KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Perlahan aku membuka mata yang terasa masih berat.


Aku dimana? Kenapa semuanya terlihat putih? Apa aku sudah di akhirat? Ah, cepat sekali rasanya. Padahal masih banyak yang belum kulakukan. Aku belum bertemu Ayah. Aku belum bisa menjadi anak yang berbakti.


"Tisa! Kamu sudah sadar?!"


Eh? Itu suara Andri. Kenapa Andri juga ikut ke akhirat bersamaku?


Aku menoleh ke suara tadi. Ternyata benar Andri.


"Ndri, kenapa kamu ikut bersamaku?"


Dahinya terlihat berkerut mendengar pertanyaanku.


Bukannya dia mau menikah dengan Indah? Kalau dia ke akhirat bersamaku, lalu Indah gimana?


"Kenapa kamu ikut aku Ndri?" sekali lagi kuulang pertanyaanku.


"Kamu lupa Sa? Kan kamu minta anterin ke rumah sakit!"


"Rumah sakit?" tanyaku bingung.


"Iya, kita sekarang di rumah sakit."


Apa? **Jadi ini r**umah sakit! Ahaha.. Kupikir aku sudah di akhirat karena semuanya terlihat putih. Ternyata yang kulihat langit-langit rumah sakit! Tunggu dulu! Aku di rumah sakit!


"Ayah! Aku harus mencari ruangan Ayah dirawat!" Aku segera menyibak selimut.


"Aaargh!" gerakanku terhenti karena saat ingin turun, rasa sakit menjalar ke lututku.


"Tisa, hati-hati! Jangan bergerak secara tiba-tiba gitu! Nanti lututmu tambah sakit!" seru Andri sambil memegangiku.


"Kamu itu habis jatuh! Kenapa tadi malam kamu nggak bilang kalau kepalamu sakit?! Untung saja cideranya nggak parah!"


Ah, iya. Aku habis jatuh. Karena panik, aku sampai tak menyadari kalau lututku terluka.


"Tapi Ndri, aku harus cari ruangan Ayah dirawat!" Aku kembali turun dari ranjang. Tapi kali ini dengan gerakan yang lebih hati-hati.


Ceklek!


Pintu dibuka oleh seseorang dari luar kamar. Memperlihatkan seseorang yang sudah lama tak kutemui.


"Tisa! Kamu sudah sadar Nak! Bunda khawatir banget sama kamu tadi malam!" ucap Bunda yang langsung menghambur memelukku.


"Bunda, di ruangan mana Ayah dimana?!"


"Ayah ada di ruangan sebelah."


Aku pun langsung melangkah keluar.


"Tunggu Sa, lebih baik kamu sekarang istirahat dulu supaya lekas pulih." Bunda menahan lenganku saat hendak melangkah keluar ruangan.


"Aku nggak papa Bunda." Kulepas tangan Bunda dan bergegas ke kamar sebelah.


Tak kuhiraukan panggilan dari Bunda dan langsung membuka pintu kamar sebelah.


Ceklek


Mataku membulat melihat pemandangan di dalam sana. Terlihat Dokter batu saja menutupkan kain ke tubuh yang terbaring lurus di ranjang di dalam sana.


Kerongkonganku tercekat melihat itu semua.


Ini nggak mungkin kan?!

__ADS_1


"Ayaaah!!" langsung aku menghambur memeluk tubuh kaku yang tertutup kain di ranjang.


"Ini nggak mungkin! Jangan tinggalin Tisa Yah! Tisa mohon.. bangun Yah.." tak kuasa aku menahan tangis ini. "Ayah.. bangun.. Maafin Tisa Yah. Tisa belum jadi anak yang berbakti. Maka dari itu Ayah harus bangun! Tisa janji akan jadi anak yang berbakti dan nurut lagi kalau Ayah bangun! Ayaaaah!!" Aku meraung menangis memeluk tubuh yang sudah terasa kaku ini.


Kenapa secepat ini?!


Sreet!


Tiba-tiba terasa sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku pun mendongak.


"Bundaa.." tangisku kembali pecah ketika melihat sosok Bunda di sampingku. "Ayah, Bunda... Kenapa Ayah ninggalin kita??" Aku terus saja menangis.


"Ini bukan Ayah, Tisa."


"Eh?" mendadak tangisanku berhenti. Aku kembali mendongak ke Bunda. "Apa maksud Bunda? Ini bukan Ayah?"


"Iya, ini bukan Ayah."


Tepat setelah Bunda mengatakan itu ada dua perempuan yang berlari masuk ke kamar ini dengan air mata berderai di pipi.


Sambil histeris mereka memeluk tubuh yang sebelumnya kupeluk.


"Nenek.. jangan tinggalin kita Nek.." ucap salah satu dari mereka sambil menangis histeris.


"Jadi ini beneran bukan Ayah?" tanyaku lagi meyakinkan diri.


"Iya, ini bukan Ayah."


"Lalu Ayah dimana Bun?"


"Ayah ada di kamar sebelah yang satunya."


