerti kamu ngomong Sa?" tanyanya pura-pura tak tahu.


Sudah pasti dia pura-pura. Kenapa nggak sekalian daftar jadi artis aja?! Ekspresi wajahnya itu terlihat alami sekali!


"Jangan pura-pura kamu ya! Semua udah jelas! Pipit ngasih tahu aku kalau kamu yang ngasih paper bag itu!"


"Ah, jadi ini karena paper bag itu?"


Nah, nggak bisa ngelak lagi kan dia!


"Memang aku yang ngasih paper bag itu. Tapi itu bukan dari aku. Tadi ada orang yang kesini, dia ngasih paper bag itu dan bilang kasih ke orang yang namanya Tisa!"


Kok aku nggak percaya ya. Wajahnya itu terlihat mencurigakan!


"Eh, tapi isi paper bag itu bukan teror-teror aneh kan Sa? Soalnya tadi aku nggak liat isinya. Tadi orang yang ngasih juga terlihat aneh gitu. Pakek baju hitam-hitam, plus masker juga hitam!"


"Ahaha, bukan!"


Jadi bukan Faiz orangnya?


Seet!


Sebuah tangan tiba-tiba menutup kedua mataku.

__ADS_1


"Ck, siapa sih?!" Aku berusaha melepaskan tangan itu, tapi tangan itu tetap kekeh menutupi mataku.


"Iz, kamu kok nggak pakek baju? Ntar masuk angin lho!"


Itu suara Andri! Jadi dia yang menutup mataku!


"Ndri, lepasin! Kamu apa-apaan sih?!"


"Anu, tadi baju gantiku jatuh dan basah. Jadinya aku nggak bisa dipakek deh!" ujar Faiz sambil menunjukkan baju yang terlihat basah di tangannya. Aku mengintip dari sela-sela jari Andri.


Tapi dengan cepat Andri menutup rapat jarinya itu.


"Di sini hawanya agak dingin, cepetan pakek baju sebelum kamu masuk angin!" ucap Andri menasehati. Ia terus mengabaikanku yang sedang berusaha melepaskan tangannya.


"Iya Ndri, makasih nasehatnya. Aku keluar duluan ya," terdengar langkah kaki Faiz yang mulai menjauh.


"Auww!!" Andri mengerang saat aku menginjak kakinya dengan kuat. Membuat tangannya terlepas dari mataku.


"Tisa! Kamu apa-apaan sih?! Sakit tahu!"


"Kamu yang apa-apaan! Ngapain kamu nutup mataku segala?!"


"Tadi mata kamu ada beleknya! Aku nggak mau Faiz melihatnya dan kamu jadi malu!"


"Apa? Belek?" Kuraba-raba ujung mataku. "Nggak ada tuh!"


"Kan aku bilang tadi!"


Aku hanya mengerutkan kening menatap Andri.


"Udah ah, minggir sana! Aku mau mandi!" Andri sedikit mendorongku agar menyingkir.


"Aish! Kalau mau mandi ya mandi aja! Nggak usah pakek dorong-dorong segala! Lagian aku juga nggak menghalangimu!"


"Ngapain kamu masih di sini? Kamu mau ngintipin aku mandi ya?!" tuduhnya.


"Apa?!--"


Belum sempat aku protes, Andri sudah menutup pintunya. Membuatku hanya bisa mendelik kesal.


Ketika kembali ke kamar, aku disambut tatapan tajam dari Pipit.


"Apa?" tanyaku.


"Apa lagi? Kamu harus jelasin maksud dari gaun pengantin ini!"


Triririring!


Hpku kembali berdering, telfon dari Orang Sinting.


"Sebentar ya Pit!"


Dahi Pipit hanya berkerut ketika aku menyuruhnya menunggu.


"Halo?" sapaku setelah menggeser tombol hijau di layar hp.


[ Gimana? Kamu udah coba gaunnya? Pasti cocok kan? ] Terdengar nada yang sombong dari seberang sana.


Kulihat ukuran gaun yang belum sempat aku coba itu. Dan ukuran itu memang ukuran baju yang pas untukku.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu ukuran bajuku?"


[ Sudah kukatakan aku tahu segalanya tentangmu! Jika aku tahu ukuran sepatumu, bagaimana mungkin aku tak tahu ukuran bajumu! ]


Aku terdiam mendengarkan ucapannya.


[ Kau juga suka dengan model gaunnya kan? Aku tahu kau tidak menyukai baju yang terlalu terbuka. Makanya aku memilihkan gaun itu! ]


Kenapa dia bisa tahu semua tentangku? Apa selama ini dia mengirim mata-mata untuk mengikutiku?!


[ Aku tahu, kau pasti sekarang sangat terharu karena mendapat calon suami yang peka dan sangat perhatian. Kalau gitu aku tutup dulu ya! ]


Klik!


Dia mematikan sambungan telfon.


"Siapa dia Tis?--"


Triririring!


Pertanyaan Pipit terpotong karena hpku kembali berdering. Kali ini Ayah yang menelfon.


Aku mengisyaratkan ke Pipit untuk kembali menunggu.


"Halo Yah?"


[ Tisa, Ayah kan tadi siang sudah keluar dari rumah sakit, gimana kalau besok kita makan malam bersama? ]


"Maaf Yah, kayaknya nggak bisa deh! Besok Tisa--"


[ Datang lah Sa. Ayah juga mengundang calon suamimu untuk ikut makan malam bersama kita! ]


Aku tersentak mendengar penuturan Ayah.


[ Tapi kalau kamu memang sangat sibuk, kamu tidak usah memaksakan diri untuk datang-- ]


"Tidak Yah!" seruku memotong ucapan Ayah. "Besok aku akan ikut makan malam bersama!"


Tak mungkin aku akan melewatkan kesempatan ini! Besok malam aku akan bertemu dengan Orang Sinting itu!


"Tis, Ayahmu mengundangmu makan malam? Jadi kamu udah baikan sama Ayahmu?!" tanya Pipit setelah aku selesai berbicara dengan Ayah.


Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Itu artinya, kamu menerima perjodohan yang dilakukan Ayahmu?!"


Lagi-lagi aku mengangguk mengiyakan.


"Apa?!" Pipit terlihat sangat terkejut begitu aku menganggukkan kepala.


"Jangan-jangan, sepatu sama gaun itu dibelikan oleh jodohmu?!" seru Pipit dengan nada yang tak bisa dikontrol lagi.


Lagi-lagi aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Pipit.


"Gilaaa!!" teriak Pipit dengan histeris. "Aku nggak nyangka kamu bakal menyetujui perjodohan itu! Pasti calon suamimu itu sangat tampan kan? Makanya kamu berubah pikiran. Orangnya kayak gimana Tis? Kapan kamu ketemuan sama dia? Jangan-jangan tempo hari itu ya? Yang waktu kamu tiba-tiba pakek dress dan jadi feminim?"


Aku terdiam mendengar Pipit yang memberondongku dengan pertanyaannya.


"Jawab dong Tis! Jangan diem aja! Duhh.. Aku jadi penasaran deh sama orang yang dijodohkan sama kamu itu! Pasti dia orang yang sangat perhatian dan peka! Buktinya dia sampai tahu ukuran baju dan sepatumu! Apa jangan-jangan dia juga tahu ukuran dalaman kamu ya!"

__ADS_1


Aku mendelik mendengar ucapan Pipit yang terakhir. Ucapan yang berujung dengan pukulan bantal dariku.


BERSAMBUNG


__ADS_2