
"Jadi kamu terpaksa menerima perjodohan ini?" tanya Pipit setelah aku menceritakan semuanya. "Terus, apa rencanamu untuk membatalkan perjodohan ini?"
"Aku masih belum punya rencana Pit. Pusing aku! Apalagi orang yang dijodohin sama aku nggak mau diajak kerja sama!"
"Emangnya kenapa dia nggak mau diajak kerja sama Tis?"
"Nggak tau lah! Dia bilang nggak ada untungnya kalau kerjasama sama aku!"
Terdengar Pipit menghela nafas berat.
"Tis, gimana kalau kamu mencoba untuk ikhlas menerima perjodohan ini?"
"Apa?! Ikhlas?!" Aku terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Pipit.
"Iya. Lagian nggak ada ruginya juga kan buat kamu. Calonmu itu kayaknya orang yang sangat perhatian deh Tis!"
"Apa?! Aku nggak salah denger kan Pit? Kamu ngomong apa tadi, perhatian?!" Aku sangat-sangat tidak menyangka mendengar ini semua dari sahabatku.
"Tunggu dulu Tis! Aku belum selesai ngomong. Dengerin dulu! Mungkin dia nggak seburuk yang kamu pikirkan. Buktinya, dia sampai membelikanmu baju dan sepatu tanpa kamu minta sekalipun. Aku aja kalau mau apa-apa harus kasih kode-kodean dulu ke Virman. Dia bahkan sampai tahu ukuran bajumu dan ukuran sepatumu. Padahal kamu nggak ngasih tahu dia. Kurang apa lagi coba dia?"
"Pit, sahabatmu itu dia atau aku?! Kenapa dari tadi kesannya kamu kayak bela dia terus?!"
Aku benar-benar dibuat geleng-geleng kepala oleh Pipit.
"Bukan gitu Tis. Aku di sini hanya realistis aja. Karena buktinya ada di sini semua!" ucap Pipit sambil menunjuk barang-barang pemberian Orang Sinting.
Aku menghela nafas panjang mendengar ucapan-ucapan Pipit.
"Pit, yang pasti, aku nggak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai! Ngerti?"
Pipit akhirnya mengangguk. "Iya, aku minta maaf. Aku akan coba memikirkan rencana yang bisa membantumu."
"Makasih ya Pit. Kalau gitu aku mandi dulu ya. Gerah nih!"
Setelah menyambar handuk, aku langsung bergegas menuju kamar mandi.
"Tisa!"
Aku menoleh ketika mendengar namaku dipanggil. Ternyata Faiz yang memanggilku.
"Ya Iz, kenapa?"
"Aku ada sesuatu buat kamu!" ucap Faiz yang sedang membawa kotak berukuran sedang.
"Aku beli ini untuk aku bagikan ke tetangga kos-kosanku!" sambungnya lagi sambil menghampiriku.
Wah, dia tetangga yang baik. Aku aja nggak pernah ngasih apa-apa waktu pertama kali ngekos di sini.
Setelah Faiz tepat ada di hadapanku, dia langsung membuka kotak yang ada di tangannya itu. Memperlihatkan isinya kepadaku.
"Wuaaah! Namagashi!!" Mataku membulat dan berbinar ketika tahu isi kotak itu.
Namagashi adalah manisan Jepang yang dibentuk seperti bunga. Bisa juga dibentuk buah dan yang lainnya.
"Kamu tahu namanya!" seru Faiz yang nampak girang.
"Tentu saja! Aku suka nonton anime, makanya tahu! Wuahhh cantiknya!!" pujiku sambil memandangi namagashi yang semuanya berbentuk bunga.
__ADS_1
"Aku juga suka nonton anime. Makanya aku jadi suka beli sesuatu yang berbau anime!"
Aku sedikit tertawa kecil mendengar ucapan Faiz.
"Aku memang suka anime. Tapi kalau aku, sukanya cuma sampai modal kuota doang. Nggak sampai beli barang-barang yang berbau anime ataupun manisan kayak gini!"
Aku begitu terpana melihat kecantikan manisan Jepang ini.
"Silahkan pilih yang kamu suka!"
Semua namagashi yang berada di dalam kotak sedang itu, dipisahkan oleh kotak-kotak kecil transparan yang membungkus mereka.
