
"Hai Sa! Tumben jam segini udah pulang?"
Aku langsung disambut pertanyaan dari Faiz saat baru turun dari ojek.
"Hai Iz. Hari ini aku nggak kerja, libur!"
"Oh, pantesan. Kamu darimana? Tumben banget tampil feminim kayak gini? Biasanya aku perhatikan, kamu selalu pakai Hoodie kalau mau keluar."
"Habis dari acara keluarga!"
Faiz hanya manggut-manggut dan ber-oh ria.
"Faiz!" teriakan dari seorang wanita mengalihkan perhatian kami.
Seorang wanita dengan rambut yang dicat coklat menghampiri Faiz.
"Fenti? Ngapain kamu kesini?!" terlihat raut tak suka di wajah Faiz.
"Jadi kamu sekarang tinggal di sini?!" wanita bernama Fenti itu malah balik bertanya. "Kenapa kamu harus pindah ke kosan sempit kayak gini sih?!"
"Sengaja biar kamu nggak bisa nemuin aku!" tukas Faiz.
"Hemh, tapi sayangnya, usaha kamu tidak akan pernah berhasil Iz! Mau kemanapun kamu pergi, aku akan selalu menemukanmu!"
"Kamu lupa ya, kita itu udah putus!" tegas Faiz.
Duh, ini apa-apaan sih? Baru aja dateng udah disambut drama aja!
"Nggak! Aku nggak mau putus sama kamu! Lagian cuma kamu yang bilang putus, dan aku tidak pernah mengiyakan!"
"Mau kamu apaan sih Fen?! Kamu sendiri yang mengkhianatiku dengan berselingkuh sama sahabatku sendiri!"
"Iz, kamu salah paham! Aku dan Dion nggak ada hubungan apa-apa! Dengerin dulu penjelasanku!"
"Kamu nggak perlu mengelak lagi Fen! Dion udah ngaku sama aku! Semuanya udah jelas. Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Sebaiknya sekarang kamu pergi dari sini!"
Duh, pusing kepalaku denger mereka teriak-teriak terus. Lagian kenapa aku berdiri di sini terus sih? Kayak mau jadi wasit aja.
"Nggak mau! Pokoknya aku nggak mau putus sama kamu!"
Lebih baik aku pergi dari sini! Aku nggak mau ikut campur urusan mereka.
Saat hendak melangkahkan kaki ingin meninggalkan mereka berdua, tiba-tiba lenganku ditahan Faiz.
"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini! Karena aku nggak mau membuat pacarku cemburu!" seru Faiz yang malah menggandeng tanganku.
"Pacar? Apa maksud kamu Iz?!" tanya Fenti.
Aku yang terkejut dengan genggaman tangan Faiz segera hendak melepaskan tangannya dan ingin melayangkan protes.
Tapi Faiz malah mengeratkan genggamannya, dan mengisyaratkan sesuatu yang membuatku urung tak melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Ya, perempuan ini adalah pacarku Fen!" Faiz mengangkat tautan tangan kami. Menunjukkannya pada Fenti.
"Maaf Sa, tapi tolong bantu aku," bisik Faiz hampir tak terdengar.
"Nggak Iz, kamu nggak bisa kayak gini sama aku! Aku masih cinta sama kamu Iz!" Fenti masih saja tak menyerah.
"Tapi cintaku udah pindah ke dia. Gimana dong?" Faiz melirikku dengan tatapan yang seolah-olah penuh cinta.
"Nggak! Kamu nggak cinta sama dia! Kamu itu cuma cinta sama aku. Pasti cewek ini yang goda-goda kamu kan Iz?!" tuding Fenti menunjuk mukaku geram.
"Heh jal*ng! Jangan pegang-pegang Faiz! Singkirkan tanganmu darinya! Dasar cewek nggak laku! Bisanya cuma ngerebut pacar orang!" ucap Fenti memakiku. Dia berusaha memisahkan tautan tangan kami.
Enak aja dia ngatain aku jal*ng. Lagian siapa coba yang pegang tangan Faiz, jelas-jelas Faiz duluan yang pegang tanganku.
"Maaf ya Mbak, ada yang perlu diluruskan di sini!" seruku sambil melepaskan tangan Faiz.
Dia pikir aku akan diam aja kali ya.
"Pertama, aku nggak pernah ngerebut pacar orang, karena Faiz itu udah putus sama Mbak. Dan yang kedua, apa tadi Mbak bilang? Aku nggak laku? Maaf ya, apa nggak kebalik tuh, situ kali ya nggak laku. Udah diputusin, eh masih aja ngejar-ngejar! Kalau emang situ laku, nggak mungkin ngejar-ngejar Faiz terus!"