Tak kuhiraukan lagi perkataan Bunda karena aku sudah berlari ke kamar yang satunya sebab sudah tak sabar ingin melihat kondisi Ayah.


Di tangan kirinya terpasang infus, sementara di hidungnya ada alat bantu pernapasan.


"Ayaaah!!"


Aku berlari ke dalam kamar dan langsung memeluknya.


"Bangun Yah, Tisa udah di sini. Tisa janji bakal nurut kalau Ayah bangun. Kalau Ayah bangun, Tisa akan berusaha untuk jadi anak yang berbakti..."


"Janji?"


"Iya, Tisa Janji!"


"Berarti kamu mau menyetujui perjodohan yang sudah Ayah rencanakan?"


"Asal Ayah bangun, Tisa akan menyetujuinya.. Eh?"


Aku mendongak menatap suara yang berbicara denganku tadi.


"Ayah, syukurlah Ayah sudah sadar!" segera kuusap air mataku dan bergegas hendak memanggil dokter.


"Tisa, kamu mau kemana?" cegah Bunda yang baru masuk ke kamar rawat Ayah.


"Tisa mau manggil dokter. Ayah sudah sadar Bunda!" jawabku bahagia.


"Itu tidak perlu Sa."


"Eh? Kenapa?" Aku menatap Bunda tak mengerti.


"Karena Ayah udah sadar dari tadi malam. Barusan Ayah hanya tertidur."

__ADS_1


Aku pun menoleh menatap Ayah.


"Tadi kamu udah janji ke Ayah. Kamu nggak mungkin akan mengingkari janjimu kan?" tanya Ayah sembari tersenyum. Entah kenapa terlihat seperti senyuman licik bagiku.


"Tapi kan.." ucapanku terhenti saat tangan Bunda menyentuh pundakku.


"Bunda mohon, kamu terima perjodohannya ya. Demi Ayah," bisik Bunda.


Aku menghela nafas dan pasrah, kemudian mengangguk lemah.


"Terimakasih Nak," ucap Bunda sambil memelukku.


Aku tak bisa menolak. Aku takut kondisi Ayah akan memburuk jika mendengar penolakanku.


________


"Haaah..." lagi-lagi aku menghela nafas panjang sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong.


Aku memilih untuk pergi ke taman rumah sakit untuk menenangkan diri. Sesekali mengusap ingus yang keluar karena banyak menangis tadi.


Sebuah benda terasa mengganjal saat aku mengusap hidungku. Ternyata itu cincin yang tersangkut kemarin.


Kuusap-usap cincin yang terkena ingus tadi. Dan... cincinnya terlepas!


Ingin aku tertawa karena sebuah ingus berhasil melepaskan cincin ini. Tapi tak jadi karena rasanya ini bukan suasana yang pas untuk tertawa.


Aku kembali menghela nafas panjang. Merutuki diri ini yang asal mengucap janji. Janji yang mempersulit diriku.


"Ternyata kamu ada di sini!"


Aku menoleh ke asal suara. "Andri? Kok kamu belum pulang?"


Dengan tangan menenteng sebuah kresek, ia berjalan ke arah bangku yang sedang aku duduki, lalu menjatuhkan bobotnya di sampingku. Aku sedikit menggeser agar tak terlalu dekat dengannya.


"Jangan ge er!" serunya. "Aku masih di rumah sakit ini bukan karena kamu! Kamu lupa ya. Ayah kamu itu kolegaku, jadi itulah alasanku masih di sini. Aku menjenguknya!"


Aku memutar bola mata mendengarnya bicara.


"Oh ya. Ini cincinmu aku kembaliin!" ujarku sambil menaruh cincin tadi di telapak tangannya.


"Nggak usah, ambil aja. Buat kenang-kenangan!" Andri mengembalikan cincin itu ke telapak tanganku.


"Aku nggak mau! Kenang-kenanganmu cuma bikin sakit hati!" kukembalikan cincin itu ke tangannya. "Eh, nggak jadi deh!" Aku kembali mengambil cincin itu. "Makasih ya. Lumayan bisa dijual, dapet duit!" Kuacungkan cincin itu.


"Enak aja mau dijual! Aku nggak jadi ngasih deh! Sini kembaliin cincinnya!" Andri berusaha merebut paksa cincin dari tanganku.


"Eits!" Aku menjauhkan cincin dari tangannya. "Udah dikasih nggak boleh diminta lagi! Nanti sikutmu borok!"


"Mitos!" sanggah Andri. "Sini cincinnya!"


Andri kembali berusaha merebut cincin dariku tapi selalu gagal karena aku terus menjauhkan cincin itu darinya.


"Ahaha, dapat!" seru Andri yang akhirnya berhasil menangkap tanganku yang memegang cincin.


Ulah Andri barusan sukses membuat kami sama-sama membeku tak bisa bergerak.


Aku yang tadi menyembunyikan cincin itu di belakang tubuhku, dan Andri yang berhasil menangkap tanganku yang sedang kusembunyikan di belakang tubuh membuat posisi kami seperti sedang berpelukan.


Deg deg deg


Sreet..


Perlahan wajah Andri terasa semakin dekat.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2