Aku memilih satu kotak yang berisi namagashi berwarna maroon.
"Kamu suka warna maroon?" tanya Faiz.
"Aku suka banyak warna. Dan maroon adalah salah satunya!"
Kupandangi namagashi yang telah berpindah ke tanganku ini.
"Duh Iz, ini cantik banget!! Jadi nggak tega mau makan!"
Faiz tertawa mendengar ucapanku.
"Iya sih, tapi sayang kalau nggak dimakan, nanti jadi basi!" ucapnya di sela-sela tawa.
"Makasih ya Iz!"
"Sama-sama. Kalau gitu aku ngasih ini ke yang lainnya dulu ya!"
Setelah Faiz berlaku, aku juga bergegas kembali ke kamar untuk menaruh namagashi ini.
Cih! Lihat dia. Padahal baru beberapa menit yang lalu, dia begitu kesengsem dengan Faiz. Tapi sekarang dia malah bermesraan dengan Virman. Andai Virman tahu kelakuan Pipit.
Eh, tapi kan Virman juga suka jelalatan sama cewek lain. Berarti mereka sama dong! Pantesan mereka cocok!
Kutaruh namagashi tadi di atas lemari baju yang hanya setinggi daguku.
Dadah cantik, aku mandi dulu ya! Setelah mandi aku akan mengeksekusi dirimu!
Kini aku kembali keluar kamar, bergegas ke kamar mandi.
Tapi ketika melewati dapur, aku mendadak haus.
Saat aku melewati meja kecil di dapur, aku melihat sebuah hp tergeletak di sana.
Setelah menenggak air, aku menghampiri meja itu.
"Ini hp siapa?" Kuraih hp itu. "Siapa yang meninggalkan hpnya di sini?"
"Itu hpku!" tiba-tiba sebuah tangan mencomot hp itu dari tanganku.
Aku yang kaget langsung menoleh ke belakang. Rupanya hp itu milik Andri.
Andri terlihat ngos-ngosan. Sepertinya tadi dia berlari.
Apa yang membuatnya sampai harus berlari segala? Apa karena hpnya itu? Memangnya siapa yang mau mengambil hpnya?
__ADS_1
Entah kenapa, aku menangkap ekspresi panik di wajahnya.
Kemudian Andri berlalu meninggalkanku begitu saja.
________
Setelah selesai mandi, aku sedikit merapikan rambutku dengan menyisirnya.
"Tumben dandan? Biasanya tuh rambut kamu biarin aja berantakan kalau habis mandi!" tanya Pipit.
"Aku harus berubah biar mantan nyesel!"
"Emang kamu punya mantan?"
Duh, aku keceplosan!
"Ahaha, nggak ada sih. Aku cuma asal ngomong aja tadi!"
Tok tok tok!
Ketukan di pintu mengalihkan pembicaraan kami.
Saat pintu kubuka, terlihat Faiz di depan pintu sambil membawa sebuah paper bag hitam.
"Sa, ini ada yang nintip lagi ke aku buat kamu!" ujarnya dengan memberikan paper bag itu.
"Ini apa Iz?"
"Aku nggak tahu, belum sempat nanya orangnya udah main pergi aja!"
"Yaudah kalau gitu makasih ya Iz."
Ting!
Sebuah pesan masuk ke hpku tepat setelah aku menutup pintu.
"Itu apa Tis?"
Kuabaikan pertanyaan Pipit karena aku sedang membaca pesan tadi.
[ Pakailah pas makan malam besok! ] bunyi pesan yang dikirim oleh orang sinting.
Aku hanya mengernyit membaca pesan itu. Lalu tatapanku beralih ke paper bag hitam tadi.
Ah, rupanya ini dari orang sinting itu!
Setelah kubuka paper bag itu, ada sebuah dress di sana.
Aku terbelalak menatap dress itu. Warna maroon!
Warna kesukaanku! Bagaimana dia bisa... ini nggak mungkin!
Aku mendadak teringat sesuatu. Teringat percakapan antara aku dan Faiz yang membahas tentang warna kesukaanku.
Nggak, aku mungkin saja salah paham! Nggak mungkin Faiz!
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku nggak mau salah sangka lagi.
__ADS_1
Tapi, hanya Faiz yang tahu kalau aku suka warna maroon!
BERSAMBUNG