"Kauu..." seru Fenti tambah geram.
"Apa? Bener ya omonganku?!" Aku tersenyum puas menatap wajah merah padam Fenti yang menandakan dia sedang marah.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini Fen! Lagi pula, dia nggak pernah goda-goda aku. Justru aku yang ngejar-ngejar dia!" ucap Faiz sambil meraih pinggulku dan merangkulnya.
Meski sedikit kaget, aku tetap menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
Melihat dirinya kalah telak, Fenti pun akhirnya pergi meninggalkan kami.
"Awas kau ya!" ucapnya sebelum ia pergi meninggalkan kami.
"Maaf ya Sa, aku jadi ngelibatin kamu," ucap Faiz setelah Fenti pergi jauh.
"Iya, nggak pa--"
"Ngapain kamu peluk-peluk Tisa?!" ucapanku terpotong saat tiba-tiba saja tubuhku ditarik menjauh dari Faiz. Dan pelakunya adalah Andri.
Mata Andri menatap tajam kearah Faiz.
"Maaf, aku nggak bermaksud meluk Tisa kok!" terang Faiz. "Tapi, kok kamu kayak marah banget Ndri? Apa kalian pacaran?"
"Kami memang nggak pacaran. Tapi kami--"
"Oh, kirain pacaran, karena kamu keliatan kayak nggak terima banget kalau aku meluk Tisa," ujar Faiz memotong perkataan Andri.
Andri terlihat kesal karena Faiz tidak mendengarkan perkataannya sampai selesai dan malah pamit untuk masuk kedalam kos.
"Iz, dengerin dulu. Aku belum selesai ngomong!" seru Andri.
"Maaf Ndri, aku kebelet buang air nih!" sahut Faiz tanpa menoleh.
__ADS_1
Aku hanya bisa tersenyum puas melihat wajah kesal Andri.
"Ndri, yang dibilang Faiz tadi bener. Faiz nggak berniat meluk aku. Tadi itu ada... ah udahlah!"
Tak kulanjutkan ucapanku. Malah bagus kalau Andri cemburu. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat muka masam Andri.
"Kenapa senyum-senyum gitu?! Seneng karena habis dipeluk Faiz?!" tuduh Andri padaku.
Eh? Kenapa dia jadi marah sama aku?
"Kayaknya kamu seneng banget sampai senyum-senyum sendiri kayak gitu!" sungut Andri. "Kenapa nggak kamu susul aja dia, buat minta peluk lagi, kalau memang semenyenangkan itu dipeluk olehnya?!"
Sepertinya aku berhasil membuatnya cemburu!
Aku makin melebarkan senyumanku kala melihat wajahnya yang ditekuk.
Kemudian kulangkahkan kakiku meninggalkan Andri tanpa menjawab ucapannya tadi.
"Sa, kamu mau kemana?!" seru Andri.
"Mau nyusul Faiz lah! Kan kamu yang suruh tadi!" sahutku.
"Aish! Kamu nggak peka ya! Tadi itu aku nggak serius nyuruh kamu buat nyusul Faiz!" seru Andri lagi, tapi tidak kuhiraukan.
Aku terus saja melenggang pergi meninggalkannya yang masih berdiri di depan gerbang kosan.
Hihihi! Lihat itu mukanya yang sedang cemburu! Gemes banget liatnya. Rasain! Dikiranya cuma dia doang yang bisa akting!
________
Sambil rebahan di kasur, kupandangi cincin yang tersemat di jariku.
Tanpa sadar, terukir sebuah senyuman di bibirku.
"Sa? Kamu udah tidur?" samar-samar terdengar suara Andri dari balik tembok. Sengaja aku tak menjawab panggilannya.
"Besok ke kantor berangkat bareng yuk!" ucap Andri lagi.
Aku hanya tersenyum dan tak menjawabnya.
"Sepertinya kamu udah tidur. Kalau gitu, selamat malam. Sampai jumpa besok!" ujar Andri lagi. Setelah itu tak ada lagi suara dari Andri.
Aku jadi tak sabar menunggu besok untuk ngerjain Andri lagi, hahaha.
Segera aku bangkit dari tidurku dan menuju lemari baju untuk mencari benang jahit.
Kususun benang jahit itu supaya agak tebal. Setelah itu, aku mencopot cincin dan memasukkan benang tadi. Kemudian aku memakainya di leher.
Kita lihat reaksi Andri besok setelah dia tahu kalau aku tidak memakai cincin pertunangan.
BERSAMBUNG
__ADS_1